Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 11


__ADS_3

"Kenapa lu gak mau ikut kita ke Bali?" Kasa mengulang pertanyaan yang belum dijawab Arlan sejak tadi.


Besok mereka akan berangkat, dan dia baru mendapat kabar kalau Arlan tidak akan ikut dengan mereka. Buru-buru dia mendatangi pria itu ke rumahnya.


Ayra yang membukakan pintu untuk Kasa tadi, dan sekarang sedang membuat minum untuk Kasa.


"Nyet, lu dengar, kan?"


"Gue ada kerjaan. Lu senang-senang sama mereka aja. Lagian kita udah dewasa ini, kenapa harus liburan bareng, sih?"


Menurut Kasa tidak ada yang salah dengan hal itu. Selama ini dia juga sudah menganggap keluarga Dirgantara seperti keluarga sendiri. Lagi pula mereka teman baik. Paling dekat diantara temannya yang lain.


Berbeda dengan Kasa, pemikiran Arlan jauh lebih dewasa, meski beda usia mereka dua tahun. Harusnya Arlan memang sudah kuliah semester empat, kalau saja Arlan tidak mengalami kecelakaan hingga dia koma berbulan-bulan di rumah sakit.


Arlan harus rela kembali ke bangku sekolah dan mulai menyelesaikan SMA nya.


"Ayolah, Ar. Gue pengen pamer depan lu, kalau gue udah jago surfing. Di sana kita juga bisa dapetin cewek-cewek cantik, bule juga ada." Berbagi bujukan sudah dia lontarkan, tetap saja Arlan tetap menolak.


"Kak Kasa, ini minumnya." Ayra muncul dengan nampan kecil berisi satu gelas sirup dingin di atasnya


"Bocah, kalau masuk ketok pintu dulu, ngapa!"


Ayra mendelik sebal. Dia benci dipanggil bocah, terlebih di depan Kasa. Meski masih SMP tapi dia sudah kelas tiga, bentar lagi juga SMA kayak mereka. Ayra membalas Arlan dengan tidak menjawab pertanyaannya.


"Minum, Kak." Ayra menyodorkan gelas ke hadapan Kasa yang disambut dengan senyum yang buat wajahnya semakin tampan.


Tanpa sadar, Ayra meremas sisi bajunya. Jantungnya berdebar lebih kencang. Kalau dia tahu kalau Kasa akan datang hari ini, dia pasti sudah dari pagi tadi dandan.


"Buat gue mana? Masa iya, lu buat cuma buat dia?"


Kali keduanya Ayra mengabaikan Arlan. Dia tetap fokus duduk di samping Kasa memperhatikan Kasa menikmati minuman buatannya.

__ADS_1


Sebenarnya minuman itu sungguh tidak enak, lengket saat melewati tenggorokannya. Sirup mar*Jan coco pandan itu terlalu banyak dituang Ayra ke dalam gelas hingga terasa sangat manis. Namun, kala melihat wajah tulus Ayra yang sudah menyiapkan minuman itu untuknya, membuat Kasa tidak enak hati kalau tidak meminumnya, apalagi Ayra menunggu minuman itu dicicipi.


"Dasar adik durhaka. Lu sediain minuman buat orang lain, Abang lu sendiri malah lu abaikan!" protes Arlan, tapi reaksi Ayra hanya menjulurkan lidahnya.


"Gimana minumannya, Kak?"


"Manis, manis banget kayak kamu," jawab Kasa yang berhasil buat Ayra tersipu malu. Kasa cuma tertawa renyah melihat reaksi Ayra yang malu-malu. Sementara Arlan cukup mengerutkan kening memandangi adiknya.


Kasa menyerahkan kembali gelas pada Ayra, dan dibawa keluar.


"Adik gue kayaknya suka sama lu, deh!" Arlan menarik kursi belajarnya, memastikan kalau adiknya tidak ada di balik pintu sedang menguping. Setelah memastikan aman, kembali roda kursi diseret Arlan mendekati meja komputernya.


"Maksud lu?"


"Adik gue suka sama lu. Ingat Kasa, lu jauhi adik gue. Jangan menabur harapan buat dia. Ingat, dia itu udah kayak adik lu sendiri!" Ancam Arlan serius. Dia tahu sepak terjang Kasa, sebagai teman Arlan tidak mempedulikannya, tapi untuk menjadi pacar Ayra, tentu saja Arlan tidak setuju.


"Gila, gue udah anggap Ayra adik gue sendiri. Lu gak usah khawatir, Ayra bukan tipe gue juga!"


