Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Selamat tinggal


__ADS_3

Diamnya Gara membuat suasana tidak nyaman lagi. Wisnu, Fajar dan Dita hanya ikut diam, setelah beberapa kali mengajak Gara bercanda, berharap pria itu akan tertawa. Nyatanya tidak. Pria itu masih bergeming dengan pemikirannya.


Motor Gara sudah berbelok menuju perumahan Pandau permai, tapi Gara yang mengunci mulutnya sejak tadi membuat Alana tidak tenang.


"Kita ga usah pulang dulu ya. Boleh ngobrol sebentar di taman bermain itu?" tunjuk Alana kearah depan tempat banyak bermain anak-anak. Tempat itu tidak jauh dari rumah, hanya satu belokan kecil.


Gara mengikuti kemauan Alana. Mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya pada Alana. Dia tidak ingin keputusannya nanti akan menyakiti mereka berdua lebih dalam lagi.


"Ga..kamu kenapa sih? dari tadi diam terus? padahal yang paling semangat buat nonton tadi kamu loh?" ucap Alana setelah keduanya duduk di bangku taman.


Tidak ada jawaban. Pandangan Gara lurus ke depan. Memandang ke satu titik. Hatinya masih berat untuk membuka masalah ini. Tapi tidak mungkin juga jika hanya di diamkan.


Canda tawa anak-anak yang masih bermain menjadi penarik perhatian Gara.


"Anak. Alana juga sebentar lagi akan punya anak" batinnya.


"Ga.. sayang..jawab dong. Kalau kamu tiba-tiba diam gini aku jadi takut. Kalau ada salahku, katakan Ga. Ngomong.."


Satu tarikan nafas panjang Gara ambil lalu membuangnya dengan kasar.


"Aku sudah tahu semuanya, Al.."


Seketika Alana membatu. Bola matanya membulat menatap wajah Gara yang semakin tidak bersahabat. Dia masih menebak kemana arah pembicaraan Gara ini. Tapi telapak tangan nya yang memegang lengan Gara berubah dingin dan berkeringat.


"Maksudnya Ga? tahu apa?" walau hati Alana sudah berdegub kencang, hatinya sudah maraton meninggalkan tubuhnya, Alana masih mencoba untuk tenang.


"Maaf, tadi aku mengangkat telepon ibumu. Dari dirinya aku tahu semua yang selama ini kau sembunyikan dariku" Perkataan itu bagai petir yang menyambar Alana.


Tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Dunia Alana runtuh. Rahasianya kini sudah terbongkar. Dia selesai. Dia mati.

__ADS_1


"Ga..." dua tetes bulir bening jatuh di pipinya mewakili rasa takut, terkejut dan juga sedih hatinya.


"Aku ga sangka kamu tega bohongin aku sampai segininya. Salah aku apa sama kamu Al? apa aku tidak cukup buatmu?"


"Ga..aku.."


"Cukup Al. Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun. Aku hanya ingin tahu, apa benar..kamu..kamu.. sedang hamil? kamu sedang mengandung anak pria lain? abang iparmu sendiri?" suara Gara begitu berat, sarat akan kepedihan dan kehancuran yang saat ini dia rasakan.


Alana sudah sesunggukan, tidak sanggup lagi membuka mulutnya untuk memberikan jawaban.


"Jawab aku Al.." bentak Gara. Ini adalah kali pertama Gara berbicara pada Alana dengan intonasi suara yang tinggi.


Masih dengan derai air mata, Alana mengangguk berkali-kali dengan wajah menunduk. Dia hancur. Sekali lagi dia berniat mengakhiri hidupnya.


Setelahnya tidak ada lagi yang bicara. Hanya terdengar suara isak tangis Alana yang pilu. Gara tidak perduli. Hatinya sudah tersayat amarah. Rinai hujan turun sore itu.


Bulan ini memang lebih sering turun hujan. Kalau biasanya Alana akan mengutuk hujan turun, tapi kali ini sedikit berbeda, dia menikmati titik-titik bening yang jatuh di kepalanya.


"Ga.. dengar dulu penjelasan ku" mohon Alana mendongak menatap Gara. Sumpah demi apapun Gara tidak tega melihat tetesan air mata di pipi Alana, tapi dia juga terlalu sakit dan marah untuk menenangkan gadis itu.


