
Rudi harus bisa menerima keputusan Dita untuk memutuskan merawat anaknya sendiri. Dia tidak ingin dengan mencari orang yang sudah menghamilinya seperti saran Rudi, akan membuat pria itu mengambil keuntungan dengan meminta haknya atas anak itu. Syukur-syukur kalau ayah anaknya adalah seorang pria lajang, gimana kalau ternyata yang mengambil keperawanan justru suami orang? pria hidung belang? atau lebih buruk psikopat?
Tidak ingin mengambil resiko, Rudi menurut. Kalau hanya sekedar mencari bedebah itu, bukan hal sulit bagi Rudi. Dia bisa mengerahkan banyak orang, detektif atau bila perlu membakar club itu, tapi apa yang dikatakan anaknya benar.
Biar lah mereka merawat bayi itu. Toh, membesarkan seorang bayi lagi tidak akan susah, tidak lantas membuat mereka jatuh miskin. Justru, walau tanpa ayah, bayi itu adalah penerus keluarga Setyawan. Rudi akan menerima dan mencintai anak itu sebagai cucu terkasihnya. Apalagi karena Dita tampak begitu bahagia menanti kelahiran anaknya. Naluri keibuannya begitu besar, dan bahkan terlalu posesif dengan bayinya.
"Aku ga mau makan itu, mi. Tidak baik untuk bayiku" ucap Dita saat Mita menawarkan sesuap bakso yang tengah dia cicipi.
"Kalau satu aja ga papa, Ta"
"Itu banyak mecin nya. Nanti anak aku jadi bego, Mi. ga mau" tolaknya membawa satu mangkok besar potongan buah ke kamarnya.
Saking protektifnya pada bayi, Dita memutuskan untuk menunda kuliahnya dulu. Cuti setahun hingga dia melahirkan bayinya. Rudi dan Mita hanya tersenyum melihat gadis kecil mereka yang tidak lagi kecil, sebentar lagi akan punya anak dan hal itu membuat perasaan keduanya begitu bangga atas perubahan Dita. Terlepas apa yang menimpa putrinya itu, Rudi justru sangat salut pada Dita karena memilih untuk mempertahankan anaknya, alih-alih membuangnya.
***
"Halo, ponakan onty yang cakep maksimal," ucap Dita menghampiri baby walker milik Arlan. Bocah itu tampak begitu gembira karena melihat Dita mendekat.
"Hai, Ta. Kamu datang? dari wajahmu aku tebak, pasti masalah sama om dan tante udah kelar, kan?"
Dita hanya mengangguk dan tersenyum. Lega. Itu yang dia rasakan saat ini. Tidak putus rasa terimakasihnya memiliki orang tua seperti mereka.
"Nah, jangan ngambek, kabur atau sedih lagi ya Ta. Semua sayang sama Dita" ucap Alana memeluk sahabatnya itu. Arlan hanya mengamati dua orang dewasa yang saling berpelukan mengaitkan diri itu.
"Minggu gue mau ke puncak. Mau tinggal di Villa oma untuk sementara waktu," ucap Dita menggendong Arlan yang sejak tadi selalu menggantungkan tangannya di udara minta untuk diangkat.
__ADS_1
"Asik dong liburan. Nikmati waktumu, nanti kalau udah jadi ibu repot banget ngurus bocil" Alana mencubit pelan ujung hidung Arlan.
"Ngomong-ngomong ini bocah ngapa dibawa?" tanya Dita baru sadar.
"Karena Arlan udah mulai bisa jalan, sesekali aku mau dia ikut ke toko. Kasihan harus ditinggal terus di rumah"
"Lakik lo udah balik?" Dita mengikuti gerakan tangan Arlan yang bermain dengan bibirnya. Membuat celoteh kecil hingga mengeluarkan air liur nya.
"Udah dong"
"Lihat lo yang sumringah begini, berapa kali tadi lo diembat?"
"Apaan sih, Ta. Malu tahu bahas beginian di depan anak aku"
"Ya, kali dia ngerti. Masih bocah ini"
Kedua wanita itu tertawa gembira, bermain dengan bocah gempal yang sangat menggemaskan itu. Sementara dari luar sana, seseorang yang diutus pria arogan mengamati dengan seksama, memberikan laporan pada tuannya tentang apa yang sudah dia lihat.
