Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Menunggumu


__ADS_3

Sudah dua jam Arun mondar mandir di depan rumah Alana. Rumah itu masih tampak kosong dan juga gelap tidak ada pencahayaan dari dalam, padahal ini sudah magrib.


Kekhawatiran membuat Arun kalang kabut, tidak bisa berpikir jernih. Hari ini di kantor, Arun juga tidak bisa berkonsentrasi. Dalam hatinya detik demi detik yang terlewati ibarat batas akhir hidupnya, menjelang pukul tiga nanti, hidupnya usai. Yah..dia tahu hari ini pukul tiga sore nanti, Alana akan melangsungkan pernikahan nya.


Dia tidak datang seperti yang sudah dia katakan pada Lily, hany wanita itu yang dia minta untuk hadir di sana mewakili keluarga, karena dari Lily dia mengetahui kalau orang tua mereka pun tidak hadir. Arun jelas mengutuk sikap ayah Alana yang tidak tegas, tega lepas tangan saat putrinya akan menikah alih-alih menghadirinya.


"Kenapa ayah tidak datang ke pernikahan Alana? dimana letak tanggung jawabnya selaku orang tua?" umpatnya geram pagi tadi saat bersiap mau ke kantor.


"Aku ga tahu hun, mereka cuma bilang ga bisa hadir. Ayah banyak kerjaan" Lily menunduk malu. Arun benar, tidak seharusnya orang tua mereka bersikap seperti itu.


"Ya sudah, kau saja yang datang menghadiri. Pastikan acara itu berlangsung dengan baik, dan Alana tidak kurang suatu apa pun. Kabari aku kalau ada apa-apa," tegas Arun berlalu pergi.


Tepat pukul setengah empat, ponsel Arun berdering. Pada layar tampak nama Lily yang muncul. Arun tahu mungkin Lily ingin memperlihatkan acara sakral itu berlangsung karena wanita itu melakukan panggilan video.


Arun hanya memperhatikan panggilan itu hingga berakhir. Dia tidak akan sanggup untuk melihat jalannya acara itu. Melihat Alana dinyatakan sah jadi istri pria lain.


"Alana..apa kau akan bahagia bersamanya nanti?" desisnya menatap layar ponselnya. Tiba-tiba kembali ponsel itu berdering lagi, dan masih Lily yang melakukan panggilan video.


Kali ini Arun tidak punya pilihan lain, selain menggeser tombol hijau ke atas. Objek yang pertama tampak adalah wajah tirus Lily yang tampak panik. Kadang Arun berpikir kenapa istrinya itu begitu cepat panik? masalah sesederhana apa pun akan mampu membuatnya tidak tenang.


"Hun.." pekik nya yang cukup mampu membuat Arun menutup satu matanya.


"Ada apa? kenapa wajahmu tampak khawatir begitu?"


"Ini..gimana ini hun.. Alana," ucap Lily terbata.


"Alana kenapa?" fokus Arun kembali berpusat pada layar ponsel dan juga apa yang dikatakan Lily.


"Pernikahan itu seperti batal. Kata WO nya, tidak ada kabar dari pihak keluarga, jadi baru berhasil menghubungi salah satu anggota keluarga Gara, dan mengabarkan acaranya dibatalkan. Gimana ini hun? Alana kemana? apa dia bunuh diri karena frustasi hun?" ucap Lily menerka-nerka.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu. Alana tidak akan sebodoh itu" ucap Arun.


"Tapi aku takut hun, dia nekat bunuh diri karena gagal nikah"


"Cukup Ly, Alana akan baik-baik saja. Dia gadis yang tegas, dia tidak akan melakukan hal sebodoh itu, dia bukan kau, " ucap Arun kesal. Pikiran Lily terlalu pendek.


"Kenapa hun? aku kurang dengar. Kau bilang apa? di sini agak bising" Lily memperjelas kalimat terakhir yang diucapkan Arun.


"Bukan apa-apa. Sudah lupakan," ucap Arun lega, kalimat yang menyatakan Lily bodoh tidak didengar wanita itu. "Tunggu di situ, aku segera datang" Arun segera menutup telepon dan menyambar jas nya.


Selama dalam perjalanan Arun terus berkutat dengan pikirannya. Walau dia bilang tadi Alana tidak mungkin melakukan tindakan sebodoh itu, tapi dia juga takut Alana kenapa-napa. Dia takut gadis itu sampai depresi, bahkan berakhir jadi gila.


Setelah memastikan pada pihak WO, Arun dan Lily pergi dari gedung itu menuju rumah. Sepanjang jalan Lily menghubunginya nomor Alana tapi tidak diangkat.


"Gimana? diangkat?" desak Arun ingin tahu. Sementara dia fokus menyetir, Arun meminta Lily untuk terus menghubungi Alana berulang-ulang sampai diangkat.


