
Dua hari berlalu, Dita sangat bersemangat menunggu Kai dalam bentuk Sari kembali untuk bekerja. Banyak yang ingin dia ceritakan, tapi hingga pukul 10 pagi, Kai belum datang.
"Belum datang juga Kai, Ta?" tanya Mita masuk ke kamar anak gadisnya yang sudah tidak gadis lagi.
"Belum, Mi. Aku juga lagi nungguin dia nih," ucap Dita yang sibuk mengganti pampers Kasa, pup pertama Kasa pagi ini.
"Mami hubungi nomornya juga ga aktif. Kemana dia, ya?"
"Apa dia sakit ya, Mi?" kening Dita berkerut. Terselip rasa khawatir dalam hatinya.
"Mami juga ga tahu. Udah coba hubungi penyalurnya kemarin, tapi ga ada tanggapan.
***
Alana merasa bersalah. Penyesalan dalam hatinya membuatnya terus menangis sejak kembali dari rumah sakit. Hingga saat ini, Arun pun masih diam padanya.
Sudah satu minggu terakhir ini, Alana minum pil kecantikan, yang katanya bisa membuat glowing wajahnya dari dalam. Namun setelah satu Minggu, gadis itu merasakan sakit di perutnya. Awalnya masih bisa dia tahan, namun semakin lama, Alana merasakan sesak yang sangat luar biasa. Perutnya seolah di putar hingga membuatnya susah bernafas.
Arun yang saat itu baru selesai mandi, menemukan Alana tergeletak di lantai dekat tempat tidur.
Secepat yang dia bisa, Arun mengangkat tubuh mungil itu ke atas ranjang. "Al..bangun sayang" Arun yang panik, menepuk-nepuk pipi Alana pelan, namun gadis itu masih saja menutup matanya.
Bergegas Arun membawa Alana ke dokter, agar segera mendapatkan pertolongan medis.
Lima belas menit berlalu, seorang perawat mempersilahkan Arun masuk yang juga baru naik ke lantai atas setelah mengurus administrasi untuk kelengkapan data Alana.
Alana melempar senyum, saat melihat Arun masuk. "Kau baik-baik saja, Al? aku takut setengah mati," bisik nya membelai rambut Alana.
"Maaf membuat mu khawatir, bang"
Baru akan melanjutkan pembicaraan, dokter yang tadi sudah memeriksa keadaan Alana masuk, kembali ingin mengecek kondisi Alana.
__ADS_1
"Istri saya sakit apa, dokter?" Arun serta merta memburu dokter dengan pertanyaannya mengenai kondisi Alana. Dia tidak ingin terlambat memberikan pertolongan medis jika ternyata Alana memiliki riwayat penyakit.
"Kondisi pasien sudah membaik. Hanya saja, mohon untuk tidak mengkonsumsi lagi pil kecantikan yang selama ini diminum oleh ibu, ya, Pak"
"Pil kecantikan? saya ga tahu dok kalau selama ini istri saya mengkonsumsinya. Tapi, begitu berbahaya bagi dirinya ya, dok?"
"Pil itu aman. Setelah dicek merk pil yang disebutkan ibu, harusnya tidak ada masalah, hanya saya saat ini kondisi ibu sedang tidak memungkinkan untuk mengkonsumsinya, karena saat ini ibu kan sedang mengandung, pak," terang sang dokter.
Wajah Arun pias. Dia bingung harus berkata apa. Senang karena akan memiliki anak lagi, pasti. Tapi dia juga marah karena Alana begitu teledor, meminum pil itu tanpa mengecek keadaan tubuhnya dulu. Padahal saat itu Arun sudah menawarkan untuk periksa ke dokter, tepat saat gadis itu merasa tidak enak badan, mual dan sering pusing.
"Bagaimana dengan janinnya, dok?" tanya Arun berdebar. Dia takut kalau bayi mereka dalam bahaya.
"Alhamdulillah, calon bayinya sehat. Janin ibu Alana kuat, walau hampir membahayakan nyawanya tadi, tapi kita sudah memberikan vitamin penguat janin," lanjut dokter berkaca mata itu lagi.
Kini yang tinggal hanya penyesalan dalam hati Alana. Terpesona akan kecantikan dan kemulusan wajah Amanda, Alana pun membeli pil kecantikan yang Amanda menjadi brand ambassador nya.
