Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Arti seorang anak


__ADS_3

Mood Kaisar Barrel belakang ini sangat buruk. Semua orang disekitarnya menjadi kena imbasnya. Dia masih bingung harus bagaimana atas masalahnya. Dia ingin menemui gadis itu, tapi dia bingung harus bilang bagaimana. Tidak mungkin kan tiba-tiba datang kehadapan Dita dan berkata terus terang.


'Hai, aku Kaisar, pria yang sudah menghamili mu' bisa-bisa dia di gampar bolak-balik.


"Tidak, kayak nya itu bukan ide yang tepat!" umpatnya kesal. Mengepal tinjunya dan melayangkan ke angin.


Tidak bisa mendapatkan jawabannya yang pas di hatinya, Kai memanggil Ferguson dengan menekan pesawat telepon di line 3. "Kemari Lo!'


"Bos besar yang lagi mumet manggil saya?" goda Ferguson tanpa rasa takut sedikitpun.


"Bacot lo! Udah mikirin gimana solusi dari masalah ini?!" bentaknya


"Kan udah saya bilang bos, temui non Dita. Jelaskan semua"


"Tapi lo kan tau, nyet kalau gue ga mungkin nikahi dia!" sembur Kai sangat kesal. Kenapa bisa se ceroboh itu dia malam itu. Biasanya kalau main dia pasti pakai pengaman, tapi entah kenapa malam itu dia sudah diujung dan ingin menuntaskan hasratnya, tanpa sempat memakai pengaman.


"Jadi mau bos gimana? ya udah kalau bos ga mau jumpai dan ngaku sama non Dita, ya bos diam aja, seolah ga terjadi apa-apa. Toh, non Dita ga tahu siapa pria pengecut yang menghamilinya" ucap Ferguson menoleh ke samping, mencari letak kulkas yang kini sudah berpindah tempat.


Brug!


"Au..sakit bos. Gila ya punya bos suka aniaya karyawannya" ucap Ferguson memegangi kakinya yang baru saja mendapat tendangan dari Kai.


"Masih kurang? mau lagi lo gue hajar? bacot lo ga bisa dijaga ya?!" umpat Kai kesal. Ferguson yang sudah dianggap sahabat sejati selalu mengatakan apa saja yang ada dalam pikirannya tanpa menyunting lebih dulu.


"Ampun bos..ampun bang jago! Jadi mau bos gimana?" tanya Ferguson tidak ingin lagi buat bos nya kesal.


"Lo cari tu cewek sampai dapat. Gue ga mau tau caranya, harus udah ketemu hari ini, dan lo pantau terus tu cewek. Jangan sampai kehilangan jejak!"


***


Alana sudah menawarkan diri untuk menemani Dita pulang ke rumah, tapi gadis itu menolak Naluri keibuannya sudah muncul, salah satunya terlihat dengan dia punya keberanian untuk mempertahankan bayi nya. Tidak ingin lari dari masalah, dan akan berjuang untuk bayi itu.


"Ditaaaa? kamu pulang nak?" ucap haru Mita menghambur menyongsong kedatangan putri semata wayangnya. "Oh putriku..." Mita memeluk erat Dita, melampiaskan perasaan rindunya yang sudah lebih seminggu tidak melihatnya.

__ADS_1


"Mami sehat?" tanya Dita menatap wajah sendu dan tampak kelelahan. Dita menebak pasti karena wanita itu kurang tidur. Apalagi setelah papinya jatuh sakit memikirkan dirinya, satu lagi alasan kuat bagi Dita untuk segera pulang.


"Mami sehat, nak. Papi yang lagi sakit. Tapi kalau dia lihat kamu pulang, mami yakin papi mu pasti langsung sembuh" ucap Mita menggandeng lengan Dita, menaiki tangga menuju kamar tidur orang tuanya.


"Maaf ya, Mi udah buat papi mami khawatir" ucapnya penuh penyesalan. Dia begitu menyesal sudah lari dari rumah hingga membuat orang tuanya kesusahan.


"Iya. Tapi jangan diulang lagi ya, Ta. Apapun masalah dan juga hal yang tidak sesuai dengan keinginanmu, kita bicarakan bersama. Jangan main kabur aja" ucap Mita. Dita mengangguk, setuju akan ucapan ibundanya.


Dita berdiri diambang pintu, kakinya seolah terikat hingga ke dasar lantai. Melihat pria yang begitu dia sayang dengan caranya itu tertidur pulas membuatnya merasa jadi anak yang paling tidak berguna. Sudah membuat pria yang selalu bersikap tegas dan tampak kuat itu terbaring lemah di ranjang.


"Ayo, kenapa berdiri di situ?" suara lembut Mita menyadarkannya. Dia melangkah mendekat tepat di samping pria itu.


