
"Apa-apaan ini? Lu datang bareng Sania?" sambutan tidak bersahabat dari Kasa. Mereka bertemu di parkiran pagi ini. Sama halnya dengan Arlan, Kasa yang khawatir pada keadaan Sania memutuskan untuk cepat datang ke sekolah.
Sania tidak ingin mengganggu perbincangan kedua sahabat itu, memilih untuk pergi ke kelasnya saja.
"Ketemu di jalan. Kenapa? Sah-sah aja, kan!"
"Oh, gitu. Jadi ini semua bagian dari trik pendekatan? Oke, gue paham sekarang. Sah-sah aja, sih, tapi jangan harap lu bakal menang!"
Arlan ingin membantah, menjelaskan maksud kalimatnya agar Kasa tidak salah mengerti, tapi Agatha mendatangi mereka.
"Morning, Babe, nanti kita nonton, yuk?"
Arlan tidak habis pikir bagaimana mungkin ada gadis yang tidak tahu malu seperti itu. baru tadi malam Dia mengancam memperingatkan Agatha dengan sikap kasar, seharusnya dia sudah tidak mau bicara pada Arlan, jika memang normal, nyatanya pagi ini dia menyapa seolah tidak ada masalah apapun yang terjadi pada mereka.
"Gue gak bisa."
"Sama gue aja gimana, Gath?" sambar Tomi yang sejak lama menyukai gadis itu. Hanya karena menghargai Arlan saja dia tidak jadi mendekati Agatha. Lagi pula, gadis itu menyukai Arlan, jadi dia lebih baik menyerah saja. Tapi sekarang, keadaan berubah. Arlan sudah mengumumkan di basecamp, bahwa dirinya tidak lagi bersama Agatha sejak bulan lalu, jadi dia bisa kembali mendekati gadis itu.
"Najis. Siapa lu? Sopan lu kalau ngomong, gue pacarnya Arlan, teman lu!" maki Agatha sembari meludah. Sakit hati Tomi, dia hina dan dipermalukan di depan banyak orang.
"Berapa kali lagi gue bilang sama lu, kita udah gak punya hubungan apapun lagi. Kenapa sih, lu gak paham juga?" Arlan memilih untuk meninggalkan Agatha dengan ekspresi terkejut yang tentu saja dibuat-buat. Dia perlu menyelamatkan mukanya di depan teman sekolah.
Kasa hanya tertawa mengejek ke arah Agatha sebelum mengikuti jejak Arlan ke arah kelas.
***
"Sini, kita ngomong sebentar." Kasa menarik tangan Sania dan membawanya ke belakang gedung laboratorium. Begitu dia melihat Sania keluar dari ruang kelas karena dimintai tolong oleh gitu fisika membawa buku tugas ke ruang guru, Kasa pun segera izin ke toilet.
"Kasa, kamu ngapian? Ngomong apa, sih, sampai perlu bawa aku kemari?"
Gedung labor adalah tempat aman untuk mereka bicara. Jarang ada siswa yang akan datang kemari, jadi apapun yang mereka bahas, tidak akan ada yang mendengar.
"San, kemarin lu kemana? Gue nyariin lu." Kasa menarik tangan Sania untuk duduk di bangku yang dipahat dari batu.
"Sorry, kemarin aku izin pulang, kepalaku sakit banget," jawab Sania merasa tidak enak membuat Kasa mengkhawatirkannya.
__ADS_1
"Lu jangan pikirin apapun yang dikatakan Agatha dan gengnya. Kalau ada yang ngejahatin lu, ngomong ke gue!"
Sania tersenyum. Beruntung sekali dia dikelilingi orang-orang baik yang peduli padanya.
"Nanti gue antar pulang ya, please jangan nolak."
"Gak usah, Kasa. Aku bisa pulang sendiri."
Penolakan Sania jelas diabaikan oleh Kasa. Dia memaksa, hingga mengancam tidak akan membiarkan Sania pergi dari tempat itu sebelum gadis itu menyetujui.
"Ya udah deh." Sania terpaksa mengalah.
***
Bel istirahat berbunyi. Sania sudah memutuskan akan absen ke kantin beberapa Minggu ini, sampai semua cemoohan teman sekolah mereka mereda.
Rani juga tadi mengajaknya, tapi Sania juga menolak secara halus. Hanya Rani yang tidak berubah padanya. Gadis itu tetap mau berteman dan bersikap baik kepada Sania seperti sebelumnya.
