Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Mari bicara


__ADS_3

Dari ujung koridor, seseorang yang kalau bisa ingin dihindari Alana justru sudah melihatnya lebih dulu. Tatapan yang sulit dijelaskan. Ada rasa sakit, kecewa dan juga rindu yang bersarang di sana.


"Aaaaal.." teriak Dita yang melihat kedatangan Alana berlari menyongsong gadis itu.


"Hai Dit"


"Kangen" balas Dita melingkarkan lengannya di pinggang Alana, memeluk gadis itu erat.


"Woooi, dasar lesbong ni cewek" ucap Fajar menjitak kepala Dita pelan yang pastinya langsung berlari karena Dita sudah mengejarnya ingin membalas. Wisnu tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan kekanak-kanakan teman-temannya yang mungkin selepas minggu ini tidak akan bertemu lagi. Seperti dirinya, papanya sudah memintanya untuk melanjutkan kuliahnya ke Belanda. Papanya ingin dirinya jadi pengacara hebat.


"Kalian kenapa diam-diam an sih? jangan bilang lagi berantam? udah mau tamat juga" ucap Wisnu melihat gelagat keduanya yang sejak bertemu selalu diam.


"Kita masuk, udah mau bel" ucap Gara dingin.


Sebisa mungkin Alana berkonsentrasi mengerjakan soal-soal yang ada dihadapannya. Dari sekian banyak soal, ada lima soal yang Alana tidak tahu apa jawabannya. Matematika bukanlah jurusannya. Bahkan bisa dibilang dia benci pelajaran itu.


Sementara Gara si pakar matematika sudah lima belas menit lalu menyelesaikan semua soalnya, dan kini waktu yang tersisa dia gunakan memperhatikan Alana dari depannya.


Garuk-garuk kepala, bergerak gelisah adalah penanda kalau dirinya sedang bingung. Gara sudah hafal kebiasaan Alana.


Gara mengambil penghapus, mengganti nama di lembar jawaban, begitu kedua pengawas itu keluar sebentar menandatangani absennya, Gara menarik lembar jawaban Alana, menukar dengan miliknya.


Alana yang cukup terkejut tidak punya waktu banyak untuk protes karena kedua pengawas itu sudah kembali masuk. Alana hanya bisa pura-pura menunduk mengamati lembar jawaban.


Bel berbunyi, tanda ujian selesai. Satu persatu kertas jawaban diambil oleh pengawas. Selanjutnya tidak perlu ditanya, semua siswa bersorak riang, hari pertama yang melelahkan sudah berakhir.


Satu demi satu anak-anak mulai keluar, menyisakan lima sekawan yang tiga diantaranya menyusun rencana.


"Kita kemana lagi ini?" Fajar yang baru saja mengirim pesan lewat ponselnya duduk di atas meja menunggu pendapat yang lain.

__ADS_1


"Gimana kalau kita ke Bandung?" celetuk Dita.


"Eh, pesek..besok masih ujian dodol. Ngapain ke Bandung?" sergap Wisnu.


"Gue mau ketemuan sama kenalan gue lewat Facebook" sahutnya polos.


"Udah, kita nongkrong di cafe aja, atau nge-band. Cafe sodara gue butuh pengisi acara malam ini" usul Fajar.


"Kita pulang aja. Besok masih ujian kan? Ntar aja kalau udah kelar" potong Gara.


Alana cukup tahu diri untuk tidak meminta Gara mengantarnya seperti biasa. Ketiga teman mereka juga belum tahu kalau mereka kini sudah putus.


Perlahan langkahnya menyusuri koridor hingga menuju gerbang utama. Dita sudah dijemput mamanya, dan kedua temannya yang lain pulang bersama.


Tidak satupun menawarkan tumpangan karena mereka tahu Gara yang akan mengantar dirinya pulang.


Aplikasi ojol yang sudah dia pesan belum ada balasan. Terlalu jauh posisi supirnya hingga Alana membatalkan pesanannya.


Mata nanar Alana menatap pria itu, pemilik segudang rindunya. Tiga hari tidak bertemu, bahkan hanya mendengar suara pun tidak, membuat Alana ingin sekali menghambur dalam pelukan Gara.


Tangan Alana terulur, memegang pundak Gara agar memudahkannya untuk naik keatas motor sport mewah itu.


Setengah jam berlalu, mereka membelah jalan raya tanpa tahu harus kemana. Alana tahu ini bukanlah jalan menuju rumahnya, tapi dia tidak perduli. Terserah Gara akan membawanya kemana, asal bersamanya, Alana akan ikut.


Gara ingin membawa Alana ke suatu tempat. Dia ingin bicara serius dengan gadis itu.


