
"Selamat datang...."
Langkah Arlan justru terhenti di depan pintu masuk. Gema suara merdu itu menjadi mesin waktu yang berhenti berputar tiba-tiba.
"Kamu..." Gadis itu melepas senyum ramah pada Arlan. Tentu saja dia tidak menyangka kalau pelanggan yang baru disambutnya tadi adalah Arlan, pria yang siang tadi menolong dan mengantarnya sampai ke tempat kerjanya ini.
"Kamu mau beli roti?"
"Emang selain roti lu jual apa lagi di sini?" jawab Arlan cuek, dia ingin terlihat seolah tak peduli mendapati kenyataan kalau Sania lah pekerja di toko roti ini. Siang tadi saat mengantar gadis itu ke sini, Arlan pikir Sania ingin membeli roti.
"Ada kopi juga. Mau?"
Padahal kalimat Arlan tadi sarkas, ingin menyentil Sania, seolah menjelaskan 'ya iya lah, gue mau beli roti, masa ke sini mau lihat elu!', tapi sayangnya Sania yang polos justru tidak mengerti.
"Roti aja."
"Mau yang mana?"
"Terserah, asal jangan yang terlalu manis. Lima."
Sania menunduk, menatap etalase roti, melihat dan menimbang, roti mana yang akan disukai pria dingin ini. Tanpa komando, Arlan juga ikut melihat ke arah pergerakan Sania hingga pandangan mereka saling bertemu kembali.
Ehem! Gugup, Arlan segera buang muka. Dia mengutuk kebodohannya. Kenapa setiap di depan gadis itu, kejeniusannya justru tumpul. Tidak ada lagi, sikap cool dan cuek yang biasa melekat dalam dirinya.
Sania tersenyum. Dia juga malu sebenarnya. Buru-buru dia mengambil enam buah.
"Yang ini aja?" tunjuk Sania nampan yang berisi enam buat roti tersebut.
Arlan hanya mengangguk. "Berapa?"
"125 ribu."
__ADS_1
Arlan menyerahkan dua uang merah dan menerima bungkusan dari Sania. Keningnya berkerut kala melihat isi roti yang lebih.
"Gue minta nya lima, kenapa diambil enam? Ini juga kenapa ada kopi? Aku gak pesan, mau ke samping minum bir!"
"Satunya bonus dari aku, sebagai ucapan terima kasihku dan kopi itu untuk teman rotinya. Gak baik minum beralkohol, lebih baik makan rotinya ditemani kopi." Kening Arlan yang berkerut meminta penjelasan.
"Kamu udah tolongin aku hari ini, juga udah baik banget ngantar aku kerja, jadi roti yang satunya biar aku yang bayar, ya. Aku gak mampu beli hadiah sebagai ucapan terima kasihku sama kamu, cuma mampu kasih roti ini," ucapnya tertawa renyah.
Arlan ini menolak dengan mengembalikan, tapi, ucapnya Sania buatnya tak berdaya.
"Aku mohon terima, ya. Please."
Sumpah demi apapun yang pernah Arlan lihat di bumi, tatapan tulus dari mata Sania sudah buatnya sangat tidak berdaya. Saat itu juga di dalam hatinya sudah mulai menyukai gadis itu. Tidak ada yang pernah menatapnya setulus itu, kecuali ibunya.
Getar ponsel Arlan akhirnya menyadarkan dirinya. Kasa menelepon berulang kali, tapi karena silent , dan dia sibuk saling adu pandang dengan Sania, hingga tidak sadar getaran di sakunya. Tidak ingin mendebat, Arlan segera meninggalkan toko roti itu.
"Kemana aja, sih, lu? Gue telpon dari tadi juga gak ngangkat. Eh, tunggu, jangan bilang lu godain penjaga toko roti itu? Yaelah, Ar, masa iya level lu udah jatuh ke cewek penjaga toko yang biasanya penampilan pasti kampungan!" celetuk Kasa menyambar kantong dari tangan Arlan.
Dia segera mengeluarkan isi kantong ke atas meja. Lima yang tersisa, memiliki rasa dan bentuk roti yang sama, hanya satu yang di tangan Kasa yang tampak beda.
