Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Mimpi rasa nyata


__ADS_3

Arun membawa Alana ke sebuah pintu. Saat pintu itu dibuka oleh pria itu, tampak didalamnya sebuah taman indah, yang terdapat banyak bunga warna warni dan juga ada air terjun yang mengalir membentuk telaga yang jernih sekali.


Alana terus mengikuti langkah Arun, tanpa bicara dan tanpa penolakan. Pria itu membawanya duduk di pinggir telaga, mendengar suara air yang mengalir. Arun menyentuh air dingin itu, lalu menyapukan ke leher Alana yang membuat mata gadis itu terpejam. "Kau cantik sayang ku" bisik Arun hingga menggetar jiwanya.


Genggaman tangan Arun semakin kencang meremas tangan Alana. Tatapan mereka kini beradu, seolah tidak butuh bibir berbicara karena cukup mata yang berkata.


Tanpa ragu, Arun mendekatkan bibirnya pada Alana, merasakan tekstur lembut bibir gadis itu. Alana memejamkan mata, ingin menikmati rasa yang dulu membuatnya terpukau dan menginginkan lagi.


Ciuman yang awalnya hanya sekilas itu kemudian menjadi ciuman yang menuntut, mendamba hingga desakan lidah Arun yang mengharapkan Alana membuka mulutnya tercapai. Dengan lembut Arun memancing rasa ingi Alana, mengh*sap lidah lembut milik Alana hingga gadis itu mendesah nikmat.


Arun semakin menggila, ******* itu bak ibarat lonceng yang berdentang di kepalanya, dia mau lagi. Ciuman berubah jadi hisapan dan kini pria itu ******* bibir Alana dengan rakus. Memancing Alana untuk ikut bermain, saat lidah Arun menyapu langit-langit mulut Alana, gadis itu terbakar. Bahkan tangannya sudah tidak bisa dikondisikan. Meraba leher Arun, menjelajah hingga ke bagian dada pria itu, lalu turun lebih kebawah, merasakan perut rata pria itu dan bermain dengan bulu halus yang ada di sekeliling pusar Arun, memanjang hingga kebawah lagi.


Panasnya aksi laga bibir itu mampu membakar Alana hingga titik terendah, dia siap, dia basah. Tangannya sudah mulai turun lebih kebawah, mencari jati diri Arun, hingga berhenti ketika ujung jarinya sudah menyentuh sesuatu yang menetas. Alana ingin memegangnya lebih lagi, dan saat keinginannya sudah akan tercapai,


"Non, bangun non. Den Arlan mau nyusu" ucap bi Minah menggoyangkan kaki Alana agar mau bangun. Sudah lebih 10 menit bi Minah memanggil Alana, mengetuk pintu tidak di buka. Hingga bi Minah memutuskan untuk masuk ke kamar untuk melihat keadaan Alana. Dia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada majikannya itu.


Nyatanya saat masuk, Alana sedang bergelung dengan selimut tebalnya, terbuai mimpi panasnya.


"Hah? kenapa bi?"


"Ini den Arlan lapar, mau nyusu sama mama nya"


"Eh, anak mama sini" ucap Alana menyibak selimutnya. Alat pendingin dikamar itu masih berfungsinya dengan baik, tapi kenapa tubuhnya berkeringat?


Bi Minah sudah keluar. Alana membuka kancing baju tidurnya, dan mulai mengasihi Arlan, namun getar hatinya masih saja belum stabil.


Jauh dibawah pusarnya bahkan masih terasa berdenyut. Alana malu sekali. Paginya disambut dengan mengingat mimpi indahnya tadi malam. Malu-malu Alana mengingat apa yang dia dan Arun lakukan dalam mimpi. Dia bahkan sampai menutup wajahnya dengan tangan mungil Arlan, karena malu atas sikap berani pada Arun.


Mimpi itu terasa nyata, Alan menikmati setiap sentuhan Arun, bahkan dengan tidak tahu malunya mengumpat kesal pada bi Minah karena sudah membangunkan dirinya, kalau tidak pasti tangannya akan berhasil menggenggam pusaka sakti milik Arun.

__ADS_1


"Ya ampun, kok aku ga tahu malu gini sih? maaf Tuhan, aku lupa diri" cicitnya mengusap wajahnya dengan tangan, berharap semua adegan panas itu bisa hilang dari pikirannya.


