Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Hancur


__ADS_3

Lily yang mendapati Alana pulang dalam keadaan basah kuyup membuatnya panik. Segera berlari menyongsong adiknya yang tampak kacau itu.


"Al, kamu kenapa? kok hujan-hujanan?"


Tapi Alana tidak sedang ingin menjawab pertanyaan Lily. Tatapannya kosong, dia pasrah dan tidak perduli pada apapun. Dia mengutuk dunia yang tidak adil buatnya. Tidak pernah dianggap bahkan hanya dijadikan alat bagi semua orang. Tidak ada yang menghargai perasaannya.


Tergopoh-gopoh bi Minah datang membawa handuk bersih, mengeringkan rambut Alana yang sudah dibawa Lily duduk di meja makan.


"Kau kenapa Al? jawab Al. Kau baik-baik aja kan? apa yang terjadi dek? bayi nya baik-baik aja kan?" lily menjamah perut Alana memastikan tidak terjadi hal buruk pada bayi Alana.


"Aku baik. Bayi ini pun pastinya baik" Alana menyingkirkan tangan Lily dari tubuhnya. "Kau hanya perduli pada bayi ini kan? tenang saja kak, aku akan menjaganya hingga dia terlahir ke dunia ini. Itu kan peranku dalam hidupmu? melahirkan anak bagimu?" kembali tetes air mata yang tadi sempat berhenti kini kembali turun.


Lily baru akan melanjutkan ucapannya, tapi terhenti saat bi Minah datang membawa nampan berisi air rebusan jahe merah. Lily tidak ingin bi Minah tahu persoalan mereka.


"Ini non, minum dulu biar tubuh non hangat" sodor nya ke hadapan Alana.


"Apa ini bi? Alana ga bisa sembarangan makan atau minum.."


"Ibu jangan khawatir. Ini tidak akan berakibat buruk bagi bayi non Al. Justru bagus menghangat tubuhnya"


"Hah..? bibi?" Lily terkejut. Tidak menyadari entah sejak kapan, ternyata bi Minah sudah tahu perihal keadaan Alana. "Bibi udah tahu kalau Alana.."


Bi Minah hanya mengangguk. "Sejak bi Minah menemukan kotak susu ibu hamil di tempat sampah di kamar non Alana" terangnya. Bi Minah mengambil handuk tadi dan mengeringkan rambut Alana yang masih menangis.


"Al.."

__ADS_1


"Cukup kak. Untuk kali ini aja. Anggap aku sebagai manusia. Biarkan aku menangisi hidupku yang menyedihkan ini" isak Alana semakin jelas.


"Tapi kau kenapa? ada apa? cerita sama kakak" sentuhan lembut Lily pada kepalanya membuat perasaan Alana semakin sedih. Dia butuh sandaran, tempatnya menumpahkan kesedihan. Seperti dulu, Lily lah yang menjadi tempatnya berkeluh kesah. Kali ini pun Alana seperti nya tidak punya tempat selain meratap tangis pada Lily.


Alana memeluk perut Lily. Menangis sejadi-jadinya. Melingkarkan tangannya erat pada pinggang ramping Lily.


"Al.." Lily ikut menetes air mata. Sejak dulu, setiap Alana bercerita pada Lily akan kesedihannya, baik oleh siksaan Santi atau pun masalah yang lain, dan Lily akan menemani Alana, menenangkan adik kecilnya itu walau dia sendiri pun ikut menangis dengan Alana.


"Gara udah tau kak..dia udah tau semuanya dan dia udah ninggalin aku" ucapnya disela tangisnya yang semakin keras.


Lily mengerti. Alana kini berada pada titik paling bawah. Perasaannya pasti hancur, mendapati Gara yang sudah tahu keadaannya justru meninggalkan dirinya.


"Sabar sayang..jangan menangis lagi. Nanti kau sakit Al" ucap Lily mencoba menguatkan tapi justru dirinya ikut menangis.


"Dia pergi kak. Ninggalin aku. Gimana nasib aku kak? aku ga akan bisa hidup tanpa Gara" tangis Alana semakin menyayat hati.


