
Sania menghirup dalam udara malam itu. Rasanya rindu sekali. Seenak-enaknya di negeri orang, pasti akan lebih nyaman di rumah sendiri, tanah kelahiran tercinta.
Seperti yang dijanjikan Dita lewat telepon, mereka sudah menunggu di bandara. Sania memeluk Dita penuh haru. Wanita itu sangat baik selama menjadi mertuanya. Jauhnya Kanada- Indonesia, tidak membuat wanita itu jenuh memberikan perhatian pada mereka. Ada saja kirimannya untuk dirinya dan juga Sania.
Saat melahirkan Dewa, kedua mertuanya juga datang. Menyambut gembira kehadiran Dewa. Sania tentu saja sangat gembira, meski terselip juga rasa bersalah karena sudah membohongi Kai dan Dita perihal darah yang mengalir di tubuh Dewa. Tidak sampai disitu, air matanya banjir saat Dita memakaikan kalung, dengan hiasan elang, di leher Dewa.
"Ini..."
"Dari Alana. Sebagai pengganti dirinya yang tidak bisa datang melihat cucunya."
Sania tersentak mendengar kalimat Dita. "Cucunya, Ma?"
"Alana sudah menganggap Arlan seperti putranya, dia juga sangat menyayangi mu. Anak kalian sudah dia anggap seperti cucunya sendiri," jawab Dita.
Alana... Dia membayangkan wajah cantiknya. Secantik hatinya yang begitu lembut dan penuh kebaikan. Sania rindu. Dia hanya bisa berdoa, semoga masih ada kesempatan untuk bertemu dengannya.
Dita melerai pelukan mereka. "Kalian pasti lelah, berjam-jam di pesawat."
"Lelah, sih gak, Ma, lapar iya. Kangen masakan bi Jum," sambar Kasa setelah melepas pelukan Kaisar.
"Kok Bi Jum, sih? Biasanya kalau anak-anak itu jauh itu, kangennya sama masakan mamanya." Dita cemberut, mendelik kesal pada suami dan anaknya yang kompak menertawakannya.
"Memangnya Mama bisa masak?"
"Sembarangan kamu, Mama udah jago masak sekarang. Udah, kita pulang. Cucu Mama pasti udah gak sabaran buat pulang, main dengan banyak mainan yang Opa dan Omanya siapkan. Iya, kan?" Dita mengusap kepala Dewa yang sejak tadi tidak pernah lepas memegang jemari Kaisar.
Sania mengamati dalam diamnya. Beruntung sekali Dewa memiliki keluarga seperti mereka. Sania tidak menyangka dia akan seberuntung ini.
Jalanan yang mereka lalui, membawa Sania ke masa lampau. Lima tahu sudah dia pergi dari kota itu, meninggalkan banyak cerita.
__ADS_1
"Arlan... Dimana kamu sekarang? Masih di Inggris, atau sudah kembali ke Jakarta?" batin Sania memejamkan matanya. Dia ingin bernostalgia dengan bayangan Arlan saat mereka melalui jalanan ini.
***
"Untuk malam ini, kita harus mau berbagi kamar. Kalau kita pisah kamar, mama dan papa jadi tahu soal kita." Kasa berdiri di tengah ruangan, memperhatikan Sania yang sedang mengeluarkan isi koper. Menyusun pakaian Kasa, dirinya dan juga milik Dewa.
"Gak papa, Kasa. Aku gak masalah. Kalau kamu mau melanggar janjimu, pasti sudah kamu lakukan dari lima tahun lalu," jawab Sania tersenyum.
Makan malam keluarga kembali menyatukan mereka. Dita kembali ceria dengan kembalinya anak, mantu dan cucunya. Setidaknya dia tidak lagi kesepian.
Belakangan ini, Kaisar sangat sibuk, hingga dirinya merasa kesepian.
"Apa ini? Banyak banget." Dita terkesiap, oleh-oleh yang dibawa mereka dari Kanada tidak tanggung-tanggung. Tiga koper lebih. Semuanya berkumpul di ruang keluarga dengan Dita yang antusias membongkar isi koper.
"Jadi, kamu udah siap mulai bekerja di perusahaan Papa?" Kaisar mengambil momen itu untuk bicara dengan putranya. Kasa sudah kembali dengan gelar dan pendidikannya, sudah saatnya dia membantu Kai mengurus perusahaan.
