Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 6


__ADS_3

"San, kemarin gue gak masuk, bantu terangkan pelajaran kemarin, dong?" Angkasa mengambil tempat di sebelah Sania, begitu melihat gadis itu tiba.


Angkasa mulai serius menjalankan rencananya. Jangan sampai Arlan lebih dulu mendapatkan perhatian Sania.


"Yang mana?" Sania membereskan tasnya, mengeluarkan buku tulis dan pouch pena nya.


"Ini, yang ini, sama yang ini juga. Gue udah coba kerjakan, tapi tetap gak bisa," ujar Kasa menyodorkan buku matematikanya di depan Sania.


Gadis itu diam, memandangi lembar soal tang terbuka, lalu mengangguk. Sania mulai menerangkan soal pertama. Kasa mendengar, tapi matanya memandangi wajah Sania.


Kulitnya yang putih mulus, sehat dan tanpa ada riasan sedikitpun membuat kecantikan Sania terlihat alami. Bibir merahnya tanpa ada sentuhan lipstik, membuat Kasa ingin sekali merasainya. Kasa menelan saliva. Sania memang nikmat, tapi jangan sekarang. Dia tidak ingin gadis itu ketakutan padanya. Sebisa mungkin, pendekatan ini harus terlihat natural.


"Kamu paham?"


Sania sudah selesai menjelaskan soal nomor satu. Sejak tadi pikiran Kasa justru menghayal kan bisa membelai wajah Sania.


"Hah? Oh, iya. Lanjut ke soal nomor dua aja, San," jawab Kasa gelagapan. Mana mungkin dia tidak tahu soal itu. Semua jenis pelajaran IPA, bisa dia kuasai. Rumus mana yang dia tidak tahu. Hanya saja Sania yang polos tidak tahu kalau Kasa dan Arlan adalah siswa terpintar di sekolah itu.


Sania melanjutkan soal nomor dua. Tapi Suaranya terhenti, kala tiba-tiba Kasa menyentuh punggung tangannya.


"Nanti, kita pulang bareng, ya?"


Sania bengong. Menoleh pada Kasa yang masih menatapnya. Gadis itu spontan menarik tangannya dan mendorong punggungnya ke belakang.


"Maaf, tapi gak usah. Aku pulang sendiri aja," tolak Sania sopan. Kasa yang tahu tidak akan mudah mendekati gadis itu, mencoba lagi. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Sania.


Gadis itu merasa terjebak, ruang geraknya dikunci. Satu persatu teman sekelas mereka masuk, melihat ke arah mereka dan tersenyum mengerti. Namun, hal itu semakin membuat Sania semakin tidak nyaman.


"Angkasa, jangan begini. Gak enak dilihat teman-teman," pinta Sania semakin menjauhkan jaraknya, tapi tangan Kasa yang kuat menahan gerakan Sania yang coba berdiri.

__ADS_1


"Bilang dulu kalau kamu mau pulang bareng aku, kalau gak, kamu aku cium," ledek Kasa semakin mendekatkan wajahnya.


"Gila, ada yang udah jadian, nih?" Suara Dito membawa pandangan Sania dan Kasa ke arah pemiliknya. Ternyata, tidak hanya Dito yang masuk ke dalam ruang kelas, tapi ada Tomi, Gilang, dan juga Arlan yang semua melihat ke arah keduanya.


Kasa mengedipkan mata ke arah Arlan. Dia memberi kode kalau dirinya sudah satu langkah di depan Arlan dan pasti akan memenangkan taruhan kali ini.


Sania masih melihat ke arah Arlan. Mencoba memahami arti cara pandang Arlan padanya. Tapi hanya beberapa detik, karena Arlan mendorong tubuh Tomi yang menghalangi langkahnya, lalu bergerak ke arah kursinya.


"Angkasa, kamu pindah sana. Rani udah datang, tuh," bujuk Sania meminta pertolongan pada Rani yang kita baru tiba.


"Kamu bilang dulu, mau aku antar pulang," paksa Kasa. Dia harus segera menuntaskan permainan ini. Kalau Sania mau diajak pulang bareng, dipastikan tidak akan lama lagi, gadis itu akan jatuh dalam pelukannya.


Sania benar-benar geram, tapi dia tidak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaan Kasa agar bisa lepas dari kungkungan pria itu.


"Iya, buruan sana."


"Siap-siap lu kehilangan motor sama isi ATM. Gue yang bakal memenangkan taruhan ini," ucap Kasa penuh yakin setelah berada di samping Arlan. Pria itu bergeming, bahkan tidak peduli sama sekali atas celoteh Kasa.


