
Arlan koma. Pria itu masih terbaring dengan kondisi kian hari melemah. Sudah dua Minggu sejak kejadian itu.
Bagaimana perasaan Sania melihat keadaan Arlan? Dia ingin mati. Jika terjadi hal buruk pada pria itu, biarlah dia menemani Arlan. Satu hal yang dia sesali, kenapa begitu lama dia membuka pintu maafnya kembali untuk pria itu. Kalau sudah begini, apa gunanya lagi berkali-kali berbisik di telinga Arlan mengatakan kalau dia sudah memaafkan pria itu.
"Aku mohon, kembalilah. Aku sudah memaafkan mu."
Tetap saja pria tampan yang wajahnya mulai ditumbuhi bulu-bulu halus itu bergeming tak berdaya.
"Kamu jangan menangis lagi, San. Setiap hari kamu ke menjaganya, dan tiap itu pula kamu menangis. Jangan sampai kamu saki," ucap Alana menyentuh pundak Sania.
"Kenapa Arlan belum siuman, Tante?" Sania semakin kencang menangis. Dia tahu saat ini Alana sama sedih dan hancurnya dengannya melihat keadaan Arlan, tapi wanita tegar itu masih mencoba tegar di depannya, hanya untuk menenangkannya. Atau semua itu bentuk penguatan pada dirinya sendiri? Dia ingin mempercayai kalau Arlan baik-baik saja, dan akan segera siuman.
"Tante juga gak tahu. Kita cuma bisa berdoa semoga dia kembali pada kita secepatnya."
Keduanya wanita itu saling rangkul di sisi ranjang Arlan, menangisi pria itu yang tengah berada di alam lain. Dia melihat ibu dan juga wanita yang sangat dia cintai sedih melihat keadaannya, tapi bagian dalam diri Arlan tidak ingin kembali. Dia kecewa pada Sania, jadi lebih baik dia tetap berada di dimensi yang berbeda.
***
"Jangan nangis lagi, aku yakin, Arlan sebentar lagi akan pilih." Kasa tidak sampai hati mendengar isak tangis Sania sepanjang jalan menuju tempat kerjanya.
Selama Arlan masih berbaring di rumah sakit, maka dia yang akan bertanggung jawab menjaga, mengantar Sania kemana pun gadis itu pergi.
Kasa memusatkan perhatiannya pada Sania, Arlan dan juga Ayra. Dia akan mengantar Sania kerja, lalu kembali ke rumah sakit menemani Arlan bersama Ayra sepulang menjemput kekasihnya itu dari sekolah. Tiba waktu pulang kerja, Kasa akan menjemput Sania dan langsung ke rumah sakit. Untung Ayra mengerti bahwa dia harus menjaga Sania, karena Kasa sudah mengatakan pada Ayra, Sania adalah gadis yang sangat dicintai abangnya.
Rumah sakit yang mengenal baik keluarga Dirgantara, memahami betul kondisi Arlan yang butuh waktu lama untuk perawatan dan pemulihan, sehingga menyediakan ruang di samping ruang Arlan untuk tempat keluarga beristirahat saat menjaga Arlan.
Adanya Kasa, dan Sania menjaga Arlan membuat Alana benar-benar terharu, dukungan itu sedikit banyak membuatnya tetap tegar. Banyak orang yang menyayangi Arlan.
__ADS_1
"Aku takut, Kasa. Sangat takut. Bagaimana kalau Arlan meninggal? Sudah berapa lama dia koma?" jerit Sania tidak bisa lagi memendam kesedihan serta ketakutan lebih lama lagi.
"Dasar bodoh! Dia bukan pria lemah. Dia akan siuman. Apa kamu pikir dia akan melepaskan mu gitu aja?"
Sania semakin terhanyut dalam tangisnya. Dia menjatuhkan keningnya di punggung Kasa, menangis lebih kuat mengimbangi deru mesin motor. Kasa juga sedih melihat Sania seperti ini. Baginya Sania tidak hanya sekedar teman, tapi sudah dia anggap seperti saudara sendiri. Memperlakukan seperti adik sendiri.
Kasa bingung harus menenangkan Sania bagaimana lagi. Gadis itu sedikit berbeda hari ini. Dia lebih melankolis dari biasanya. Sedikit-sedikit menangis. Melihat wajah Arlan tadi, tiba-tiba kembali terisak. Saat menggenggam tangan Arlan, dia semakin histeris bahkan hampir pingsan.
Alana yang melihat keadaan Sania yang emosional, meminta Kasa memapahnya pindah ke ruang sebelah.
