
Perasaan canggung tentu saja dirasakan oleh pasangan suami istri itu. Lama saling berpandangan, Arun melihat kegelisahan dalam wajah Alana hingga dia merasa tidak tega. Raut wajah Alana lebih cocok untuk orang yang akan dieksekusi mati dari pada diajak buat adiknya Arlan.
"Kalau kau belum siap, ga papa Al, kita tunda aja" ucap Arun melihat nafas Alana naik turun saat kancing gaun tidurnya di buka.
"Memangnya boleh? abang ga akan marah sama aku?" tanya Alana polos. Jujur saja, dia memang belum siap untuk melakukannya.
"Sayang, kita melakukannya karena suka sama suka dan perwujudan rasa cinta kita. Tidak ada paksaan, jadi kapan pun kau siap, baru kita akan lakukan. Aku tidak menikahi mu hanya karena ingin melakukan itu, aku memang menginginkan mu menjadi istriku, ada di sisiku, dan melengkapi hidupku" ucap Arun membelai punggung Alana hingga wanita itu terbuai dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Arun.
Satu menit berlalu, keduanya tampak masih diam. Tangan Arun masih membelai lembut punggung seputih gading milik Alana, dan ajaibnya membuat tubuh itu relaks.
Arun membelai pipi indah Alana dengan jari telunjuknya. " Jangan tegang sayang, yang harus kau ingat adalah, yang terjadi diantara kita adalah berbagi, yang terlahir dari gairahku untuk berada dalam dirimu. Ketika aku berada di dalam dirimu aku tidak akan menguasai mu, tapi aku memberikan tubuhku seperti aku memberikan cintaku padamu dan juga sumpah setiaku hari ini"
Dibawah cahaya jingga yang berasal dari pantulan lampu tidur dikamar itu Arun masih melihat kebimbangan dalam diri Alana, lalu diam-diam Alana mendongakkan wajahnya, menawarkan bibirnya untuk dicium oleh suaminya. Dengan sangat pelan dan lembut, Arun menunduk dan mencium istrinya, dengan panjang dan lama, dengan segala kelembutan yang menyiksa dalam hati Arun.
Lalu setelah dalam beberapa saat diam dan tegang, Alana menempelkan jemari lentiknya di pipi Arun dan membalas ciuman Arun dengan segenap getaran cinta dan juga rasa malu yang Arun tahu saat ini sedang dirasakan Alana.
"Kau benar bang. Seharusnya tidak ada yang perlu aku takutkan. Apa yang akan kita lakukan pasti..pasti akan menyenangkan?"
"Apa kau yakin?" tanya Arun memastikan. Dia tidak ingin bercinta dengan Alana yang penuh ketakutan seolah dia adalah binatang buas yang sudah kelaparan bertahun-tahun lamanya.
Alana mengangkat tubuhnya, membuat tangannya menjadi penyanggah di kepalanya. Matanya menatap wajah tampan Arun, wajah yang selalu berhasil membuat pipinya merona merah dan jantungnya berdetak cepat sekali.
"Aku yakin. Aku ingin kau melakukannya dengan semua cinta yang kau rasakan. Aku ingin kau memilikiku seutuhnya malam ini, menyentuhku dengan semua perasaan damba yang ku rasakan" bisik Alana memainkan jemarinya di dada Arun yang pastinya mampu mengirim gelegar hangat ke seluruh aliran darahnya.
Bibir lembut Alana terbuka hanya dengan desakan ringan lidah Arun, dan lengannya melingkari leher Arun saat gadis itu menyambut lidah suaminya. Arun menggoda Alana, menyiksa, dan menawarkan diri, merayu Alana dengan ciuman bergair*h hingga Alana menempel pada Arun.
__ADS_1
Bibir Alana bergerak maju mundur dibawah penyerahan suaminya yang kini sudah dilanda gair*h akibat ciuman mesra itu.
Arun membelai rambut indah Alana, mengelus lehernya hingga ke dada wanita itu, membelai puncak payud*ranya hingga wanita itu menegang.
Alana bergetar senang dan semakin menempelkan tubuhnya pada Arun yang liat, namun itu hanya sesaat, lalu Alana tersentak menjauh seakan terbakar.
Arun tahu apa yang membuat Alana takut dan ingin menolak kembali, namun Arun menahan pinggul Alana dengan lengannya agar tetap menempel di pinggul Arun.
"Jangan sayang, please" bisik Arun lebih tepat menjadi des*han yang tertahan ketika Alana menarik tubuhnya dari bukti gairah Arun. "Tidak ada yang akan menyakitimu"
Bulu mata Alana yang lentik terangkat dan gadis itu menatap ragu dengan sorot menuduh pada Arun, yang membaut pria itu akhirnya tersenyum.
