
Untuk pertama kalinya semenjak Alana tinggal di rumah itu, dia bertatap muka dengan Arun. Bisa dibayangkan bagaimana gugup dan takutnya dia. Alana mengutuk Lily yang memaksanya untuk ikut makan malam. Berbagai alasan sudah dia sampaikan, tapi Lily tidak mau dengar.
"Kau sudah sah jadi bagian keluarga ini Al, kau juga istri Arun, jadi kita sudah seharusnya melakukan hal memang di lakukan anggota keluarga, contohnya makan malam ini"
"Kau tahu betul kak, aku tidak menginginkan status itu" bantah Alana. Entah sejak kapan dia mulai berani membantah kakak nya secara terang-terangan.
"Kakak ga mau dengar. Aku sudah masak untuk makan malam ini, tolong hargai Al..yuk" Lily kembali mengulurkan tangannya ke hadapan Alana.
Tidak punya pilihan lain, Alana menerima ajakan Lily. Di meja makan sudah ada Arun yang menunggu mereka. Alana duduk di sisi kanan Arun, atas permintaan Lily tentu saja sementara Lily sendiri di sisi lainnya.
Perut Alana memang terasa lapar. Tapi nafsu makannya lari entah kemana. Lagi pula bagaimana dia bisa makan kalau berdekatan dengan pria bejat yang sudah memaksanya? trauma tentu saja di alami Alana, bahkan berada di dekat pria itu tubuhnya bergidik ngeri.
"Dimakan dong Al" Lily menyentuh tangan Alana yang sejak tadi hanya tergeletak di meja tanpa mau mengambil sendok di sampingnya.
"Aku ga lapar kak. Boleh kah aku ke kamar aja?"
"Kau harus makan, jangan sampai kau sakit. Lihat tubuh mu makin kurus kayak orang tertekan" sahut Lily. Seketika Arun mendongak ke arah Alana dan sial bagi Alana dia pun tengah melihat ke arah Arun.
Adu pandang itu tidak bisa dielakkan lagi. Hanya persekian detik, Alana langsung kembali menunduk.
"Aku baik-baik aja kak"
"Tapi kau harus tetap fit, biar subur dan cepat hamil" celoteh Lily tanpa beban. Arun bahkan sampai tersedak mendengar ucapan Lily.
"Minum dulu hun. Pelan-pelan makan nya" segelas air yang di sodorkan Lily berhasil menyelamatkan kerongkongan Arun.
Efek yang sama juga di rasakan Alana. Wajah nya memerah, malu dan jijik bercampur jadi satu.
"Aku selesai. Aku ke kamar ya kak" pinta Alana menghabiskan segelas air putih setelah menyendok satu suap nasi ke mulutnya.
"Masa iya kau hanya makan sesendok? habisin dong Al. Aku udah susah payah masak makanan penuh gizi untuk mu" wajah Lily begitu memelas.
__ADS_1
"Habiskan makananmu!" Itu sebuah perintah. Iblis berwujud Arun itu mengeluarkan suara bahkan tanpa melihat ke arah Alana.
Keras nya suara Arun membuat nyali Alana ciut. Dia semakin membenci Arun, hanya karena tidak ingin melihat Lily sedih dan usahanya menyiapkan makan malam ini sia-sia, Arun sampai harus turun tangan memaksa Alana.
Kenyataannya berbeda dengan apa yang di maksud Arun. Kalimat Lily yang mengatakan Alana terlihat kurus dan tertekan, bahkan jatuh sakit membuat Arun yang tadi hanya diam, spontan buka mulut. Dorongan untuk memastikan Alana baik-baik saja entah dari mana muncul. Bahkan dia sendiri tidak menyangka bisa seperti itu.
Alana mendongak, begitu pun Lily. Keduanya sama-sama melihat kearah Arun yang masih santai mengaduk makanannya. Lalu Alana melihat Lily, meminta penjelasan akan sikap Arun. Lily hanya mengangguk dengan mulut berkata ikuti aja namun tanpa suara.
***
Hanya dalam kamar lah Alana merasa nyaman, tidak terintimidasi oleh sikap Arun yang coba mulai mengaturnya. Ketukan di pintu hanya di tanggapi dengan malas, karena dia tahu itu hanya formalitas, sebentar lagi wajah Lily pasti akan muncul di balik pintu. Dan dugaannya tepat.