"Aku akan ikut apa kata Papa." Kasa tidak lagi menjadi orang yang menyebalkan, tidak pernah menurut seperti dulu, kini dia sudah pasrah akan hidupnya. Tidak lagi mau mengejar kebahagiaan, karena dia beranggapan, kebahagiaan sudah sirna seiring perpisahannya dengan Ayra.
"Papa senang mendengarnya."
"Tapi aku punya satu syarat."
"Katakan!"
"Aku ingin pindah ke rumah kami. Maksudku, aku dan Sania ingin mandiri, jadi memutuskan pindah dari sini."
Gerakan tangan Dita terhenti. Dia menoleh ke arah putranya. Sania menunggu, apa akan ada perdebatan yang terjadi. Dia sudah mengingatkan pada Kasa, mungkin keputusan untuk pindah rumah pasti akan mendapatkan pertentangan dari Dita.
"Kamu gak serius, kan, Kasa?"
__ADS_1
"Serius, Ma. Tolong Mama mengerti. Tidak akan jauh, masih di daerah sini. Mama bisa mengunjungi kami setiap hari."
"Tapi itu gak akan sama, Kasa. Mama tidak bisa bermain dengan Dewa tipa saat. Please, Mama mohon, tetaplah tinggal."
"Sayang, aku mohon kamu menghormati keputusan mereka. Kasa sudah menikah, dia yang memutuskan untuk keluarganya. Kita sebagai orang tua tidak boleh intervensi terlalu jauh," potong Kai. Dia tahu istrinya ini sulit menerima perkataan Kasa, tapi dia juga tidak memaksakan kehendaknya.
***
Hari minggunya mereka pindah dari kediaman Kaisar. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi nyaman untuk ditempati bertiga.
Kaisar menawarkan untuk membantu membelikan rumah itu bagi mereka, katanya anggap saja sebagai hadiah untuk Kasa karena mau bergabung di perusahaan.
Besok dia janji mulai bekerja, dan Kaisar begitu gembira mendengarnya. Namun, Kasa menolak ide itu. Dia masih memiliki tabungan dan juga beasiswa yang didapatkan saat belajar di luar negeri.
Kaisar tidak memaksa, justru mengagumi sikap anaknya yang memiliki prinsip. Namun untuk soal mengisi rumah itu, Kasa tidak lagi menolak karena sejujurnya dia juga tidak memiliki banyak tabungan untuk membelikan Sania perlengkapan rumah tangga.
Dita dengan senang hati mengajak Sania untuk berbelanja furniture rumah tangga. Walau segan, Sania akhirnya ikut bersama mertuanya itu.
Asyik memilih sofa, ranjang, dan juga lemari, keduanya tidak menyadari bahwa Alana yang juga sedang berada di sana, sejak tadi memperhatikan mereka. Setelah memastikan bahwa keduanya adalah orang yang dia kenal, Alana mendekati dan menyapa.
"Kamu sudah pulang?" suara Alana membawa Sania menoleh ke belakang.
"Tante Alana," pekik Sania menyongsong Alana. Gadis itu memeluk erat wanita yang juga sangat dia sayangi ini.
"Oh, aku rindu. Wangi Tante membawaku mengingat Arlan. Aku kangen Arlan, Tante," batin Sania masih memeluk Alana.
"Kamu udah kembali, kenapa gak ngabarin?" ujar Alana setelah melepas pelukan. Dia memperhatikan Sania dan mencubit ujung hidung gadis itu.
"Mereka baru tiba beberapa hari lalu, Al. Mau ngajak ke rumah kamu belum sempat. Kasa buru-buru minta pindah dari rumah, jadi kami sibuk mencari rumah dan juga melengkapi perabotannya. Ini aja masih mau belanja lagi," terang Dita mewakili Sania.
__ADS_1
"Iya. Gak papa, yang penting udah bisa ketemu dengan Sania. Bagaimana si kecil? Putramu pasti sangat menggemaskan. Tante jadi pengen ketemu."
"Kamu pasti sangat suka dengan Dewa, anaknya pintar, lucu dan sangat tampan. Dan entah kenapa ya, setiap melihat Dewa, aku justru ingatnya wajah Arlan. Mereka mirip banget. Kok bisa gitu, ya?" celetuk Dita.