
"Udah dong Al, jangan cemberut. Film nya udah mulai tuh" ucap Arun lembut. Kembali mendekatkan tubuhnya pada Alana, tapi gadis itu kembali menjauh.
"Al.."
"Ini namanya bukan nonton film di bioskop bang. Udah kayak nonton di rumah, cuma berdua gini. Kan seram?" rungut nya kesal. Dilayangkannya pandangan ke seluruh rungan kosong, yang hanya ada deretan kursi berwarna merah. Ingat dulu masa sekolah, buat nonton di bioskop bareng temannya pas perpisahan SMP, ngumpulin duit dulu baru bisa kebeli tiket bioskop. Itu pertama kali Alana menginjak kan kaki di sana. Hanya bermodalkan tiket dan air mineral yang dia beli di dalam. Pengen bawa jajanan dari luar, tentu saja ga boleh. Tapi ada salah satu teman Alana yang berhasil menyelundupkan sebungkus keripik kentang kedalam kemejanya, setelah bungkusnya dikempeskan terlebih dulu.
Sekarang dia nonton film hanya berdua di bioskop sebesar itu.
"Tapi aku ga suka mereka gangguin kau. Udah ya, jangan marah. Aku pengen banget nikmati momen bersama ini dengan perasaan gembira" ucapnya lembut. Asli suara tenor Arun begitu renyah, mampu membuat jantung Alana jedag-jedug.
"Bisa ga natap nya jangan intens banget?" ga tahu apa hati aku udah mau loncat dari tempatnya. Ganteng banget ternyata mantan suami aku. Ar..kalau udah gede kamu bakal seganteng ini ga nanti ya..aduh, pikiran aku kok jadi kemana-mana sih..
"Janji dulu jangan marah" tuntut Arun.
"Iya bawel. Tapi abang jangan dekat-dekat juga. Mereka benar tuh, aku bau keringat. Belum mandi" Alana kembali menarik diri, memberi ruang diantara mereka.
"Aku juga bau, belum mandi. Ga papa, sini aku malah suka bau tubuh mu. Jadi keingat malam kita buat Arlan.."
"Heh, tuan. Sopan ya. Ga usah kemana-mana pikirannya. Tuh lihat ke layar, filmnya udah main" ucap Alana menunduk. Untuk cahaya di ruangan itu sangat sedikit, setidaknya cahaya temaram itu mampu menyembunyikan rona merah pada pipinya.
Setelah jalan, Alana memang mengikuti film bergenre romantis pilihan Lily itu. Tapi setelahnya hingga akhir film, Alana sudah tertidur pulas. Arun dengan setia memeluk pundak Alana dengan kepalanya yang dia rebahkan di dada. Pembatas kursi tidak lagi jadi penghalang yang berarti bagi mereka.
Arun menjaga Alana dalam tidurnya. Tidak ingin membangunkan Alana, karena dia tahu Alana tertidur karena kelelahan. Wajah lusuh dan juga lengket serta bau keringat Alana, tidak membuat Arun ilfil. Bahkan dengkuran halus yang keluar dari bibir Alana yang menganga malah membuat Arun tersenyum geli. Ini lah Alana nya, apa adanya. Setiap tingkahnya selalu mampu membuatnya tersenyum.
Hingga film berakhir, Alana masih belum bangun. Lampu sudah dihidupkan. Saat seorang gadis yang menjadi guide cinema masuk, Arun memanggil wanita itu dengan lambaian tangan.
"Iya mas?"
"Habis ini film apa lagi? saya mau beli semua tiket untuk studio ini" ucap Arun setengah berbisik.
"Lagi mas?"
__ADS_1
"Iya, pacar saja masih belum bangun. Jadi saya mau sewa studio ini lagi" ucap Arun.
"Baik pak, sebentar saya.."
Kalimat wanita itu berhenti saat tubuh Alana menggeliat. Perlahan matanya terbuka, menguap dan tangannya mengucek matanya membiasakan cahaya lampu yang masuk dalam penglihatannya. Memorinya mengingat dimana dia saat ini.
"Filmnya udah selesai ya kak? maaf ya aku ketiduran" ucapnya sembari menguap untuk kali kedua.
"Udah Al.."
"Jadi gimana mas? jadi sewa studionya lagi?"
"Hah? mau sewa lagi?" tanya Alana menegakkan tubuh. Menatap si mbak lalu beralih ke Arun. "Ga mbak, ga usah. Kita keluar aja" Alana menarik baju tangan Arun untuk bergegas keluar dari sana.