"Kamu harus banyak istirahat. Kamu kecapean, bekerja dan juga menemani Arlan. Bagaimana kalau kamu pulang? Beristirahat di rumah sakit dengan di rumah pasti berbeda. Kalau di rumah kamu bisa total dan nyaman beristirahat," ucap Alana mengikuti mereka ke ruang sebelah. Dia cemas melihat keadaan Sania yang pucat dan sangat lemas.
"Gak, Tante. Aku mau disini, menjaga Arlan. Aku mohon jangan usir aku," iba Sania sambil menyatukan telapak tangan di dada.
Alana bisa apa? Dia hanya mengangguk agar Sania tidak lagi bersedih. Bahkan saat pamit pergi kerja, Alana masih mengkhawatirkan keadaan Sania.
Kasa memilih untuk menepi. Mereka tidak akan nyaman berbicara dengan dia memunggungi Sania.
"Sebaiknya kamu izin gak masuk. Keadaan kamu benar-benar sangat lemah. Aku gak akan biarkan kamu kerja hari ini," perintah Kasa membelokkan motornya ke sebut hotel yang tidak jauh dari rumah sakit. Mereka baru 15 menit meninggalkan lokasi rumah sakit dan melewati hotel berbintang. Menurut Kasa, lebih tepat membiarkan gadis itu untuk beristirahat malam ini hingga pagi sebelum kembali ke rumah sakit.
"Kenapa kita ke sini? Aku mau kerja. Udah hampir jam tujuh malam, Kasa!" Protes Sania melirik jam tangannya.
"Aku udah bilang, kamu gak usah masuk kerja hari ini. Please, Sania kalau kamu memang menganggapku temanmu, ikuti perkataan ku kali ini. Wajahmu begitu pucat dan begitu kelelahan."
Sania bungkam. Benar perkataan Kasa. Dia begitu lelah, merindukan tidur tapi dia tidak berani terpejam. Ketakutan terbesarnya, dia jauh dari rumah sakit, dari Arlan, saat tiba nanti Arlan siuman, dia ingin menjadi orang pertama yang melihat sinar matanya.
Ketakutan keduanya, jika dia tertidur dan hal buruk terjadi pada Arlan, dia tidak akan tahu hingga tidak bisa mengatakan pesan terakhirnya pada Arlan.
__ADS_1
"Turun, San. Satu malam saja."
Gadis itu mengalah. Dia turun dari motor dan itupun harus dipapah.
"Ayo," ajak Kasa meninggalkan meja resepsionis setelah menerima kunci. Masuk ke lift dan bergegas menuju kamar.
Kasa memesan kamar deluxe untuk Sania agar gadis itu bisa beristirahat.
"Beristirahatlah," ucap Kasa setelah memeriksa semua sudut kamar, memastikan kalau Sania akan nyaman dan aman di sana. Gadis itu duduk di tepi ranjang, tidak bergerak hanya menunduk. Air matanya jatuh membasahi tangannya di atas paha. Dia benar-benar tidak tega melihat Sania sesedih itu.
"Dasar brengsek lu, Ar. Cepat bangun! Lu gak kasihan melihat Sania sedih begini? Dia bahkan seperti mayat hidup sekarang!" umpatnya dalam hati.
"Sania, jangan menangis lagi. Kalau kamu sakit, kamu gak akan bisa mengurus Arlan. Aku yakin, besok Arlan akan siuman. Dia akan baik-baik saja."
"Aku ingin mempercayai, sumpah. Tapi apa yang aku dengar dari keterangan dokter pada Om Arun, membuatku pesimis," jawab Sania.
Kasa tidak bisa berkata-kata lagi. Dia juga sudah dengar diagnosis dokter tentang keadaan Arlan terkini. Sulit.
"Sudah, jangan dipikirkan. Kamu istirahat, ya."
"Aku takut, Kasa. Aku takut Arlan gak kembali padaku lagi."
"Itu gak akan terjadi. Aku kenal dia. Kamu adalah wanita yang sangat dia cintai, tidak akan rela meninggalkan dunia begitu cepat." Sania diam, tapi tidak lagi terisak. Kasa pikir gadis itu sudah lebih tenang meski sedikit.
"Aku pulang dulu, San. Besok aku jemput." Kasa menghapus puncak kepala Sania lembut, lalu melangkah menuju pintu. Baru memegang handle pintu ingin memutar, tubuh Kasa menegang kala Sania bicara.
"Aku hamil, Kasa. Aku sedang mengandung anak Arlan."
__ADS_1