Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Anak kita


__ADS_3

Memasuki ujung bulan kehamilan membuat pergerakan Alana sangat lamban. Sebulan semenjak malam Arun mengatakan niatnya berpisah dengan Lily, kakak Alana itu tampak masih bersikap baik pada Alana. Di depan Alana Lily berusaha sebaik mungkin menyimpan kepedihannya, seolah malu jika Alana mengetahui kalau suami mereka kini lebih memilih Alana.


"Lelah? kita istirahat dulu ya" ucap Lily yang menemani Alana jalan pagi, rutinitas yang disarankan dokter kandungannya agar memudahkan Alana saat persalinan nanti.


"Iya kak, kita duduk di sana ya" tunjuk Alana pada bangku taman yang tidak jauh dari tempat mereka.


Lily menyodorkan botol berisi air hangat yang dia bawa dari rumah tadi. Alana yang tampak kelelahan menghabiskan setengah dari isi botol itu.


Hening..


Walau tidak menunjukkan perubahan sikap yang signifikan, tapi Alana bisa merasakan Lily menjadi lebih tertutup padanya, tidak seperti dulu yang mau mengajaknya cerita.


Bukan tidak tahu apa penyebabnya. Alana paham betul. Dia juga merasa tidak enak pada Lily. "Kak, maaf ya. Aku udah buat kakak dan bang Arun jadi bertengkar"


"Kau bicara apa sih. Kami baik-baik aja" sahut Lily dengan wajah memanas. Dia menerka-nerka apa Alana sudah tahu kalau Arun sudah jatuh cinta padanya.


Tiba-tiba air mata yang coba ditahan Lily pecah juga. “Aku ga mau pisah dengan dia, Al. Aku sangat mencintai Arun. Dia nafasku” ujar Lily menyeka air matanya. Hati Alana hancur. Bagaimana dia bisa menutup mata akan perasaan Lily? Keputusannya untuk menolak Arun sudah tepat.


“Aku pastikan bang Arun hanya akan bersama mu kak. Setelah aku melahirkan, aku akan pergi. Dan kepergian ku hanya kakak yang tahu”


Tekad Alana bulat. Demi kebahagiaan kakaknya dia rela untuk membuang perasaannya yang mulai tumbuh untuk Arun.


***


Pukul sebelas malam, perut Alana terasa sakit. Mules seperti orang yang ingin buang air besar. Pinggangnya juga panas.


Berulang kali dia memiringkan tubuhnya, ke kiri dan ke kanan, mencari posisi yang pas agar bisa tidur sejenak, tapi susah.


Gelisah Alana bangkit dari tempat tidurnya. Dia sudah tidak tahan. “Apa aku mau melahirkan ya? Tapi kata dokter baru Minggu depan” desisinya menghapus pinggangnya yang terasa panas.


Dorongan rasa sakit itu kembali datang, hilang lagi. Alana sudah tidak tahan, memutuskan untuk membangunkan Lily.

__ADS_1


Tertatih dia keluar kamar, dengan satu tangan di pinggang, Alana mengetuk pintu kamar Lily.


“Kak..kak Lily..” tidak ada sahutan. Alana menebak kedua penghuni kamar itu pasti sudah terlelap tidur.


“kak..”rintih Alana yang merasakan semakin sakit. Sekuat tenaga yang dia bisa, Alana mengetuk daun pintu mahoni itu.


“Kakak..bangun..aku mau lahiran” suara Alana gemetar seiring tetesan air yang mengalir di pahanya.


Karena Lily yang tidak menjawab, Alana memutuskan memanggil nama Arun. "Bang..bang Arun..aku mau melahirkan ini, bangun.."


Sekali dipanggil dengan ketukan keras, akhirnya daun pintu terbuka. "Al..kamu kenapa?"


"Aku mau lahiran ini. Dari tadi aku panggil ga dengar!" ucap nya sedikit marah.


"Maaf Al..aku pules banget tidurnya" Arun langsung memapah tubuh Alana yang hendak jatuh.


"Ly..Lily..bangun. Alana kesakitan ini" teriak Arun dari ambang pintu.


Tergopoh-gopoh Lily menghampiri. "Al..itu air apa?" tanya Lily


"Ga usah banyak tanya. Cepat susun pakaian yang diperlukan Alana. Kita ke rumah sakit sekarang" bentak Arun mengkhawatirkan keadaan Alana.