"Ga ada yang perlu kamu jelaskan padaku lagi Al. Semua udah jelas buatku. Kini aku tahu batasannya. Aku akan pergi dari hidupmu. Kita pulang, mungkin ini terakhir kalinya aku mengantarmu pulang"


"Jangan begitu Ga, aku mohon. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu, Ga. Aku mohon jangan tinggalkan aku" isak Alana memohon, menyatukan telapak tangannya.


"Jangan begitu Al. Kamu juga tahu ini berat untukku. Kamu tahu sendirikan, aku sangat mencintaimu. Tapi aku ga mungkin bersamamu lagi. Kamu sudah jadi milik orang lain"


Alana semakin larut dalam tangisnya, menunduk meraung disela tetasan hujan.


"Ayo pulang, Al. Hujannya makin deras. Kamu bisa sakit" Gara masih berusaha membujuk.

__ADS_1


"Aku memang tidak pantas untuk mu. Aku tau aku salah. Harusnya dari awal aku jujur. Baik lah Ga. Kau benar, tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan. Baiklah, aku terima perpisahan ini"


Alana berdiri, menolak tangan Gara yang ingin membantunya. Dia harus sadar diri. Benar kata Gara, dia tidak punya hak lagi untuk mempertahankan Gara di sisinya.


"Ayo aku antar pulang Al"


"Pergilah Ga. Kau tidak perlu mengantarku. Aku bisa jalan sendiri"


"Tapi Al..ini hujan.."


"Kalau kau tidak mau pergi, maka aku yang akan meninggalkan tempat ini" Alana bangkit, dan segera berjalan menyusuri jalanan menuju rumahnya. Hatinya hampa, isak tangisnya diiringi deru hujan yang semakin deras.


"Al, ayo aku antar" Gara yang tidak tega mengejar langkah Alana, membujuk gadis itu agar mau dibonceng.


"Pulanglah Ga. Aku mohon. Hubungan kita sampai sini. Aku minta maaf kalau selama ini aku membohongimu, maaf untuk luka yang kuberikan dan rasa egois yang ada di hatiku"


Sekali lagi langkah Gara mengikuti, Alana berhenti dan berbalik menatap Gara. "Tinggalkan aku Ga.." Alana mempercepat langkahnya. Dia butuh waktu sendiri.


Alana tahu sudah menghancurkan perasaan Gara. Tapi kenapa tidak ada yang perduli dengan perasaannya? dia jug manusia yang ingin di perhatikan dan dihargai.


Kenapa semua yang terjadi, seolah itu semua salahnya! Ini semua juga bukan keinginannya. Kalau Gara tidak bisa menerima keadaannya, dia paham, dia maklumi semua. Dia memang seharusnya tahu diri, tidak berharap lebih pada orang lain.


Pria mana yang bisa menerima wanita yang sudah pernah dinikahi abang iparnya sendiri? Wajar jika Gara tidak terima.


Gara sudah tidak mengikuti Alana lagi. Dibawah rintik hujan, Alana berjalan menuju rumahnya. Hingga berbelok diujung jalan, Gara masih setia memperhatikan Alana. Bagaimanapun dia sudah terbiasa untuk melindungi Alana, memastikan gadis itu baik-baik saja.


Setelah dia meyakini Alana sudah tiba di rumah, Gara kembali duduk. Dia merenung ditemani rintik hujan. Dia tidak perduli rasa dingin yang menyerang tubuhnya. Dia perlu iyu, agar otaknya sedikit lebih dingin.


Lama diam, memikirkan semua yang terjadi. Satu bulir yang jatuh di pipi Gara diantara bulir bening lainnya bukan lah titik hujan. Itu air mata. Tangisnya pecah dalam diam. Bingung harus berbuat apa.

__ADS_1


Yah..dia harus melepas Alana walau sulit. Dia harus melupakan gadis itu dari hidupnya. Gara pulang membawa kesedihannya. Dalam hidupnya dia pernah mengenal seorang gadis bernama Alana, mencintainya dan ingin membangun kebahagiaan dengannya, tapi keadaan berubah, dia dihadapkan pada pilihan terberat. Yah.. Gara memutuskan untuk pergi dari hidup Alana.


"Selamat tinggal Alana.."


__ADS_2