
"Kenapa melamun?" suara Arun dari belakang punggung Alana membuat gadis itu terhempas dari lamunannya dan segera menoleh ke asal suara itu.
"Udah pulang, bang?" tanyanya manja, merentangkan tangan agar Arun memeluknya.
"Keasikan melamun jadi ga lihat jam, hem?" Alana hanya bisa tersenyum melihat wajah Arun yang memicingkan matanya.
"Aku kangen Dita" mengantisipasi tubuhnya yang saat ini digendong Arun melorot, gadis mungil itu mengeratkan pegangan tangannya di leher Arun. Menyatukan ujung hidung keduanya menjadi salah satu kesenangan Alana belakangan ini.
"Udah lama dia tidak kemari" kini tangan Arun harus diletakkan dibawah bokong Alana, agar gadis itu tidak bergerak lasak di atas sana.
"Iya, katanya malah sampai lahiran," ucap Alana cemberut.
"Yang penting Dita dan bayinya baik-baik saja," lanjut Arun mengecup bibir mungil menggoda milik istrinya. Ciuman halus itu berubah menjadi ciuman menuntut. Perlahan Arun membawa permaisurinya mendekat ke ranjang.
"Mmm..jangan, abang kan belum mandi," tolak Alana saat pria besarnya itu menunjukkan niatnya, Alana paham. Memiliki suami yang memiliki gairah yang besar, membuat Alana harus menyiapkan tenaga ekstra. Walau kadang Alana mengatakan lagi tidak ingin, dan Arun bisa menerima, tapi Alana juga tahu itu kewajibannya. Sebisa mungkin Alana akan melayani dengan senang hati, karena gairahnya yang tersembunyi dalam dirinya pun sebenarnya sangat besar. Arun tahu bagaimana membuatnya terbakar, dari yang awalnya tidak terlalu ingin, justru pengen mengulang lagi.
"Kalau gitu, dikamar mandi aja" senyum sumringah di wajah tampan Arun tentu saja membuat Alana tidak berdaya untuk menolak. Setiap pria itu melepas senyum itu, jantung Alana akan berdegup kencang.
Aksi yang katanya mandi itu nyatanya memerlukan waktu hampir dua jam di dalam sana. Tubuh Alana rasanya remuk, namun binar di wajah suaminya cukup membayar lelahnya.
"Sini, aku bantu keringkan" Arun mengambil hairdryer ditangan Alana, dan mulai mengeringkan rambut wanitanya.
"Bang..."
"Hem?"
"Maaf ya, kalau aku belum hamil juga" suara Alana melemah. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, kenapa hingga saat ini belum hamil juga, padahal waktu dulu, sekali saja sudah ada Arlan.
Arun hanya tersenyum mendengar ucapan Alana yang dia tahu untuk mengatakan hal itu pun, gadis itu susah payah menahan air matanya agar jangan turun. Dasar gadis cengengnya!
__ADS_1
Kedua tangannya menangkup pipi Alana, hingga gadis memutar duduknya menghadap Arun. Benarkan, bola mata indah itu kini tengah berkaca-kaca. "Aku masih ingin memilikimu lebih banyak lagi. Kadang aku bahkan cemburu Arlan begitu lengket denganmu. Bahkan sama anak sendiri aku egois, ingin memilikimu, waktumu hanya untuk ku. Jadi ga papa kalau Arlan belum punya adik," sahutnya dengan sorot mata yang menenangkan Alana. Tidak ingin melihat air mata wanita itu jatuh karena saling tatap saat ini, Arun menunduk, menyatukan kening mereka.
"Aku mencintaimu apa adanya. Kita sudah memiliki Arlan, buah cinta kita. Jangan pikirkan hal lain. Cukup cintai aku dan Arlan, selebihnya biarkan saja sang Kuasa yang mengaturnya. Kau sangat berarti bagi kami, jangan sampai kau sakit bahkan stres memikirkan apa pun, apa lagi memikirkan omongan atau tuntutan orang lain, walaupun itu mertuamu"
Alana yang mendengarnya tersentak, mendongak lebih ke atas. Manik mata itu mengunci tatapan Alana. Dari mana pria itu bisa menebak isi hati Alana. "Abang kok ngomong gitu? mana ada mama ngomong apapun dengan ku" ucapnya menunduk.
Si bijak Arun hanya tersenyum. Hati istri kecilnya begitu polos dan sedikit naif. Tanpa harus mengatakan apapun, Arun tahu, kegelisahan Alana bersumber dari tuntutan mamanya. Arun menebak, wanita yang sudah melahirkannya itu pasti sering datang menemui Alana.
