
Sudah 15 menit mobil mewah itu parkir di depan gerbang rumah yang juga mewah. Kedua penghuni di dalam sana hanya diam, tanpa berkata apapun.
Harusnya kan Dita keluar dari mobil itu, toh sudah sampai di rumah. Anehnya Dita tidak ingin keluar dari sana, entah apa yang di tunggu nya. "Lo ga turun?" tanya Kai, tanpa menoleh kearah lawan bicaranya.
"I-iya. Ini juga mau turun"
Satu detik...dua detik..Dita masih belum bergerak. Sulit mengatakannya, Dita hanya ingin mendengar Kai memberinya penjelasan, arti ciuman itu. Mungkin bagi pria itu biasa saja, tapi bayi Dita, dunianya sudah jungkir balik, bahkan hatinya masih berdetak kencang.
"Lo mau gue anter ke dalam?" Kai menebak gadis itu tidak turun karena takut dimarahi papanya karena pulang kemalaman.
"Ga usah" nada suara Dita berubah ketus. Dia kesal, sangat kesal malah. Pria itu tidak mengerti perasaannya. Atau Dita saja yang langsung baper? bagi si polos Dita kalau pria sudah mencium seorang gadis di bibir, berarti pria itu suka pada gadis tersebut. Itu lah yang di tunggu Dita, Kai mengatakan rasa sukanya pada gadis itu. Tapi nyatanya hanya pepesan kosong yang dia dapat.
Click.. Seatbelt sudah terbuka. Sekali lagi Dita melayangkan tatapan kesal pada Kai lalu bergegas turun dari mobil itu.
Sisa malam itu dihabiskan Dita dengan rasa tersiksa. Dia bingung dengan perasaannya saat ini. Jelas-jelas dia bersemangat memulai hubungan dengan Marco. Pria itu bahkan sudah mengatakan niatnya untuk menikah dengannya. Tapi kenapa hanya karena ciuman tak terduga, hati Dita jadi berbalik arah.
"Iih, kok gue kepikiran terus sama dia ya? dasar cowok playboy. Udah cium, tapi ga nembak gue!"
Monolog Dita terpatahkan dengan kesadarannya akan status Kai. Dita ingat kalau pria itu sudah memiliki kekasih, bahkan tunangan.
"Lo benar-benar bajingan, Kai!" umpatnya pada angin, berharap angin malam bisa menyampaikan rasa kesalnya pada Kaisar yang saat ini juga tengah berbaring telentang dengan mata menatap langit-langit kamarnya
Kalau Dita kesal karena Kai tidak mengatakan apapun padanya, pria itu justru menata hatinya. Dia sendiri bahkan tidak percaya dengan apa yang dia rasakan saat ini.
Ciuman itu sudah biasa bagi Kai. Lebih dari itu juga sudah pernah dia lakukan, tapi kenapa terjebak dengan Dita membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda. Hatinya bergetar hanya mendengar gadis itu bernafas di dekatnya. Kulitnya terbakar, kala jemari lentik Dita meraba tangannya.
__ADS_1
Perasaan aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dengan gadis mana pun. Terlebih ada apa dengan dirinya yang merasa kesal kala melihat pria lain mendekati Dita.
Hatinya tidak ingin seujung kuku pun ada yang menyentuh Dita - nya. Tunggu, Dita - nya? sejak kapan dia seposesif itu terhadap gadis itu. Mereka bahkan tidak memiliki hubungan.
***
"Akhirnya kau datang juga, anak sialan!" seru nenek Rosi melihat tubuh atletis itu berjalan santai kearahnya.
"Bukan kah nenek merindukanku? kenapa aku sudah datang masih kena omel?" Kai mencium pipi berkerut itu dan mengambil tempat tepat di sampingnya.
Suasana rumah terasa sepi, seperti biasanya. Kadang Kai merasa kasihan melihat neneknya yang selalu mengeluh kesepian.
"Kapan kau akan menikah? Amanda terus saja merongrong nenek," kata wanita itu merebahkan kepalanya di pundak Kai. Dia sudah tidak ingin memarahi cucu bebalnya itu. Melihatnya dalam keadaan hidup saja sudah membuatnya tenang.
"Apa nenek menyukai Amanda?"