Adanya dukungan dari Kasa, teman-temannya, Rani dan terlebih Arlan membuat Sania lebih kuat dan percaya diri menghadapi semuanya. Bahkan juga itu yang terburuk. Ucapan Arlan yang menguatkan, menjanjikan dirinya akan selalu ada untuknya hingga tidak ada yang perlu dia takutkan, buat Sania semakin kuat.
Matanya mencari sosok yang sejak jam pelajaran kedua sudah dipanggil guru, tidak juga kembali ke dalam kelas. Tak lama, Kasa juga dipanggil.
Hingga pelajaran terakhir usai, keduanya belum kembali. Sania menerka-nerka, kemana mereka pergi, tapi pesan yang masuk dari Kasa menjelaskan semuanya.
Sedikit lega, Kasa tidak jadi mengantarnya pulang karena mereka mengikuti seleksi peserta lomba olimpiade matematika antar negara di Asia tenggara. Sania bergegas pulang, memilih gerbang depan agar tidak perlu bertemu dengan teman-teman yang menatapnya sinis.
Sayangnya, langkah itu membuat Sania tidak bertemu Arlan dan juga Kasa yang baru tiba di sekolah. Keduanya menunggu di parkiran.
Lama menunggu, sosok Sania tak kunjung datang. Kasa menyesal sudah mengirim pesan yang memberitahu kemungkinan dia terlambat kembali ke sekolah.
"Woi, lu ngapain? Kelas lu di sana, kenapa pulang lewat sini?" Perbincangan Kasa dan Arlan terhenti, Ayra mendatangi mereka.
"Kakak, bagi gue duit, dong? Kita mau ke perpustakaan umum, ngerjain tugas," jawabnya mengabaikan pertanyaan sang kakak.
"Perpustakaan umum? Itu? Ngapain minta duit?"
__ADS_1
"Ege! Maksudnya perpustakaan daerah, di pusat kota. Sama teman-teman sekelas. Bu Evi kasih tugas. Buruan kak, dompet aku ketinggalan!"
Arlan membuka dompetnya, melirik beberapa lembar yang akan dia berikan. "Ingat pulang, jangan kelayapan," teriak Arlan tapi tidak dipedulikan oleh Ayra yang sudah berlari ke arah temannya.
"Ada yang aneh," cicit Kasa memandangi Ayra. Arlan mendengar ucapan Kasa hanya melihat ke arah temannya itu sembari memicingkan mata.
"Apa?"
"Hah? Oh, gak ada. Ayo, cabut!"
***
Anehnya, sikap Ayra mempengaruhi pikiran Kasa. Saat dia tidur-tiduran di sofa basecamp, pikirannya melayang.
Ayra tidak pernah mengabaikan keberadaannya. Setiap melihat dirinya, Ayra pasti salah tingkah, tapi tadi, untuk pertama kalinya selama dia mengenal Ayra, gadis itu bisa bersikap cuek padanya.
Kasa ingat kembali perkataan Arlan saat di kamarnya tempo hari. Gelagat Ayra setiap bertemu dengannya menunjukkan kalau gadis itu suka padanya seperti yang dikatakan Arlan, dan lambat laun, Kasa terbiasa oleh hal itu.
"Gue balik dulu," ucap Kasa berlaku tanpa mengatakan kemana dia pergi atau mengajak teman-temannya seperti yang biasa dia lakukan.
Saat melintas di jalan Sudirman, melewati perpustakaan umum, Kasa kepikiran untuk menemui Ayra. Entah apa yang terjadi padanya, hingga sampai mendatangi Ayra ke sini.
"Loh, Kak Angkasa, ngapain di sini?" tanya Rara dan Niken. Kasa ingat mereka, menebak teman Ayra tadi saat pamit pada Arlan.
"Minjam buku, buat tugas. Kalian masih di sini? Mana Ayra?"
Perasaan mereka sudah lama pergi, lebih dia jam kenapa masih betah di sana.
Keduanya mematung. Walau Ayra tidak memberikan komando pada mereka untuk merahasiakan dia pergi dengan siapa, tapi tetap saja, sebagai sahabat baik, keduanya merasa tidak punya hak memberitahukan.
"Jawab, atau kalian tahu akibatnya!"
"Ayra gak jadi ngerjain tugas, Kak. Dia dijemput sama cowoknya." Niken buka suara, dia cukup kenal dengan Kasa dan gengnya, tidak ingin mendapatkan masalah lebih berat lagi nantinya.
"Cowoknya? Siapa?" Kasa tanpa sadar menaikkan suara saat menginterogasi. Ada lahar kecemburuan yang akan meledak.
__ADS_1
"Dari sekolah lain, Kak, namanya Roki."