"Apakah dia baik-baik saja?" suara itu terdengar lebih tenang dari kemarin. Tampilan wajah Kai sudah seperti zombie. Melewati hari-harinya yang menyedihkan, dan dipenuhi rasa khawatir akan seorang gadis yang diduga sedang mengandung anaknya.
"Seperti pada gambar yang saya kirim bos. Non Dita baik dan terlihat gembira. Mungkin saja dia tidak mengharapkan ayah bayinya yang pengecut itu datang untuk bertanggungjawab" ucap Perguson santai.
Bos besar yang menaungi banyak perusahaan itu mengumpat kesal pada asistennya sebelum mematikan sambungan telepon. Harusnya dia kini sudah bisa bernafas lega, gadis itu tidak menuntut atau mencarinya, jadi tidak ada yang perlu dirisaukan.
Berkali-kali dia menegaskan, bisa saja itu bukan anaknya. Siapa yang bisa menjamin gadis itu tidak bermain dengan pria lain setelah dengannya, namun semakin memikirkan alibi itu hany untuk menenangkan hatinya, Kai justru semakin terpuruk. Sepertinya dementor sudah menghisap kebahagiaan yang tersisa dari dirinya.
__ADS_1
Hal yang paling dia benci dari semua keterpurukan itu, dia tidak berselera untuk mengajak satu wanita mana pun untuk naik ke ranjangnya. Pernah satu kali, saat wanita dalam club itu sudah mulai memanjakan batangnya dengan lidah dan juga bibirnya, Kai bahkan sudah polos bak bayi, namun saat wanita itu ingin naik keatas pangkuan Kai, namun saat menatap wajah wanita itu, sialnya wajah Dita yang muncul. Bagaimana gadis itu mendes*h dibawah tubuhnya dengan liukkan yang membuatnya gila.
Segera tangan Kai menahan tubuh gadis itu hingga tidak jadi memasukkan miliknya dengan senjata Kai yang tegak berdiri.
"Cukup, kau boleh pergi" ujar Kai melempar beberapa lembar uang merah ke hadapan gadis malam itu.
***
Kaisar buru-buru mendatangi klinik setelah mendapatkan kabar dari Perguson. Baru dua hari lalu asistennya itu mengatakan semua tampak baik, dan Dita sudah tampak bahagia, siang ini Perguson justru memberi kabar pada Kai, yang saat itu sedang meeting di salah satu perusahaan besar yang akan menjadi partner nya dalam satu projek baru, bahwa Dita dan ibunya sedang berada disalah satu klinik yang diyakini Perguson adalah tempat wanita yang ingin menggugurkan bayinya.
"Mana dia?" tanya Kai dengan berbisik, menepuk pundak Perguson dari belakang yang tengah santai mengamati.
"Udah di dalam ruangan bos. Bos sih datangnya kelamaan, udah sejam mereka di sana" sahut Perguson menghadap Kai. Seketika wajah Kai berubah pucat. Kenapa dia tampak kecewa? bukannya ini sudah sesuai keinginan hatinya? dengan tidak adanya anak itu, berarti dia lepas dari tanggung jawab, dan yang paling penting dia tidak harus menikah!
"Kenapa ga lo hentikan, t*i?!"
"Yeee..., bisa dikeroyok saya bos. Lagian kenapa lama sih? celup dulu ya?"
Bruk!
Satu tendangan mendarat di tulang kering Perguson. Hadiah atas ucapannya yang tidak disaring lebih dulu. "Bacot lo anj*ng. Lo tahu kan gue meeting di mana?" Kai masih ingin memaki, tapi jantungnya terasa berdetak lemah. Dia ingin pingsan, tapi juga ingin melihat Dita keluar dari sana.
Keduanya duduk menyamping, disalah satu bangku tunggu, agar saat Dita dan mamanya keluar, tidak melihat mereka.
Tak berapa lama, orang yang ditunggu keluar. Wajah Dita tampak sendu, tanda baru saja menangis. Hanya wajah Mita yang terlihat lega. Kai menyimpulkan kalau wanita itu sudah memaksa putrinya untuk ab*rsi.
__ADS_1
"Aku akan mencekik wanita itu karena sudah menggugurkan yang kemungkinan adalah anak ku!"