
Sudah bisa dipastikan, pria yang saat ini jalan dengan Ayra adalah Roki, musuh bebuyutannya. Dari mana Ayra bisa mengenal kepa*rat itu, Kasa pun tidak tahu, yang pasti saat ini dia harus mencari Ayra.
"Dasar sial! Kemana, sih, Arlan saat dihubungi begini gak bisa juga!" umpatnya menatap layar ponselnya. Nomor Arlan tidak bisa dihubungi sama sekali. Dia sudah menyuruh Tomi, Gilang dan Dito mencari Arlan.
Seperti angin segar untuk Kasa kala berganti menghubungi Ayra, nomor gadis itu sudah aktif.
"Lu dimana Ay?"
"Kak Kasa, memangnya kenapa? Kak Arlan lagi gak bereng gue. Gak tahu dia dimana, soalnya gue juga gak lagi di rumah!"
Kasa sengaja memperlama percakapan dengan Ayra agar dia bisa mencari tahu dimana keberadaan gadis itu.
Pikiran Kasa kini dihantui hal buruk yang bisa menimpa Ayra. Dia menduga, motif Roki mendekati Ayra karena ingin memperalat gadis itu untuk balas dendam padanya dan Arlan.
Pria-pria seperti mereka punya standar dalam menyukai seorang gadis, dan Ayra bukan termasuk di dalamnya. Kasa bukan mengatakan Ayra tidak cantik dan menarik. Ayra tentu saja sangat menarik, meski Kasa menyadarinya terlambat.
Selama ini bagi Kasa Ayra adalah gadis kecil, seperti adiknya sendiri. Namun, saat liburan di Bali kemarin, Ayra berenang menggunakan bikini dan itu membuat dada Kasa berdebar melihatnya. Saat itulah Kasa menyadari kalau Ayra sudah tumbuh menjadi gadis dewasa. Semua yang melekat di tubuhnya menunjukkan kalau dia bukan lagi gadis kecil ingusan.
Kembali membayangkan nya saja bagian tubuhnya di bawah sana mengeras. Dia memang pria brengsek, sanggup mengkhayalkan tubuh Ayra yang sudah dianggap adik sendiri.
Lokasi Ayra sudah didapat, dan kini saatnya dia mencari gadis itu. Tepat seperti dugaannya, Riko, si bang*sat musuh bebuyutan itu sedang bersama Ayra, dengan santai merangkul Ayra keluar dari bioskop.
"Kak Kasa? Lagi di sini juga? Sama siapa? Pacar baru lagi?"
"Kita pulang!" Kasa menarik pergelangan tangan Ayra. Dia marah melihat tangan Roki jelalatan di pundak Ayra.
"Lepasin! Kak Kasa apa-apaan, sih?" Ayra menarik tangannya. Dia menatap heran pada Kasa. Kenapa pria itu tiba-tiba saja peduli padanya. Datang ke tempat itu hanya ingin membawanya pulang.
"Elu mau bantah? Ngapain lu sama si brengsek ini? Lu gak tahu siapa dia? Dia ini predator! Ngomong sama dia aja lu bisa bunting!"
"Gak lucu! Pekik Ayra kembali ke samping Roki. Saat itu Kasa bisa menangkap senyum penuh kemenangan yang mengembang di bibir Roki.
__ADS_1
Kasa semakin marah. Sudah jelas apa niat Roki mendekati Ayra. Pria busuk itu pasti sudah lebih dulu melakukan pengintaian tentang keluarga Kasa atau Arlan.
Musuh Roki sebenarnya adalah Kasa, tapi karena pria itu anak tunggal, memilih Ayra yang notabene adiknya Arlan menjadi tumbal karena pasti Kasa akan peduli. Dengan begini, sekali tembak, dua burung kena.
"Lu gak usah ganggu kita. Memangnya lu siapa perintah cewek gue untuk pulang?" tantang Roki santai. Posisinya sekarang ada di atas angin. Bagaimanapun sikapnya, dia tahu Ayra akan membelanya karena gadis polos itu sudah termakan omongan, buaian cinta palsunya.
"Diam lu, Bang*sat! Jangan pernah lu dekati Ayra lagi!"
"Dih, memangnya lu siapa? Abangnya? Bukan, kan? Pacarnya? Apa lagi! Gue sama Ayra sekarang pacaran. Keamanan dia tanggung jawab gue! Sebaiknya lu pergi!"
