
Seminggu sudah Dita tidak ada kabar. Hapenya tidak bisa dihubungi, dia juga tidak pulang ke rumah. Bahkan om Rudi datang menemui Alana ke toko rotinya, berharap ada kabar berita mengenai Dita, nyatanya tidak ada.
"Jadi dia pergi kemana, Al?" tanya Rudi tertegun menatap wajah Alana. Berharap bisa mendapatkan titik terang akan keberadaan putri satu-satunya.
"Aku juga ga tahu om. Seminggu dia pergi, selama itu juga aku selalu mencarinya"
Pria yang sudah tampak memutih rambutnya itu pulang dengan tangan hampa. Perasaan sedih yang tergambar di matanya menjelaskan kasih sayang seorang ayah.
Alana ikut sedih, dia hanya berharap Dita akan baik-baik aja.
Seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya, pukul tiga sore, Alana akan pergi berkeliling mencari Dita. Gadis polos itu percaya kalau dilakukan dengan kesungguhan dan niat yang tulus, maka sang Khalik akan membukakan jalan. Siapa tahu dengan mendatangi beberapa tempat kesukaan mereka, Alana bisa bertemu dengan Dita.
Sudah berputar di salah satu mall hingga kakinya terasa pegal, tapi Alana masih belum bertemu dengan Dita, justru dengan seseorang yang tidak dia harapkan bertemu saat ini.
"Hai mbak" sapa Nadia
"Hai.." jawab Alana kaku.
"Belanja bulanan?" tanya Nadia menilik troli belanjaan Alana. Sebelum pulang Alana memutuskan untuk membeli pesanan bi Minah, dan yang terpenting bahan makanan untuk Arlan dan tak ketinggalan susu formulanya.
"I-iya nih. Kamu juga?" tanya Alana basa basi. Sebenarnya keduanya juga tahu kalau mereka terasa canggung jika ngobrol berdua begini.
"Iya, cuma belum mulai, baru nyampe soalnya" ucap Nadia tahu maksud lirikan Alana pada troli miliknya yang masih kosong.
"Oh, kalau begitu, aku duluan ya" Alana mengangguk sembari tersenyum mendorong troli, namun tangan Alana yang menahan troli itu membuat Alana menghentikan langkahnya.
"Bisakah kita bicara sebentar, mbak?" tanya Nadia lembut, ada nada memohon di sana.
Alana menerka-nerka, apa yang ingin dibicarakan Nadia padanya? bukankah akan semakin terasa canggung jika mereka membahas yang seharusnya mereka lupakan? Tapi dari pada Alana menduga-duga, sekalian diikuti saja kemauan gadis itu.
"Mau pesan apa, mbak?" tanya Nadia mendorong daftar menu kehadapan Alana.
__ADS_1
"Aku lemon tea hangat aja" sahut Alana pendek. Mereka bukan teman, hanya sekali saja pernah bersua dan berbicara, itu pun saat itu mereka berempat, lalu sekarang duduk berdua tentu saja membuat keduanya mati kamus.
Alana masih diam, menunduk seolah menatap layar ponselnya menunggu Nadia lebih dulu mengutarakan niatnya.
"Maaf, kalau aku sudah mengganggu waktu, mbak"
"Alana, panggil Alana aja" sambar Alana merasa kurang pas kalau harus dipanggil mbak karena nyatanya mereka juga seumuran.
"Oh...iya, Al" sahut Nadia kikuk. Pembicaraan terjeda karena pelayan cafe itu membawa pesanan mereka.
"Jadi, aku meminta waktu mbak...maksudku, Al...aku ingin membahas masalah mas Gara"
Air yang baru saja Alana sedot hampir saja muncrat dari hidungnya. Seketika jantungnya berdebar kencang. Kenapa Nadia ingin membicarakan suaminya pada Alana?
"Maaf, maksudnya? kalau kamu pikir aku ada hubungan lagi dengan Gara, kamu salah. Kita ga punya hubungan apapun lagi" tegas Alana saat bisa menebak kearah mana maksud Nadia.
"Bukan...bukan itu, Al. Aku mengajak mu bicara, karena aku butuh teman, untuk sharing apa yang sedang aku rasakan. Kenapa harus kamu, karena kamu sudah mengenal suami aku lebih baik dari aku" ucapnya pelan. Sakit untuk mengucapkan kenyataan yang ada dihadapannya itu. Untuk menelan salivanya sekarang terasa berat.