"Dek, papa kamu kok bisa cakep banget sih. Nanti kalau udah gede, jangan buat baper banyak cewek-cewek ya dek," ucapnya mengajak bicara Arlan.


***


Selepas menidurkan Arlan, Alana berencana mengunjungi Lily. Dia ingin memastikan kakaknya itu baik-baik saja. Sejak dia pertemuan mereka kemarin Alana merasa khawatir.


Tapi belum sampai di ujung pintu, ponsel Alana bergetar. Nomor yang tidak dikenal. Bola mata Alana seketika membulat, ingatannya tertuju pada Kaisar. Apa mungkin dia ingin menagih janji Alana.


"Halo.." sapa Alana tak bersemangat.


"Halo, ini mbak Alana?" tanya suara di seberang sana memastikan.


"Iya, maaf ini siapa?" tanya Alana memastikan. Pasalnya itu bukan suara Kaisar.


"Ini saya, pak Jarwo, yang punya ruko yang mau mbak sewa kemarin"


"Ini, saya mau nawarkan ruko itu lagi, mbak jadi kan sewa rukonya? ga papa deh, seharga yang mbak minta kemarin"


Wajah sumringah Alana muncul. Ini kabar terbaik yang dia dapat selama ini. "Mau pak, mau banget. Kapan kita bisa ketemu pak?" tanya Alana tidak sabar.


"Kalau bisa hari ini mbak. Kita ketemu di cafe Kenangan aja ya mbak, biar dekat dekan rukonya"


"Siap pak. Saya segera kesana"


***


Kalau ada yang bilang, kalau sudah rejeki tidak akan kemana, nyatanya benar. Buktinya Alana tidak menyangka, ruko impiannya yang harus dia lepaskan karena harga sewa yang tidak terjangkau olehnya, nyata setelah dua hari kini si pemiliknya justru menawarkan padanya.

__ADS_1


Surat sewa sudah di sediakan oleh pak Jarwo, dengan sigap langsung mengeluarkannya segera menempelkan materai 6000 untuk ditandatanganinya.


Saat tiba giliran Alana menandatangani surat kontrak itu, Alana tertegun membaca nama si pemilik gedung. 'Yang bertanda tangan dibawah ini, SOPO JARWO'..


"Loh, nama bapak Sopo Jarwo ya pak?" tanya Alana mendongak dari kertas menatap wajah pria 50 tahunan itu.


"Hah? eh iya mbak. Kenapa mbak?" tanya nya penasaran. Perasaan pria itu, tidak ada yang salah atas namanya.


"Adit nya kemana pak?" tanya Alana asal sembari menyembunyikan senyum, saat menandatangani surat perjanjian sewa itu.


"Oh, ada di rumah. Mbak kok kenal anak saya?" tanya pak Jarwo penasaran.


"Hah? nama anak bapak Adit?" kali ini Alana benar-benar terkejut.


"Iya, memangnya kenapa mbak?"


"Hah? ga papa pak. Anak lainnya namanya Denis ga pak?"


"Bukan, anak saya satunya namanya Adel"


Huaaaahahhahah..tawa Alana tidak bisa dibendung. Mata pak Jarwo menatapnya semakin aneh. Dia menerka apa Alana punya gangguan jiwa yang mau tertawa tiba-tiba tanpa sebab.


"Ini, kuncinya. Selamat menempati ya mbak. Semoga usaha toko rotinya sukses" ucap pak Jarwo menyerahkan kunci.


"Amin, makasih ya pak. Tapi saya boleh tahu ga, kok bapak tiba-tiba berubah pikiran, ngasih ruko ini saya sewa?" tanya Alana tiba-tiba, membuat pak Jarwo bingung harus jawab apa.


"Oh..itu.. itu..karena saya butuh uang mbak. Ada keperluan tiba-tiba" ucapnya meringis.


Urusan tanda tangan dan penyerahan kunci sudah selesai. Alana pulang dengan hati riang. Sebelum pulang ke rumah, Alana singgah ke swalayan membeli cemilan dan buah, dia ingin singgah ke rumah Lily dan memberikan buah pada Lily.

__ADS_1


Setelah Alana pergi, buru-buru pak Jarwo mengeluarkan ponselnya. "Halo pak? sesuai arahan bapak, saya sudah menyerahkan kuncinya pada mbak Alana. Iya pak, sesuai perintah bapak, dia tidak curiga. Terimakasih pak, sudah membeli ruko saya dengan harga tinggi" ucap pak Jarwo lewat sambungan telepon.


__ADS_2