***


Jam istirahat pertama, Arlan menolak untuk pergi ke kantin, dia masih kesal. Asli, selama pelajaran awal hingga bel istirahat berbunyi, dia memilih untuk tidur.


Sesekali Sania melirik ke arah Arlan, mencoba melihat apa yang dilakukan Arlan, tapi pria masih betah tidur dan bergelut dengan mimpinya.


"Ayolah, Ar. Lu gak ngambek kan, karena gue udah dekat sama Sania?" goda Kasa dengan tawa mengejeknya.


"Tutup mulut lu, memangnya dia udah mau sama lu?" Arlan yang awalnya tidak menanggapi taruhan itu, pada akhirnya terpancing juga. Egonya tercubit kala melihat kedekatan Sania dan Kasa pagi tadi.


"Oh, jelas, dong. Nanti aja kita mau pulang bareng. Lu tahu lah, apa artinya. Cewek mana, sih, yang udah naik ke motor gue bisa gak jatuh cinta sama gue? Survey sudah membuktikan, Bro!"

__ADS_1


Arlan malas mendengar kecongkakan yang hakiki dari Kasa. Lebih baik dia memilih ikut ke kantin, setidaknya, dia tidak akan mendengar celotehan sahabatnya itu.


"Nah, kan si ******, tadi aja katanya gak mau ke kantin. Tungguin gue!"


Kasa berlari di koridor, mengejar Arlan yang juga ikut mempercepat langkahnya.


Syukurnya, barisan antrian untuk mengambil makanan sudah tidak panjang lagi. Hanya sisa tiga orang makan giliran mereka berdua. Dito, Tomi dan Gilang sudah lebih dulu ke kantin, jadi sekarang mereka sedang menikmati makan siangnya.


"Duduk dimana, nih, padat banget," lontar Kasa mencari kursi kosong.


"Nah, itu, di sana. Ayo," lanjut Kasa menarik kemeja Arlan hingga pria itu tidak berdaya selain mengikuti langkah Kasa.


"Kita boleh gabung di sini, ya?" ucap Kasa langsung duduk di depan Sania dan juga Rani. Kebetulan dua orang siswa yang tadi duduk di depan mereka sudah selesai makan dan pergi dari sana.


"Si-silakan aja," jawab Rani gugup. Kedua orang yang kini ada di depan mereka itu bukan siswa sembarangan, tapi preman sekolah. Sania mungkin belum banyak dengar, tapi berbeda dengan Rani.


"San, kamu kok gak nungguin aku. Tadi aku cariin, udah gak ada di tempat." Kasa memulai percakapan, basa-basi yang dia pikir tidak diketahui Sania. Dia sebelas dua belas dengan Arlan, memilih tidur di kelas. Jadi wajar, kalau ber berbunyi saja mereka tidak dengar. Kalau bukan karena ditoel oleh Dito, pasti keduanya masih tidur.


Pilihan tempat duduk paling belakang memang sangat strategis untuk tidur tanpa ketahuan oleh guru. Namun, seandainya ketahuan pun, pastinya tidak akan ada guru yang peduli dan mau repot-repot membangunkan mereka.


Sania diam, tidak menjawab. Hanya senyuman kaku yang coba dia berikan. Tubuhnya berubah beku hanya menyadari kalau Arlan ada di depannya, padahal pria itu sama sekali tidak mengatakan apapun. Dia sibuk mengamati layar ponselnya da. Mengaduk-aduk minumannya.


"Kamu makan apa Sania? Kamu harus banyak makan protein, nih," Kasa memberikan jatah telur ayam miliknya ke nampan gadis itu.


"Maaf, tapi aku gak makan telur rebus. Mmm... Ini gak kamu makan?" Sania justru berbalik bertanya pada Arlan saat melihat pria itu menyisihkan sayur bayamnya.


Pria itu mendongak, dan hanya menggeleng, sebagai jawaban. Tanpa mengatakan apapun, Sania segera mengambil sayur dari bowl Arlan, lalu memakannya begitu saja. Gadis itu makan dengan lahap, tidak jaim dan bahkan terlihat sangat kelaparan.


Kasa dan Arlan, serta Rani serentak memperhatikan Sania yang makan sayur dengan lahap. Arlan lalu menyodorkan mangkuk tempat beberapa potong ayam kecapnya ke depan Sania.

__ADS_1


"Ini untuk aku?" Bola mata Sania begitu bersinar, dan senyumnya melebar kala Arlan mengangguk.


__ADS_2