"Jangan nangis lagi, nanti kau kelelahan," hardik Arun yang masuk ke kamar mengantarkan susu hamil pada Alana.
Perhatian dari buah hatinya itu mampu meruntuhkan ketegarannya. Dia semakin menangis terisak.
"Diminta diam, malah makin menjadi nangisnya" Arun mengalah, ikut duduk di tepi ranjang.
"Aku salah. Kenapa sih aku bego banget, bang? aku udah membahayakan anak kita" isaknya hingga cairan bening dari hidung juga ikut menetes keluar.
"Iya, sudah ya. Nanti kalau nangis terus, dedek bayinya jadi cengeng," ujar Arun menenangkan Alana. Membelai punggung gadis itu yang sudah menempel padanya.
"Kedepannya, kamu jaga anak kita. Jangan terlalu stres dan kelelahan. Makan makanan yang bergizi, itu cara untuk menebus kesalahan kita sebagai orang tua" Alana setuju, dia menganggukkan kepala, membenarkan ucapan suaminya.
***
Empat hari berlalu tanpa kabar dari Kai atau pun Sari. Semua orang yang berhubungan dengannya sibuk mencari keberadaan pria itu.
__ADS_1
Dita bahkan sampai membongkar lemari Sari, hanya untuk mencari jejak yang mungkin bisa jadi petunjuk untuk mengetahui keberadaan baby sitter itu kini, nyatanya, apa pun tidak ada.
Sama halnya dengan nenek Rosi. Wanita tua itu berulang kali ke apartemen Kai, sejak ponsel pria itu tidak bisa dihubungi.
"Kau segera kemari, aku sudah ada di apartemen Kai!" seru nenek Rosi pada Perguson lewat sambungan telepon.
Hanya butuh 20 menit, pria itu sudah tiba di sana, menerima tatapan mematikan dari the queen of rule.
"Katakan, dimana pria brengsek itu kau sembunyikan?"
Perguson diam seribu bahasa. Dia sendiri saat ini juga tidak tahu pasti keberadaan Kai. Minggu malam saat Perguson memberikan hasil tes DNA itu, Kai terlihat gembira, bahkan dia belum pernah melihat kebahagiaan di mata bosnya selama dia ikut Kai.
Setelahnya Kai tidak berkata apa-apa lagi, mereka minum sampai subuh untuk merayakan berita baik itu. Pukul lima pagi, Perguson pamit, karena kekasihnya datang ke apartemen, setelah pulang kerja dari club.
Senin pagi, Perguson datang, Kai sudah tidak ada di sana. Pria itu pikir, kalau bos nya itu kembali ke rumah Setyawan karena ingin mengatakan yang sebenarnya. Namun setelah hari ini, masih tidak ada kabar, Perguson berniat untuk ke sana hari ini juga. Namun keburu nenek Rosi memintanya untuk datang ke sini.
"Jawab!" hardik nenek Rosi hingga Perguson terperanjat.
"Saya..saya..juga ga tahu nek, si bos ga ada bilang ke saya mau kemana dia"
"Kau kan asistennya. Masa iya, kamu ga tahu kemana Kai pergi!"
"Sumpah, nek. Gini aja, saya pamit nyari si bos. Nanti saya kabari nenek lagi. Ok?"
***
Kini Wajah Perguson benar-benar pias. Dia masih berdiri di halaman rumah Setyawan. Baru saja berbicara dengan Mita yang menerangkan kalau Sari sudah tidak masuk empat hari. Senin itu tidak datang untuk bekerja.
"Masa ibu sebagai penyalur nya, tidak tahu keberadaan Kasar?" hardik Dita penuh geram. Selain marah pada Kasar yang tidak muncul lagi tanpa kabar berita, dia juga khawatir baby sitter Kasa itu dalam keadaan tidak baik. Bisa sakit atau pun mengalami kecelakaan.
"Saya benar-benar tidak tahu, mbak. Saya hubungi nomornya juga tidak aktif" sahut Perguson apa adanya. Kedua nomor yang di gunakan Kai, sudah dia hubungi, tapi tidak satupun ada yang aktif.
__ADS_1
Perguson pamit pulang dari rumah itu, namun kini dia juga bingung harus kemana mencari keberadaan bos nya yang hilang tiba-tiba tak tahu dimana rimba nya.