Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Silaturahmi


__ADS_3

Tongkat yang setia membantu nenek Rosi berjalan baru saja membantu wanita itu membalaskan rasa kesal dan juga kecewanya pada cucu tunggalnya itu.


"Sakit, Nek!" seru Kai memegangi kepalanya yang sedikit benjol.


Harusnya lebih dari itu yang kau terima! Apa benar kau keturunan Barrel? atau selama ini kau ternyata titisan Dajjal?!" amarah Rosi masih belum padam. Cucunya sudah membohonginya terlalu lama, dan kesalahan pria itu begitu besar. Menghamili seorang gadis, namun tidak langsung bertanggungjawab.


Kai sudah memberikan penjelasan, walaupun memang dinilai tidak semuanya adalah kesalahan pria itu, tapi Rosi tetap kecewa karena Kai tidak langsung mengakui kesalahannya.


"Aku kan sudah mengakui kesalahanku, Nek"


"Tutup mulutmu! berdoa saja lamaran mu akan diterima keluarga Setyawan!"


***


Kai menunggu dengan cemas. Berulang kali menoleh kebelakang. Jantungnya berdegup kencang, bahkan keringat dingin mengucur di keningnya. Sudah setengah jam mereka duduk menunggu tuan rumah, namun masih belum tampak.


Kedatangan mereka disambut oleh Mita dan juga Dita. Gadis itu tidak henti-hentinya tersenyum saat bertemu kembali dengan Kai. Hanya dia yang tahu, semalaman dia tidak bisa terlelap hanya karena tidak sabar menunggu pagi ini datang.


"Selamat datang, Nek" sambut Dita sumringah.


"Terimakasih cantik" nenek Rosi memberikan pelukan hangat sebagai ungkapan rasa gembiranya bertemu Dita, calon istri cucunya.


"Duduk dulu, Bu" Mita mempersilahkan tamunya, sementara Dita sudah pamit untuk memanggil Rudi. Berbincang hingga 30 menit kedepannya, Mita yang merasa tidak enak hati pada tamunya, permisi untuk naik menyusul Dita.

__ADS_1


"Apa-apaan sih kalian? kenapa lama sekali turun? ga enak kan sama Kai dan Bu Rosi," ucap Mita yang langsung menerjang dengan kata-kata begitu membuka pintu ruang kerja Rudi.


Namun kini dia sadari, atmosfer di ruangan itu tidak sehat, terasa mencekam. Rudi masih duduk di kursi kerjanya sementara Dita berdiri tepat di hadapan ayahnya dengan dagu terangkat dan tangan terlipat di dada.


Tanpa bertanya pun, Mita tahu ayah dan anak itu pasti telah berdebat. "Ta, turun lah lebih dulu, temani mereka. Papi dan Mami nanti nyusul." Dari tatapan matanya, sudah menjelaskan kalau Dita akan protes, namun anggukan Mita yang seolah memohon membuat gadis itu menurut.


Pintu sudah tertutup, baru setelahnya Mita buka suara. "Salah tetap salah. Namun kita sebagai orang tua dan juga manusia yang beragama, wajib hukumnya memaafkan seseorang yang sudah meminta permohonan maaf pada kita. Apalagi, ini bukanlah kesalahan Kai seutuhnya. Putri kita juga salah, dia yang pergi ke club itu, minum hingga mabuk dan tidak sadar sudah dibawa ke kamar hotel. Kai datang memasuki kamar miliknya sendiri yang sudah di datangi Dita sebelumnya."


Rudi hanya diam, namun dalam hati mengikuti setiap perkataan Mita. Dia sadar apa yang di katakan Mita ada benarnya. Saat itu dia bertengkar dengan Dita yang membuat putrinya itu kabur, jadi sebagai orang tua dia juga sudah gagal mendidik putrinya.


"Pi, Dita sangat mencintai Kai, begitupun dengan pria itu. Mami yakin, Kai sudah melepas atribut Casanova nya setelah bertemu dengan Dita. Terlebih, Kai itu ayahnya Kasa. Cucu kita butuh orang tua yang lengkap, orang tua kandungnya yang bisa menjaga, dan membesarkannya dengan penuh cinta. Jadi, yang bisa kita lakukan sekarang adalah merestui hubungan mereka, Pi."


Satu lagi kelebihan Mita, yang sangat dia kagumi, istrinya itu bisa lebih tenang, dan juga penuh dengan kasih. Bisa menjadi pengingat kala Rudi dipenuhi emosi.


