
Untuk kedua kalinya Alana berputar di depan cermin, memastikan riasannya mampu menutupi garis hitam pada matanya. Alana kurang tidur tadi malam. Selain karena ngobrol dengan bi Minah ngalor-ngidul atas apa yang sudah dialami wanita itu, juga karena setelahnya Alana jadi memikirkan Arun. Sikap lembut dan perhatian pria itu mengusiknya, dan dia tidak senang akan hal itu, bukan apa, dia takut jatuh cinta lagi padanya!
"Udah rapi non" sapa bi Minah yang baru menyimpan piring kotornya sehabis makan siang.
"Iya bi. Aku ada perlu keluar sebentar" ucap nya tersenyum. "Boleh titip Arlan bentar ya bi. Dia lagi bobo siang, pulas banget"
"Beres non. Den Arlan aman sama bibi" ucapnya membuat Alana mengangguk terimakasih.
Lily hari ini tidak datang. Tadi pagi dia menghubungi Alana. Dia harus ke rumah ibu, karena Santi menghubunginya tadi malam dan meminta pagi ini ke sana.
"Ibu kenapa kak? ibu baik-baik aja kan? ayah?" tanya Alana khawatir. Bagaimana pun mereka orang tua Alana. Mereka saja yang tidak menganggap Alana anak.
"Ibu sama ayah baik. Cuma ada yang mau dibicarakan katanya Al, makanya kakak diminta ke sana"
***
Rencananya, hari ini Alana akan meninjau beberapa tempat yang dia lihat di sebuah market place yang akan dia sewa untuk toko rotinya nanti.
Tempat pertama yang didatangi Alana adalah sebuah ruko lantai dua yang ada di tengah kota. Tempatnya bagus dan juga diapit rumah sakit dan juga perkantoran, jadi pasti akan ramai pengunjung.
Penuh semangat Alana menekan nomor yang terpampang pada pintu yang bertuliskan 'Ruko ini disewakan'
Setelah panjang lebar nego, akhirnya Alana harus merelakan tempat itu, karena uang sewa ruko yang sangat besar. "Wajar sih mahal, tempatnya strategis gini" cicit nya setelah menutup telepon.
Dua jam lebih mengitari tempat kedua dan ketiga, tapi Alana belum mendapatkan tempat yang pas. Yang kedua, tempatnya kurang strategis, dan yang ketiga bangunannya rapuh dan tampak seram.
__ADS_1
Lelah kesana-kemari, Alana memutuskan untuk membeli teh botol di warung kecil pinggir jalan yang dia lewati. Duduk meminum cairan yang berasal dari daun teh itu melalui sedotan.
Deeeerrtrrtt.. derrrtrrtt..getar ponsel di saku celana jeans belelnya menyentaknya dari lamunan. Nomor yang tidak dikenal terpampang pada layar benda pipih itu.
Alana tidak punya gambaran siapa yang menghubungi. Teman-teman dan orang yang disekelilingnya hanya hitungan jari, tapi sudah menyimpan nomornya, lalu siapa si penelepon tanpa nama ini?
"Halo.." ucap Alana lembut.
"Halo, selamat siang..ini.."
"Maaf ya pak, saya lagi tidak berminat untuk buat kartu kredit. Boro-boro buat kartu kredit pak, ini aja saya pengangguran, belum ada penghasilan. Jadi maaf ya pak.."cerocos Alana memutus kontak. Belakangan ini dia terlalu sering di hubungi oleh pihak bank yang menawarkan untuk membuka kartu kredit atau pun penawaran produk bank yang terbaru.
Baru akan menyimpan ponsel itu pada tas sandang kecilnya, kembali ponselnya bergetar. Alana kembali mengamati nomor itu, masih nomor yang sama tadi.
"Ini si bapak getol banget nawarin produknya ya? udah dibilang ga mau buat kartu kredit juga" cicitnya. Tetesan keringat jatuh dari kening Alana. Panasnya siang ini memang luar biasa. Mungkin nanti malam akan turun hujan.
"Sales sekarang luar biasa ya semangatnya" umpatnya kesal.
