Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Menunaikan kewajiban


__ADS_3

Nadia membawa Gara masuk ke kamarnya. Dia meminta Gara untuk mandi dengan air hangat yang sudah dia siapkan dan mencuci rambutnya karena sudah kena hujan tadi.


20 menit menunggu, Gara keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggang. Sedikit gugup, serta terselip rasa malu membuat Gara canggung berhadapan dengan Nadia. Gadis itu hanya mengulum senyum. Selama jadi istri, baru kali ini Nadia melihat Gara bertelanjang dada. Biasanya pria itu selalu memakai pakaiannya di kamar mandi, atau meminta Nadia keluar dari kamar.


"Pakai ini" Nadia menyodorkan kaos dan juga celana training.


"Ini..."


"Punyaku. Ga mungkin kamu tetap pakai pakaian basah, kan?"


Benar, Gara tidak punya pilihan lain. Lagi pula ini pakaian istrinya, tidak jadi masalah. Hanya saja, gimana dengan pakaian dalamnya?


Seolah mengerti isi pikiran Gara, Nadia hanya tersenyum. "Kamu ga mungkin pakai punya ku, atau punya papa, kan? sekali-kali ga usah pakai saja" goda Nadia mengulum senyum.


Tidak tahan digoda, Gara buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, dan tidak berapa lama dia sudah keluar memakai pakaian Nadia.


"Tenang aja, tetap cakep kok. Yuk, turun" Nadia sudah balik badan, bersiap melangkah, namun tangan Gara menahannya.


"Aku mau bicara sebentar. Kalau boleh, kita bicara disini saja" Nadia mengangguk. Tidak masalah. Lagi pula status mereka masih suami istri jadi tidak zinah jika berduaan di dalam kamar.


Nadia mengambil tempat di tepi ranjang. Gara sendiri berinisiatif menarik kursi rias Nadia, dan menempatkan di depan Nadia. Keduanya terkunci dalam satu gadis titik.


"Boleh aku bicara lebih dulu?" Nadia memberanikan diri berbicara lebih dulu. Dia menerka, kedatangan Gara malam-malam begini dan meminta bicara terlebih dahulu, pasti ingin membahas perpisahan mereka. Jadi Nadia memutuskan untuk mempermudahnya.


"Silahkan" suara Gara begitu pelan, seolah waktunya bicara sudah tidak banyak lagi.


"Aku minta maaf, karena sudah pergi dari rumah tanpa izin mu. Maafkan aku"


"Baiklah..aku maafkan" sambar Gara tidak ingin membuat Nadia merasa lebih bersalah lagi.

__ADS_1


"Lalu masalah perceraian kita, aku akan bicara dengan papa. Kamu ga usah khawatir, papa akan mengerti dan tidak akan membencimu" Nadia menunduk, meremas jemarinya sebagai bentuk gugup dan sedihnya.


Diam sejenak. Nadia yang merasakan keheningan, mendongak tepat saat Gara menatap lekat ke dalam mata nya.


"Kamu sudah selesai bicara?"


Gadis itu mengangguk. Selesai sudah rumah tangganya. Ternyata janji masa kecilnya untuk menjadi permaisuri Gara hanya bertahan sebentar.


"Pertama, aku tidak akan menceraikan mu. Jadi aku mohon, buang pikiran itu jauh-jauh" Seketika Nadia yang sudah menundukkan wajahnya lagi, mendongak menatap mata Gara.


"Kedua, aku kesini untuk minta maaf. Selama ini aku sudah bersikap tidak adil padamu. Tidak menghargai dan menganggap mu. Aku menyesal dan kini menyadari arti mu dalam hidupku" dengan masih menatap mata Nadia, Gara menggenggam tangan gadis itu.


Serasa mimpi, Nadia mencubit tangan Gara Meyakinkan dirinya bahwa saat ini dia tidak bermimpi.


"Aau..Kenapa kau mencubit tanganku?" pekik Gara. Nadia hanya tersenyum manis padanya. Terserah pria itu menganggapnya gila atau apa, yang jelas, dia sangat bahagia mendengar pengakuan Gara saat ini. Tentang berartinya dirinya untuk pria itu.


"Tunggu dulu, apa kamu ga mau pisah dengan ku, karena tahu ternyata aku si ompong? jadi kamu merasa hutang budi?"


Gara mendekatkan kursi yang di dudukinya dan mengapit paha Nadia, dengan kedua tangannya menangkup wajah gadis itu. "Terima saja takdirmu, menjadi istriku selamanya"


Setelahnya hanya ada keheningan dan juga perasaan yang mengembang pada kedua anak manusia itu. Ciuman pertama yang Nadia jaga untuk pangerannya, akhirnya terwujud, berhasil dia persembahan untuk Gara nya.


