
Pergilah duka..bawalah setiap air mata dan ubahlah menjadi bahagia. Simpan kenangan dalam hati, bertemu dalam keabadian..
Kepergian Lily untuk selamanya sangat menorehkan luka mendalam buat orang-orang disekitarnya. Hingga sebulan kepergiannya, Alana selalu mendatangi pusaranya sekedar untuk melepas rindu dan bercerita. Alana benar-benar kehilangan sosok kakak yang sangat dia sayangi.
Baik Alana maupun Arun masih menyesuaikan keadaan, menghargai kenangan Lily, dan memilih untuk tidak saling bertemu. Keduanya masih ingin mengenang Lily dengan cara mereka masing-masing.
***
Minggu berganti bulan, sudah dua bulan berlalu. Alana kini kembali menata hidupnya. Toko yang dulu sempat ditunda pembukaannya kini dijadwalkan akan segera dibuka. Ini adalah hari-hari sibuk dalam hidupnya.
"Masih di toko?" tanya Arun setelah berapa lama mereka tidak saling sapa.
"Iya bang. Ada apa?"
"Belum makan kan? kita makan siang bareng yuk?"
"Aku masih banyak kerjaan bang. Lagi pula aku bawa roti isi nih, ntar makan ini aja dulu buat ganjal"
"Aku kangen Al. Pengen ketemu"
Hening sesaat. Arun bukan coba mendesak Alana atau ingin mengingatkan janji mereka pada Lily, tapi ini murni yang dirasakan Arun.
"Al.." ulang nya setelah sekian menit dalam diam.
"Iya bang, aku dengar tapi ga hari ini aku benar-benar banyak kerjaan. Lain kali ya"
"Baik lah Al. Nanti aku jemput ya, kita pulang bareng" tawar Arun masih berusaha agar Alana mau bertemu.
"Maaf ya bang, hari ini aku juga ga tahu sampai jam berapa kerjaan ini rampung. Kami lagi ngatur posisi meja dan kursi serta nempel stiker di dinding. Next time ya?"
"Ok deh. Kamu jangan sampe kecapean ya"
***
Satu jam berlalu, Alana masih berkutat dengan desain ruangan yang akan dia dan juga tim yang bantu dekorasi kerjakan hari ini. Sisa tiga hari lagi sebelum toko di buka. Hari ini semua bagian tata ruang harus kelar karena besok bahan-bahan untuk memproduksi roti akan datang. Kedua karyawan juga sudah mulai bekerja hari ini membantu.
__ADS_1
Kedua karyawan Alana, Juli dan Mindo ternyata masih seumuran dengan Alana hingga lebih memudahkan mereka berkomunikasi dan memiliki taste yang sama tentang pilihan warna atau pun menu.
Alana bersyukur bisa dipertemukan dengan mereka, yang begitu mengerti akan keinginan dan segala yang sudah dia konsep.
Banyaknya pekerjaan membuat Alana lupa hanya untuk memakan rotinya. Saat perutnya mulai keroncongan, barulah dia sadar kalau belum makan apapun dan waktu sudah menunjukkan pukul setelah empat sore.
"Makan dulu mbak, biar kami yang bereskan, lagian sedikit lagi ini" saran Mindo yang sedang menempel stiker lucu di dinding.
Saat kedua karyawannya makan siang sudah menawarkan agar Alana ikut makan siang bersama mereka, tapi Alana menolak dengan alasan masih belum lapar.
"Iya deh, cacing aku juga udah demo nih" ucapnya tersenyum. Alana menuju pantry, untuk mengambil air minum, namun di pintu samping, Alana melihat seekor kucing kurus yang tampak kelaparan. Hatinya mengiba dan memberikan satu potong roti lapisnya. Dengan cepat si kucing melahapnya.
Baru akan melahap satu potong roti yang tersisa, ponsel Alana berdering. Seketika terkejut melihat nama si penelpon.
"Ini ngapain sih pake acara nelpon aku hari ini. Aku pikir setelah sekian lama ga ada kabar udah lupa sama aku" cicit Alana membiarkan teleponnya terus berdering hingga lampunya mati.
Baru akan menghela nafas, si penelpon yang tampak tidak sabaran kembali menghubunginya. Mau tidak mau Alana menggeser tombol hijau ke atas.
"Hey cewek ingus, lama bet ngangkat telepon gue, sengaja lo ya?"
