Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Grand opening


__ADS_3

Kali ini amarah Arun tidak bisa terbendung lagi. Dadanya panas terbakar rasa cemburu. "Kau sebenarnya mikir gimana sih Al?


"Mikir gimana bang?" Alana terperangah mendengar suara Arun yang naik lagi satu oktaf.


"Sekarang aku tanya, kenapa kau mau diperkenalkan dengan neneknya? kau mikir ga sih gimana perasaan aku? apa perasaan aku samamu ga penting? apa sedikitpun kau tidak punya perasaan padaku?" terdengar Dengusan Arun pertanda rasa kesalnya lalu membuang wajahnya, tidak mau melihat kearah Alana. Dia kesal, marah, kecewa.


Alana bangkit dari duduknya, mengitari meja untuk berlutut di hadapan Arun yang bangkan tidak mau menoleh padanya. Dia sadar dia salah. Perasaan dan harga diri Arun terluka akan sikapnya seolah dirinya dengan sengaja mempermainkan Arun.


"Jangan marah, aku tahu aku salah. Aku lakukan itu hanya untuk membantunya karena dulu aku sudah ditolong" suara Alana lembut terdengar di telinganya. Masih belum ada reaksi, Alana memberanikan diri memegang tangan Arun. Toh kini mereka bukan sedang selingkuh, ataupun dirinya jadi orang ketiga lagi.


"Di sini hanya ada pria tengil yang ada dihadapan ku saat ini" Alana membawa tangan Arun dan menempelkan di dadanya. Arun menoleh, menatap ke dasar mata gadis itu. "Selama ini berdetak, hanya akan ada satu nama di hatiku, Arundaya Dirgantara" bisik nya syahdu. Perasaan Arun seketika mengembang, merasakan ledakan kebahagiaan di dalam hatinya, penuh dengan cinta Alana.


Tidak tahu harus menjawab apa atas ucapan Alana, Arun memilih untuk mengekspresikan nya. Pria itu menangkup wajah Alana dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan wajahnya untuk menggapai bibir mungil yang sangat dia rindukan itu. Setelah sekian lama, semenjak mereka bercerai Arun setengah mati menjaga diri serta hasratnya untuk tidak menyentuh Alana hingga hati mereka menyatu tanpa ada rasa beban lagi.


"Kau hanya milikku, hanya milikku" bisik Arun tepat di atas bibir gadis itu yang sudah sedikit membengkak karena ulahnya. Mata mereka terus beradu, seolah ingin mematri janji satu sama lain. Perlahan Alana mengangguk dan setelahnya Arun menarik gadis itu ke dalam pelukannya lagi.


"Kalau begitu kita menikah ya? aku ingin menjadikanmu istriku, satu-satunya wanita dalam hidupku" Alana mengurai pelukan mereka.


"Aku pasti senang sekali menjadi istrimu bang, tapi aku mohon, beri waktu. Aku ingin sebelum menikah, kita pacaran dulu" ucap Alana tersenyum.


"Sampai kapan?" desak Arun yang tampaknya kurang berkenan dengan permintaan Alana.

__ADS_1


"Sampai satu tahun kepergian kak Lily. Aku ingin memberi waktu kita mengenangnya. Aku juga tidak ingin mendapat cibiran dari orang, menikah dengan abang ipar ku, sementara kuburan kak Lily masih basah"


Arun diam, membenarkan apa yang dikatakan Alana. Dia tidak ingin dianggap orang yang mengharapkan Lily cepat meninggal agar bisa bersama Alana. Lagi pula cukup sudah baginya untuk meyakinkan hatinya bahwa Alana adalah miliknya, dengan ucapan gadis itu.


Toh sampai tiba waktunya nanti, dia juga ada di sisi Alana. Benar kata gadis itu, anggap aja mereka saat ini sedang pacaran, saling mengenal pribadi lebih dalam lagi.


"Baik lah sayang, aku akan mengikuti perkataan mu" ucap Arun yang membuat senyum Alana merekah. Arun mendekat ingin mengulang kenikmatan yang dia rengkuh dari bibir gadis itu tadi. Tapi bunyi yang tiba-tiba terdengar berasal dari perut Arun membuat Alana tersenyum.


