Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Pacar pura-pura


__ADS_3

Tatapan pria itu seolah mampu membuat Alana menggigil. Alana tidak nyaman dan tentu saja tidak suka dengan acara pria itu menatapnya.


"Om, bisa ga, ngeliatnya ga usah kayak gitu?" ucap Alana menyapu tangannya kebelakang tengkuknya yang meremang.


"Gue lagi mengamati lo"


"Kenapa gitu?"


"Buat gue pertimbangkan, bisa ga bayar utang lo ke gue" ucapnya menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Jangan menghina ya, aku mampu bayar utang ku kok" sambar Alana cepat. Dia kesal mungkin karena Alana sudah membuka jati dirinya pada pria itu lewat telepon tadi, yang dia kira adalah marketing bank, membuat pria itu meragukan kemampuan dan niatnya membayar hutang.


"Justru karena itu gue nelpon lo. Gue mau minta lo bayar utang sama gue" satu alis sempura pria itu naik ke atas, melengkapi gaya arogannya.


"Nih.." Alana menyerahkan tiga lembar uang, satu berwarna merah dan dua berwarna ungu. "Gue tambahi 20 ribu"


Pria itu menatap tajam pada Alana, lalu beralih pada duit yang menggantung di udara yang tengah disodorkan Alana padanya.


"Simpan duit lo. Gue ga butuh. Gue mau nya lo bayar hutang dengan cara lain"


"Dasar om-om gila. Omes. Jangan harap ya, kau bisa menyentuhku" Alana menyilangkan kedua tangannya di depan dada, seolah pria itu sedang menel*njangi.


"Heh, gadis ingus! Gue juga ga minat sama lo. Gue sama sekali ga tertarik sama tubuh kurang gizi lo itu. Gue ga mau lah dianggap pedofil" pria itu menyunggingkan senyum, melipat kedua tangan di dada, merasa puas berhasil menghina Alana.


"Nama ku Alana, enak aja manggil gadis ingus!" hardiknya kesal. Fix, dia om-om gila. Aku harus cepat pergi dari sini..


"Oh, nama lo Alana. Ok, gini ya. Gue ga mau basa-basi lagi. Gue minta lo datang memang mau minta lo bayar hutang ke gue. Tapi bukan. pakai duit"


"Terus apa?" sambar Alana masih pasang kuda-kuda. Kalau sampai pria brengsek itu mengajaknya ke hotel, dia akan melempar matanya dengan bubuk merica yang ada di atas meja.


"Gue mau minta lo tolongin gue, pura-pura jadi pacar gue," ujarnya santai.


Alana menggeleng kepala, menarik nafas panjang, dan mengumpulkan kesabarannya agar tidak membalikkan meja ini.

__ADS_1


"Baru tadi kau hina aku, bilang tubuh ku kurang gizi, sekarang dengan pedenya kau minta aku jadi pacar pura-pura mu. Dasar sinting" Alana mendorong kursinya dan hendak beranjak pergi.


"Eit, tunggu dulu. Dengar dulu. Ok, gue salah. Bersikap kasar sama lo. Tapi serius, gue mau minta tolong. Ini urgent banget soalnya.Gue ga tahu harus minta tolong sama siapa lagi" kali ini suara pria itu melembut.


Alana duduk kembali walau enggan untuk mendengarkan perkataan pria itu.


"Nama gue Kaisar, please lo jangan panggil gue om. Umur gue masih 30"


"Sama aja. Udah tua juga itu" mata Kaisar melotot tajam menanggapi argumen Alana.


"Terus aku harus panggil apa?"


"Harusnya lo panggil gue abang. Bang..gitu kan enak dengarnya. Lo masih receh soalnya, paling belum 17 tahun lo ya"


"Enak aja. Aku udah 18 tahun"


"Sama aja. Pokoknya lo panggil gue bang"


"Iya.. bangkai"ujar Alana dengan sudut bibir tertarik ke atas.


"Nah loh, kan kau yang nyuruh manggil abang" jawab Alana mijit keningnya. Lama-lama bicara dengan pria itu membuatnya darah tinggi.


"Iya sih, tapi kalau disambung dengan nama kok jadi ga enak kedengarannya. Maknanya jadi bergeser" Kaisar masih tak terima.


