Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Dua Pria Arogan


__ADS_3

Mobil Kai berhenti tepat di depan gerbang rumah Alana. Sisa perjalanan tadi mereka habiskan dengan mengunci rapat mulut mereka. "Baik atau pun Alana tidak lagi bersuara setelah penjelasan Alana tadi.


Yang tidak disangka Kai adalah mendengar kejujuran Alana membuat sudut hatinya sedih.Dia juga tidak tahu kenapa, tidak mungkin kan dia cemburu pada gadis ingusan yang baru empat kali dia temui? lagi pula berkali-kali Kai mengingatkan hatinya kalau Alana jauh dibawah standar gadis yang dia sukai.


Namun Alana pula lah satu-satunya gadis yang bisa membuat neneknya segembira itu. Tapi Kai bukan lah tipe pria yang percaya pada cinta, jadi bisa dipastikan apa yang tengah dia rasakan bukan cinta.


"Makasih ya bang, atas tumpangannya" ucap Alana melengkungkan senyum saat membuka seatbelt nya. Alana berusaha bersikap seperti biasa saja.


"Ngus, itu siapa di depan gerbang lo? seram amat tampangnya? marah kayaknya. Bokap lo? apa abang lo?" ujar Kai tidak memperdulikan ucapan Alana karena matanya terlebih dahulu melihat kearah pria yang berdiri di luar sana menatap kearah mobilnya.


"Mana?" Alana meluruskan tubuhnya dan melihat ke depan. Itu Arun, masih memakai kemeja dan celana kerjanya berdiri di depan rumah. "Oh, papanya anakku. Kok kayak marah gitu ya wajahnya bang?"


"Tau, emang gue dukun. Udah sana turun"


Setengah hati Alana membuka pintu mobil. Kalau melihat wajah kesal Arun, Alana ingin memilih untuk tetap di mobil itu aja, biar tidak kena marah, tapi kan ga mungkin. Dia juga yang salah.


Alana sudah tahu penyebab kemarahan Arun. Pasti pria itu sudah datang ke toko dan menemukan kalau mantan istrinya itu tidak ada di sana.


"Bang.." cicit Alana. Suara langkah di belakang Alana membuat Alana menebak kalau Kai ikut turun.


"Dari mana?" suara dingin dan tegas Arun bahkan sampai menembus lapisan kulit Alana hingga membuat gadis itu bergidik ngeri.


"Sorry, Alana gue ajak tadi dari rumah gue, jenguk nenek gue" sambar Kai pasang badan sebelum Alana menjawab pertanyaan Arun. Tapi cara Kai yang mewakili Alana menjawab justru membuat Arun bertambah kesal. Kali ini dia melayangkan tatapan mematikannya pada Kai.


"Lo bukannya Kaisar Wijaya?" Kai dengan cepat mengangguk. Dia tidak mengira dia seterkenal itu, walau yah..dia memang pengusaha muda yang sukses yang punya perusahaan raksasa.


"Yup..apa gue seterkenal itu ya, tapi sorry gue ga kenal sama lo" jawabnya songong.

__ADS_1


"Ga soal lo kenal sama gue atau ga. Yang jadi persoalan buat gue adalah kalau lo ngedekatin calon istri gue dan bawa dia pergi. Gue ga terima" ucapnya penuh emosi. Arun yang bisa bisa menyelesaikan masalah dengan tenang, kali ini emosionalnya seolah diobok-obok kalau sudah berurusan dengan Alana. Dia tidak bisa mentolerir siapa pun pria berada didekat Alana, atau berusaha mencuri perhatian gadis itu.


Arun tahu, banyak pria yang lebih sukses diluar sana yang bisa saja menawarkan hati mereka untuk Alana, jujur Arun takut. Dia tidak akan bisa membayangkan dirinya tanpa Alana. Saat ini Arun seolah kembali jadi ABG yang merasakan jatuh cinta lagi, namun kali ini lebih kuat.


"Sorry, tapi lo kan bukan suaminya, masih calon. Lo gada hak buat ngelarang dia buat pergi dengan siapapun dong?" jawab Kai tidak mau kalah. Sekalian rasa kecewanya tadi dia lampiaskan pada Arun. Siapa suruh dia dicintai Alana.