"Ga usah kak. Aku ga mau dia menerimaku hanya karena kasihan. Kalau memang dia tidak bisa menerima masa laluku secara tulus, maka biarkan lah"


Diruang tengah, Arun mendengar semua pembicaraan mereka. Hati Arun ikut sedih tapi ada rasa senang juga. Dia tidak munafik, dia senang mengetahui mereka berpisah kini, tapi dia jauh lebih sedih melihat Alana yang hancur.


Dia sudah sempat merelakan Alana bersama pria itu, walau tidak ikhlas. Toh, yang terpenting buatnya adalah kebahagiaan Alana kan. Arun sudah memutuskan untuk mencintai Alana dalam diamnya. Melindungi gadis itu dari kejauhan, bahkan menyiapkan investasi besar untuk menopang masa depan Alana setelah berpisah darinya. Dan kini, selagi dia membalut hati, mencoba melepas Alana, justru kabar baik untuknya datang.


"Aku lebih baik mati kak, kalau sampai berpisah dengan Gara" Alana tidak henti-hentinya menangis. Bi Minah kini bergabung dengan mereka. Duduk disamping Alana dengan isak tangis. Mereka bertiga sudah seperti paduan suara lewat tangisan.


Lelah menangis akibat kesedihan yang mendalam, Alana jatuh pingsan. Lily baru menyadarinya saat dorongan tubun Alana semakin berat ditopang nya. Tidak ada lagi isak tangis yang terdengar.

__ADS_1


"Al..Alana.." ucap Lily menepuk pelan pipi Alana.


"Al..bangun Al.." suara Lily semakin panik. Saat itu lah Arun masuk, berlari kecil menopang tubuh Alana. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Arun menggendong tubuh Alana ke kamar.


"Dasar gadis bodoh, ayo bangun. Jangan buat aku mati ketakutan begini" cicit nya. Lily sudah mengikuti langkah Arun ke kamar Alana.


"Bangun Al..aku mohon.. bangun" racu Arun. Lily bisa melihat kepanikan di wajah Arun.


"Hun.."


"Sedang apa kau? cepat panggil dokter" bentak nya kalut. Sudah tidak memilah cara bicaranya pada Lily. Yang Arun tahu, Alana harus segera ditolong.


Lily terbata, ingin bicara namun dibatalkan. Dia mundur, mencari ponselnya untuk menghubungi dokter yang biasa membantu mereka. Hati Lily kembali tergores. Dia lihat kepanikan Arun, melebihi kepanikannya saat dirinya kecelakaan dulu.


Kembali rasa takut kehilangan Arun kembali membayang, tapi dia coba tepis kan. Dia mencoba menolak pikirannya yang mengatakan kalau Arun benar-benar sudah jatuh cinta pada Alana.


"Bukan, dia hanya perduli dan khawatir dengan anak kami. Itu dia lakukan semata-mata demi bayi itu. Arun tidak mungkin jatuh cinta pada Alana. Tidak...!" cicitnya meremas baju pada bagian dadanya. Sakit, perih.


Dia tidak akan membiarkan rumah tangga nya hancur. Dia tidak mungkin bisa berbagi suami walau dengan adiknya sendiri.


Dokter Ika sudah memeriksa Alana. Tidak ada hal serius, tapi sang dokter minta agar Alana banyak istirahat dan jangan terlalu stres.


"Bu Alana harus bedrest seminggu ini. Tidak boleh kemana-mana dan jangan banyak pikiran, akan berpengaruh pada bayinya" terang dokter Ika.


"Ini resep obat, tolong ditebus dan diberikan pada ibu Alana" tambahnya sebelum pamit pulang.

__ADS_1


Bi Minah membawa pakaian seragam Alana yang basah tadi. Sejurus bi Minah melihat kearah Alana yang tertidur. Arun tidak lepas menggenggam tangan Alana. Bi Minah kasihan melihat nasib Alana, miris melihat takdir yang harus dijalani gadis itu.


"Bibi doakan kamu dapat kebahagiaan yang nak. Beban mu sangat berat" batinnya menghapus jejak air mata di pipinya sebelumnya meninggalkan kamar itu.


__ADS_2