"Ribet amat sih, kau minta aku panggil abang. Namamu Kaisar. Kan benar bang Kai. Kalau di sambung kan jadi bangkai. Capek kalau manggilnya harus lengkap bang Kaisar"


Satu hal yang dinilai Kaisar, Alana adalah gadis ABG yang cerewet. Dan sialnya dia tidak suka kalau disekitar nya berisik.


"Jadi gimana? lo mau bantuin gue kan?"


"Ga. Gue ga mau. Ogah. Masa iya gara-gara utang 100 ribu, aku jadi pacar pura-pura. Lagian buat apa sih?"


"Buat nenek gue nyerah terus-terusan jodohin gue sama gadis-gadis pilihannya"

__ADS_1


"Kenap ga mau? bangkai h*mo ya?" suara Alana yang keras membuat keluarga yang tengah bersantap siang itu menoleh kearah Kaisar dengan tatapan najis.


Mata Kaisar kembali melotot pada Alana untuk kedua kalinya. Baru beberapa jam didekat gadis ini, Kai sudah hampir gila menahan emosi. Mulutnya gada filter, nyakitin hati.


"Bisa ga sih lo ga usah asal nebak. Gue normal. Gue suka kue apem, gue suka ngemut pabrik susu alami, cuman gue ga mau terikat. Gue ga mau nikah!"


"Ish, menjijikkan. Dasar lelaki bi*dab" ucap Alana menatap jijik pada Kaisar. Alana paling benci lihat pria tampan dan juga mapan yang tidak suka berkomitmen dan suka main perempuan tanpa mau tanggung jawab.


"Udah lo ga usah menghakimi gue. Tugas lo cuma satu, pura-pura jadi cewek gue, saat Minggu depan gue bawa ketemuan sama nenek gue"


"Eit, tunggu dulu. Emangnya aku udah bilang mau. Ga lah. Ini utang aku, plus dengan tambahannya. Aku cabut, kita impas ga ada lagi hutang ku sama mu" kali ini Alana benar-benar pergi meninggalkan Kaisar.


"****" umpatnya memungut uang Alana yang dia letakkan di atas meja tadi lalu bergegas mengejar Alana.


"Gadis ingus.." kalimat Kaisar membuat Alana berbalik dan menatap tajam pada Kaisar.


"Oke, sorry. Alana please, bantu gue. Kasihan nenek gue yang udah tua, sakit-sakitan susah payah cariin gue calon istri. Kalau dia udah lihat gue punya cewek, dia bakal berhenti kesana-kemari cariin jodoh buat gue. Kasihan nenek gue Al. Gue udah punya cewek yang gue suka, cuma lagi di luar negeri. Sampai pacar gue datang, please lo mau pura-pura jadi pacar gue, please.." pinta Kaisar memohon. Hanya Alana satu-satunya harapan yang dia miliki.


Sesaat Alana tertegun. Dia ragu untuk menerimanya. Tapi saat Kaisar mengatakan neneknya yang sedang sakit membuat nurani Alana terketuk.


"Tapi kan dosa bohongi nenek mu bang"


"Dosa buat kebaikan dia kan ga papa Al, masih diampuni Tuhan lah"


"Sotoy. Dosa ya dosa. Terus itu cuma satu kali aja kan ketemu sama nenek?"


"Iya, sekali aja" sambar Kaisar sumringah. Kini dia bisa tenang setelah Alana setuju membantunya.


"Sial banget sih aku, ditolong sama lo Minjam duit 100 ribu aja bayarnya berat gini"


"Jangan lihat nilai duit 100 ribunya. Tapi lihat hasil dari kebaikan gue pinjami lo duit itu. Lo bisa pulang dengan selamat, tanpa harus jalan sampai rumah. Belum lagi ditengah jalan ketemu pria-pria brengsek yang coba manfaatin lo"


"Udah ketemu juga, nih..didepan aku, salah satu pria br*ngsek nya" sahut Alana dengan tatapan menantang.

__ADS_1


*** Hai, aku datang lagi, ngucapin terima kasih buat semua yang masih setia. Dan ini mau promoin novel teman aku, kuy Mampir 🙏



__ADS_2