Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Sia-sia


__ADS_3

"Aku pergi, jangan lupa makan, jangan kelelahan, jangan banyak pikiran. Dita udah dewasa, tahu jaga dirinya. Jangan terlalu memikirkannya! Masih ada Arlan yang perlu perhatianmu," ucap Arun mengelus pipi Alana. Pria itu pamit mau ke Kalimantan selama tiga hari.


Awalnya Arun sudah meminta Alana untuk ikut, tapi gadis itu tentu saja menolak, selain karena toko Roti, Alana masih ingin mencari Dita.


"Abang hati-hati ya, jangan lirik cewek lain, cewek-cewek Dayak cantik-cantik, ntar abang kepincut lagi," ucapnya bermain dengan jemari Arun. Pria itu hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan gadisnya itu.


"Mau secantik apapun gadis yang kutemui, aku tidak akan mau dengan mereka, karena mereka bukan kau. Hatiku sudah dipenuhi olehmu, ga akan muat kalau ada yang mau masuk lagi," ucap Arun menangkup kedua sisi wajah Alana. Memaksa gadis itu untuk menatapnya.


"Iya hatimu udah ada aku, tapi kalau cowok dirayu sama cewek, terus udah nafsu lihat ceweknya, otaknya jadi beku ga ingat sama yang di rumah," cibirnya mengingat berita tadi malam yang dia baca pada salah satu halaman medsosnya.


"Ga bakal deh. Orang yang di rumah lezat gini, ngapain tergoda sama yang diluar. Lagi pula, cintaku padamu bukan hanya sekedar skin to skin, tapi karena aku memang mencintai dan mengasihi mu dari dasar hatiku yang terdalam"


Tak ada kata yang bisa menggambarkan perasaan Alana kini, jadi dia memutuskan untuk masuk dalam pelukan suaminya sebagai pengukuh rasa cintanya.


***


Setelah toko tutup, Alana bergegas pergi ke club yang dulu pernah Dita ceritakan padanya. Tempat yang menjadi titik awal masalah pelik ini terjadi.


"Benar di sini tempatnya pak?" tanya Alana menatap gedung tinggi itu. Entah setan mana yang membuatnya berpikir untuk menjadi Dita ketempat itu. Dia takut, bahkan untuk turun dari taksi saja dia ragu. Menimbang apa lebih baik dia kembali saja. Tapi mengingat siapa tahu Dita memang ada di sana, atau seenggaknya ada informasi yang bisa Alana dapat dari orang yang ada di dalam sana.


Langkah pertama Alana mendarat mulus melewati pintu bab, itu pun setelah dia berdoa terlebih dahulu. Bukannya Alana tidak tahu kalau ditempat itu banyak hal tidak pantas yang bisa dia lihat. Belum lagi pria mabuk yang suka seenaknya menarik wanita untuk digaulinya.


"Hei, lo mau jualan, touch up dikit kek, mana pakaian lo ga banget," tegur salah satu wanita yang menjadi bintang top di bar itu. Sejak tadi dia memperhatikan Alana yang celingak-celinguk melihat seisi ruang club, persis seperti gadis yang baru terjun ke dunia keringat malam ini. Belum ada pengamalan, hanya menggunakan keberanian untuk memulainya.


Menatap penampilan Alana dari atas ke bawah. Celana jeans biru dengan kaos oblong berwarna putih dan sepatu teplek. Penampilan Alana lebih tepat jadi anak SMA dari pada lagi open BO.


"Hah? maksudnya kak?" tanya Alana bingung.


"Lo gadi open BO kan?"


"Eh, bukan kak. Aku mau cari teman ke sini," sahut Alana gugup. Dia paham istilah mereka, sudah umum, orang awam manapun pasti mengerti.

__ADS_1


"Oh, jadi teman lo yang ngelon*e di sini?"


"Eh, bukan. Maksud aku siapa tahu teman aku nongkrong disini" ucap Alana menunjukkan layar ponselnya.


"Dua hari lalu ni cewek emang ke sini, masih duduk di meja kita, tapi ga tau kenapa tiba-tiba dia cabut aja," ucap suara wanita yang baru bergabung dengan mereka.


