Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Rumah baru


__ADS_3

Perpisahan itu sakit, itu pasti. Akan selalu ada penyesalan kala harus melangkah menjauh dari cinta yang mungkin saja menjadi penguat selama ini menjalani getirnya hidup.


Alana tahu itu. Dia harus bersiap jika kelak akan jadi abu sekalipun atas perpisahan ini.


Gelar janda kini sah disandangnya. Arun pun sudah pergi keluar dari ruangan itu satu jam lalu, meninggalkan segala duka dan air mata di dalamnya.


Masih diingatnya kalimat pamungkas dari Arun memutus hubungan mereka. Selebihnya Arun memaksa Alana untuk menerima yang menjadi haknya, kalau ingin mengasuh Arlan. Pria itu tidak ingin menempatkan posisi yang sulit bagi Alana, terlebih bagi Arlan putra tersayang nya.


"Kau boleh bersama Arlan, dengan syarat, kau menerima rumah yang aku beli untukmu dan juga Arlan. Aku tidak ingin anakku terlantar" ucap Arun dingin. Menekan perasaannya pada Alana.


"Tapi bang.."


"Penuhi permintaanku. Lagi pula, itu juga demi kebaikan Lily. Dia juga ingin merawat Arlan, maka aku akan membeli rumah di dekat tempat tinggal kami"


Lily yang sudah tidak bisa berkutik hanya diam. Mengikuti semua kemauan Arun. Diawal, Lily sempat protes tetap tidak ingin menyerahkan Arlan pada Alana. Niatnya adalah membawa kembali Alana menerima Alana jadi madunya, untuk selamanya. Lily sudah ikhlas berbagi suami, berbagi cinta pada adiknya sendiri.


Tapi Arun menegaskan bahwa keputusannya sudah bulat. Dia akan menembus kesalahan entah itu kesalahan Lily atau dirinya, yang pasti Arun sudah menetapkan hati, Alana adalah cinta terakhir nya. Jika dia masih tetap bersama Lily hingga akhir hayatnya, maka itu karena dia ingin bertanggung jawab pada janjinya saat menikahi Lily.


Kesalahan dan keegoisan hati Lily, juga menjadi tanggung jawabnya. Sebagai suami harusnya dia tidak berhati lemah dengan mengikuti semua kemauan Lily. Jadi jika Lily ingin menebus kesalahannya yang bisa dilakukan Arun adalah ikut bersama Lily, menghadapi semuanya.


Alana menerima keputusan itu. Selama dua hari Alana berada di rumah sakit mengurus Arlan, hingga dokter memperbolehkan pulang.


Arlan sudah sehat, Alana merawatnya setiap saat. Hanya sehari sebelum keluar dari rumah sakit, Alana izin pada Lily untuk pulang ke kos nya pamit sekaligus mengambil barangnya. Dia juga harus pamit pada Tatiana.


"Kenapa berhenti mendadak Al? apa ada masalah? apa gaji kamu terlalu kecil ya?" tanya Tatiana saat Alana menghadap. Wanita cantik itu baru saja pulang kemarin dari luar negeri karena mertuanya masuk rumah sakit.

__ADS_1


"Maaf mbak. Bukan karena masalah gaji, tapi.."


"Tapi apa Al? ada masalah apa? cerita aja, siapa tahu aku bisa bantu" ucap Tatiana tulus.


"Sebelumnya aku minta maaf Mbah.." wajah Alana berubah sendu. Perasaan bersalah dan tidak enak hati membuatnya susah untuk menjelaskan pada Tatiana. Tapi kalau tidak jujur juga kurang tepat, karena Tatiana sudah sangat banyak membantunya. Dia ingin berpisah, pamit secara baik-baik.


"Maaf kenapa?" desak Tatiana semakin penasaran.


"Sebenarnya aku sudah berbohong sama Mbak. Aku sudah menikah mbak, dan sudah punya anak" ucapnya tertunduk malu.


"Sebenarnya aku sudah menduga hal itu, tapi tidak ingin menyinggung mu, jadi aku diam aja. Kamu pasti punya alasan merahasiakannya dari kita semua" ucap Tatiana tenang.


"Mbak sudah tahu? dari siapa?"


"Bukan dari siapa-siapa. Aku pernah melihat stok ASI yang kau simpan di ruang pendingin. Awalnya aku kira itu tofu, tapi melihat tulisan tanganmu sebagai penanda, aku jadi paham" ucapnya tersenyum.


