Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Season 2 Chapter 37


__ADS_3

Umpatan, amukan bahkan hantaman tangan di atas meja sudah dilakukan Kasa sejak mendengar pernyataan Sania tadi. Dia marah karena bisa-bisanya Sania memikirkan hal segila itu.


"Jangan gila kamu, Sania. Kamu gak takut dosa? Janin itu darah dagingmu, kamu tega membuangnya?" Bentak Kasa penuh emosi. Alhasil, bentakan Kasa buat tangis Sania semakin kencang. Para pelanggan yang sedang makan sempat melirik ke arah mereka, mencoba cari tahu, apa yang terjadi. Anggapan pengunjung, mereka adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


"Takut. Aku takut dosa. Ketika melakukannya saja sudah dosa, dan membuangnya juga dosa besar. Tapi aku punya pilihan apa? Kamu tahu sendiri aku gak ingin melakukan hal itu, Kasa."


"Kalau begitu jangan lakukan!'


"Aku gak bisa. Membiarkannya lahir akan membuatnya menderita. Orang-orang akan mencibirnya sebagai anak haram. Gak, aku gak sanggup membayangkannya."


"Tapi aku gak setuju kamu membuangnya!"


Sania semakin tertekan. Dia mengajak Kasa bicara agar bisa mengurangi bebannya, tapi ternyata salah. Kasa justru membuatnya terpojok. Dia ingin sekali berteriak kalau dia tidak menginginkan hal itu. Namun, dalam hidup, Sania yang harus realistis.


Kalau dia sampai melahirkan anaknya, kehidupan macam apa yang bisa ditawarkan terhadap anak itu? Untuk makan saja Sania susah. Dia harus bekerja dari pagi sampai malam. Dia tidak ingin menambah dosanya dengan menelantarkan bayinya.


"Terserah kalau kamu mau setuju atau tidak! Aku meminta mu datang ke sini, untuk bicara, membujuk Arlan untuk mau pergi ke luar negri, bukan untuk meminta persetujuan mu. Ini bayiku, aku tidak butuh izinmu!"


Kasa si pengamat wanita, berhati lembut sebenarnya. Dia bahkan tidak bisa melihat wanita menangis.


"Sania, aku mohon, pikirkan baik-baik. Pasti ada jalan keluar. Kita ngomong sama Arlan. Kalau kamu takut, biar aku yang bicara padanya," bujuk Kasa lembut. Dia menyodorkan air hangat yang baru dia minta pada pelayan. "Kamu minum dulu."


Sania menggeleng lemah. Tenaganya sudah habis hanya untuk memikirkan masalah, lalu sisanya, digunakan untuk menangis, padahal makanan yang dikonsumsi hanya sedikit dan itu dibagi dua dengan janin yang ada dalam perutnya.


"Aku mohon kamu jangan kasih tahu Arlan. Aku sangat mencintainya, tidak ingin membuat masa depannya hancur karena keberadaan anak ini. Tolong, Kasa, jaga rahasia ini. Aku mohon," Sania masih merengek diiringi air mata. Kasa jadi tidak tega. Dalam keadaan terpaksa dia mengangguk.


"Terima kasih, Kasa. Maaf kalau selama ini aku udah nyusahin kamu terus."

__ADS_1


"Iya, tapi kamu juga jangan ngambil jalan begini. Kasihan janin kamu."


"Gak usah dibahas lagi. Kepala aku sakit, mau pingsan rasanya. Kasa, ingat janji kamu untuk membujuk Arlan mau kuliah di luar."


Kasa diam. Mana mungkin dia mau. Tapi tangan Sania menyentuh pundak Kasa membuat pria itu kembali mengangguk.


Dia terjebak dalam dua permintaan Sania yang begitu sulit. Bayangkan saja, bagaimana kalau sampai Arlan tahu bahwa dia menjadi kaki tangan Sania dalam menyimpan rahasia ini?


Pemikiran Sania untuk melindungi Arlan dari tanggung jawab ini, tidak bisa diterima dengan akal sehat. Demi cintanya pada Arlan, dia hanya memikirkan kebahagiaan dan masa depan pria itu, sementara Sania sendiri harus merelakan jadi cita-citanya dan menjadi penanggung jawab satu-satunya.


"Kita pulang. Aku antar kamu pulang. Aku mohon beristirahatlah. Lihat wajah kamu yang pucat, dan ada kantong mata yang menunjukkan kamu kurang tidur. Hari ini tidak usah bekerja, tidak perlu memikirkan masalah ini. Kamu cukup beristirahat saja sekarang."