"Jangan harap! Kalau lu gak lepaskan Ayra, gue habisin lu di sini!" Kasa sudah memasang kuda-kuda akan menerjang Roki.
Wajah Ayra pucat. Dia kenal karakter Kasa. Pria itu bisa berubah jadi gila kalau ada yang tidak pas di hatinya. Kalau sampai keduanya baku hantam di sini, bisa diseret mereka bertiga ke kantor polisi. Ujung-ujungnya masalah ini akan sampai ke telinga orang tuanya dan dia akan ketahuan pacaran.
"Oh Tuhan, ini pacar pertama gue. Orang yang suka sama gue tanpa harus dikejar. Jangan sampai gara-gara Kak Kasa, Kak Roki mutusin gue!" batin Ayra.
"Kak, aku pulang duluan, ya. Biar aku yang peringatkan dia," ucap Ayra lembut. Dia sudah mulai suka dengan Roki, perjuangan pria itu yang memberi perhatian dah mengiriminya hadiah-hadiah romantis seperti bunga, coklat atau pun komik romantis membuat Ayra bisa move on dari Kasa. Kenapa sekarang ketika sudah mendapat pengganti pria itu, seenaknya Kasa melarangnya?
"Kak Kasa jahat! Gue benci. Kenapa, sih Kakak harus ganggu hubungan gue sama Kak Roki?" umpat Ayra setelah mereka tiba di parkiran. Air matanya sudah mau turun. Dia takut kalau Roki nanti minta putus karena tersinggung atas tindakan Kasa tadi.
"Ini semua buat kebaikan lu! Harusnya lu gak sama dia. Lu tahu siapa dia, Ay? Dia musuh bebuyutan gue, musuh abang lu!"
"Gue tahu. Kak Roki juga udah cerita. Kalian aja yang sentimen sama dia. Asal Kak Kasa tahu, dia gak punya dendam sama kalian. Buktinya aja malam Minggu nanti dia mau datang ke rumah buat ketemu mama papa!"
Amarah Kasa makin tersulut. Dia geram karena Roki sudah berhasil mencuci otak Ayra sejauh ini.
"Pokoknya jangan sampai gue tahu lu berhubungan lagi sama dia!"
"Memang nya Kakak siapa aku? Kakak bukan siapa-siapa!" Ayra pergi meninggalkan Kasa yang masih berkutat dengan emosinya.
Kasa yang keras kepala harus rela menurunkan egonya demi bisa membawa Ayra pulang.
__ADS_1
"Naik, Ay!" perintahnya mengejar Ayra di bibir jalan. Gadis itu mengabaikan terus berjalan menghiraukan permintaan pria itu.
"Ay... Naik!"
Bukan patuh, Ayra justru berlari menjauh. Dia benci pada Kasa saat ini, hatinya sakit.
Kasa menyadari kalau menghadapi Ayra tidak akan berhasil jika dia bersikap kasar.
"Ay, aku mohon naik. Semua orang ngeliatin kita. Please!"
"Gak mau. Kak Kasa jahat! Kak Kasa udah buat malu gue di depan. Kak Roki."
Gigi Kasa gemeretak. Ingin sekali mengumpat Roki, tapi pasti Ayra akan bertambah marah.
"Nanti kita bahas lagi. Sekarang kita pulang, ya, Ay."
Kaki Ayra berhenti. Pegal juga setelah berjalan dan tadi sempat lari. Mana dia belum sempat makan karena mereka sudah terlambat masuk ke bioskop.
"Kita pulang, ya, Ay."
Gadis itu memutar tubuhnya menghadap Kasa. "Kak Kasa minta maaf dulu sama aku!"
Terserahlah apa permintaan Ayra, yang penting dia bisa membawa Ayra pulang. "Aku minta maaf ya, Ay. Sekarang kita pulang," kata Kasa melembutkan suaranya.
"Tapi kok, kedengarannya gak tulus?"
Hampir saja Kasa meledak. Tapi emosinya ditahan, dia tidak ingin Ayra kembali merajuk.
"Ayra sayang, kita pulang, ya. Aku minta maaf udah buat kamu malu, tadi. Aku salah!"
"Nah, gitu, dong!"
__ADS_1