"It's ok Al. Pasti kamu punya alasan untuk merahasiakan" ucap Tatiana tulus. Alana terpukau melihat wanita cantik yang ada di hadapannya ini. Seperti jelmaan malaikat, parasnya cantik dan hatinya begitu baik. Tidak salah jika suaminya begitu mencintai dan memujanya.


Pernah suatu kali, saat Arkana, suami Tatiana menjemput istrinya pulang, pria yang sudah memiliki tiga orang anak itu membawakan buket besar bunga bagi istrinya tak sampai di situ, Arkana mencium mesra sang istri tepat di depan semua karyawan dan beberapa tamu yang tengah menikmati kopi dan juga cake nya.


Melihat kemesraan mereka, Alana hanya berharap suatu hari cinta suci akan datang menghampirinya, yang bisa menerima semua kekurangan dirinya.


"Aku hanya istri sirih mbak, dan sekarang aku ingin bersama anakku, merawatnya jadi aku harus berhenti bekerja saat ini. Arlan, putraku beberapa hari lalu masuk rumah sakit" terangnya terus terang.


"Ya Allah, jadi udah gimana keadaan si kecil Al?"

__ADS_1


"Sudah membaik mbak. Besok kemungkinan pulang dari rumah sakit"


"Yang terpenting dari seorang ibu adalah anaknya. Pergi lah Al, aku akan selalu menerima mu kapanpun kamu mau bergabung di sini lagi" ucap Tatiana.


Alana meninggalkan toko roti sekaligus coffee shop itu dengan banyak oleh-oleh kue dari Tatiana. Tidak sampai disitu, wanita itu juga memberikan sejumlah uang sebagai gaji Alana selama hampir tiga Minggu, serta bantuan dari Tatiana untuk Arlan, yang ditolak Alana, namun Tatiana dengan tegas memaksa untuk tetap memberikannya pada Alana.


***


Alana sudah duduk di kursi belakang sambil memeluk Arlan. Hari ini bayi kecil itu sudah boleh pulang, dan Arun serta Lily memaksa membawa Alana untuk pulang bersama mereka.


"Kau sudah janji untuk menempati rumah itu. Aku sudah membelinya dan mengisi beberapa barang" ucap Arun dingin. Setiap dia bicara pada Alana, Arun tidak mau menatap wajah gadis itu.


"Iya Al, kita mulai lembaran baru. Aku juga tidak akan memaksa Arlan bersamaku, aku terima takdirku. Tapi izinkan aku juga merawatnya, aku juga menyayangi Arlan, dia keponakan ku juga kan? lagi pula dia juga anak Arun, suamiku"


Kesungguhan sekaligus kepedihan yang terpancar Dimata Lily membuat Alana tidak berdaya, dan mengikuti perkataan mereka. Padahal Gara juga sudah menyiapkan apartemen untuk Alana dan Arlan, dan akan menjemput mereka dari rumah sakit nantinya, tapi ternyata Arun meminta dokter mengizinkan pulang lebih awal, hingga tidak bertemu dengan Gara.


Alana hanya diam selama perjalanan, begitu pun dua orang yang ada didepannya itu. Mengikuti jalanan itu membuat Alana kembali ingat masa-masa sedih sekaligus masa dimana perasaannya pada Arun bisa tumbuh.


Rumah itu tidak jauh dari blok rumah yang ditempati Arun dan Lily. Bahkan dengan berjalan kaki Lily bisa datang kapanpun dia mau untuk melihat Arlan.


"Kau suka rumahnya?" tanya Lily menggendong Arlan. Rumah itu pilihan Arun tapi Lily juga ikut menemani saat membelinya. Semua ini Arun lakukan untuk tetap menjaga Alana dan juga anaknya walaupun kini dia tahu, bahwa dia sudah tidak punya hak atas diri Alana lagi.


"Suka kak. Makasih"


"Aku ingin kita bisa akur seperti dulu Al, aku ingi kita jadi kakak adik yang kompak lagi" pinta Lily menggengam tangan Alana. Gadis itu hanya mengangguk lemah.

__ADS_1


Yah..hidup barunya sudah menunggu di depan sana, dengan Gara yang siap menggandengnya melalui semua jalan terjal ini. Tapi apakah kebahagiaan sudah menjadi miliknya? Alana hanya berharap, rasa bimbang dihatinya akan Gara segera lenyap saat pria itu melamarnya nanti.


__ADS_2