"Udah dong bangkai, pulang sana" potong Alana melerai. Bola mata Arun membulat saat mendengar Alana memanggil Kai dengan sebutan abang.


"Kita masuk yuk bang, disini banyak nyamuk. Aku juga pengen mandi, haus lagi" ucap Alana menarik tangan Arun dengan berbagai alasan agar dua pria yang kadar kesombongannya itu mengalami tingginya gunung Kerinci.


Tubuh Arun masih berdiri tegak dengan tatapan menatap tajam kearah Kai yang melakukan hal yang sama. "Bang ayok..banyak nyamuk di sini" rengek Alana yang membuat Arun mengalah ikut masuk bersama Alana. Tangan Alana masih erat menggenggam telapak tangan Arun.


Dari tempatnya berdiri, Kai menatap kedua punggung mereka hingga menghilang dibalik pintu. "Kok gue ga terima ya? kok gue..cemburu? bego,ah! Ga mungkin lah" ucap Kai bermonolog sebelum pergi dari sana.


***


Suasana mencekam terasa di ruang tamu. Alana duduk di kursi pesakitan dengan tatapan Arun yang terus mengawasi gerak-geriknya.


Arun masih bertahan dalam diam. Dunianya sungguh jungkir balik. Arun bahkan tidak tahu harus bersikap apa. Ini kali pertama dia berhubungan dengan gadis yang banyak rintangan seperti ini. Saat bersama Lily, hubungan mereka datar karena memang kedua orang itu memiliki sikap yang hampir sama, Flat dan monoton.


Dia kini dihadapkan pada dua pilihan, mau marah, tapi takut justru itu yang buat Alana semakin menjauh darinya. Tapi kalau didiamkan malah hatinya yang juga jadi tidak tenang.


"Siapa dia?" akhirnya Arun memutuskan untuk bertanya. Rasa cemburu dan takut kehilangan itu membuatnya mengambil pilihan pertama.


"Siapa? bangkai?"


Alana semakin kesal karena kembali Alana memanggil pria itu dengan sebutan abang.

__ADS_1


"Kok cemberut bang?"


"Dia siapa?


"Ya dia bangkai" sahut Alana merasa sudah memberikan jawaban yang benar, tapi tidak mengerti mengapa Arun masih tampak marah.


"Ada hubungan apa dengan dia?"


"Hubungan? ga ada. Kita aja baru ketemu empat kali"


"Empat kali? dan kau ga cerita apa pun padaku?" salaknya menahan gelombang kekesalan.


"Abang kok marah sih?" Alana menunduk. Arun tidak pernah berbicara sekeras ini padanya. Sedih hingga air matanya ingin keluar, tapi gadis itu menahan jangan sampai menangis.


Keduanya terdiam. Arun pun tidak ingin melanjutkan perdebatan ini, terlebih melihat riak wajah Alana yang merah tampak akan menangis.


"Sorry..aku cemburu Al. Aku takut kehilanganmu" ucapnya lemah, menatap jari kakinya sendiri. Emosi sekaligus tawanya selalu diaduk setiap berhubungan dengan Alana Adhinata. Kembali hening, bahkan kali ini lebih lama hingga Arun khawatir kalau Alana akan mengusirnya dan tidak mau bertemu lagi dengannya.


"Sore saat hari aku gagal menikah dengan Gara, setelah pulang dari rumahnya, aku mampir di sebuah taman ga jauh dari tempat Gara. Aku nangis sesenggukan hingga bangkai menghardik ku, memintaku diam. Singkat cerita aku meminjam uangnya 100 ribu untuk ongkos pulang dan berjanji akan membayarnya nanti.


Setelah itu, sebulan kemudian, dia memintaku menemui neneknya sebagai ganti bayar utang, dan benar aja, neneknya lagi sakit"


Perasaan Arun semakin tidak enak. Feeling-nya bilang ada sesuatu hal buruk yang direncanakan pria itu terhadap Alana.


"Ngapain dia harus membawamu bertemu neneknya?"


"Untuk pura-pura jadi pacarnya.."

__ADS_1


***Hai..aku datang mau promo novel kawan lagi nih, kuy mampir🙏



__ADS_2