Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Perang Dingin


__ADS_3

"Iya..itu kamu," ucap pria paruh baya itu menatap Alana tersenyum. Alana yang merasa tidak mengenalnya hanya mengerutkan kening dengan satu sudut bibir tertarik keatas. Dia sama sekali tidak mengenal pria itu.


Melihat ekspresi Alana yang tampak bingung, membuat pria itu justru semakin semangat memperkenalkan dirinya. Membawa memori Alana kembali ke malam pertemuan mereka pertama kali.


"Kamu tidak ingat padaku? aku pria yang mengajakmu bersantai malam itu. Di club Basterds, ingat?"


Seketika tubuh Alana bergetar. Ingatannya berhasil membawa Alana pada malam itu. Belum sempat menenangkan hatinya, Arun yang sejak tadi mencarinya kini datang mendekat setelah melihat Alana.


"Al..."


"Oh..tuan Dirgantara. Senang bertemu dengan anda. Selamat atas projek barunya" sapa tuan Pulgoso, pengusaha sukses yang terkenal dengan banyak usaha. ilegalnya.


Arun menyambut uluran tangan Pulgoso, menganggukkan kepala lalu beralih pada Alana.


"Apa ada masalah?" tanya Arun kembali menoleh pada Pulgoso.


"Oh..ga kok bang. Om ini hanya ingin menanyakan dimana toilet kok. Iya, kan, om?" potong Alana gelagapan. Segera menarik tangan Arun untuk mengajaknya masuk. "Aku lapar, yang"


"Sebentar. Apa kalian saling kenal? apa wanita ini teman kencan yang anda sewa?" bisik Pulgoso mendekat pada Arun. Rona merah dan tatapan tajam Arun sudah memperjelas dirinya yang tengah marah. Namun seolah tidak mengerti, Pulgoso masih saja melanjutkan kalimatnya.


"Hati-hati main dengannya. Dulu saya pernah bertemu dia di club Basterds, dia sendiri yang cerita kalau punya penyakit mematikan. Apa namanya?mmm...sebentar..." Pria itu tampak berpikir keras penyakit yang pernah diucapkan Alana. "Brain fog! Iya benar..." pria itu tersenyum lebar seolah begitu hebatnya bisa kembali mengingat nama penyakit itu.


Wajah Alana sudah tidak karuan. Kalau punya kantong ajaib Doraemon, dia akan mengambil pintu kemana saja, memilih untuk bertransmigrasi ke planet Mars sekalian. Tapi dia hanya seorang wanita yang kini memasrahkan hidupnya ditangan suaminya.

__ADS_1


"Ya Allah, selamatkan hamba...,"batinnya meremas jemarinya.


Arun yang mendengarnya hanya diam, berusaha menahan emosinya untuk tidak melayangkan pukulan ke wajah Pulgoso. Emosinya kini sudah sampai ke ubun-ubun. Siapa pun tidak ada yang boleh menghina istrinya!


Percayalah, tatapan setajam kampak itu berhasil membuat lutut tuan Pulgoso lemas. "Jaga mulut anda. Ini pertama dan terakhir kalinya saya mendengar anda mengatakan hal itu tentang istri saya! Saya heran, anda adalah seorang pengusaha, notabene punya pendidikan tinggi, tapi kok bisa set*lol itu!?"


"Maksud anda apa? anda jangan bicara sembarangan dengan saya. Anda cuma pengusaha baru, bau kencur di dunia bisnis ini!"


"Saya tidak perduli, bahkan jika anda pemilik setengah dari dunia ini, selagi anda menghina istri saya, maka saya tidak akan tinggal diam. Biar saya jelaskan. Pertama, dia bukan wanita yang saya sewa untuk menemani saya, dia istri saya yang sah!"


"Kedua..." lanjut Arun masih mengepal tinju namun dengan suara sedingin bongkahan es meneruskan penjelasannya. "Brain fog itu bukan penyakit menular, tapi istilah seseorang yang tiba-tiba suka melupakan sesuatu"


"Ketiga, saat anda bertemu istri saya di sana, dia sedang menunggu saya, karena kami memang janjian ingin menghabiskan malam menikmati live musik. Jadi tolong, hilangkan pikiran kotor anda terhadap istri saya!" bentaknya menuntaskan penjelasannya.