Rudi menatap mata teduh itu. Mata yang bisa membuatnya menerjang segala rintangan saat mendapatkan cinta Mita dulu. "Ya, mari kita temui mereka"


***


Walau keberatan, Dita toh tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan Rudi yang memintanya masuk. Setelahnya, keempat orang itu membahas masalah tanggal yang tepat untuk hari pernikahan. Namun diawal, nenek Rosi buka bicara. Dia merasa perlu mengatakan sesuatu, perihal Permintaan maafnya karena perbuatan Kai terhadap Dita.


"Saya tahu, mungkin bapak dan ibu merasa berat menerima Kai untuk menjadi mantu di keluarga ini, tapi saya selaku orang yang sudah membesarkan Kai sejak kecil, bisa menjamin, anak ini adalah pria baik. Saya juga percaya kalau dia bisa membahagiakan Dita selamanya" ada getar pada nada bicara nenek Rosi. Wanita itu berjuang untuk tidak menurunkan kristal bening dari matanya.


"Iya, Bu. Kami juga yakin akan hal itu. Terlebih sudah ada Kasa, Kai pasti akan bertanggung jawab pada anak dan istrinya," ucap Mita menimpali.

__ADS_1


Setelah acara maaf memaafkan itu usai, ke-4 nya pun membahas perihal persiapan pernikahan, baik tanggal, tempat dan juga para tamu undangan.


Untuk masalah itu, mungkin Mita dan nenek Rosi saja berdua sudah cukup untuk membahasnya. "Ikut aku!" itu bukan permintaan, namun lebih ke perintah dari Rudi.


Kedua wanita yang asik bicara tadi, terdiam sesaat. Kai bangkit dan mengikuti langkah Rudi.


"Duduk!" kembali hardikan yang hanya diangguk Kai lemah.


"Aku memang menyetujui kau menikahi putriku, walau dengan berat hati. Tapi ingat, aku mengizinkan kau menikahinya, agar bisa membahagiakan dirinya sebagai jalanmu menebus kesalahan mu padanya. Jadi aku minta, tolong bahagiakan Dita. Aku bisa mengalami penderitaan apapun, tapi tidak melihat putri ku bersedih!" pria tegas itu tetap mempertahankan nada suaranya agar tetap tampak berwibawa, namun Kai bisa menebak, Rudi sudah diambang pertahanannya.


"Aku janji, Om. Hanya kebahagiaan saja lah yang akan aku berikan untuk Dita," jawab Kai menaruh hormat dan begitu merasa terharu melihat sikap Rudi yang begitu sangat menyayangi Dita. Itu mandat, juga amanah yang harus Kai jaga dan jalankan.


Setelah semua pembicaraan rampung, Mita meminta Dita turun membawa Kasa untuk bertemu dengan nenek Rosi. "Ini yang namanya Kasa?" tanya Rosi tertegun, memandangi bayi kecil nan montok yang kini ada di pangkuannya itu.


"Halo nenek," ucap Dita mengayunkan tangan Kasa menyapa nenek Rosi. Wanita itu masih tertegun, memandangi wajah Kasa yang berhasil membawanya pada satu sosok bocah kecil. Anak itu benar-benar replika Kai.


"Begitu mirip dengan papanya. Kai kecil benar-benar seperti Kasa" ucap Rosi penuh haru.


"Tapi Kasa pasti lebih cakep dong, Nek"


Ketiganya tertawa mendengar ucapan Dita yang seolah menjadi suara Kasa. Mita pamit membawa Kasa ke dalam karena bayi gembul itu pup.


"Dita..." Rosi menggenggam tangan gadis itu erat. Di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua. Nenek Rosi merasa perlu membicarakan Kai dan masa lalunya hingga membuat pria itu bimbang kala ingin mengajak Dita menikah setelah tahu dirinya yang merampas kehormatan gadis itu.

__ADS_1


"Kai bukan pria jahat yang mau enaknya tapi tidak bertanggung jawab. Semua ini karena masa lalunya. Kai kecil ditinggalkan ibunya yang sangat dia sayangi. Hingga saat itu, Kai tumbuh dengan segudang kebencian dan amarah pada setia orang. Itu pula lah yang membuat pria itu tidak percaya akan pernikahan," terang nenek Rosi.


__ADS_2