"Al.." Lily sudah masuk, duduk di tepi tempat tidur, sementara Alana pura-pura sibuk dengan pelajarannya.
"Al.." ulang nya meminta perhatian Lily.
"Iya kak, aku dengar kok. Ada apa?"
"Mmm..kakak cuma mau bilang, kau jangan tersinggung ya dengan sikap Arun"
"Itu, mmm..kejadian malam itu, kalian berhasil kan?" tangan Alana gemetaran. Lily membawanya lagi masuk dalam ingatan yang ingin dia kubur. Jantung nya berdegub kencang, peristiwa malam itu kembali terbayang di pelupuk ingatannya. Cara Arun merobek pakaiannya serta memaksa untuk memasuki nya.
"Kakak lihat seprai mu. Sengaja pagi itu Kakak ambil setelah kau ke sekolah, biar bi Minah ga lihat"
Alana mengepal telapak tangan nya, sakit hujaman kuku nya tidak seberapa dibandingkan hatinya yang tercabik. Untuk sesaat Alana memejamkan matanya. Menikmati duka yang akan selalu membekas mengikuti tiap langkah di hidup nya.
"Aku cuma mau ingatin. Kalian sudah melakukan itu, jadi kau kemungkinan akan segera hamil. Kakak minta kau jaga kesehatan dan pola makan mu. Demi bayi..kita"
"Bisa kah kita ga usah membahas nya dulu kak? aku mohon" serak suara Alana menandakan rasa pilu yang di tahan.
"Kau ga boleh menghindari kenyataan ini La. Sekarang kau istri Arun, dan aku mohon, Kau jangan bertingkah cuek apa lagi membenci Arun, karena dari apa yang ku baca itu bisa mempengaruhi janin"
__ADS_1
"Cukup kak..bayi itu belum tentu ada..." teriak Alana histeris. Membayangkan ada janin dalam perutnya membuatnya merasa marah.
"Maaf kan kakak. Aku tahu kau sangat tertekan. tapi aku mohon, jangan buat pengorbanan mu sia-sia" Lily sudah berdiri, membelai puncak kepala Alana sebelum meninggalkan kamar itu.
Begitu daun pintu di tutup, Alana menghempaskan tubuhnya, menangis sejadi-jadinya. Mengutuk saat dirinya di lahirkan. Dia benci semua orang, bahkan pada dirinya sendiri. Namun saat wajah Gara muncul, menjadi pusat kesadaran baginya, bahwa dia mensyukuri dirinya sudah ada di muka bumi ini.
***
Alarm berbunyi, Alana menggeliat. Rasa pusing masih menyerbu kepalanya, entah sampai kapan di sana.
Jarum jam menunjukkan pukul lima pagi, dia harus segera bergegas. Seperti biasa bi Minah sudah ada di dapur melakukan tugasnya, Alana hanya membantu sebentar lalu kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap.
"Berangkat non?"
"Iya bi, makasih untuk sarapannya" Alana terus berjalan ke depan, namun di teras rumah, Alana bertemu dengan Arun yang baru saja selesai lari pagi. Tertegun dan tampak kikuk. Apa yang harus dia katakan?
"Mau berangkat sekolah?" Alana hanya mengangguk.
"Kenapa sepagi ini?"
"Pi-piket bang"
"Ga sempat nunggu, biar bareng"
"Hah?" Alana mendongak lalu tunduk lagi.
"Ga usah bang. Aku pamit dulu" Alana mau pergi dari sana, tapi langkahnya tertahan akibat hardikan Arun.
"Punya tata krama ga sih? kau main pergi aja, udah pamit?"
Serius, Alana bingung maksud Arun apa. Tapi di atas segalanya, dia benci cara bicara Arun dan juga sikap diktator nya. Benci sebenci-bencinya.
__ADS_1
"Salim" Arun menyodorkan tangan nya ke arah Alana, namun karena terkejut Alana memilih untuk bergeming.
"Bengong..nih" ucap nya memberikan punggung tangannya. Kikuk Alana hanya menerima dan mencium punggung tangan Arun, lalu buru-buru meninggalkan rumah itu dengan segala umpatan di hatinya untuk Arun, si predator.