"Terimakasih karena sudah menjadi menantu yang begitu baik, menghargai mama dan papaku, tapi kewajiban mu, mengikut perkataan ku. Aku meminta jangan stres dengan masalah anak. Jika Tuhan ingin kita hanya punya Arlan saja, maka biarkan begitu. Kita nikmati kebahagiaan kita bertiga. Aku tahu kau ingin menjaga perasaanku dengan tidak menyalahkan mamaku, tapi percayalah aku akan marah jika wanita itu terus merongrong mu dengan tuntutan yang itu-itu saja"
Tes! Air mata Alana jatuh. Dia memang tidak ingin mengatakan pada Arun kalau
Hati pria ini terbuat dari apa ya Allah? kenapa dia begitu baik, begitu lembut saat berhadapan dengan ku? begitu berbeda saat diawal aku mengenalnya
"Jangan nangis, nanti aku marah," ucapnya mengulum senyum. Senyum yang menular, hingga Alana pun tersenyum. Diraihnya leher pria itu, lalu menciumnya dengan dalam, penuh cinta dan segenap rasa terima kasihnya.
***
Jadi yang bisa Alana lakukan hanya menunggu, sampai gadis itu pulang dan bertemu. Beruntung Alana masih punya kesibukan di toko dan juga mengurus Arlan yang kini mulai berlari ke sana kemari.
"Sini aku benerin, bang" Alana menjinjit untuk bisa membenarkan dasi Arun.
"Terimakasih," ucap Arun menangkup wajah istrinya dan membawa mendekat untuk bisa dia kecup.
"Jangan lupa malam ini, Al. Kita harus menghadiri acara peresmian proyek baru itu. Pukul tujuh malam kita berangkat"
"Boleh ga aku ga usah ikut aja?" Alana langsung ciut nyalinya kalau Arun berniat mengajaknya menghadiri acara formal perusahaan. Dia selalu tidak percaya diri akan penampilan dan juga pendidikannya yang hanya lulusan SMA.
"Kenapa gitu?" Arun yang sejak tadi menatap dirinya di cermin membalikkan badan melihat kearah Alana yang duduk ditepi tempat tidur, menatapnya dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Aku ga suka ikut acara begituan" rengek nya. Salah satu kekurangan dalam dirinya adalah kurangnya rasa percaya diri. Dia selalu minder melihat wanita-wanita cantik yang tampilannya begitu modis. Mereka akan tampil dengan anggun menemani para suami atau pasangannya berjalan menyapa dan menyalami sesama pengusaha yang hadir dalam acara itu.
"Please...aku ingin kau ikut. Aku akan begitu sempurna jika bisa menghadiri acara itu dengan menggandeng istri secantik ini," ucapnya lembut. Arun tahu isi hati Alana dan semua pergumulan dalam hati gadis itu, tapi yang tidak disadari Alana, bahwa dirinya itu sangat cantik. Wajah ayunya bisa menyihir siapa saja. Justru penampilan polosnya yang membuat orang ingin mendekati dan mengenalnya lebih jauh. Pria akan selalu seperti itu, penasaran dengan sesuatu yang lebih alami dan tertutup.
Mungkin yang sexy dan terbuka bisa menggoyahkan iman, membuat pandangan tertarik ingin mencoba, namun hanya sebatas itu. Yang tertinggal hanya rasa bosan setelah tahu bagaimana rasanya.
***
Mata Arun terus menatap paras cantik Alana yang berjalan perlahan menuruni anak tangga. Riasan dan juga pilihan gaun berwarna abu-abu itu melekat indah ditubuhnya.
Alana mengerti arti tatapan itu, dan ada satu kepuasan dihatinya. Hanya dengan mendapat senyum puas dari Arun mampu membuat Alana percaya diri, yah.. walaupun belum tampil pada acara itu.
"Kau sempurna" bisik Arun mengecup kening Alana. Gadis itu hanya tersipu malu, begitu berterimakasih pada Juli yang sudah membantunya memilih gaun, dan memberi saran memanggil salah satu perias wajah kerumahnya.
Tepat sampai di gedung acara, Alana mulai gugup. Rasa tidak percaya dirinya kembali, namun genggaman tangan Arun membuatnya sedikit lebih percaya diri.
Arun memperkenalkan Alana pada semua sahabat dan kolega bisnisnya. Semua menyambut kehadiran Alana penuh antusias, ingin melihat wanita yang kini menjadi istri kedua pria itu.
"Jangan pikirkan tatapan mereka yang coba membuatmu tidak nyaman. Mereka hanya iri kau begitu sempurna dari mereka" bisik Arun saat kegugupan Alana datang ketika bersalaman dengan istri pada pengusaha.
Acara berlanjut, Alana meminta izin pada Arun, untuk ke toilet. Dia harus mencari tempat agar bisa bernafas tanpa harus diselimuti rasa takut dan tidak nyaman.
"Hai, kita bertemu lagi. Awalnya aku ragu apakah kau orang nya. Tapi setelah ku amati dan bertemu langsung sedekat ini, kini aku yakin kau gadis yang ada di club itu"
***
Hai..aku datang. nunggu up, mampir yuk
__ADS_1