Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Cerai


__ADS_3

Seminggu ke depan, Alana diwajibkan untuk berbaring saja di kamar. Selain memang perintah dokter, Arun juga memaksa untuk mengikuti kemauan dokter tersebut.


"Aku ga ingin kau dan bayi kita kenapa-napa Al" ucap Arun lembut, saat mengunjungi gadis itu di kamarnya.


Arun tidak mempersalahkan sikap balasan Alana yang tidak bersahabat padanya. Gadis itu marah, dan dia terima. Menggelitik memang, Arun sendiri tidak tahu kenapa Alana marah, yang dia tahu sejak makan malam waktu itu Alana sudah berubah sikap.


"Sudah satu Minggu ini kau mendiamiku, aku salah apa Al?" tanya Arun yang menyelinap masuk ke kamar Alana saat Lily dan bi Minah beli keperluan dapur.


Tidak ada jawaban. Tepatnya Alana malas dan tidak berniat untuk menjawab. "Al.."


"Bisa ga abang keluar? aku mau istirahat" ucap Alana menutup kepalanya dengan selimut.


"Iya aku keluar, tapi kamu jangan marah lagi dong"


"Keluar bang"


"Janji dulu" pinta Arun memegang kaki Alana yang berbungkus selimut.


"Janji apa? aku ga mau janji apapun padamu bang" Salak Alana membuka selimut dari kepalanya.


"Kamu kok marah sih sama aku? dosa loh marah-marah ga jelas sama suami"


"Bodo. Lagian juga dua bulan lagi kita cerai kok"


Perkataan Alana seperti lebah jantan yang menyengat telinga Arun. Wajahnya memerah menahan amarah. "Aku ga mau bercerai denganmu"


"Loh, kenapa begitu. Perjanjiannya kita cerai setelah anak ini lahir, ada aku akan pergi dari sini, dari kehidupan kalian"


"Jangan Al..aku ga bisa melepas mu. Aku..aku..jatuh cinta padamu"


"Semudah itu kau jatuh cinta padaku? bukannya dulu kau benci padaku? lagian maaf, aku ga mau dimadu"


Raut wajah Arun tampak begitu sedih. Dia bukan tipe pria romantis, jadi wajar jika tidak mengerti cara merayu dan menyampaikan perasaannya pada Alana, agar gadis itu yakin akan perasaannya.


"Aku juga tidak mau menjadi pria yang mendua hati. Aku hanya ingin bersamamu. Aku akan menceraikan Lily"

__ADS_1


"Kau gila bang. Jangan pernah kau katakan hal itu lagi. Aku tidak akan memaafkan mu kalau sampai kau menyakiti perasaan kakak ku"


Inilah yang ditakutkan Arun. Dirinya mati langkah, mati ditengah. Ingin memperjuangkan perasaannya tapi tahu bahwa Alana tetap tidak akan terima.


"Jadi aku harus apa Al? aku ga bisa membohongi diriku, kalau kini hanya kau yang ada di hatiku"


"Oh ya? dulu juga abang ngomong gitu sama kak Lily, cinta sama dia makanya pengen nikahi dia. Sekarang? kemana perasaan itu? siapa yang akan percaya, bisa ajakan setelah bersamaku, kau ketemu dengan wanita lain, dan akan mengatakan hal yang sama juga?" amarah Alana memuncak. Emosinya tersulut. Hormonnya selama hamil ini memang suka meledak-ledak.


"Ini berbeda Al. Mungkin kau sulit mempercayainya, tapi perasaan yang aku rasakan padamu, berbeda saat aku menjalani bersama Lily"


"Aku ga mau dengar. Kalau abang ga mau keluar, biar aku aja yang pergi" ancam Alana menyibak selimutnya. Namun buru-buru Arun menahan kaki Alana. "Aku akan keluar"


***


Pengumuman kelulusan sudah keluar. Gara dengan semangat datang menemui Alana.


"Naik aja Ga. Alana di kamarnya" seru Lily sembari pamit menyiapkan minuman untuk Gara.


"Di sini aja nunggunya kak. Ga enak. Belum muhrim" ucapannya cengengesan. Lily hanya mengangguk setuju.


Mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah, Gara menyiapkan dirinya untuk hal yang terburuk yang mungkin saja dia terima dari si empunya rumah.


