
Perguson yang merasa ada yang aneh atas pernyataan Amanda kemarin pada saat konferensi pers, mulai mengikuti wanita itu. Perguson yang curiga itu semua hanya trik wanita itu mulai mengintai Amanda.
Setelah berpikir keras, ada yang janggal. Kai begitu gembira dengan kejelasan status Kasa, begitupun sikap Kai saat melihat Dita di club dengan pria lain, dia juga sangat marah dan begitu cemburu, lalu tidak mungkin dengan semua kenyataan itu Kai tiba-tiba menikah dengan Amanda.
Kecurigaan Perguson semakin nyata, kala melihat banyak penjaga yang ditempatkan oleh Amanda di rumahnya. Begitupun saat bepergian, Amanda yang biasa selalu solo kini diikuti dua orang berjas hitam.
"Kumpulkan semua anak buah mu, sebanyak yang bisa kau kumpulkan. Terserah itu satu erte, sekaligus pak erte nya!" seru Perguson pada salah satu anggotanya melalui telepon.
Baru menutup telepon, ponsel Perguson kembali berbunyi. "Haduh, ibu suri nelpon mau apa lagi sih?," ucapnya ngedumel, tapi toh, dia tidak berani untuk tidak menjawab.
"Iya, Nek?"
"Apa Kai sudah pulang?"
"Belum, Nek. Ini juga saya lagi cari"
"Segera kau temukan dia, atau lehermu jadi taruhannya!"
"Siap 69, eh..86, Nek"
Nenek Rosi memutuskan panggilan itu, dan Perguson hanya bisa menghela nafas berat. Dia harus segera mengatur rencana.
***
Seseorang sudah ditempatkan di depan rumah sang model, memantau kemana pun gadis itu ke pergi. "Bos, nona Amanda sudah cabut dari rumahnya," ucap anak buah yang ditempatkan tidak jauh dari rumah Amanda.
"Kalau begitu, ikuti segera"
"Tapi ada yang aneh bos. Dia tinggal sendiri, tapi kenapa banyak yang tinggal untuk menjaga rumahnya? aku curiga, kalau king K ada di dalam. Bisa saja dia disekap, makanya rumah itu dijaga ketat"
"Kalau begitu, tugaskan satu anak buah mu mengikuti Amanda. Aku dan yang lain segera meluncur ke sana," jawab Perguson segera menutup teleponnya dan segera bergegas menuju tekape.
Semua pasukan sudah berada di titik koordinat, bersiap menunggu aba-aba. Untuk sekelas perumahan elit, pukul tujuh malam keadaan sekitar sudah sepi. Waktu yang pas untuk Perguson dan timnya untuk masuk menerobos ke dalam rumah itu.
Langkah pertama, seorang anak buahnya di turunkan dengan pakaian biasa seorang warga, pakai kemeja baju Koko dan juga peci. Berhenti di depan gerbang yang tidak terlalu tinggi. Dari sana pria itu bisa mengamati lebih dekat situasi rumah.
"Permisi..."
__ADS_1
Salah satu penjaga yang sedang bermain catur itu mendekat. Tanpa curiga membuka gerbang karena menganggap pria itu adalah warga sini.
"Ada apa pak?"
"Saya pak RT, ada perlu dengan pemilik rumah ini"
"Oh, ibu sedang keluar pak. Kembali saja besok"
"Kalian ini siapa? mengapa beramai-ramai di sini? setahu saya ibu Amanda itu belum menikah dan tinggal sendiri"
"Kami karyawannya pak"
Sembari mengajak bicara si penjaga, beberapa anak buah Perguson sudah mendekat mengeluarkan senjata dan tanpa disadari lawan, anggota Perguson sudah menodongkan ke kepala mereka.
"Jangan bergerak!"
Begitu musuh terkunci, pasukan Perguson segera menyerbu masuk. Tidak sempat melakukan perlawanan, semua penjaga di baris depan dapat dilumpuhkan.
"Katakan, dimana bos kami? dimana bos Kaisar?" hardik Perguson menampar wajah anak buah Amanda.
Bug! satu pukulan mendarat di wajah lawan hingga tersungkur ke lantai. Terdengar senjata di kokang, lalu diarahkan ke kepala pria itu.
"Ampun, jangan bunuh saya"
"Katakan, atau kau akan mati sia-sia!" hardik Perguson habis kesabaran.
"Baik, saya akan tunjukkan"
Bergegas sisa anak buah Perguson masuk, membawa satu orang untuk menunjukkan dimana posisi Kai berada. Namun saat di depan pintu menuju ruang bawah tanah itu, ada dua orang yang berdiri menjaga.
