
Kedatangan kedua mertuanya pagi itu di kantornya tentu saja tidak diduga oleh Arun. Ada hal serius apa hingga keduanya datang padanya sepagi ini, sementara kemarin mereka masih bertemu di pesta orang tuanya.
"Iya, yah. Ada apa pagi-pagi kemari yah?" tanya Arun meletakkan tasnya dan duduk di depan kedua orang tua itu. Melihat Santi ada dihadapannya, kemarahan Arun bangkit mengingat perlakukan wanita itu pada Alana kemarin. Kalau bukan menghargai Lily, mungkin dua orang itu akan segera dia usir.
"Benar Run. Ayah kemari untuk meminta bantuan kecil pada mu" ucap Bima meremas tangannya, pertanda kegugupan melanda dirinya. Ini kali pertama Bima berhadapan dengan Arun dengan masalah yang serius.
"Bantuan kecil? apa yah?"
Ketukan di pintu membatalkan niat Bima untuk buka mulut. Arun sudah meminta sekertaris melalui pesan agar mengantarkan minuman. untuk mereka.
"Silahkan pak, Bu" ucap Lia, sekretaris Arun yang cantik.
Pintu ruangan kembali di tutup, dan Bima ingin kembali melanjutkan kalimatnya.
"Ayah, ada masalah kerjaan. Salah satu investasi ayah ada yang gagal hingga mengakibatkan kerugian perusahaan cukup besar. Jadi kalau boleh ayah minta tolong, kau mau mengucurkan dana untuk perusahaan ayah"
Harusnya hal itu tidak masalah untuk Arun. Walau dia bukan pengusahaan besar, tapi perusahaan yang dia pegang cukup menghasilkan dan saat ini sedang berada di puncaknya.
"Maaf yah, aku ga bisa bantu" ucap Arun setelah lima menit diam. Dalam hatinya Arun menganggap ini adalah balasan untuk kedua orang itu karena sudah bersikap jahat pada Alana seja kecil. Terlebih Bima sebagai seorang ayah, yang harusnya menjaga dan melindungi Alana dengan rasa nyaman dan kasih sayang, nyatanya diam atas tindak tanduk istri dan Lily putri mereka. Seolah Alana bukan anak yang pantas mendapat perlakukan yang sama dengan Lily.
Tidak ada gunanya penyesalan, tapi nyatanya Arun menyesal sudah mengikuti permintaan Lily untuk menikahi Alana. Kini dia terjebak antara penyesalan karena sudah ikut andil menghancurkan hidup Alana dengan perasaan sayang yang kini mulai tumbuh di hatinya untuk gadis itu.
"Run..tolong lah, yang ayah minta tidak banyak, hanya 5 milyar. Ayah janji akan mengembalikan setelah harga saham ayah naik lagi" ucap Bima memelas.
"Iya Run, tolong lah kami. Bagaimanapun kami adalah mertuamu" kali ini Santi angkat bicara. Sudut bibir Arun terangkat. Kini wajah Santi memelas bagai orang yang akan dihukum mati, sangat berbeda ketika malam itu di mencaci, menjambak dan meludahi wajah Alana.
"Maaf Bu, saya juga baru join dengan salah satu perusahaan besar. Dana perusahaan sudah aku alokasi ke sana" sahut Arun tenang. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
__ADS_1
"Kenapa kau berubah Run? dulu kau selalu berusaha menyenangkan hati kami" ucap Santi tidak percaya melihat sikap Arun.
Arun tidak menanggapi ucapan Santi. Dia tidak perduli apa penilaian mereka, Hingga suami istri itu pergi, tidak ada lagi senyum dan keramahan di bibir keduanya.
Selama di kantor, pikiran Arun terus tertuju pada Alana, apakah gadis itu sudah makan? sudah membaik? Dia bahkan tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan, hingga salah menandatangani berkas penting, untung saja Lia mengingatkannya.
Dia ingin pulang, tapi tidak mungkin. Lily pasti akan mengintrogasi dengan pertanyaan yang menyudutkan dirinya. Bukan Arun tidak bisa bersikap, tapi dia masih menjaga perasaan Lily. Biar bagaimanapun, Lily adalah istri yang dicintainya.
Tunggu..cinta? benarkah cinta itu masih ada? Arun bukan tipe pria yang bisa mendua hati. Selama hidupnya, dia hanya dua kali berpacaran, dan Lily adalah pacar kedua dan terakhir kalinya sebelum melepas masa lajangnya.