Kasa sudah menarik tangan Sania. Gadis itu benar-benar lemah. Untuk berdiri saja, dia perlu dibantu Kasa karena tadi sempat sempoyongan.


***


Jadi, kini dia sudah bisa konsentrasi menghadapi Ayra. Belakangan ini hubungan mereka memburuk. Kasa memutuskan mengajak Ayra bicara tidak peduli kalau gadis itu kembali menghindarinya.


Ayra harus menjelaskan alasannya menjauhi Kasa. Diliriknya kembali jarum di pergelangan tangan, harusnya gadis itu sudah pulang sekolah. Sudah banyak siswa yang dia lihat keluar dari gerbang, tapi tidak ada Ayra.


Kasa turun dari motor lalu berjalan masuk ke halaman sekolah. Sudah mulai sepi, hanya ada satu dua anak yang nampak.


Sekolah itu sudah seperti rumahnya sendiri, jadi Kasa tahu ke arah mana dia harus pergi mencari Ayra.


Langkah Kasa lebih cepat terayun. Dia sangat teliti tadi, tidak ada Ayra diantara siswa yang sudah pulang lebih dulu. Langkahnya terhenti di depan pintu kelas, mengamati yang dia lihat di dalam sana.


Kepalan tangannya di sisi tubuh semakin mengencang. Ini tidak benar, kan? Dia salah lihat, tapi jelas itu Ayra.

__ADS_1


Jangan pernah memancing emosi Kasa, kalau tidak mau dihancurkan olehnya.


Penuh emosi Kasa memukul pintu kelas yang hanya tertutup setengah. Kedua anak manusia yang ada di dalam ruangan itu terkejut dan serentak menoleh ke belakang mencari asal suara.


Kelompok mata Ayra terbuka sempurna, dengan boa mata melotot. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Kasa di sana. Sama sekali tidak menduga kalau pria itu akan mendatanginya bahkan sampai mencari ke dalam kelas.


Seorang pria yang juga teman sekelas Ayra ikut bangkit. Dengan cepat bisa menemani siapa Kasa.


"Ka-kak..."


"Jadi ini kelakuan kamu? Menjauhiku, mengabaikan semua pesan dan menolak kedatanganku ke rumahmu. Ternyata sudah ada orang lain yang kau suka!" tukas Kasa sinis. Menatap ke arah teman Ayra penuh rasa benci, menguliti hingga kebagian inti.


"Ka-kak, jangan ngomong sembarangan!"


"Sembarangan? Kamu pikir aku buta? Apa kamu pikir karena selama ini aku mengejar mu, jadi seenaknya mencampakkan aku seperti ini?!" Bentak Kasa menggelegar. Ayra sampai menutup mata ketakutan. Siapapun tidak pernah memperlakukannya seperti itu. Air matanya jatuh, meleleh di pipi.


"Bisa tolong bersikap sopan? Kamu pikir kamu siapa bentak-bentak anak orang? Kamu merasa hebat?" Pria dengan nametag Wesly itu pasang badan. Dia tidak terima Ayra diperlakukan seperti itu di hadapannya. Bukankah pria sejati harus menghargai wanita?


"Oh, lu kacungnya sekarang? Lu pikir, lu itu siapa berani bicara sama gue?" umpat Kasa menarik kerah baju Wesly lalu melepaskan satu pukulan ke wajah pria malang itu.


"Aaaackh! Berhenti Kak, lepaskan Wesly! Kak Kasa, cukup!" bentak Ayra mencoba melerai perkelahian tidak imbang itu. Tubuh Kasa jauh lebih tinggi dan tegap dari Wesley, kalau dibiarkan bisa mati temannya itu.


Permintaan Sania diabaikan begitu saja oleh Kasa. Dia sudah menyimpan bara amarah sejak lama atas semua masalah yang dia hadapi. Keberadaan Wesley memberinya wadah untuk meluapkan emosinya.


"Kak Kasa berhenti! Stop!" Ayra menarik pinggang Kasa tapi justru terdorong hingga mengenai sisi meja.


"Aaaauw... Sakit!" rintihnya memegangi pinggulnya. Kasa sontak berhenti mendengar rintihan Ayra dan mendekati gadis itu.

__ADS_1


"Lepaskan tanganmu. Mulai sekarang aku gak mau melihatmu lagi. Jauhi aku! Aku muak denganmu, kita putus!"


__ADS_2