"Sini!" Arlan menarik roti dari tangan Kasa yang plastiknya hampir disobek temannya itu.
"Apaan, sih, Lu! Itu kan masih ada, ngapain lu ambil yang ditangan gue?"
"Itu punya gue. Tadi beli dua, rasa yang beda. Lu makan aja yang itu."
Kasa menatap aneh ke arah temannya. Ini hanya perkara sebuah roti. Bukan karakter Arlan yang dia kenal. Namun begitu, Kasa tidak mendebat terlalu dalam, dia mengambil satu roti yang berserak di atas meja dan segera memakannya.
Arlan sendiri juga tidak mengerti kenapa dia harus bereaksi begitu. Diselipkannya roti ke dalam jaketnya dan mengunyah satu miliknya yang ada di atas meja.
***
__ADS_1
"Kau pulang larut sekali, Ar. Kalau papa tahu, nanti kamu dimarahi lagi," ucap Alana lembut. Dia sengaja terjaga hanya untuk menunggu anak kesayangannya pulang.
Pertengkaran Arlan dengan Arun sangat sering terjadi. Ayah anak itu terlalu mirip hingga sering bertengkar. Kata orang, kalau anak laki-laki wajahnya copy-an bapaknya, maka akan kurang akur. Dan sayangnya, di keluarga ini terjadi.
"Mama kenapa belum tidur? Aku kan punya kunci sendiri." Selalu begitu. Alana akan terus menunggunya pulang meskipun sudah dikatakan untuk tidak menunggu. Itulah sebabnya kenapa Arlan tidak mau diajak nginap di apartemen Kasa. Kasihan ibunya yang pasti akan terjaga sepanjang malam sampai dia pulang.
"Mana mungkin Mama bisa tidur nyenyak kalau anaknya belum pulang. Kamu cepat naik, jangan sampai papa bangun dan kamu diomelin lagi," jawab Alana menyentuh pipi Arlan. Telapak tangan ibunya yang halus selalu membuat Arlan tenang.
Pria itu mengangguk, lalu segera melangkah. Dia teringat sesuatu, lalu berbalik kembali ke hadapan Alana.
"Ini buat Mama," ucapnya memberikan roti dari balik jaketnya.
Alana hanya menatap roti pemberian Arlan dengan senyum bahagia. Hanya sebuah roti, tapi dia bisa merasakan ketulusan dan rasa sayang Arlan padanya.
"Sampai kapan kau akan memandangi roti itu?" Suara bariton milik Arun mengagetkan Alana yang masih mematung di tempatnya.
Gerakan yang sangat hati-hati tadi kini sudah terbongkar. Suaminya menangkap basah dirinya membuka pintu untuk Arlan.
"Sayang, kamu terbangun?" ucap Alana mendekati Arun dan seperti biasa bergelayut manja, masuk dalam pelukan pria itu. Hanya itu jurus yang bisa meredam amarah Arun. Pria itu tidak akan tega memarahi Alana yang melanggar perintahnya.
Arun sebenarnya sudah memberi mandat, tidak satu orang pun bisa membukakan pintu bagi Arlan, tapi Alana justru menunggu Arlan pulang.
"Sampai kapan kau akan memanjakannya? Apa kau hanya mencintai putramu itu saja?"
"Jangan cemburu. Kalian semua punya tempat di hatiku. Dan kau, suamiku sayang, kau segalanya bagiku," ucap Alana berjinjit untuk bisa mengecup bibir Arun.
"Jangan membangunkan singa yang tidur. Nanti sekali menerjang, kamu gak bisa tidur malam ini," balas Arun kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini semakin lama dan dalam. Rasa cinta Arundaya tidak pernah berkurang pada istri keduanya itu. Alana adalah cinta sejatinya yang telah memberikan kebahagiaan luar biasa padanya. Berkat Alana hidupnya menjadi sempurna, terlebih dengan kehadiran kedua anak mereka.
"Sayang, aku menginginkanmu," bisik Arun mencium daun telinga Alana. Wanita itu yang memulai, jadi singa jantan itu harus dipuaskan.
"Tunggu apa lagi, bawa aku ke kamar," bisik Alana melompat ke tubuh Arun agar pria itu bisa menggendongnya.
__ADS_1