"Bangun pi, anakmu sudah pulang. Dita kita ada disini"


Sistem saraf Rudi cepat menangkap nama Dita yang disebutkan istrinya. Dengan cepat membuka mata, memandang wajah yang begitu sangat dia nantikan kepulangannya.


"Kamu sudah pulang? masih ingat punya orang tua?" ucap Rudi menyandarkan punggungnya pada headbed.


"Papi...kenapa sakit?"


"Dasar pria tua. Sakit kok dipengenin sih?" gerutunya menerima uluran telapak tangan Rudi yang terbuka untuknya. Pria itu menggenggam erat tangan Dita.


"Jangan pergi lagi. Saat lain kali kau kabur lagi, saat itu kau akan kehilangan papi, karena mungkin umurku sudah tidak akan bertahan lama lagi"


"Papi jangan ngomong gitu. Aku ga suka" Dita memeluk Rudi dan menangis di dada pria itu.


Untuk hari itu Dita tidak bisa mengatakan mengenai keadaannya saat ini. Dia ingin menunggu sampai Rudi lebih sehat dulu.


"Kenapa melamun?" tanya Dita menghampiri putrinya yang duduk di balkon kamar, menatap lurus menembus kegelapan malam.


"Mami..." ucapnya melempar senyum. "Kenapa belum tidur, mi?"


"Mungkin karena terlalu senang kamu sudah kembali, mami jadi ga bisa tidur, ngantuk lelahnya hilang" ucap Mita yang sudah duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Mami, ada hal yan ingin aku tanya"


"Ada apa, sayang?"


"Apa artinya aku sebagai anak mami?"


Dahi Mita mengkerut, tidak memahami maksud ucapan anak gadisnya itu.


"Iya, menurut mami, anak itu artinya apa sih bagi seorang ibu?"


"Segalanya. Dia diri kita, dia darah, dan juga hidup kita. Seorang ibu pasti akan sangat mencintai anaknya. Dia ada karena Allah yakin, melalui anak itu, Dia ingin membentuk kita jadi manusia yang lebih baik, karena saat menjadi seorang ibu, kepekaan dan perasaan cinta kasih itu akan muncul"


Mita menoleh, dan tersenyum pada Dita. "Seperti kamu, bagi mama kamu segalanya. Kamu yang buat mama menjadi wanita sempurna, terima sudah mau menjadi anak kami" lanjutnya. Dita hanya menunduk mendengarkan ucapan penuh kasih dari ibunya. Lantas kenapa dia sempat ragu pada anak yang kini ada dalam kandungannya?


"Mami...aku hamil"


Hanya suara jangkrik yang terdengar setelahnya. Kedua wanita itu diam. Mita menoleh mengamati wajah Dita, apakah putrinya itu hanya ingin bercanda padanya, tapi Dita yang dengan berani menatap mata Mita dengan berkaca-kaca membuat wanita itu justru terguncang karena mengetahui hal itu adalah kebenaran.


"Siapa pria itu?" desis Mita hampir tidak terdengar. Setahunya Dita tidak pernah memperkenalkan pacarnya pada mereka, jadi wajar kalau Mita bertanya.


Perlahan Dita menggeleng, yang semakin membuat Mita semakin hancur. Pikirannya sudah jauh melayang, menyimpulkan kalau putrinya sudah diperkosa orang.


"Dita..." akhirnya Mita berhasil mengeluarkan suara pekiknya dengan bulir air mata. Dipeluknya putrinya itu dengan terisak. Mengelus rambut panjang gadis itu berulang kali. "Mami ada disini untukmu, nak. Jangan khawatir, kita hadapi bersama"


Dita yang tidak mengerti namun tersentuh justru itu menangis. Dia kita mamanya akan memarahinya, atau bahkan memukul. Bagaimana pun, diantara kedua orang tuanya, walau Rudi yang paling tegas, tapi justru pria itu yang tidak ditakuti Dita. Tidak ada rasa takut pada ayahnya, tapi rasa sayang yang membuatnya sangat menghormati papinya. Berbeda dengan Mita, wanita itu hanya sesekali bicara, namun urusan attitude dan juga pertemanan, Mita paling getol mengawasi siapa saja orang-orang yang ada di lingkungan anaknya.


"Mami.." isak Dita terharu.


"Iyaa sayang. Kamu jangan jadi stres ya nak. Kita akan cari solusinya" Dita mengurai pelukan mereka.


"Tapi gimana aku menjelaskan pada papi? dia pasti sangat terkejut. Aku takut kalau papi nanti jadi jatuh sakit lagi" ucap Dita meremas jemarinya karena panik.


"Kita akan menghadap berdua. Kalau papi marah, mami akan lebih marah lagi"

__ADS_1


**Hai, aku datang lagi bawa list novel keren nih. mampir ya kak. makasih.



__ADS_2