"Bagian diriku yang kau takuti hanya akan merespon kedekatan mu, menginginkan mu" Arun mendekap Alana lebih dekat ke paha dan pinggulnya, tapi gadis itu tetap kaku dan tegang. "Kau masih takut aku akan menyakitimu meskipun aku berjanji tidak akan menyakitimu kan? aku mohon sayang, lupakan masa lalu. Lupakan malam itu, saat aku memaksamu dengan bringas seperti binatang"
Alana menelan ludah dengan susah payah, lalu menggeleng. Jika Arun mengatakan ini tidak akan menyakitkan, maka dia akan percaya pada suaminya itu. Dengan ragu-ragu Alana menggerakkan jemari di sela rambut gelap yang ada di dada Arun dan merasakan debar jantung pria itu yang semakin cepat, gerakan otot dada Arun juga semakin mengencang saat Alana menggerakkan tangan ke bawah.
Alana menarik nafas panjang dan gemetar dan sambil merangkul leher Arun, menekankan tubuhnya disepanjang tubuh Arun yang keras dan mulai menciumi pria itu. Gadis itu mencium kening, mata dan bibir pria itu sekilas.
Penuh keberanian yang dipaksakan, Alana menyelipkan lidahnya pada bibir Arun, merasakan kehalusannya, dan hal itu berhasil membuat Arun mengerang, bibirnya terbuka lebar penuh gairah di atas bibir Alana, saat itu lah Arun menggulingkan tubuh Alana hingga telentang lalu mencondongkan tubuh diatasnya.
"Aku menginginkan mu" bisik Arun di bibir Alana yang terbuka. "Aku sangat menginginkan mu sampai rasanya sangat tersiksa" dia menjauhkan bibirnya dari gadis itu dan tangannya bergetar saat menangkup wajah gadis itu.
"Aku tidak akan menyakitimu" janji Arun, suaranya parau karena begitu mendambakan Alana saat itu.
Jawaban Alana justru membuat tenggorokan Arun terasa nyeri. "Aku tahu kau tidak akan menyakiti ku, tapi tidak penting, aku tidak keberatan kau akan menyakitiku setiap malam selama kau selalu mengatakan tentang ingin menjadi bagian dari diriku" bisik Alana.
__ADS_1
Arun sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia ******* bibir wanita itu dengan lembut namun terselip keliaran yang justru digilai Alana. Gadis itu menger*ng lembut saat suaminya membelai payud*ra dan menggoda puncaknya, dan Alana menger*ng lembut ketika bibir Arun mengikuti jejak tanganya.
Setiap suara yang dilontarkan Alana berpacu di pembuluh darah Arun bak obat bius. Arun tidak percaya betapa besar gairah yang disembunyikan Alana juga betapa tubuhnya sangat menginginkan gadis itu. Arun begitu tergila-gila pada gadis itu.
Desakan penyatuan itu semakin panas, tapi ketika Arun menggerakkan tangan mendekati sela paha Alana, wanita itu akan tersentak takut lalu merapatkan kedua kakinya.
"Jangan sayang" gumam Arun penuh gairah seraya menangkup bibir Alana dalam ciuman dalam hingga kembali membuai gadis itu, lalu perlahan merenggangkan paha Alana. Gadis itu tersadar kembali saat Arun membuka pahanya dan berada di antara kakinya, merasakan pinggulnya diangkat untuk menerima Arun dan Alana menahan teriakan panik saat pria itu menyatukan tubuh mereka.
Rasa takut itu menghilang selaras dengan sensasi menyenangkan yang kini Alana rasakan. Secara naluriah, Alana berubah santai dan membuka diri untuk Arun, lalu terkesiap nikmat ketika pria itu menyatukan tubuh mereka dengan sempurna.
Alana merangkul Arun, tersesat dalam rasa mendamba yang aneh, karena ingin pria itu tetap berada dalam dirinya selamanya. Sensasi ringan terurai di perutnya, lalu menjalar bagai api perlahan semakin besar dan kuat hingga sensasi itu berpacu liar dalam sarafnya.
Kepala Alana terus bergerak tidak karuan di atas bantal, dia menggila akan rasa nikmat itu. "Aku mohon.." desisnya
"Segera sayang.." janji Arun.
Gunung berapi yang mengancam meledak dalam diri Alana akhirnya meledak dengan begitu kuat hingga gadis itu meng*rang rendah. Arun langsung membungkam er*ngan itu dengan bibirnya seiring ledakan dahsyat dalam diri Arun pun meledak sempurna.
"Apakah kau bahagia sayang?" bisik Arun mencium telinga Alana
"Sangat.."
***
Hadeh, capek buat bab bajak sawah gini. Udah lah ya, satu bab ini aja kayak beginian, dada sesak nih😅😅
__ADS_1
btw, aku mau rekomendasi novel my BESTie nih, semoga suka🙏😘