Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Kasih waktu


__ADS_3

Langkah pria itu begitu kaku kala memasuki ruang tamu. Gara sudah melambai, dan tersenyum padanya, namun tatapan pria itu masih tetap terkunci pada tatapan Alana yang juga sedikit terkejut melihat pria itu.


"Udah balik dari Jerman bang?" sapa Gara menanti pria itu duduk.


"Eh.. iya Ga. Ini ngantar mama kemari" ucapnya menatap Gara sekilas, lalu kembali melihat pada Alana. Walau kaku Alana bisa melepas senyumannya.


"Hai..apa kabar? kita ketemu lagi" sapa nya pada Alana yang menegakkan tubuhnya.


"Kalian udah kenal? ketemu dan kenalan dimana?" susul Gara yang sedikit bingung. Tapi Elrei tidak memperdulikan pertanyaan Gara, justru tetap mengamati Alana. Memastikan gadis ini lah yang jumpai malam itu. Gadis ini lah yang dia lihat disiksa oleh ibu tirinya, dan gadis ini lah yang harus menikah..


"Woi..biasa aja dong menatapnya, cewek gue nih" ucap Gara menggengam tangan Alasan erat. Elrei memang sepupunya, anak dari kakak mama Reni. Sejak kecil sudah sangat dekat dengan ketiga lajang di rumah itu. Elrei seusia dengan abang Gara yang nomor dua yang kini sudah menikah dan tinggal di Surabaya.


"Yakin ini cewek lo?" satu alis El terangkat dan sudut bibirnya tersenyum simpul.


"Gila lo ya bang. Ya kali cewek orang gue bawa kemari. Cewek gue lah"


"Siapa tau istri orang, ya kan Alana?" ucap El mengedipkan sebelah matanya pada Alana sembari kembali tersenyum.


Bisa ditebak, bagaimana reaksi Alana atas ucapan El? wajahnya memucat dan seakan roh nya terlepas dari tubuhnya.


"Sarap lo bang. Becandaan lo ga lucu. Lihat tuh wajah Alana sampai pucat gitu" salak Gara.


"Kamu ga papa Al? jangan tersinggung ya. Abang aku memang becandanya keterlaluan" ucap Gara menghapus telapak tangan Alana.


"Sorry, aku cuma mau menggoda Gara. Jangan diambil hati ya Al" ucapnya. Lalu lima belas kemudian, Gara dan Elrei sudah larut dalam obrolan klasik mereka. Alana hanya diam dan sesekali melepas senyum saat dirinya dimintai pendapat.


Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Alana dalam diamnya. Entah itu hanya candaan El, tapi kenapa begitu tepat? seketika wajahnya memucat. Alana mendongak, dipandanginya wajah pria itu yang ketepatan juga tengah menatapnya.


Apa mungkin saat dia dan ibu bicara, El masih di sana? tidak mungkin karena setahu Alana, saat Santi menyeretnya ke taman itu, tempat itu kosong. Jadi apa El sebenarnya tahu kartu As nya atau hanya sekedar menggoda dirinya?


"Ga, udan jam empat. Aku pamit pulang ya?" pembicaraan keduanya terhenti.


"Udah mau pulang yang? bentar aku pamit sama mama ya" Gara meninggalkan keduanya dalam diam.

__ADS_1


El memastikan kalau Gara sudah jauh dari ruangan itu. Alana meremas tangannya, takut kalau El akan mengajaknya bicara.


"Al..aku mau bicara. Bilang sama Gara, biar aku aja yang mengantarmu pulang. Aku juga mau pulang" suara El tegas, berbeda ketik dia bicara saat Gara bersama mereka.


Dari cara bicara El, Alana bisa tebak pria itu sedikit banyaknya tahu rahasianya. Kali ini Alana yakin, El ada di sana saat itu. Tapi sampai sejauh mana El mendengar pembicaraan nya dengan Santi?


Alana punya pilihan apa? dari pada El membuka semuanya di hadapan Gara, yang sumpah tidak akan sanggup bagi Alana menghadapinya, Alana memilih setuju dengan permintaan pria itu.


"Al, sebentar lagi ya? sekalian mau ngantar mama ke apotik katanya. Biar bareng"


"Gue aja yang ngantar Alana, Ga. Sekalian gue juga mau pulang. Biar lo bisa ngantar tante Reni" sambar El. Baru akan menolak, mulut Gara tidak jadi bersuara kala Alana bicara.