"Tunggu!" seperti rem, langkah Pulgoso terhenti oleh hardikan Arun.


"Jangan sampai aku mendengar hal ini dari orang lain, kalau sampai berita bohong ini sampai ke telinga saya lagi, berarti anda lah yang menyebarkannya!"


"I-iya. Saya paham" pria gendut itu sekuat tenaga menyeret kakinya agar segera jauh dari mereka. Dia menyesal, sudah menyinggung Arun Dirgantara.


Alana bahkan belum berani bernafas lega, masalah dengan si om genit itu usai, muncul yang lebih parah lagi. Amukan amarah Arun. "Aduh, dengan cara apa nanti ngerayu supaya ga dimarahi, ya? pake adegan ranjang, mana lagi datang bulan," umpatnya dalam hati kesal.


Tanpa berkata apapun, Arun meletakkan jemari gadis itu di lengannya, berjalan memasuki aula lagi, berbaur dengan para undangan. Tiga puluh menit yang menyiksa bagi Alana. Hanya memasang senyum palsu untuk semua yang menyapa mereka. Coba tengok jantungnya yang terus berdegup kencang, mengira-ngira hukuman apa yang nanti akan diterimanya.

__ADS_1


Tidak hanya memikirkan hukuman saja yang membuatnya tersiksa, tapi juga karena Arun masih mendiaminya sejak masuk ruangan.


Arun melepas tangan Alana, menemui seseorang yang ditebak Alana sebagai tuan rumah dalam acara malam ini. Pria berjenggot putih itu tersenyum dan mengangguk akan bisikan Arun. "Terimakasih tuan Bas dan nyonya Tan, atas undangannya malam ini" ucap Arun setelah menarik Alana untuk menemaninya pamit.


Melakukan perannya, Alana ikut pamit menyalami keduanya dengan sikap sopan dan juga memberikan senyum terbaiknya.


"Terimakasih sudah datang, Al" ucap nyonya Tan mengecup pipi Alana.


***


Adakah yang lebih menyiksa bagi seorang istri yang mengantuk saat diperjalanan tapi tidak bisa bersandar di pundak suaminya? jawab nya ada, yaitu didiami selama satu jam yang ditempuh untuk pulang.


Arun dengan tampang dingin sekaligus tampannya mengunci rapat mulutnya. Tidak ada kata merayu atau sekedar menanyakan apakah dia mengantuk, setelah dilihatnya berkali-kali Alana menguap. Arun seakan tidak perduli, menganggap Alana tidak ada di sana.


Tiba di rumah, Alana tidak serta-merta keluar mobil, menunggu Arun membukakan pintu untuknya seperti ketika mereka berangkat tadi. Melihat pria itu berjalan masuk ke dalam rumah, Alana hanya bisa menghela nafas sembari membuka pintu mobil.


Alana tahu kalau dia salah. Dia ingin mengajak Arun bicara, karena menurutnya dia harus menjelaskan semuanya pada Arun. Kalau pun setelahnya dia tidak dimaafkan atau bahkan di hukum, dia akan menerimanya.


Setelah Arun keluar dari kamar mandi guna membersihkan diri, Alana buru-buru masuk. Dia juga ingin membersihkan dirinya yang terasa lengket, lalu dia akan membujuk Arun dengan rengekan manjanya. Selama ini cara itu berhasil, semoga saja kali ini juga.


"Udah wangi, udah bersih. Semangat Alana, kau pasti bisa mendapatkan maaf dari bang Arun," cicitnya tersenyum. Penuh semangat empat lima dan senyum terurai di bibirnya, Alana membuka pintu kamar mandi dan senyum itu perlahan pudar.


Orang yang ingin dibuatnya terpesona itu sudah berbaring di ranjang, menghadap kearah balkon kamar, yang artinya sepanjang malam ini akan memunggungi Alana.

__ADS_1


"Bang Arun.." cicitnya mewek.


__ADS_2