"Apa? ke rumah sakit? sekarang waktunya?" Lily ikut tergagap.


Tatapan tajam mata Arun membuat Lily tidak berani bertanya lagi, dan segera bergegas melakukan perintah Arun.


Sial bagi Alana yang masih merasa kesakitan, jalanan malam itu menuju rumah sakit terasa lambat karena macet yang menyerang.


"Aaah..sakit.." rintih Alana memegangi perutnya. Lily yang juga ikut panik, mengipas dan melap keringat yang membasahi kening Alana.


"Sabar Al..tahan ya. Bentar lagi kita sampai sayang.." tanpa sadar Arun mengucap kata sayang untuk pertama kali. Hal itu tertangkap jelas di telinga Lily. Walau itu hanya spontanitas Arun melihat keadaan Alana yang kesakitan, tetap saja membuat Lily merasa cemburu.

__ADS_1


Setengah jam kemudian Alana sudah masuk ruang bersalin. Pembukaannya berlangsung cepat.


"Suami ibu Alana?" tanya perawat yang akan membantu persalinan Alana.


"Saya sus" dengan sigap Arun menunjuk diri.


"Bapak mau ikut ke dalam, membantu sekaligus memberi semangat buat ibu Alana?"


Penuh keyakinan Arun langsung mengangguk. Bahkan Arun sampai lupa dengan Lily, tanpa pamit langsung bergegas mengikuti suster itu masuk ke dalam ruangan. Alana berbaring, tampak kesakitan.


"Al..sayang. Tahan ya.." mata Arun memerah menahan air matanya. Dia tak henti komat kamit mengucap doa agar Alana bisa selamat begitu pun anak mereka.


"Ya Tuhan, selamatkan anak dan istri hamba. Aku janji apa pun nanti yang dia mau, aku akan turuti" ucapnya dalam hati. Arun teringat akan video yang dia tonton kemarin mengenai wanita hamil yang mengalami pendarahan saat melahirkan hingga menghembuskan nafasnya. Sumpah Arun takut. Dia tidak akan sanggup kehilangan Alana untuk selamanya.


"Bapak pegang tangan ibu. Sembari mengatakan hal yang menyenangkan agar ibu tambah semangat" ucap sang dokter yang mulai bersiap.


Genggam Arun kian erat memegang tangan Alana. "Kuat ya sayang..maaf sudah merepotkan mu, terimakasih sudah bersusah payah melahirkan anak kita. Aku sangat menyayangi mu, Al" bisik Arun tepat ditelinga Alana.


Setiap Alana menjerit kesakitan saat mendorong bayi nya, satu tetes air mata mengalir di pipinya. Dia coba bertahan untuk terlihat tegar dihadapan Alana.


"Dorong Bu.." ucap dokter memberi instruksi yang langsung dilakukan Alana. Tidak butuh waktu lama, jeritan suara tangis bayi merah terdengar di ruangan.


"Selamat ya pak, Bu..jagoan" ucap sang dokter mengangkat bayi mungil itu agar bisa dilihat ibunya.


"Selamat pak" ucap perawat menyalami Arun" pria itu yang tidak tahu harus bersikap bagaimana karena rasa bahagianya hanya mengangguk. Derai air matanya terus mengucur di pipinya. Semua yang dia lihat selama proses persalinan membuatnya semakin merasa sayang pada Alana. Perjuangannya melahirkan putra mereka mengerahkan seluruh tenaga dan keberaniannya, bahkan nyawa menjadi taruhannya.


"Sayang.. terimakasih ya.." Arun mengecup kening Alana penuh kasih.


"Anak kita sehat bang?" ucap Alana pelan. Semenjak melihat bayinya tadi, rasa sayang dan protektif nya muncul. Naluri keibuannya begitu saja mengalir.


"Iya sayang. Dia sehat. Ganteng kayak aku" ucap Arun tersenyum penuh bahagia.

__ADS_1


Alana tersenyum. Entah dari mana asalnya, ada rasa bahagia muncul di hatinya karena sudah memberikan kebahagiaan yang sangat besar pada Arun.


"Yah..anak kita. Dia akan jadi kebanggaan mu bang. Aku titipkan anak kita untuk kau jaga." ucapnya dalam hati. Sebulir air mata menetes dari sudut mata Alana.


__ADS_2