
Petir saling sahut-sahutan langit hitam, mengiringi dawai suara hujan yang membasahi tubuh Kasa. Dingin menusuk tulang, tapi tidak bisa mendinginkan bara api yang ada di dalam hatinya.
Dia pulang dengan kekalahan. Dia mengutuk dirinya karena sudah membuat Ayra kesakitan. Namun, dia tidak menyesal menghajar pria itu. Bahkan baginya belum cukup, ingin kembali menghajar pria bernama Wesly itu.
Jeritan Ayra membuat Kasa menyerah, tidak lagi membujuk gadis itu untuk mau bicara padanya. Ayra tetap pada pendiriannya, meminta putus.
Ck! Kasa menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. "Putus? Kita bahkan belum jadian, Ay!" cicitnya di antara derai hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.
Harga dirinyalah yang diinjak-injak. Dia yang dikhianati. Jelas-jelas matanya melihat Ayra berciuman dengan Wesly, jadi wajar kalau dia marah, tapi sialnya, justru Ayra yang lebih dulu melakukan playing victim.
Di tengah hujan, di atas motornya Kasa tertawa sekencang-kencang. Dia merasa dipermainkan anak bau kencur.
"Rasain, lu Kasa. Ini namanya karma. Selama ini lu sering banget mainin cewek, tiba giliran lu serius sayang, suka sama itu cewek, lu malah diselingkuhi!"
Mata Kasa mengabur dan perih disiram hujan siang itu. Penderita begitu sempurna. Padahal saat berangkat ke sekolah tadi, langit begitu cerah.
Semesta sepertinya ingin bercanda dengannya. Menguji kesabaran seorang Angkasa yang tidak punya kesabaran.
***
Di tempat lain, Arlan duduk sambil memperhatikan Sania yang sedang memasak makan siang untuknya. Mungkin ini sudah terlalu terlambat untuk makan siang karena sudah pukul tiga sore.
"Sudah masak. Silakan." Sania tersenyum kala menyajikan satu piring nasi goreng ala kadarnya. Jangan berharap terlalu banyak, Sania tidak punya kulkas begitupun bahan-bahan untuk masak.
"Wangi. Pasti enak," sambut Arlan semringah. Dia mulai mencicipi dan anggukan kepalanya yang berulang kali memberi jawaban kalau memang dia sangat menyukai masakan Sania.
Hati Sania begitu terasa hangat. Situasi yang begitu sederhana, tapi sangat membahagiakan. Mereka seperti keluarga kecil yang harmoni.
"Ar... Kamu suka anak kecil?"
Pertanyaan itu begitu saja meluncur dari bibirnya. Mengundang perhatian Arlan hingga mendongak pada Sania. Tatapan tajam seolah mengulitinya.
Raut wajah Sania memucat. Dia mengutuk lidahnya yang meracu.
"Suka, tapi tidak terlalu. Mereka terlalu berisik. "
__ADS_1
"Begitu." Sania menelan ludah, sudah kepalang tanggung. "Terus, kalau nanti kau punya anak?"
Suara sendok berdentang saat jari Arlan menjatuhkan ke sisi piring. Arlan menatap aneh pada Sania, lalu menepuk tempat di sampingnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba bahas soal anak?" tanya Arlan menyelidik. Deru napas Arlan bisa Sania rasakan karena begitu dekat jarak mereka.
"A-aku... Aku hanya ingin tahu pendapatmu."
"Tentu saja aku ingin punya anak denganmu. Tapi itu nanti, masih lama. Mungkin saat usia kita 30 tahun, setelah seluruh isi dunia aku aku persembahkan di bawah kakimu," jawab Arlan meletakkan dagunya di bahu Sania dengan tangan melingkar di pinggang rampingnya.
"Tidak untuk sekarang. Kita terlalu muda. Aku tidak mau kita terjebak dengan masalah anak untuk saat ini. Jadi lupakan keinginanmu untuk punya anak sekarang."
Ucapan Arlan menohok Sania detik itu juga. Harapannya hancur. Perkataan Kasa yang mengatakan kalau Arlan pasti mau bertanggung jawab untuk anak itu, membuatnya ragu.
Air mata Sania menetas mengenai tangan Arlan yang masih memeluknya.
"Hei, apa ini? Kenapa menangis?"
"Gak papa, mungkin kelilipan debu. Aku ke kamar mandi dulu, mau cuci muka."
"Kamu ikut aku. Kita pergi tinggalkan kota ini," putus Arlan setelah sekian lama mereka berdebat.