"Iya Ga. Aku nebeng sama bang El aja"


"Ga usah Al. Aku yang akan mengantarkan mu pulang"


"Njir, lo takut cewek lo gue apa-apain?" El merasa kesal dicurigai Gara. Padahal niat El baik, ingin meminta penjelasan pada Alana. Dia tidak akan terima kalau sampai Alana hanya ingin mempermainkan perasaan Gara.


"Ga papa Ga. Aku sama bang El aja ya. Kamu temani mama Reni" dukung Alana. Sekilas El melirik pada Alana.


"Benar ga papa Al?" secepat kilat Alana mengangguk mantap. Dia harus siap. Dia ingin tahu, sejauh mana El mendengar malam itu.


"Iya, ga papa"


***


El menghentikan mobil di salah satu cafe kecil yang mereka temui di pinggir jalan pulang. "Kita singgah di sini sebentar, ngobrol bentar ya" suara El tidak segarang tadi. Kini melembut dan membuat Alana merasa tidak takut lagi, tapi tetap saja gadis itu tidak tenang.


"Mau minum apa?" El memeriksa menu yang ada di katalog menu.


"Jus jeruk aja bang" sahut Alana pendek. Suasana kikuk pun terjadi. Berbeda saat mereka mengobrol riang di malam itu, tanpa beban dan tidak ada ketakutan akan terbongkarnya rahasia.


"Al.. boleh aku bertanya?" El memulai interogasi saat pelayan sudah mengambil buku menu dan membuat pesanan mereka. Alana hanya mengangguk, tenggorokannya kelat untuk menjawab.

__ADS_1


"Udah lama pacaran dengan Gara?"


"Hampir dua tahun bang"


"Kamu mencintainya?" El bahkan tidak memberi ruang untuk Alana menghela nafas. Kesekian kalinya Alana hanya mengangguk untuk jawabannya.


"Jadi Gara sudah tahu yang sebenarnya?"


Alana tersentak. Kepalanya mendongak menatap makhluk yang ada di depannya itu. Pertanyaan ini lah yang sejak awal ditakutkan Alana. Dengan lemah Alana menggeleng untuk pertama kalinya.


"Kenapa kau membohonginya? apa kau tega melihatnya terluka lebih lama?"


Si cengeng Alana yang dalam kekalutannya hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahnya seolah itu bisa mengubur dosa dan aib nya.


"Al.."


"Aku belum siap bang. Saat ini hanya Gara yang bisa buat ku bertahan untuk tidak mengakhiri hidupku. Aku sungguh belum sanggup kehilangan dia" ucapnya terisak.


Keadaan Alana sungguh menyedihkan. Belum selesai dengan persoalan rumah tangga dengan tiga hati ini, kini dia didesak untuk jujur pada orang yang paling berarti saat ini baginya.


"Tapi sampai kapan? setelah anak itu lahir?"


Lagi-lagi Alana tersentak. Jadi semua sudah diketahui El. Dia mendengar semuanya? dia mengutuk dirinya yang menyetujui untuk bertemu mama Reni. Kalau tidak kan dia tidak akan bertemu El hari ini.


"Bang, please..jangan desak aku. Aku sama sekali ga ada niat buat bohongi Gara. Kasih aku waktu, sampai aku siap. Aku sadar, aku juga bukan pilihan yang tepat untuknya setelah semua ini" cucuran air mata Alana menggerakkan hati El. sejak awal juga dia tidak ingin memojokkan Alana, hanya ingin melihat karakter yang sebenarnya.


Kini dia tahu, Alana gadis baik yang terjebak dalam keadaan dan pilihan hidup yang tidak menguntungkan nya. El pun merasa kasihan padanya.


"Baik lah Al, aku tunggu niat baikmu. Aku akan tutup mulut, tapi aku sarankan jangan terlalu lama, karena akan sangat menyakitkan bagi Gara kalau dia sampai tahu lama apa lagi dari orang lain.."


*** Hai..makasih masih setia, biar aku semangat up nya, please dong support kasih apa kek😅🙏😘


nunggu aku up, kuy kepoin novel teman aku, kamsamida 🙏😘

__ADS_1



__ADS_2