Arun mencubit ujung hidung Alana pelan karena sudah menertawakan perutnya yang keroncongan. "Belum makan?"


"Menurutmu? ada gadis yang janji mau makan siang bareng, aku jemput ke toko malah ga ada, malah milih pergi sama cowok lain" cicitnya yang masih sangat jelas di dengar Alana. Dia jadi merasa malu sekaligus menyesal.


Arun akhirnya kembali ke kantor dengan perasaan kesal dan juga khawatir akan keberadaan gadis itu. Segera menyelesaikan pekerjaannya dan pukul lima sore Arun kembali lagi ke toko, tapi tetap Alana belum pulang. Arun pun memutuskan untuk pulang dan langsung singgah ke rumah Alana. Bermain dengan Arlan sembari menunggu Alana pulang.


"Maaf ya, harusnya aku bawa hape biar bisa ngabarin abang. Kalau gitu, aku masakin nasi goreng seafood aja, gimana?" tawar Alana ingin menebus rasa bersalahnya.


Anggukan dan senyum Arun membawa langkah mereka menuju dapur. Arun ikut membantu mencuci udang dan juga memotong Sosis. Kerja sama keduanya menghasilkan dua piring nasi goreng. Awalnya alana masak untuk Arun dan juga bi Minah, tapi karena wanita itu bari saja makan, jadi terpaksa jatah bi Minah dimakan Alana.


***


Hari ini, diawal yang baru toko Alana buka. Grand opening nya ikut dihadiri Arun dan yang membuat Alana surprise, Dita juga datang. Gadis itu baru-baru ini pindah ke Australia untuk kuliah atas permintaan papinya, tapi nyatanya Dita yang super manja tidak betah dan akhirnya pulang. Ada juga Fajar yang memang kuliah disini ikut hadir, tentu saja pasti mendapat kabar dari Dita soal toko roti Alana. Hanya Wisnu yang tidak ada karena masih di Belanda dan satu lagi, Gara.

__ADS_1


Tidak sekalipun Alana mengingat Gara. Hatinya sudah melepas pria itu, dan mendoakan kebahagiaannya.


Acara itu lumayan ramai. Setelah Alana potong pita, semua tamu undangan masuk dan juga dilayani oleh kedua karyawan serta lima orang pekerja lepas yang dimintai tolong untuk membantu hari ini saja.


"Makasih udah datang sayang" ucap Alana pada Dita yang tetap kebiasaan memeluk Alana erat.


"Woi, lesbong..! lepasin Alana, itu calon suaminya ngelihatin loh" ucap Fajar yang asik mengunyah roti abon sapi.


"Reseh lo" umpat Dita mengambil roti dari tangan Fajar.


"Lo ga ngundang Gara, Al?" lanjut Fajar. Alana hanya menggeleng pelan.


"Aku ga mau mengganggu rumah tangganya, takutnya nanti istrinya salah paham. Saat ini aku sudah bersama bang Arun, aku mohon kalian jangan membenci atau bersikap sinis ya sama dia. Lagi pula aku dan Gara emang ga jodoh kan?" ucap Alana pada kedua temannya.


"Kalau aku, siapapun pilihanmu, siapapun pria yang berada di sisimu, asal dia bisa membahagiakanmu, itu cukup, aku akan mendukung sepenuh hati," ucap Dita mengecup pipi Alana.


"Dih, najis lesbong" sambar Fajar menjitak pelan kepala Dita, dan diakhiri tawa ketiganya.


Sebelumnya pertemuan mereka berakhir, Arun menawarkan kedua sahabat Alana untuk minum kopi bersamanya yang tentu saja ditemani Alana.


Selama berbincang ditemani secangkir kopi, keempatnya bisa tertawa lepas tanpa ada jarak dari cerita masa lalu. Bukannya semua memang harus begitu, memberikan kesempatan buat tiap orang meraih kebahagiaannya.

__ADS_1


__ADS_2