Semua orang bersiap pergi. Arlan sudah lebih dulu keluar dari rumah menuju perusahaan Gen-Z. Bisa ditebak, Alana memeluk Arlan dengan wajah sedih dan masih tidak rela anaknya tinggal. Syukurlah, Arlan bisa menenangkan Alana kembali.


Kali ini mereka berangkat dengan pesawat pribadi milik Kaisar. Semua sudah berkumpul, dan akan segera lepas landas.


"Sania, lu ikut juga?" tanya Kasa gembira. Dia sama sekali tidak tahu kalau Sania ada dalam rombongan keluarga Dirgantara, pasalnya Kasa sudah lebih dulu berada di pesawat, ngobrol dengan pilot yang akan membawa mereka.


"Hai, Kasa. Maaf ya, kalau aku ikut ke acara liburan keluarga," jawab Sania yang ngobrol dengan Ayra.


Kasa memilih bergabung bersama mereka. Dia duduk di sebelah Ayra yang buat gadis itu semakin gugup. Rasanya hatinya lompat keluar karena kegirangan Kasa duduk di sebelahnya.


"Malah bagus lu ikut, jadi seenggaknya acara liburan ini lebih meriah, dan gue gak bosan diperjalanan," tukasnya tersenyum penuh arti pada Sania.


Ayar bisa merasa ada sesuatu dalam benak Kasa terhadap Sania. Cara pria itu melihat ke arah Sania sangat berbeda.

__ADS_1


Setiap Ayra membuka topik pembicaraan, Kasa selalu menjawab seadanya, malah seperti tidak tertarik, sangat berbeda kalau Sania yang bercerita, Kasa pasti menyambut dengan antusias.


Satu kali mungkin hanya kebetulan, tapi Ayra sudah menghitung, di setiap topik pembahasannya, Kasa tidak berminat.


"Loh, mau kemana, Ay?" tanya Sania pada Ayra yang bangkit dari duduknya. Sejujurnya, Sania tidak ingin ditinggalkan berdua saja dengan Kasa. Justru keberadaan Ayra membuatnya tidak harus meladeni Kasa.


Sania sedikit kecewa dengan perjalanan ini. Dia bukan tidak tahu terima kasih, bukan begitu. Dia sangat bersyukur, Alana mengajaknya ikut serta, tapi dia semangat ikut karena berharap bisa melihat Arlan saat liburan ini. Kenyataannya, pria itu justru tinggal.


"Mau ke toilet, Kak. Kalian ngobrol aja dulu," ujar Ayra berlalu. Tentu saja bukan ke toilet tujuannya, itu hanya jadi alasan saja. Dia memilin masuk kamar, tidur dan menangis di sana dengan menutup mulutnya.


Dia benci kenyataannya yang ada kalau Kasa menganggapnya masih anak-anak, tidak seperti Sania yang sudah dewasa yang memiliki bentuk tubuh wanita dewasa pada umumnya.


"Ini dada gue kenapa kecil begini, sih? Kata Nara kalau sering dipegang bakal jadi besar. Perasaan udah sering gue pegang, tapi segini-gini aja!" umpatnya memukul bantal dengan tangan terkepal.


Cara Kasa menatap Sania, jelas menunjukkan rasa kagum pada gadis itu, dan Ayra cemburu. Tapi dia bisa apa?


Bukan salah Sania kalau Kasa menyukainya. Dia memiliki semua yang diinginkan pria.


Perjalanan ditempuh dengan cepat. Mereka tiba di vila milik keluarga Dirgantara yang langsung disambut oleh pasangan suami istri yang menjaga dan selalu membersihkan tempat itu.


"Kalian boleh pilih kamar di atas. Kami para orang tua ini, kamarnya di bawah aja. Setuju kan, Al?"


Wanita yang ditanya itu hanya mengangguk. Dita sudah memutuskan hal tepat, karena dia juga sudah malam naik turun tangga kalau harus memilih kamar tidur di lantai atas.


Setelah memilih kamar, semuanya bersiap untuk makan malam bersama di tepi pantai. Vila milik keluarga Arun memang dekat dengan pantai, hingga acara barbeque- an itu bisa diselenggarakan di bibir pantai.


Lagi-lagi Kasa terpesona mendengar tawa renyah Sania yang saat ini menantu Alana dan Dita mengoleskan bumbu pada panggangan.


Tiba-tiba muncul ide seru dalam benaknya. Dia mendekat ke arah ketiganya, lalu berdiri di samping Sania, dan mengambil foto mereka berdua.


"Ini akan buat Arlan mendidih!" cicitnya sembari mengirim foto mereka pada Arlan dengan caption.

__ADS_1


"Malam ini gue akan menjadikan Sania milik gue!"


__ADS_2