"Serius lo? kasihan ni cewek kalau lo mau ngerjain," ucap si bintang club merujuk pada Alana.


"Serius gue. Lo ga ingat, pas lo cerita tentang the king K itu, dia kan lagi disamping kita"


"Oh, gue ingat. Cewek tomboi bawa ransel itu kan?" akhirnya si gadis bintang ingat dan mulai mengangguk-angguk.


"Iya, dua hari lalu emang dia kemari, tapi setelahnya ga pernah datang lagi gue lihat"


Alana terdiam. Mendengus kesal. Baru saja dia semangat mendengar kalau Dita ada di sini, tapi kembali kecewa karena sejak kemarin malam, sahabatnya itu tidak mengunjungi club itu.


"Udah, lo ga usah sedih. Tungguin aja disini. Siapa tau malam ini teman lo datang"


"Sampai jam berapa kak? kasihan anak aku di rumah"


"Iya deh kak, aku nunggu aja"


Oleh si bintang malam, Alana dipesankan cola. "Nih lo minum. Kalau ntar ada pasien gue dan teman lo belum datang, lo jangan mau dikasi minum orang lain, apalagi diajak pergi," ucapnya memperingatkan. Dia tahu bagaimana rusak dan bejatnya para pria hidung belang yang ada ditempat itu.


Tidak semua gadis yang datang bertujuan jual diri, ada yang memang ingin menikmati live musik atau atraksi DJ di lantai dua, namun bagi para gadis polos, kemungkinan bisa masuk jebakan mereka, biasanya melalui minuman yang mereka tawarkan.


"Iya kak, makasih," sahut Alana pendek.


Dua jam menunggu, ini bahkan sudah lewat jam 9, tapi tidak ada tanda-tanda Dita akan datang.


"Sendirian dek?" suara bariton di sebelahnya membuat Alana menoleh dan spontan menjauhkan tubuhnya yang sudah dipepet pria itu.

__ADS_1


"Eh..iy- iya om" sahutnya terbata.


"Om temani ya?" tawar pria gendut dengan stelan jas hitam.


"Ga usah om. Saya ga usah ditemani, bisa sendiri" Alana semakin menjauhkan duduknya, jantungnya mulai berdetak cepat, dia harus berpikir cara menyelamatkan diri.


Bang Arun, aku takut...


"Ga baik loh, cewek secantik adek sendirian" si om genit semakin nyosor.


"Maaf om, jangan deket-deket, nanti om ketularan penyakit saya," ucap Alana spontan.


"Penyakit? kamu punya penyakit menular apa? jangan becanda dong" si om masih niat menggoda.


"Udah tiga tahun ini saya mengidap sindrom brain fog "


"Penyakit apa itu?"


"Mmm..itu seperti penyakit gatal yang menular, dan sangat mematikan" jelas Alana mantap. Dia yakin kali ini pria gendut itu pasti menyingkir. Dan tepat! Tak lama om gendut bangkit membawa gelasnya tanpa berkata apa pun padanya.


Hahahaha..."Kok kau jadi jenius gini sih Al?" ucapnya memuji dirinya. Padahal itu adalah istilah yang baru dia baca di halaman facebooknya, melalui postingan seseorang yang suka lupa akan sesuatu secara tiba-tiba.


Dua botol sudah ludes, dan Dita belum juga tampak. Alana melirik jam tangannya, pukul 10.


Hufffh.."Dita pasti ga datang malam ini, aku balik aja lah," ucapnya bangkit. Namun baru dua langkah, Alana menubruk bahu seorang pria yang tidak dia lihat karena sibuk memandangi kelakuan orang-orang yang ada di ruangan itu. Ada yang mabuk, joget-joget ada yang lagi saling h*sap mengh*sap.


"Punya mata ga?" hardik suara berat itu.


"Maaf om, mas..bang..," racu nya menunduk. Tidak ada balasan, Alana mengangkat kepalanya dan terkejut melihat siapa yang dia tabrak. "Bangkai?"


***

__ADS_1


Hai..nunggu up lagi, yuk mampir di sini



__ADS_2