Melihat ada musuh masuk, keduanya segera mengeluarkan senjata, namun sayang, anak buah Perguson lebih cepat, dan langsung menembak kaki keduanya.
Pintu terbuka, Perguson berlari menuruni tangga dengan pencahayaan dari ponselnya. Gelap, dingin.
Samar-samar, Perguson melihat sosok Kai yang duduk menundukkan wajahnya, ditopang oleh lengan yang ada di atas lututnya. Keadaan pria itu sangat mengenaskan. Perguson ingat kalau pakaian yang melekat pada tubuh Kai adalah baju yang dipakai saat mereka minum malam Senin lalu.
"Bos..," panggilnya menunduk di depan Kai. Pria itu terlihat lemas. Di sekitarnya terdapat bekas suntikan, yang ditebak Perguson membuat Kai tidak sadar diri.
__ADS_1
"Bos...," ulangnya mengangkat wajah Kai yang sudah tampak pucat. Tidak ada tanda penganiayaan di sana.
Anak buah Perguson bergegas membuka rantai pengikat diri Kai, dengan menembak rantai itu.
Perguson berinisiatif segera membawa Kai ke rumah sakit, dengan penjagaan yang ketat. Dia tidak ingin siapapun masuk yang dapat membahayakan keselamatan bosnya lagi.
Perguson juga sudah mengantongi bukti, photo dan juga situasi saat penggerebekan tadi. Bekas jarum suntik dan juga kondisi Kai saat ini bisa di jadikan bukti yang memberatkan Amanda nanti. Dia sudah melapor, dan pihak berwajib sudah menggeledah rumah Amanda.
Seolah tahu kalau rumahnya sudah digrebek, gadis itu menghilang, tidak tahu bersembunyi dimana.
***
Esoknya, Kai sudah siuman, namun belum kuat walau hanya sekedar duduk. Dokter bilang dia butuh istirahat yang cukup karena kekurangan cairan dan nutrisi. Selama enam hari di sekap, Kai menolak untuk makan, dan ditambah suntikan yang ternyata membuat tubuhnya melemah, agar tidak melakukan perlawanan, membuat kondisi pria itu sangat menghawatirkan.
Perguson menugaskan dua orang berjaga di depan pintu ruangan VIP tempat Kai di rawat. "Jangan sampai ada yang masuk," perintah Perguson keluar. Perutnya lapar sejak dari tadi malam hingga siang ini belum makan.
Pria itu memutuskan untuk makan di restoran dekat rumah sakit. Di pintu masuk, Perguson berpapasan dengan Dita dan juga Mita. Keduanya tidak terlalu mengenali pria itu, melewatinya tanpa perduli.
"Maaf, non Dita, kan?"
Kedua wanita itu tampak menatap Perguson. Tatapan menyelidik diarahkan pada pria itu. Mereka takut, pria itu penipu yang mau menghipnotis mereka.
"Siapa lo?" hardik Dita jutek. Moodnya masih memburuk setelah masalah Kai yang sukses menghancurkan hatinya. Dita semakin menutup diri, tidak mau makan, bahkan malas untuk bicara. Ini pun dia terpaksa ikut dengan Mita. Wanita itu memohon agar Dita mau ke rumah sakit. Dua kali gadis itu jatuh pingsan, karena tensinya turun.
"Mbak ga kenal aku? aku asisten tuan Kaisar," ucapnya tersenyum.
"Terus kenapa? apa gue sekompak itu dengan si brengsek tidak punya hati itu, sampai lo negur gue?" hardik Dita penuh emosi.
Perguson menyadari situasinya saat ini. Dita pasti marah, melihat berita yang tersebar di televisi kemarin. Malam itu Kai cerita, kalau Dita menyukainya. Gadis itu sendiri yang curhat saat dirinya menjadi Sari. Perguson menebak, gadis itu pasti sakit hati pada bosnya saat ini.
"Dita, jangan kasar gitu ah, ngomongnya. Ga sopan, Ta. Maafin anak saya, ya," ucap Mita lembut. Wanita penuh sabar dan keibuan itu begitu berbeda dengan anaknya.
"Ga papa Bu. Siapa yang sakit?" akhirnya Perguson mengajak bicara Mita saja.
"Oh, Dita kurang fit. Kamu sendiri, siapa yang sakit?"
"Itu Bu, bos Kai. Kondisinya lemah, bahkan koma. Dia diculik dan disiksa hingga hampir mati," terang Perguson melebihkan, ingin melihat reaksi Dita. Dan benar saja, wajah gadis itu berubah pucat, terlihat jelas dimatanya betapa gadis itu khawatir akan keadaan Kaisar.
__ADS_1