
Hari kelima masih juga tidak ada kabar dari Kai. Perguson sudah menyisir kesemua tempat yang biasa Kai datangi, namun tidak menemukan pria itu.
Dita sudah menyerah, tidak lagi mencari Kai lagi. Biasanya dia akan mencari ke perusahaan, yang alamatnya dia dapatkan dari internet. Bersama Alana sebagi alasan sahabat Kai, keduanya mencari ke sana, tapi tetap aja tidak mendapat hasil.
Setengah memaksa, Dita juga sudah meminta Alana untuk datang ke rumah nenek Rosi, siapa tahu Kai di sana dan dia sedang sakit hingga tidak bisa di temui dimana pun, namun di rumah wanita itu pun Kai tidak ada.
"Kamu getol banget pengen ketemu Bangkai, ada apa sih, Ta?" tanya Alana yang sejak tadi menyimpan tanya. Namun setelah kembali dari rumah nenek Rosi lah baru berani bertanya.
Alana takut, kalau alasan Dita ingin bertemu Kai untuk mengajak ribut pria itu lagi, mengingat pertemuan terakhir mereka, keduanya adu mulut.
"Itu..itu.."
"Jangan bilang kamu mau ngajak dia ribut lagi, Ta. Udah ya, damai aja. Bangkai itu walau mulutnya nyelekit, tapi hatinya baik kok"
Dita tidak menjawab. Kepolosan Alana semakin hakiki saja. Tapi itulah menariknya Alana, gadis itu memiliki hati yang bersih.
"Gue cuma mau ngajak bicara aja. Siapa tahu dia bisa bantu gue soal jurusan yang bagus. Gue mau pindah jurusan, Al. Bosan gue di manejemen," ucapnya berimprovisasi.
"Kalau gitu kenapa ga tanya bang Arun aja, Ta. Suami aku ga kalah jago loh dari bangkai," kata Alana menoleh ke samping. Sejak tadi wajah Dita begitu sedih. Gadis yang biasa rame itu lebih banyak diam.
Alana yang polos tidak tahu kesusahan hati sahabatnya saat ini. Dita juga belum siap untuk cerita pada Alana. Dita malu, mengakui sudah menyukai pria yang sudah memiliki tunangan.
Kini semua perjuangannya sia-sia. Di saat frustrasi mencari keberadaan Kai yang tidak jelas juntrungannya, Rudi malah mendesak Dita menerima lamaran Marco, karena bolak-balik orang tua Marco menghubunginya meminta kejelasan kapan mereka bisa datang untuk melamar Dita.
Dita pasrah. Tidak ada lagi harapan baginya untuk mengejar cintanya seperti nasehat Kasar waktu itu.
__ADS_1
"Kasih aku waktu berpikir, Pi. Aku butuh waktu yang tidak terburu-buru dalam memutuskan masa depanku," jawabnya saat Rudi meminta waktunya untuk bicara.
"Sudah dari bulan lalu, Ta. Papi ga enak sama keluarga Marco. Kalau kamu tidak suka, biar papi tolak. Tapi papi rasa sih, Marco pria yang baik. Dia juga sayang pada Kasa"
Dita diam. Hanya itu yang menjadi alasan baginya untuk mempertimbangkan perasaan Marco. Hanya karena kepedulian dan kemauan pria itu menerima anaknya, karena kalau cinta, Dita sama sekali yakin tidak memilikinya untuk pria itu.
***
Tepat malam harinya, saat hari kelima kepergian Kai yang tanpa berita, semua yang mengenal pria itu tersentak melihat kabar di televisi. Dua stasiun televisi swasta menayangkan berita tentang pernikahan pengusaha sukses Kaisar Barrel dengan model papan atas, Amanda Richard.
"Berita apa, Mi? serius amat," ucap Rudi yang merangkul pundak Dita. Keduanya baru saja selesai bicara berdua di ruang kerja Rudi. Keputusannya sudah bulat, memberi waktu pada Dita sampai akhir minggu ini, untuk memberikan keputusan menerima atau menolak Marco.
Ayah dan anak itu duduk diantara Mita, mengapit wanita kesayangan mereka itu yang sejak tadi begitu terpaku mengamati berita di televisi.