"Hun, gimana nih, jangan diam aja dong. Ngomong dong hun. Kalau kau diam, aku makin kalut nih" rengek Lily menarik-narik kemeja Arun.


"Hentikan Ly. Kau bisa tenang ga, aku lagi nyetir ini. Atau kau turun di sini aja, naik taxi pulang duluan" salak Arun kesal menghentikan mobil di pinggir jalan agar leluasa memarahi Lily.


"Jangan dong, masa turun di sini"


"Makanya diam" hardik Arun.


Dalam diam dan pikiran yang kalut, Arun terpikir untuk menghubungi nomor Gara. Dia yakin Lily pasti menyimpan pria brengsek itu. Lihat saja nanti, Arun akan buat perhitungan, apapun alasannya hingga membatalkan pernikahan tepat pada hari yang ditentukan.


"Ly, coba hubungi b*jingan itu," pinta Arun menoleh pada Lily sekilas lalu berbalik menatap jalan.


"B*jingan siapa?" tanya Lily bingung.

__ADS_1


"Astaga, semakin hari kenapa kau jadi lemot Ly? pacar Alana, cepat hubungi. Tanya Alana dimana?"


"Iya ya hun, kenapa ga kepikiran tanya Gara. bentar deh, aku punya nomor teleponnya kok"


Bukan Gara yang mengangkat telepon itu, tapi seorang gadis. Gadis itu mengatakan Gara sedang tidur, dan dari percakapan sekejap itu, mereka mengetahui bahwa pernikahan itu batal karena ayah Gara meninggal, dan Alana tadi memang datang ke pemakaman dan juga ikut ke rumah mereka, tapi sudah sejak sore tadi pulang.


"Jadi gimana hun? kemana kita cari Alana?" tanya Lily setelah menutup telepon.


Arun hanya diam. Bermain dengan pikirannya. Degub jantungnya masih tidak beraturan. Dia khawatir dan takut sesuatu yang buruk terjadi pada Alana.


Dimana kau Al.. aku sangat mengkhawatirkan mu. Bahkan tidak tahu keberadaan mu saat ini membuatku hampir gila. Aku mohon, jangan begini Al..


Setelah menunggu satu jam di teras rumah Alana, Lily pamit pulang dulu untuk melihat Arlan. "Aku balik dulu ya hun. Kasihan Arlan, jam segini biasanya udah mandi"


Arun hanya mengangguk. Lalu tinggallah dia sendiri menunggu Alana. Tidak ada insiden bunuh diri seperti dugaan Lily yang mengada-ada. Arun sudah memeriksa lewat kaca, rumah itu memang kosong.


Dua jam berlalu, Arun dengan setia menunggu Alana. Hatinya tidak tenang sampai gadis itu muncul.


Alana terkejut, memegang dadanya yang berdegup kencang karena kaget. "Abang ngapain sih berdiri disitu? di gelap-gelap kayak gitu, buat orang terkejut aja. Mau buat aku mati ketakutan ya?," umpat Alana masih syok.


"Kau yang buat aku mau mati rasanya. Kemana kau baru pulang jam segini?" hardiknya kesal. Berbulan tidak bertemu, membuat keduanya jadi canggung. Semenjak tinggal di sini, Alana tidak pernah bertemu Arun lagi. Ini pertemuan pertama mereka. Rasa kaget berujung jantung yang berdegup kencang akibat dikejutkan akan kehadiran Arun yang berdiri diam di gelap malam sudah hilang, berganti debar jantung di dada Alana yang terpukau melihat wajah Arun.


"Aneh, kenapa aku deg-degan ketemu sama bang Arun? please dong hati, bukannya kau baru di sakiti? baru patah hati karena gagal nikah? masa iya udah deg-degan aja lihat wajah bang Arun..," umpatnya Alana kesal.


***Hai aku back again πŸ˜…πŸ˜…


mau bilang, pertama terima kasih buat semua yang masih setia sama novel ini yang udah kasih dukungan, l love you all, aku doain sehat selalu kalian yah.


Kedua, seperti yang udah dikonsep dari awal, mulai part 71, dan kedepannya, tidak akan membuat konflik yang menguras air mata lagi. Ini udah masuk part ringan, yang buat ketawa aja.,πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜πŸ€ͺ Udahan dong sedih-sedih nya, aku mau buat kita enjoy aja sama cerita ini, jadi jangan ada yang nanya, si Alana berubah jadi gokil ya, karena sebenarnya anaknya emang seru, cuma karena tertekan dari kecil, jadi lebih tertutup. Begitu. Mmm..apa lagi ya..nanti deh aku pikirkan dulu. Pokoknya setiap komen yang ngasih masukan akan sangat berguna sekali. Segitu aja deh...muach😘😘😁

__ADS_1


__ADS_2