"Udah sampai. Kita ngobrol sebentar, mau kan?" ucap Gara lembut. Ciri khas Gara setiap bicara pada Alana yang selalu mampu membuat Alana terpesona.


Setelah memarkir motornya, Gara berjalan di sekitar taman, memilih tempat duduk yang jauh dari lalu lalang pengunjung taman. Alana dengan setia mengikuti langkah Gara.

__ADS_1


Tempat yang dipilih Gara jauh dari keramaian seperti keinginannya. Dia ingin bicara dengan nyaman.


"Makasih ya untuk ujian tadi" Alana coba memecah keheningan setelah lima belas menit mereka diam hanya memandang lurus ke depan.


Tatapan Gara mungkin melayang jauh ke depan sana, tapi hatinya disini bersama Alana. Hanya saja hati dan pikirannya belum selaras, berdebat akan apa yang harus dia lakukan. Untuk apa dia disini bersama Alana, setelah ucapan selamat tinggal darinya kemari. Bahkan ucapan terimakasih dari Alana pun tidak berniat dijawabnya.


"Ga..kamu mau ngomong apa?" suara Alana terdengar takut. Sebenarnya dia juga sadar kalau dirinya tidak pantas untuk berbicara dengan Gara. Terlalu besar kesalahannya. Terlalu jahat dirinya membohongi Gara selama ini, jadi saat melihat Gara masih diam, Alana memilih untuk duduk manis menunggu Gara mau bicara.


"Kamu tahu, akal dan pikiranku sedang berperang. Pikiran ku bilang, aku harus meninggalkanmu, sementara hatiku, menjerit tidak ingin jauh darimu. Aku tidak bisa melupakanmu Al. Cinta ku ternyata begitu kuat. Salahkah aku?" kalimat demi kalimat dari Gara dia simak dengan seksama. Baginya suara Gara saja sudah cukup memberinya tenaga untuk bertahan.


"Al..katakan padaku, apakah aku harus mengikuti pikiranku atau kata hatiku?"


Mendengar pertanyaan yang Alana sendiri tidak tahu jawabnya, gadis itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Sekuat tenaga menahan lidahnya untuk tidak mengatakan yang dia inginkan. Jelas sekali dia ingin mengatakan agar Gara mengikuti kata hatinya. Biar saja dia dibilang jahat.


"Al..apa masih mungkin kita bisa bersama?" kali ini Gara memutar lehernya, menatap wajah sendu Alana. Gadis itu mendongak. Nalarnya sudah hilang berganti rasa ingin memiliki. Perlahan Alana mengangguk.


"Apakah kamu mencintai ku Al?" lagi-lagi Alana hanya mengangguk. Hatinya perih melihat luka yang tergambar di wajah Gara, dan dialah penyebabnya.


"Tapi bagaimana dengan pernikahanmu? sebenarnya apa yang terjadi? kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu menikahi pria itu? abang ipar mu sendiri Al?"


Hatinya menjerit mendengar berbagai pertanyaan Gara. Jelas sekali dia sudah sangat banyak menyakiti pria ini, tapi dia masih tetap mau bersikap baik padanya.


Wahai Gara, terbuat dari apakah hatimu? kenapa kau begitu baik padaku? kenapa kau memperlakukan seberharga ini?


"Jangan nangis. Jika kamu memang tidak bisa atau tidak mau menjelaskan, aku tidak akan memaksamu" bisik Gara lembut. Menghapus jejak air mata Alana di pipinya. Sentuhan lembut penuh kasih Gara itu membuat Alana semakin bersalah.


"Kak Lily mengalami kecelakaan tahun lalu. Dia divonis dokter tidak bisa memiliki anak dari rahimnya lagi.." Alana menarik nafas panjang. Membiarkan beban beratnya tertiup angin taman itu. Gara menatapnya lekat, memberikan waktu pada gadis itu untuk menenangkan hatinya, meredam emosinya saat bercerita. Gara siap menunggu.


"Sementara mertuanya meminta agar bang Arun diizinkan menikah lagi agar bisa memiliki keturunan. Kalau kak Lily tidak setuju, maka dia boleh minta cerai pada suaminya. Kak Lily terpuruk Ga, dia ga tahu harus berbuat apa. Dia kalut dan juga frustasi. Hingga memintaku menikah sirih dengan bang Arun, sampai mengandung anaknya, setelahnya aku akan di cerai" isak nya hingga pundaknya bergetar.

__ADS_1


Gara mengepal tinjunya. Geram melihat tindakan tidak manusiawi keluarga Alana. "Jangan menangis lagi, aku akan selalu ada untukmu"


__ADS_2