Ciuman lembut itu berubah menjadi menuntut. Nadia si polos hanya membuka mulutnya malu-malu tanpa tahu cara membalas ciuman Gara. "Jangan tahan nafas mu saat aku mencium mu" bisik Gara setelah melepas bibirnya "Nanti kau pingsan" bisik nya tersenyum.


"Aku ga ngerti, belum pernah, soalnya"


Melihat wajah Nadia yang tertunduk malu-malu membuatnya gemes. Gara mengangkat dagu gadis itu, menatap ke dalam kilat matanya. "Apakah kau mau selalu berada di sisiku? menemani ku hingga akhir hayat ku?"


"Aku mau.." Gara tersenyum mendengar jawaban Nadia, dengan begitu dia kini sudah tenang untuk menjalankan kewajibannya selama ini yang sudah dia abaikan.

__ADS_1


"Aku menginginkanmu, Nad. Malam ini..." Nadia kini bisa melihat perubahan di mata Gara. Gambaran isi hati pria itu yang sebenarnya. Nadia gembira, suaminya yang sudah dia nikahi setahun lebih itu kini menginginkannya.


Tidak ada kata lain yang terucap. Tidak perlu merangkai kata, melalui tatapan sudah menjelaskan semua perasaan yang kini tengah mereka rasakan.


Malam itu menjadi awal tumbuhnya cinta mereka. Walau tidak terucap lewat lisan, tapi dalam hatinya Gara sudah bersumpah akan membahagiakan Nadia. Melupakan masa lalunya bersama Alana.


Selamanya akan tertulis Alana sebagai cinta pertamanya, namun Nadia lah yang menjadi cinta sejatinya. Gara yakin, hidupnya akan bahagia bersama Nadia, jika dia bisa melepas hatinya dari masa lalu.


"Kau percaya padaku?" bisik Gara dengan suara parau. Wajah Nadia sudah sangat merah, terbakar oleh tatapan serta ciuman dari Gara. Kulitnya panas, ketika setiap jengkalnya, diberi tanda cinta oleh Gara.


Saat ini, pria itu sedang menikmati bagian tubuh Nadia yang menjulang indah. Gara sampai bingung memutuskan mana yang lebih dia suka, kiri atau kanan. Terus bermain dengan put*ng nya, hingga Nadia melayang, tubuhnya seolah akan terkoyak karena tidak bisa membendung rasa nikmat yang baru pertama kali dia rasakan ini.


"Sayang, aku menginginkanmu sekarang" bisik Gara di bibir Nadia, lalu menj*lati permukaan bibir gadisnya, merasakan teksturnya yang lembut kini mulai bengkak. Suara d* sahan yang dikeluarkan Nadia menjadi sirene untuk Gara mulai menuntaskan permainan yang bahkan belum dimulai.


"Aku akan masuk" bisik Gara mulai melebarkan kedua paha Nadia. Gadis itu sudah kehilangan akalnya, yang dia inginkan adalah Gara berada dalam tubuhnya.


Hentakan pertama terasa sulit. Nadia begitu sempit dan yang membuat Gara berhenti sejenak ada rasa takut terpancar dimatanya.


"Jangan takut, awalnya mungkin akan terasa sakit, tapi aku janji itu hanya sebentar. Dan kalau kau tidak suka, maka aku akan berhenti" bisik Gara menenangkan.


Setelah mendapat anggukan dari Nadia, Gara memulai lagi. Kali ini memberikan penenang pada Nadia dengan menciumi leher jenjang gadis itu, menggigit pelan di tulang selangkanya hingga membuat Nadia mengejang nikmat.


Saat terbuai seperti itu lah, dengan sekali hentakan Gara masuk dan menjadikan Nadia miliknya seutuhnya.


Rasa nyeri itu datang menyapa, Nadia bahkan menancapkan kukunya di punggung Gara. Namun itu hanya sepersekian detik, karena setelahnya hanya rasa nikmat yang hadir.


Gara masih memimpin, bergerak lembut di dalam istrinya. Nadia bahkan kini sudah bisa mengikuti ritme yang dibuat Gara. Meliuk bersama, bergerak dalam kemesraan dan kesatuan hingga keduanya merasakan ledakan yang dahsyat akan mereka alami.


"Ga..aku..."

__ADS_1


"Iya Nad, kita bersama-sama, ya..."


Puncak yang mereka tuju memang terjal dan begitu sulit untuk ditaklukkan, namun jika bekerjasama, selaras satu tujuan dan saling mengerti, setinggi apapun puncak itu pasti bisa diraih.


__ADS_2