Arlan sudah mengambil keputusan. Dia sama sekali tidak akan menerima penawaran ayahnya. Dia tetap akan keluar negri, tapi kuliah di jurusan yang dia inginkan demi mewujudkan impiannya, dan Arlan ingin Sania ikut bersamanya.
Tubuh Sania lunglai. Keputusan Arlan tentu saja tidak bisa dia ikuti. Mana mungkin dia pergi dari kota ini, ada ayahnya di sini, satu-satunya keluarga yang dia punya. Lagi pula, dia tidak ingin menghunus pedang pada punggung Arun, tidak ingin dianggap pengkhianatan kalau sampai kabur bersama Arlan. Semua harus dipikirkan masak-masak. Belum lagi, bayi mereka yang tidak diinginkan Arlan. Pil pahit yang harus ditelan Sania.
"Kasihan kamu, Papamu tidak menginginkanmu," batin Sania, dengan gemetar, tangannya menyentuh permukaan perutnya.
"Kamu kenapa? Perutmu sakit?" Arlan menyentuh dan mengelus perut Sania. Hampir saja Sania menangis. Ini kali pertama Arlan menyentuh perutnya sejak ada bayi di dalam sana.
Sania menggeleng lemah. Dia memejamkan mata dan menarik napas, menekan semua perasaannya yang campur aduk. "Aku baik-baik aja."
Tidak penting memikirkan perasaannya saat ini. Dia harus berhasil menyakinkan Arlan. Kasihan Alana yang saat ini sakit, karena kepikiran pertengkaran Arlan hampir tiap malam dengan Arun.
Secara khusus, Arun menghubungi Sania, menanyakan misinya membujuk Arlan. Ketika dia mengatakan belum berhasil meyakin Arlan, Arun memohon untuk kembali membujuk, dan sebaiknya harus berhasil.
__ADS_1
Alasan yang membuat Sania mengajak bertemu siang ini. Dia akan memaksa Arlan menerima tawaran ayahnya agar dia terbebas dari beban ini. Arlan tentu saja menolak, bahkan sempat mengatainya sudah gila karena memilih berpisah. Hal itu masih bisa dia terima, tapi ketika Arlan menuduhnya bosan dan ingin berpisah dengannya karena menyukai pria lain, disitu Sania murka.
"Aku gak bisa ikut denganmu, Ar! Papaku di sini, meski dia gak mau menemuiku, tapi aku gak akan meninggalkannya."
"Alasan! Bilang aja kalau kamu memang ingin pisah dariku. Kenapa? Apa ada pria lain yang kamu sukai?"
Sania menatap jijik seketika pada Arlan. Mengapa pemikiran kotor itu bisa bersarang dalam benaknya? Padahal semua ini dia lakukan demi kebaikannya. Melepaskan dirinya dari tanggungjawab.
"Terserah!"
***
Sania duduk dengan jantung berdebar tak karuan, bergidik ngeri mengamati satu persatu pasien yang keluar dari ruangan kecil itu.
Raut wajah mengerikan yang mereka perlihatkan membuat hati Sania goyah. Apa keputusannya ini tepat?
Wajah mereka terlihat pucat, hampa dan kesakitan. Seperti zombi yang seluruh energi dan harapannya lenyap bersamaan dengan apa yang mereka buang di dalam sana.
Dengan perasaan hancur dan pikiran kalut, Sania mendatangi klinik terselubung ini. Setelah kemarin mendapatkan jawaban dari Arlan, dia semakin yakin untuk membuang janinnya.
Jeritan kembali terdengar dari dalam ruangan, membangkitkan bulu kuduknya. Dia memeluk perutnya, seakan tidak rela.
"Mbak Sania," panggil wanita berpakaian putih, menatap dingin ke arahnya.
Sania berdiri, memaksa kakinya untuk melangkah mengikuti wanita itu ke dalam ruangan mengerikan itu.
"Silakan menandatangi perjanjian ini."
Sania membaca dengan seksama dengan kondisi kepalanya yang mulai berkunang-kunang. Keterangan tidak akan menuntut setelah terjadi tindakan aborsi ini. Gemetar tangan Sania membubuhkan tanda tangannya. Dia akan menjadi pembunuh sebentar lagi.
"Silakan berbaring."
Dia menurut, dibantu suster, dia naik ke ranjang berdecit yang membuatnya semakin panik. Matanya menangkap alat-alat tajam yang dipersiapkan untuk mengeksekusi janinnya.
"Tahan ya, Mbak. Ini akan sedikit sakit."
__ADS_1