Ketika pertama kali di kenalkan, nenek Rosi sudah tidak menyukai Amanda. Wanita itu bisa menilai perangai gadis itu. Namun setelah sekian lama cucunya tidak mengenalkan seorang gadis padanya, kedatangan Amanda tentu membawa harapan baru bagi dirinya.
"Kalau begitu, sebaiknya aku tidak usah menikah dengan Amanda"
"Apa kau sudah menemukan calon pengantin lain? apa dia sehat? bisa memberikan ahli waris keluarga Barrel?" Kai hanya tersenyum menanggapi cercaan pertanyaan dari neneknya. Satu nama sudah tersimpan di hatinya, namun dia masih menyimpan rapat. Kai ingin mengatur langkah agar gadis yang dia ingin kan itu tidak lolos.
"Nenek tenang, saja. Serahkan padaku. Duduk yang manis, dan tunggu saja kabar baik dariku," ucapnya menarik tubuh lemah itu dalam pelukannya dan memberikan satu ciuman di kening neneknya.
***
__ADS_1
Sesuai janji, Kai akan bertemu dengan Amanda hari ini. Dia ingin memperjelas status mereka. Dia harus tegas, tidak ada lagi waktu bermain, jika tidak ingin kehilangan gadis yang kini benar-benar dia inginkan.
Cafe dengan dekorasi estetik menjadi pilihan Amanda. Gadis itu sudah berdandan cantik, sexy dan begitu memukau. Model sekelas Amanda tidak akan mau keluar dengan penampilan yang biasa. Baginya, setiap tempat yang di jejakinya adalah panggung, semua mata pasti akan melihatnya dan Amanda senang menjadi center of attention, jadi dia harus tampil prima.
30 menit berlalu, Kai belum tampak. Namun itu bukan salah Kai, Amanda lah yang terlalu bersemangat hingga datang lebih awal. Dia begitu menantikan pertemuan ini. Amanda yakin, kali ini Kai akan memintanya untuk segera nikah dengan pria itu.
Setelah proses penantian itu, orang yang di harapkan datang juga. Dari kejauhan Amanda mengamati pria tampan itu. Senyum gadis itu mengembang, rasa bangga memuncah dihatinya, karena memiliki Kai sebagai tunangan dan sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Kau sudah lama menunggu?" tanya Kai saat melihat gelas jus pare pesanan Amanda sudah habis setengah.
"Oh, baru kok, Kai. Duduk," katanya tersenyum manis. Kai mengambil tempat di hadapan gadis itu, namun buru-buru Amanda meminta untuk duduk di sampingnya saja. Kai menurut, melakukan hal yang membuat Amanda senang sebelum mereka berpisah tidak ada yang salah akan hal itu.
"Manda, ada yang ingin aku bicarakan" Kai langsung masuk pada inti.
"Aku tahu ada yang ingin kamu katakan, tapi nanti dulu, kita pesan makan dulu ya, aku lapar," ucapnya kembali tersenyum. Lagi- lagi Kai menurut, mengangguk-angguk tanda setuju.
Amanda berinisiatif memesan untuk mereka, tanpa menanyakan Kai terlebih dahulu, tapi pria itu tampak tidak perduli. Tujuan dia datang kemari bukan untuk makan bersama Amanda, tapi untuk memutuskan hubungan mereka.
"Kamu dari mana aja sih, Kai? aku cariin, kamu kayak udah hilang ditelan bumi, ga tahu dimana rimba nya," ucapnya sedikit merajuk. Harapannya hancur dengan menghilangnya jejak Kai. Dia pikir pria itu akan bahagia dengan kedatangannya.
"Aku sibuk, Man. Banyak kerjaan," sahutnya ogah-ogahan. Amanda ingin kembali bertanya, namun mulutnya yang sempat terbuka, terkatup kembali saat pramusaji datang mengantarkan pesanan mereka.
"Kita makan dulu, baru ngobrol," ujar Amanda dan lagi-lagi dengan senyum manis sebagai penutup.
"Bener kan, Bangkai!" seru seorang gadis yang sudah berdiri di depan meja Kai dan Amanda. Seketika keduanya mendongak menatap dua gadis muda yang tengah berdiri di sana.
__ADS_1
"Al...," ucap Kai kikuk. Pria itu memang menyebut nama Alana, tapi matanya justru melihat kearah Dita yang menatapnya tajam seolah ingin membunuhnya. Habislah dia!