"Aku mohon, Al..." suara mengiba Nadia begitu menyayat hati.
"Maaf aku ga bisa, Nad"
"Dia masih mencintaimu, bahkan tidak menyentuh ku mulai dari kami menikah hingga saat ini. Aku hanya patung baginya, Al.." ucap Nadia tegas. Tidak perduli jika pengunjung yang ada di cafe itu mendengar pembicaraan mereka. Bahkan kini Nadia sudah menangis.
Alana melirik sekitarnya, lalu kembali melihat pada Nadia. Hatinya tidak tega meninggalkan gadis itu menangis seorang diri. Walau dia juga pasti akan menyesali keputusannya untuk kembali berbicara dengan gadis itu, terlebih karena membahas masalah rumah tangga orang lain.
"Nih.." Alana menyodorkan dua helai tisu pada Nadia, yang diambil gadis itu sembari mengucap terimakasih.
"Sebenarnya apa yang perlu kamu bahas denganku? kamu tahu betul aku tidak akan nyaman membahas apapun itu yang berhubungan dengan Gara" ucap Alana melipat tangan di dada, menunggu gadis di depannya itu mampu berkata lagi.
"Al, kasih aku saran apa yang harus aku lakukan? pernikahan ini seperti di neraka bagiku. Tidak sekalipun Gara mau memandangku. Tidak menganggapku seperti istrinya. Bahkan yang paling menyakitkan, dalam tidurnya, dia selalu menyebut namamu, tepat saat dia berada di sebelah ku" ucap Nadia meremas tisu bekas menyeka air matanya tadi.
__ADS_1
"Aku tidak bisa memberimu saran apapun, Nad. Kamu tahu sendiri bagaimana perpisahan kami terjadi" jawab Alana lemah, kembali membawa dirinya ke hari paling menyedihkan itu.
"Apa ini karma, Al? apa kamu menyumpahi pernikahan kami dulu?"
Satu senyum dikulum pada wajah Alana, merasa hidup begitu tidak adil. Dulu saat dia ditinggalkan Gara sendirian, tidak ada satu orang pun yang merasa perbuatan mereka itu menyakiti nya, dan kini setelah semuanya berjalan tidak sesuai keinginan mereka, Alana juga lah yang dituduh menyumpahi.
"Aku tidak pernah menyumpahi pernikahan kalian. Aku ikhlas, karena aku yakin Allah sudah menyiapkan jodoh yang baik untukku. Sudah lah, Nad...jangan dipikirkan lagi. Aku sudah melupakan semua masa lalu"
"Tapi Gara belum bisa melupakanmu. Kalau seandainya aku berpisah dengannya, maukah kamu kembali ke sisinya, Al?"
Alana pasti akan sangat marah jika Nadia mengatakan itu hanya untuk bercanda, tapi karena melihat wajah sedih dan frustasinya, Alana akan memaafkannya kali ini.
"Nadia, sampai kapan pun aku tidak akan pernah kembali pada Gara. Aku sudah memiliki suami yang sangat aku cintai dan juga sangat mencintaiku"
"Nadia, mungkin saat ini sangat sulit buatmu mendapatkan hati Gara. Tapi percayalah suatu hari kau akan mendapatkan cintanya. Menikah dengan Gara adalah pilihan mu juga, jadi jika saat ini kamu berada dalam kesusahan menggapai kebahagiaan, bersabarlah. Hanya itu yang bisa aku sarankan"
"Dia tidak menginginkan ku, Al.."
"Gara adalah pria yang sulit didekati, tapi aku yakin, dia akan jatuh cinta padamu"
"Maukah kamu bertemu dan berbicara padanya?"
Alana menyimpulkan, Nadia pasti sudah stres. Istri mana yang meminta mantan suaminya menemui suaminya sendiri?
"Maaf, Nadia. Aku ga bisa. Ada batasan sebagai seorang istri yang harus ku jaga. Aku tidak ingin menyakiti perasaan suamiku, terlebih aku memang tidak ingin bertemu dengan Gara. Aku permisi" ucap Alana melangkah pergi. Dia jadi melupakan misinya mencari Dita.
***
Hai, nunggu up, yuk mampir siapa tahu suka🙏😁
__ADS_1