
"Kau melupakan sesuatu!" teriak Alana dari ruang makan. Arun yang duduk di kursinya sembari membaca koran lagi ini hanya bisa mengulum senyum. 17 tahun pernikahan mereka, tidak ada satupun yang berubah dari Alana. Dia tetap wanita cantik, polos dan tetap menarik baginya seperti dulu. Sebenarnya bukan tidak ada perubahan, ada satu, Alana sekarang sedikit lebih cerewet, tapi tidak apa, Arun suka.
Rumah tangga mereka sangat bahagia. Setelahnya banyaknya kesedihan akhirnya mereka bisa bangkit. Lily sudah tenang di surga, dan mereka harus melanjutkan kehidupan mereka.
Sosok yang dipanggilnya kembali memasuki ruang makan. Tinggi dan tampan, dia adalah anak kesayangan Alana. Tidak ada siapapun yang bisa memarahi anak itu, termasuk ayahnya, Aran.
Cup!
Arlan memberi kecupan di pipi Alana, tapi wanita itu meminta lebih dengan menawarkan satu lagi pipinya.
"Anak baik," puji Alana kala berhasil mendapatkan dua ciuman dari Arlan sambil memeluk putranya itu.
"Stop it, Ma!" Arlan harus mengulang kegiatan ini setiap pagi. Ibunya masih saja menganggapnya anak kecil, padahal dia sudah kelas tiga SMA!
"Memangnya kenapa, sih? Mama ini Mama mu, orang yang sudah melahirkan kamu. Wajar, dong kalau Mama sayang banget sama kamu," jawab Alana tersenyum.
Arlan tidak menjawab, dari pada panjang urusan dengan ibunya dan dia jadi terlambat sekolah. Wajah tampan Arlan sangat mirip dengan sang ayah, kecuali senyumnya yang membuatnya semakin tampan diwarisi dari Alana. Dia sedikit bicara, sama dengan Arun. Hampir semua sifat Arun menurun padanya.
"Aku berangkat, Ma, Pa." Arlan segera meninggalkan ruangan itu, tapi lagi-lagi langkahnya terhenti.
"Kakak, aku ikut," teriak Ayra yang menabrak kursi saat buru-buru masuk ke dalam ruang makan hingga buatnya hampir jatuh.
__ADS_1
"Sayang, pelan-pelan kalau jalan." Alana menghampiri putrinya dan memeriksa lutut gadis itu.
"It's oke, Ma. Aku baik-baik aja. Itu, Ma, bilangin sama kak Arlan buat ngasih aku tumpangan," rengek Ayra.
"Ar, Ayra nebeng sama kamu,ya?"
"Gak ah, Ma. Biasanya juga diantar papa kalau gak sama pak Kodir," jawab Arlan melesat pergi.
"Mama, aku mau nebeng sama kakak, kalau sama Pak Kodir nanti aku telat," rengek Ayra berharap kalau hari ini dia akan berhasil ke sekolah dengan kakaknya.
Namun, orang yang mereka bicarakan sudah melesat jauh. Tak lama dari halaman terdengar bunyi suara motor sport yang dinyalakan dan tak lama suara itu sudah menjauh.
"Dia udah pergi, Sayang," ucap Alana baru selangkah maju.
"Sudah, kamu sama Papa aja berangkat," sahut Arlan melipat korannya. Dia bukan tidak mau menegur putranya, hanya saja pasti akan ada Alana menjadi lawannya. Dari pada nanti malam dia tidur hanya menatap bokong Alana, jadi dia memilih diam saja.
***
"Hari ini kita kemana, nih?" Kedatangan Arlan disambut oleh ketiga teman mereka di sebuah rumah kecil yang dijadikan basecamp mereka.
"Kasa mana?" Arlan mengempaskan tubuhnya di sofa hijau lumut yang warna sudah sangat dekil.
__ADS_1
"Dia belum dat-"
Belum selesai dengan kalimat Dito, suara motor memekikkan telinga mu terdengar di depan rumah.
"Nah, itu dia." Akhirnya Dito bisa meneruskan kalimatnya.
"Kemana aja lu, lama bet!" Gilang ikut bergabung mendekat ke sofa yang ditempati Arlan.
"Gue baru dari sekolah, ngantar Eci," jawab Angkasa yang biasa disapa Kasa. Tidak biasanya di bibirnya melengkung sebuah senyum.
"Napa, lu? Kesambet?" Arlan menyipitkan matanya, menatap aneh pada Kasa.
"Ar, Gue ada mainan baru. Anak pindahan di sekolah. Gue mau kita taruhan, siapa yang bisa mendapatkan cewek ini paling cepat. Taruhannya motor plus semua isi tabungan. Gimana?"
"Maksud lu?"
Gilang, Dito dan juga Tomi ikut menyimak. Sudah hal biasa kalau kedua teman mereka ini melakukan hal gini, apalagi kalau berhubungan dengan wanita. Ketampanan yang mereka miliki serta dikenal sebagai putra mahkota sekaligus pewaris dari perusahaan besar, membuat jadinya banyak digilai para gadis dan ingin menjadi kekasih mereka.
"Gue gak paham!"
"Kita taruhan kayak biasa. Siapa yang bisa lebih dulu mendapatkan gadis ini lebih cepat, dia pemenangnya. Pertaruhan semua harta lu. Motor dan semua isi tabungan lu!"
__ADS_1
Arlan diam sesaat. Untuk saat ini dia benar-benar tidak berminat berurusan dengan yang namanya kaum hawa. Lelah pacaran yang hanya untuk bersenang-senang. Tapi ajakan Kasa menyenggol ego nya sebagai pria yang paling diminati dan tangguh satu sekolahan. Bahkan sepak terjangnya sebagai pria yang paling diminati sudah sampai ke sekolah sebelah.
"Deal!"