"Halo pak..ada apa lagi ngubungi saya? saya kan udah bilang, kalau tidak minat buat buat kartu kredit atau kartu yang lain. Asuransi atau apa pun jenisnya. Buat makan aja saya susah pak. Saya janda anak satu, baru juga cerai dan ditinggal nikah sama calon suami yang baru. Hidup saya blangsak pak. Jadi jangan hubungi saya lagi pak, oke?"
"Heh, gadis ingus, nyerocos aja lo dari tadi. Sakit telinga gue dengarnya. Mana suara lo cempreng lagi" balas pria itu dari seberang sana.
Hah? Alana terdiam. Mendengar suara pria itu, memorinya membawanya ke suatu tempat seminggu lalu. "Heh..kau om-om gaje itu kan?" tebak Alana sumringah.
"Br*ngsek lo sebut gue om-om. Dasar ga tahu terima kasih lo ya"
__ADS_1
"Sorry om. Tapi emang kau kan lebih tua dari aku, tampang juga urakan, jambangan ga terurus, udah pas deh aku panggil om"
"Berisik. Gue nelpon lo mau minta lo bayar utang sama gue"
"Utang? oh..iya aku ingat. Ya udah, kirim nomor rekening mu, aku transfer sekarang juga, plus dengan bunganya, gue tambahi 20 ribu"
"Gue ga punya nomor rekening. Gue minta lo antar sendiri. Sekarang juga gue tunggu di restoran dimsum yang ada di mall kelapa gading. Gue lagi dekat sini soalnya"
"Waduh, jauh amat. Aku juga lagi diluar. Cuma kalau kesana kejauhan, ongkos taxi lebih 100 ribu loh," ucap Alana mengerutkan kening. Heran hari gini masih ada orang yang ga punya rekening bank.
"Ga mau tau, lo harus datang sekarang juga. Gue tunggu. Dosa lo kalau ga datang, ntar kalau lo ga bayar itu utang, diakhirat lo bakal ditagih, mau lo masuk neraka?"
"Iya aku datang. Dasar om-om reseh, gaje!" umpatnya sebelum mematikan telepon.
Hufffh..Alana menarik nafas panjang. Tempat untuk buka toko nya aja belum dapat, masih harus ngurusin permintaan pria bermulut kasar itu. Tapi apa yang dikatakan pria itu benar, Alana tidak ingin punya hutang. Terlebih dia sudah ditolong waktu itu. Kalau pria itu ga ada dan ga meminjamkan uangnya pada Alana, gadis itu ga akan tahu gimana nasibnya hari itu.
Dengan wajah cemberut Alana menyerahkan uang berwarna merah dan biru pada supir taxi online itu. Penuh kesal Alana melangkah masuk ke dalam salah satu mall besar di kota itu.
"Gila ya itu om-om. Utang ku cuma 100 ribu, ok lah aku kasih bonus tambahan 20 ribu. Ini buat ongkos aku habis 150 ribu buat ngantar utang ku. Belum lagi nanti ongkos pulang" cibir Alana menendang aspal sangking kesalnya.
Dia harus berhemat, tabungannya semakin menipis. Walau Arun menyerahkan ATM dan tiap bulan mengisi dengan nominal yang fantastis, Alana tidak menggunakannya sama sekali kalau bukan untuk keperluan Arlan. Dia tidak ingin Arun menafkahi dirinya, karena kini mereka bukan lagi suami istri.
Pria itu sudah mengirim lokasi keberadaannya pada Alana saat gadis itu masih diperjalanan. Jadi Alana sudah tahu harus kemana mencari pria itu.
Alana memasuki restauran yang sedikit tertutup itu. Pengunjungnya saat itu hanya ada beberapa. Alana melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tapi tidak menemukan sosok pria yang menyebalkan itu. Sepasang kekasih di meja belakang, satu keluarga di meja depan, lalu disampingnya ada tiga orang wanita kantoran, lalu ada seorang pria tampan, duduk sendiri, sembari mengamati ponselnya duduk disudut sayap sebelah kiri. Alana memutuskan untuk duduk disalah satu sofa disudut ruangan sebelah kanan.
__ADS_1
"Awas aja om-om gila itu nge prank aku ya" umpatnya kesal.
"Hey gadis ingus" sapa seorang yang persekian detik lalu dia puji akan ketampanannya.