"Berita tentang pernikahan pengusaha kaya raya, Pi. Kalau ga salah pernah kerjasama juga dengan papi kayaknya. Kaisar Barrel, Pi"
Tampak di sana wajah Amanda yang dia kenal, tersenyum pada awak media. Disampingnya duduk pria bertopi dan mengenakan masker, menemani Amanda melakukan konferensi pers, membenarkan kalau dia dan Kai Barrel sudah menikah kemarin sore.
Pria itu tampak hanya manggut-manggut menyetujui setiap perkataan yang keluar dari mulut Amanda.
"Terimakasih buat teman-teman pers, sudah meluangkan waktunya memenuhi undangan kami. Disini kami ingin berbagi kamar gembira, kalau saya Amanda Richard resmi menikah dengan Kaisar Barrel. Kami minta maaf, karena tidak mengundang para awak media. Itu karena permintaan dari suami saya, Kaisar yang ingin acara pernikahan kami itu tertutup hanya untuk keluarga dekat, agar lebih sakral katanya," ujar Amanda sembari tersenyum gembira.
"Bagaimana dengan tuan Barrel, kenapa pernikahan ini dadakan, seperti ada yang di sembunyikan?" tanya salah satu wartawan yang ingin mengetahui berita yang lebih spektakuler.
"Maaf, suami saya lagi radang tenggorokan, suaranya habis setelah tadi malam berpesta dan ikut bernyanyi sepanjang malam bersama teman-teman terdekat kami" sambar Amanda menyentuh pundak pria yang ada di sisinya. Lagi-lagi, pria itu pun hanya mengangguk membenarkan perkataan gadis itu.
__ADS_1
"Lalu, Negara mana yang akan menjadi tempat bulan madu yang kalian pilih?" lanjut wartawan lainnya.
"Kai ingin ke Milan, Italia" kembali Amanda yang menjadi jubirnya. Pria yang ada disampingnya hanya diam sejak acara di mulai.
***
Hati Dita hancur. Dia tidak ingin melihat berita yang sudah berhasil meremas hatinya dengan sempurna. Hatinya hancur.
Satu hal yang dia yakini, pria itu tidak pernah sedikitpun menaruh rasa padanya. Ciuman itu hanya permainan, hal yang biasa bagi Kaisar Barrel.
Sesampai di kamar, Dita menghempaskan tubuhnya ke ranjang, memuaskan tangisnya sebagai gambaran rasa sakit hatinya.
"Dasar pria brengsek, kenapa gue harus suka sama lo, sih. Dasar b*ngsat!" umpatnya memukul-mukul bantal. Air matanya sudah banjir, menggenangi pipinya.
Sakit...sangat sakit hatinya. Terluka karena cinta. Harusnya dia tidak terlalu cepat menyerahkan hatinya pada Kai. Itu semua karena ciuman itu yang sudah membuatnya terkena virus cinta yang langsung melumpuhkannya.
Diliriknya hapenya yang bergetar. Seseorang menghubungi nya. Dia tidak tahu siapa, karena ponselnya terbalik. Di detik terakhir ini pun, hati Dita masih berharap kalau itu Kai, yang entah dari mana tahu nomor hapenya, harapan yang tidak mungkin memang. Tapi saat seseorang dalam keadaan frustrasi, berada di titik terendah kesedihannya, berharap hanyalah salah satu penghiburan.
Harapannya jatuh lagi. Orang yang menghubunginya ternyata Alana. "Sorry Al, gue lagi ga pengen ngobrol. Besok aja, ya," ucapnya pada layar ponsel yang masih berdering minta diangkat.
***
"Perguson, apa maksud anak gila itu? menikah tanpa mengatakan apapun padaku? menikah tanpa kehadiran ku?" salak nenek Rosi detik itu juga saat melihat berita itu di televisi.
"Maaf, Nek, tapi aku juga ga tahu kenapa bisa begini. Sedikit pun bos gada bilang, Nek"
__ADS_1
"Tutup mulut busuk mu itu! Dasar kau tidak berguna!" umpatnya mematikan telepon.
Nenek Rosi tidak bisa menebak jalan pikiran Kai, dia hanya berharap anak itu segera pulang agar bisa dihajarnya.