"Ga enak banget sih lo manggil gue bangkai. Jadi berasa bangkai beneran gue" umpatnya dan Alana hanya bisa tertawa mendengarnya. Ini kali pertama setelah kepergian Lily dia bisa tertawa selepas ini.
"Ada apa ngubungi aku? kirain udah berbulan ga ada kabar, bangkai ga bakal ganggu aku lagi" cibirnya.
"Gue mau nagih janji lo. Gue butuh bantuan lo sekarang juga, saat ini. Cepetan lo kemari, ntar gue serloc" ucapnya tanpa tedeng alih-alih.
"Sekarang? yang benar aja bang? aku ga bisa. Aku banyak kerjaan nih. Ini aja sampai ga sempat makan siang" jawabnya mulai kesal. Sikap suka memaksa Kaisar terkadang buat Alana kesal.
"Gue ga mau tahu, lo harus segera kemari. Ini masalah hidup mati gue dan juga umur nenek gue" ucapnya tidak perduli.
"Tapi masa harus sekarang juga bang? besok ya?" Alana masih coba menawar.
"Ga pake, lo datang sekarang atau gue Serang toko roti lo yang ga seberapa itu!" ancam Kaisar.
"Hah? kok kau bisa tau aku punya toko Roti?"
__ADS_1
"Ga pake banyak tanya. Buruan!" Kaisar sudah mematikan sambungan telepon sepihak. Alan hanya bisa mengeram dalam hati. Kesal akan sikap diktator pria itu. Tidak lama ponselnya berbunyi, itu dari Kaisar yang memberikan lokasinya saat ini.
Hufffh.." Dasar bangkai sialan!" umpatnya tidak punya pilihan selain memenuhi keinginan pria itu.
Setelah pamit pada kedua karyawan, dengan taxi Alana pergi menemui Kaisar. Lokasi yang ditunjukkan pria itu adalah semua restoran mewah disalah satu hotel bintang lima.
"Gila ya, kenapa harus ketemuan di restoran mahal begini sih? gimana kalau gila nya kambuh minta aku bayar makanannya. Mana duit cash aku juga tinggal 254 ribu lagi" umpatnya kesal. Itu pun belum dipotong untuk bayar ongkos taxi yang dia yakin lebih dari seratus ribu rupiah.
Setengah jam kemudian Alana sampai dan langsung mencari si biang kerok yang bisa membuat hari-hari nya nanti menjadi seperti di neraka.
"Lama banget sih lo? udah kayak siput, lelet banget" hardik Kaisar saat melihat Alana yang sudah memasuki restoran.
"Benar-benar kau ya bang, ga menghargai aku. Tau ga aku sini naik taxi, habis 170 ribu bang" ucapnya kesal sembari menarik kursi didepan Kai dengan kasar dan menghempaskan tubuhnya.
"Duit segitu aja lo permasalahkan"
Baru akan buka mulut untuk mengumpat Kai, pria itu langsung menyambar. "Sekarang lo dengerin gue, besok lo dandan yang cakep terus kita temui nenek gue. Ingat lo harus bilang lo pacar gue dan kita udah pacaran selama dua tahun ini"
"Hah? emang masih ada perjanjian itu? bukannya kemarin terakhir ketemu, abang minta aku ketemu minggu depannya. Aku kira karena ga ada kabar dari abang, ga jadi ketemu sama nenekmu"
"Setelah pertemuan itu, lusanya nenek gue masuk rumah sakit, sebulan dirawat, dan sekarang dia udah sadar, dan udah boleh pulang ke rumah. Sialnya dia masih ingat buat nagih janji gue"
"Terus?"
"Ga pake terus. Besok lo gue jemput di toko kue lo itu!"
***
Hai..aku datang, bincang-bincang lagi yuk.
Sebenarnya bab pamit itu udah mau aku end novelnya, cuma baca komen yang masih antusias pengen baca gimana hubungan Alana dan Arun setelah Lily pergi, gimana si pria polos bucin itu mendapatkan Alana hingga meminang Alana, otor jadi pengen buat kelanjutan di novel ini juga ga pake season 2 anπ π
Jadi jangan bosan ya, mulai part ini, akan beragam kisah yang dituang, asmara Arun dan Alana, Gara yang muncul kembali, dan juga siapa sih sosok kai? siapa jodohnya? apa sempat Alana masuk dalam hidup kai hingga menikahi Alana?
yuk, tetap pantengin. Kedepannya hanya ada cerita ringan, no nangis2 lagi ya πππ
__ADS_1
dan sekali lagi terimakasih buat semua yang udah selalu support aku..lop sekebon πππ