
Pagi-pagi betul, Lily dihadiahi kedatangan mertuanya. Keduanya saling bersitatap karena sama-sama terkejut. Lily kaget karena tidak menyangka Ema datang, sementara Ema sendiri kaget karena melihat perut Lily yang sudah kempes.
"Mama..mama datang?"
Wanita itu menyeruak masuk, menerobos tubuh Lily hingga sedikit terjungkal kebelakang.
"Kok mama ga ngabarin mau datang?"
"Memangnya kenapa? ini rumah anak mama, terserah mama kalau mau datang kapan pun yang mama mau" bentak Ema.
Dia buru-buru kemari karena salah satu teman arisannya kemarin mengatakan kalau melihat Lily dengan perut rata. Berjalan selayaknya wanita yang tidak hamil. Ema geram, takut Lily sudah membohonginya. Kalau sampai hal itu benar, dia pastikan akan buat perhitungan pada menantunya itu.
"Maksud aku bukan gitu ma. Mama mau minum apa? biar aku ambilkan"
"Ga usah. Kamu duduk. Mama mau ngomong" tubuh Lily kejang. Setiap ada hal yang menggangu dan membuatnya ketakutan, dia pasti akan gemetar ketakutan.
"Ada apa ma?" Lily mengurangi kegugupannya dengan meremas jemarinya. Takut kalau-kalau mertuanya tahu soal kebohongannya.
Satu hal yang tidak disadari manusia, satu kebohongan yang ada akan di tutupi oleh satu kebohongan yang lain. Hidup Lily jadi tidak tenang karena kebohongan yang dia ciptakan sendiri.
"Perutmu mama lihat sudah rata..kemana bayimu?"
"Oh.. itu. Aku kan udah lahiran ma"
"Hah? kapan? jadi mama udah punya cucu?" sambar Ema berubah senang. Wajah kecutnya tadi berubah menjadi ceria.
"Iya ma"
"Kok kamu ga ngabarin mama kamu udah lahiran? kapan?"
"Udah mau dua Minggu ma. Maaf, aku ga mau ngerepotin mama. Rencananya kalau Arlan udah sebulan, kami yang bakal datang ke rumah mama" ucap Lily bangga. Kini suara mertuanya berubah melembut.
"Mana cucu ma? mama ingin ketemu. Udah ga sabar" senyum gembira menghiasi wajah Ema.
Bayi montok itu sedang terlelap tidur. Kalau malam Arlan menangis, membuat Lily begadang, dari pagi hingga siang nanti, bayi itu akan tertidur, sesekali bangun karena haus atau pup.
"Halo..cucu nenek. Duh..gemesnya" ucap Ema mengelus pipi Arlan lalu penuh semangat mengangkat bayi itu ke gendongannya.
Lily hanya tersenyum. Bangga dan bahagia menyelimuti hatinya kini. Ibu mertuanya tidak akan mengusik hidupnya lagi.
"Siapa tadi namanya?"
__ADS_1
"Arlan ma" sahut Lily dengan senyum mengembang.
"Arlan? kenapa ga Arli? Arun Lily ya? ucapnya mengajak cucunya bicara.
Seketika tubuh Lily kembali mengejang. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetaran. "Kamu kenapa Ly? kok wajah kamu pucat?"
"Iya ma. Aku lagi ga enak badan sebenarnya" Lily memilih duduk, mencoba menenangkan perasaannya.
Hingga sore Ema di sana. Berbincang dengan Lily dan juga bermain dengan cucunya. Kedatangan Ema memang membuat Lily senang pada awalnya, tapi ternyata mertuanya itu berniat untuk datang lagi besok, besok dan besoknya.
"Mama akan tiap hari datang, buat main sama Arlan, cucu kesayangan nenek, ya.." ucapnya membelai pipi Arlan.
***
Hampir tiap hari Dita datang ketempat kerja Alana, duduk sembari menemani sahabatnya itu bekerja. "Kamu apa ga kuliah?" tanya Alana mengantarkan eskrim pesanannya.
"Belum mulai kali Al. Kenapa sih lo ga kuliah aja? masalah biaya pake aja dulu tabungan gue"
"Thank you sayang, tapi aku akan berusaha sendiri. Biarin aja satu tahun ini aku kerja dulu, ngumpulin duit" ucap Alana yang ikut duduk disamping Dita. Siang itu pelanggan sedang sepi, jadi Alana tidak terlalu repot di dapur.