Selama bersama Lily, dia selalu setia, walau pun banyak teman-teman yang memiliki kekasih lebih dari seorang.
Hingga kini muncul seorang gadis bernama Alana yang ternyata bisa menggetarkan kembali hatinya. Alana bisa membuatnya merasa kembali hidup lagi. Bahkan penolakan gadis itu membuatnya semakin ingin memiliki Alana. Dulu untuk melihat ke arah Alana pun dia tidak sudi, kini keadaan berbalik.
Dia ingat saat mendekati Lily tidak lah seperti ini menggebu-gebu nya perasaan yang dia rasakan. Semakin hari perasaan ingin melindungi gadis itu berakar di hatinya.
Satu jam sekali, Arun akan melirik jam di pergelangan tangannya. Hingga tiba waktu pulang yang sejak tadi dia tunggu. Penuh semangat Arun pulang. Dia sudah tidak sabar lagi bertemu Alana.
Kecepatan penuh Arun mengendarai kuda besinya hingga tiba di rumah lebih cepat. Dahinya berkerut saat melihat motor sport di halaman rumahnya.
Penuh tanya, dia bergegas masuk dalam rumah. Lily yang mendengar suara mobil Arun memasuki pekarangan rumah menyambut kedatangan suaminya seperti biasa.
"Hai hun, pulang tepat waktu" sambut Lily penuh mesra. Mengambil tangan Arun, menyalim nya dan di balas Arun mengecup kening Lily.
"Motor siapa?" tanyanya penasaran.
"Oh..itu motor Gara, pacar Alana"
__ADS_1
"Apa?" raut wajah Arun berubah tidak senang. Menarik tangan Lily masuk ke dalam. Dia ingin melihat pria yang kini bersama Alana. Berani sekali dia untuk datang menemui Alana setelah hari itu dia sudah memperingatkan pemuda itu.
"Santai hun.." Lily menarik tangan nya hingga otomatis Arun menghentikan langkahnya.
"Gara datang karena khawatir dengan keadaan Alana yang tidak masuk sekolah. Jadi dia menghubungi aku, tanya alamat dan dia kemari"
"Apa kau sudah gila Ly?" suara Arun meninggi. Lily bahkan sampai terlonjak. Ini kali pertama Arun memanggil namanya dengan intonasi kesal seperti itu. Selama pernikahan mereka, Arun bahkan tidak pernah marah, dan selalu memanggilnya dengan honey, panggilan sayang mereka. Tapi kali ini, hanya karena pacar Alana datang menjenguk adiknya itu, Arun bisa Semarah itu.
"Kau kenap hun? kenapa kau semarah ini? apa yang salah jika Gara menjenguk Alana? mereka pacaran, tidak ada salahnya kan?" Lily berusaha menjawab dengan mempertahankan air matanya agar tidak tumpah.
"Aku..aku..aku hanya tidak suka pria itu ada di dekat anak ku" ucapnya asal. Sekali lagi mengutuk kepengecutan dirinya yang tidak sanggup berkata jujur pada Lily.
Kembali Arun menarik tangan Lily, mencari kedua anak muda itu. Mereka tidak ada di ruang tamu. Amarah Arun semakin menjadi-jadi. Pikirannya Alana sedang berduaan di kamar tidurnya bersama pria itu.
"B*ngsat..akan ku hajar dia" umpatnya.
"Hun, kau kenapa?"
"Mana mereka? di kamar? kau membiarkan mereka berduaan di kamar?"
"Kau yang sudah gila hun, kau pikir adik ku serendah itu?" Lily menghempaskan tangan Arun, menarik kembali tangannya. Menggeleng tidak percaya akan tempramen yang di tunjukkan Arun.
"Jadi dimana mereka?" kesabaran Arun sudah di titik akhir. Semakin lama membiarkan keduanya berduaan, semakin tidak tenang hatinya.
"Mereka ada di kolam renah, duduk di tepi kolam" salak Lily berani.
Arun segera berlari menuju tempat yang dikatakan Lily. Keduanya duduk di tepi kolam tepat seperti yang dikatakan Lily, dengan kaki menjuntai ke dalam kolam. Amarah Arun bangkit, saat melihat jemari keduanya saling bertautan, saling menatap penuh senyum.
__ADS_1
"Sedang apa kau di rumah ku??"