"Abang ngapain sih, mau lanjut sewa satu studio lagi?"
"Aku ga mau ganggu kau tidur Al" ucapnya tersenyum. Mengikuti langkah Alana yang masih memegang tangannya. Baru kali ini lah Alana menyentuhnya lebih dulu. Ada gerataran halus yang Arun rasakan. Bahagia dan ingin terus tersenyum.
"Kita kemana lagi ini?"
"Kita makan dulu ya Al"
"Ga usah bang. Makan di rumah aja. Lagian kakak Lily pasti udah masak, nungguin abang"
"Nih" Arun menunjukkan layar ponselnya yang sedang membuka pesan dari Lily.
(Hun, aku ga masak..Kau makan di luar aja ya)
"Ya udah, abang beli aja, bungkus makan di rumah" ucap Alana menatap Arun, namun masih juga belum sadar tangannya masih memegang pergelangan tangan Arun.
"Aku udah lapar banget Al. Kita makan bentar ya, please"
__ADS_1
Warung mie goreng pinggir jalan menjadi pilihan Alana. Hanya beberapa pasang muda-mudi yang makan di sana malam itu. "Kenapa milih di sini, bukan di mall tadi aja? jangan-jangan ini tempat makan favorit yang dulu sering kau dan pria brengsek itu sering kunjungi ya?" wajah Arun mendadak berubah. Padahal tadi Arun sudah mengajak makan di salah satu restoran terkenal, tapi dengan cepat Alana menolak. Padahal kan dia ingin memberikan yang terbaik untuk Alana. Makan malam ala candle light dinner sudah terkonsep dipikirannya.
Apapun niat Lily dibalik semua ini, Arun ingin berterima kasih untuk istrinya itu, karena sudah memberi waktu buatnya dan Alana berdua.
"Makan bang, biar kita bisa cepat pulang" ucap Alana meniup mie tiaw pesanannya.
Sendok garpu Alana sudah beradu beberapa kali dengan piringnya, tapi Arun yang memilih menu yang sama dengan Alana sama sekali belum menyentuh sendok nya.
"Kenapa belum dimakan bang? ga selera? tadi katanya lapar" Alana kembali memasukkan satu suapan besar ke mulutnya.
Hufffh.."Ini bukan tempat favorit aku dan Gara. Bahkan kami ga pernah kesini. Aku memilih tempat ini, karena ini searah jalan kita pulang. Kenapa ga di mall tadi, please bang..lihat penampilan aku, lecek banget. Kau mau aku di ketawain semua pengunjung restoran itu?" terangnya panjang lebar.
Bola mata Arun kembali bersinar. Senyumnya kembali terbit dan penuh semangat memegang sendok dan mulai menyuap mie gorengnya ke mulut.
Pukul 9 malam baru lah mereka tiba di rumah. Kata bi Minah, Arlan di bawa Lily ke rumahnya. Katanya non pasti pulang malam, jadi ingin tidur dengan Arlan.
Alana mengangguk mengerti. Lalu menatap wajah Arlan. "Apa aku ikut abang kesana?"
"Kau mau?" tanya Arun antusias. Tentu ini lah yang diinginkan Arun, Alana berada di dekatnya. Satu atap dengannya.
"Hanya untuk malam ini bang. Kasihan Arlan kalau harus aku bawa pulang, kasihan juga kak Lily kalau harus terganggu tidurnya ntar malam kalau Arlan minta susu"
Kedatangan mereka disambut gembira oleh Lily. Arlan sudah tidur di kamar mereka. "Maaf ya kak, kami lama pulangnya" ucap Alana takut-takut dan merasa tidak enak.
"Ga papa lagi Al. Aku yang harusnya minta maaf, janji nonton bareng gagal, perut aku sakit banget"
"Tapi sekarang udah baikan kan kak? wajah kakak pucat. Kakak kedinginan? kok kayak menggigil gitu?"
"Aku baik-baik aja. Udah sana kamu tidur ke kamarmu, bawa Arlan ya" pinta Lily sebelum Arun keluar dari kamar mandi.
Lily lemah, tapi dia tetap berusaha tampak kuat di depan siapapun. Kemo yang dia jalani belakangan ini nyatanya tidak terlalu berhasil. Lily pasrah, namun pintanya, jika memang harus pergi, dia ingin Alana dan Arun bersatu kembali.
__ADS_1
*** Nunggu up singgah di sini juga ya🙏