Asik ngobrol, kedua wanita itu tidak menyadari tiga pria muda mendekat dan salah satu dari mereka merangkul Alana dari belakang. " Aku kangen" bisiknya.
"Apa kabar cantik, kangen aku ga?" ucapnya duduk disebelahnya.
Alana hanya menatap dengan mata berbinar, mengangguk dan tersenyum. Dia merindukan pria itu, benar. Tapi tidak ada debar di dadanya seperti kala dirinya membiarkan ayah anaknya bermain dalam khayalnya tiap malam.
"Ini.." Gara menyerahkan Tote bag dipangkuan Alana.
"Apa ini?" tanya Alana menatap sekilas pada Gara sebelum memusatkan perhatiannya pada isi bungkusan dari Gara.
"Oleh-oleh" ucap Gara. Dia masih saja sama. Masih tampan seperti biasa.
Kelimanya ngobrol santai. Kadang kala Alana harus pamit ke dalam kalau ada pelanggan meminta untuk dibuatkan kopi atau pun sandwich.
Pukul lima sore, selepas Alana pulang kerja, mereka lanjut ngumpul di salah satu mall. Alana awalnya menolak, tapi keempat temannya memaksa untuk ikut, hingga gadis itu tidak berdaya untuk menolak lagi.
"Kalian pulang bareng ya, biar gue sama Alana" ucap Gara menuntun tangan Alana. Tapi kala ditengah jalan, dua orang gadis menatap mereka, sembari berbisik kalau mereka pasangan serasi. Bukan merasa bangga Alana justru menarik tangannya dari genggaman Gara.
"Kenapa?" tanya Gara tidak mengerti.
"Hah? ga papa Ga. Cuman aku ga nyaman aja kalau kamu gandeng"
__ADS_1
"Loh kok gitu? kenapa? apa yang salah?"
"Hati aku ga tenang Ga. Statusku masih istri orang" ucapnya menunduk. Dulu sebelum mengerti kaidah rumah tangga, Alana tidak permasalahkan Gara menyentuh tangannya, atau membelai pipinya. Tapi setelah mendengar pemutih Tatiana, pikiran Alana sedikit terbuka.
"Kenapa kamu jadi berubah Al? dulu kamu ga masalah aku gandeng, padahal masih istri biawak itu"
"Namanya Arun, Ga"
"Kamu bela dia? jangan bilang kamu jatuh cinta sama dia"
"Dia papanya Arlan"
Keduanya hening. Gara tidak tahu kenapa dia bisa semarah itu. Biasanya dia bisa mengontrol emosinya kalau berhubungan dengan Alana.
"Ya udah kita pulang" ucap Gara berjalan lebih dulu.
Suasana di mobil jadi kondusif, semua diam dengan pikirannya masing-masing. "Kapan kamu akan urus perceraian kalian?"
"Hah?" tanya Alana memperjelas. Lamunannya jauh ke sana. Pada seseorang yang sudah berminggu tidak bertemu. Benar kata orang, ketika sudah ada jarak dan perpisahan, maka apa yang dulu kita sia-siakan baru lah terasa berarti.
"Pernikahan sirih kalian itu, kapan kamu akan minta cerai?" desak Gara.
"Ga tahu Ga. Aku kan lari melarikan diri. Sementara kalau mau cerai harus ketemu sama bang Arun dan minta dia talak aku"
"Kalai gitu, ayo kita temui dia. Bilang agar dia menalak mu dan karena kita akan segera menikah. Kamu mau kan?"
Anggukan lemah dari Alana sebagai jawaban atas perkataan Gara.
Beginilah semestinya. Aku harus melupakan bang Arun, dan mulai mengikuti kata Gara...
Hanya perlu satu jam untuk sampai di kosan Alana. Tempat sederhana, hanya ada lima kamar berderet yang memang diperuntukkan bagi pelajar. Walaupun begitu keluarga si penghuni masih bisa masuk untuk bertamu.
"Begitu kecil Al, kenapa milih disini?" ucap Gara memperhatikan sekitar bangunan.
"Ga papa. Bersih dan nyaman kok Ga. Yang terpenting, murah dan dekat tempat kerjaku" ucap Alana tersenyum.
"Kamu masih ga mau terima bantuan ku?"
"Makasih. Tapi biarkan aku berusaha sendiri dulu"
Gara pamit pulang. Alana menunggui sampai mobil itu berlalu. Tidak jauh dari sana sepasang mata mengamati dari kejauhan..
__ADS_1