
"Lo cantik banget, sumpah. Anggun banget" puji Dita berkali-kali yang membuat rona merah di pipi Alana semakin bertahan lama.
Bahkan gadis itu pun membenarkan pendapat sahabatnya itu. Benar kata orang kebahagiaan dan hati yang riang bisa menjadi obat awet muda hingga wajah tampak bersinar.
Alana sudah menutup lembar kisahnya dengan Arun. Dia sudah membuka hatinya untuk Gara dengan tulus, yah..walau pun masih mencoba seutuhnya, tapi kan setidaknya Alana sudah punya niat baik membingkai hati hanya untuk Gara. Semua butuh proses kan?
"Kamu ga turun dulu?" tanya Alana saat mobil Dita sudah berhenti di halaman rumah.
"Lain kali deh, gue buru-buru juga mau jemput mama di tempat arisannya"
"Ok deh, thanks banyak ya, Ta."
"Sip..peluk cium buat ponakan tertampan gue ya.." Alana mengangguk sembari tersenyum. Arlan memang sedang ada di rumah Lily.
"Ingat, tiga hari lagi jadi pengantin, jangan banyak pikiran, harus relaks. Besok gue suruh mbak salon ke rumah lo" lagi-lagi Alana hanya mengangguk dan tersenyum.
Karena sudah hampir jam tiga Lily belum mengantar Arlan, Alana memutuskan untuk ke rumah mereka. Lagi pula ini belum jam pulang kantor Arun, jadi dia tidak perlu resah bertemu dengan pria itu.
Dari kejauhan, Alana sudah melihat Lily yang bermain dengan Arlan di teras rumah. Umur Arlan masih tiga bulan lebih, tapi mainan yang dibelikan Lily dan Arun bahkan sudah ada untuk anak 10 tahun. Alana bisa membayangkan saat sudah besar nanti bagaimana kedua orang itu akan memanjakan anaknya. Lily memang tidak tahu cara merawat anak, tapi Lily sayang sekali pada Arlan, hal itu tidak perlu diragukan lagi.
"Seru amat.." ucap Alana mendekati kedua orang itu.
"Eh, Al..kau sudah datang" ucap Lily tersenyum. Dia kini lebih menikmati hidupnya. Semua terasa damai. Arun ada di sisinya, hanya menjadi miliknya tanpa harus khawatir atau cemburu kala Alana ada diantara mereka. Walaupun hanya Lily lah yang tahu, bahwa sejak pertengkarannya di rumah sakit kemarin dengan Arun, pria itu tidak lagi pernah menjamahnya.
Setiap Lily menuntut haknya, Arun akan mencium keningnya dan meminta maaf pada Lily karena dia tidak bisa lagi menjalankan kewajibannya sebagai suami.
"Maaf Ly. Kau berhak marah dan mengutukku, tapi aku sungguh tidak bisa melakukannya. Aku tidak ingin jadi pria brengsek, menggauli mu namun membayangkan wanita lain yang bersamaku" ucap Arun malam itu. Lily marah, benci tapi apa yang bisa dia lakukan?
__ADS_1
Dia justru bersyukur Arun jujur padanya, walau sangat menyakitkan. Berjalannya waktu, Lily coba menerima keadaan itu. Tidak ada yang berubah dari Arun, pria itu tetap memperhatikannya, tetap menyayangi namun hanya bentuk hubungan mereka yang tak lagi sama. Arun dan Lily kini lebih menikmati kebersamaan mereka seperti sahabat.
Sampai kapan? entahlah..biarkan keduanya membalut luka mereka masing-masing terlebih dahulu. Sisa nya biar sang Maha Kuasa yang mengatur takdir mereka.
"Udah selesai fitting nya?"
"Udah kak. Jangan lupa ya kak, acaranya hari Kamis. Kasih tahu bang Arun juga, kalau bisa kalian datang bersama" pinta Alana menatap Lily.
"Cie..milih harinya pas bener. Malamnya langsung bisa malam jumatan dong..Hehehe" Lily tertawa menggoda Alana, dengan mentoel pinggang gadis itu.
"Iih..kak Lily, apaan si.." sahut Alana menunduk malu.
"Iya, nanti aku sampaikan. Mudah-mudahan dia bisa. Kamu..kamu ga papa kalau Arun datang saat ijab kabul itu?"
"Ga papa kak. Memangnya kenapa?" tanya Alana lirih, membelai pipi gembul Arlan.