"Sorry gue ganggu penglihatan lo akan kedatangan gue. Anggap aja gue makhluk astral. Gue sebentar aja mau ketemu Alana"


"Ga bisa. Dia lagi istirahat. Lo ga tahu malu ya, bukannya lo udah tahu kebenarannya? Alana sedang mengandung anak gue, dia istri gue"


"Hanya sampai bulan depan. Setelah itu, Alana bukan siapa-siapa lo lagi"


Mata Arun bagai elang yang siap menerkam mangsanya. Emosinya tersulut mendengar ucapan lugas Gara. Kemabli pria itu mengingatkan batas waktunya untuk mendapatkan hati Alana yang semakin menipis.


"Udah pulang hun" Lily datang membawa nampan berisi minuman. Tepat dibelakangnya berdiri Alana yang sedetik meliriknya lalu buru-buru melihat kearah Gara dan tersenyum. Hati Arun semakin panas.


Apakah untuk kedua kalinya dia harus mengakui kekalahannya? Arun memutuskan untuk berlalu, masuk ke ruang gym untuk melampiaskan amarahnya pada sansak.


"Selamat, kamu lulus" ucap Gara membelai rambut Alana setelah mereka hanya tinggal berdua.

__ADS_1


"Kamu juga lulus kan?" tanya Alana balik. Gara hanya mengangguk ditambah sebaris senyum di bibirnya.


"Habis ini rencana kamu apa? mau daftar kuliah dimana? biar aku yang bantu daftarkan" tanya Gara menyeruput minumannya setelah dipersilakan Alana.


"Aku belum tahu Ga. Tapi kayaknya aku nganggur dulu satu tahun"


"Kenapa begitu?" Gara menatap lekat pada Alana. Dia sudah menyiapkan rencana yang indah buat mereka berdua. Sebenarnya papanya Gara sudah meminta dirinya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri seperti kedua abangnya. Tapi dengan tegas Gara menolak. Memilih untuk tetap kuliah disini agar bisa kuliah bersama Alana.


"Aku membereskan semua ini dulu Ga. Aku juga ingin memastikan langkahku dulu setelah ini. Aku ga mau masa laluku nantinya jadi batu sandungan buatku"


"Aku akan ikut apa katamu. Aku juga akan menganggur satu tahun ini"


"Jangan Ga, kamu harus lanjut kuliah. Please. Aku ga mau gara-gara aku masa depan mu jadi hancur" ucap Alana menggenggam tangan Gara.


Sejam berbincang, Gara pamit pulang. Alana mendatangi bi Minah di dapur dahulu sebelum naik ke kamarnya.


"Bibi dengar mereka lagi berantam" katanya sembari meletakkan dua iris bolu gulung pada Alana.


"Kenapa lagi bi?"


"Tau tuh. Tadi bibi dengar pas bibi lagi bersihin lantai atas, yang pasti ibu nangis non"


Alana tidak ingin tahu lebih banyak lagi, hingga memilih masuk kamar. Namun suara jeritan Lily menariknya untuk mendekat.


"Sampai kapanpun aku ga akan mau bercerai. Kau tega mengatakan itu pada ku hun? salah ku apa?"suara tangis Lily begitu menyayat hati. Alana meremas sisi gaunnya. Kesal pada Arun yang membuktikan perkataannya kemarin.


"Aku minta maaf Ly, tapi aku ga bisa membohongi hatiku. Aku mencintai Alana entah sejak kapan. Dan aku tidak ingin berdusta padamu"


"Kau brengsek hun. Apa kau tau ini sangat menyakitkan bagiku. Dia adikku"


Arun bergeming. Dia tahu dia salah. Diam aadalah tindakan yang tepat. Perlahan dia mendekati Lily yang terduduk di lantai. Meratapi nasibnya yang menyedihkan.


"Maafkan aku Ly, aku benar-benar tidak kuasa. Kalau bisa aku juga tidak mau menjadi pria yang mendua hati. Aku udah coba melupakan perasaanku pada Alana, tapi aku tidak bisa" ucapnya merengkuh tubuh Lily yang menangis hingga tubuhnya bergetar.


"Jangan tinggalkan aku hun. Atau aku akan mati"

__ADS_1


***Haiii, aku datang. maaf cuma bisa up satu bab aja. besok lagi ya, lagi sibuk nih awal bulan. Btw, mohon dong mampir dan dukung novel baru ku, makasih🙏😘



__ADS_2