"Ya ga papa, Kakak cuma takut jadi ga nyaman situasinya. Aku tahu kau dan Arun.."
"Sudah kak. Jangan dibahas lagi. Semua itu masa lalu. Aku ingin memulai lembar hidupku dengan kebahagiaan tanpa adanya rasa sakit hati" ucap Alana tersenyum.
***
"Hun, tadi Alana kesini, mampir jemput Arlan sekaligus mengingatkan kita acara nikahnya hari Kamis nanti" Lily menyerahkan kaos oblong pada suaminya yang baru saja selesai mandi. Hari ini Arun pulang selepas magrib. Kerjaan di kantor menumpuk. Salah satu mitra kerjanya ingin memindahkan kuasa atas saham kerja sama mereka pada putranya, jadi Arun harus membuat draft mengenai semua bentuk kerja sama mereka dan juga keuntungan cabang yang sudah mereka dapatkan selama kerja sama ini berlangsung.
"Hun, dengar ga sih?" ulang Lily yang melihat Arun tidak memberi tanggapan, justru berjalan santai ke meja kerjanya di kamar itu setelah memakai kaosnya.
"Iya aku dengar Ly"
__ADS_1
"Alana harap kita bisa hadir"
"Mungkin aku ga bisa. Tapi kau pergilah. Pastikan semua yang dia butuhkan terpenuhi, lengkapi perhiasan dan pakaiannya, agar pihak keluarga mempelai pria tidak memandang rendah padanya" ucap Arun masih menatap layar laptopnya.
Lily menatap Arun, pria itu tampak tidak terpengaruh oleh apapun yang terjadi pada Alana. Namun Lily menebak, prianya itu sudah mengubur nama itu jauh lebih dalam di dasar hatinya, hingga saat ingin melupakan, maka taruhannya adalah nyawa.
Pukul sebelas malam, barulah Arun masuk kembali ke kamar tidurnya. Lily sudah terlelap dalam buaian mimpinya. Sekilas Arun menatap wanita itu dan membenarkan selimut yang hanya sampai mata kaki dia kenakan.
Arun keluar, berdiri di balkon kamar menikmati sapuan dingin udara malam. Berkutat dengan suara hati dan pikirannya sendiri.
POV Arun :
Angin malam yang dingin ini nyatanya tidak bisa mendinginkan hatiku. Terlalu sakit, saat pertama kali aku mendengar kau akan menikah, Al. Aku tahu aku sudah tidak berhak, kau pantas untuk bahagia. Tapi tahu kah kau, kalau aku melepas mu adalah bentuk cinta tulus ku padamu? jika memang bukan aku yang bisa membuatmu bahagia, maka aku akan melepaskan mu.
Sakit Al..tapi aku bisa apa? aku menyesal menjadikanmu yang kedua, tapi aku tidak akan menyesal pernah mencintaimu. Bahkan kini aku tidak bisa menyentuh wanita lain lagi, ironis kan Al..
Membayangkan mu bersama pria lain, membuatku merasa sakit Al. Maafkan aku, aku tidak mungkin bisa menghadiri pernikahanmu, terlalu sakit, sayang..aku tidak akan sanggup melihat senyum bahagia mu dihari itu nanti..
Aku sudah coba menepis bayanganmu, Al.. berusaha menerima kenyataan, tapi aku sungguh tidak bisa. Aku pria brengsek yang ingin mengemis cinta padamu, tapi aku tidak sanggup melihat air mata kesedihan dari wajahmu, lalu aku harus apa Al..? bagaimana aku harus melalui hari-hariku selanjutnya tanpa mu Al?
Aku tahu, kau pun menyimpan rasa padaku, membuangnya seolah tidak berarti hanya karena memikirkan orang lain. Yang tidak kau sadari Al, perpisahan yang kau minta bukanlah kebebasan yang kau butuhkan, karena nyatanya kita masih sama-sama tersesat dalam labirin rindu..
Aku tahu Al, yang sakit itu bukan perpisahan atau saat mengucap kata pisah..tapi harus melihatmu bahagia dengan orang yang berbeda, merelakan mu, lalu aku harus berjuang menghapus segala kenangan tentangmu.
Semoga bahagia Al..akan ku cabut sekali lagi rasa ini, hati ini yang menjadi milikmu, lalu akan ku buang, ku kubur ke dasar tanah yang terdalam, hingga saatnya kita bertemu entah itu dimana suatu hari nanti, kita bisa saling menyapa, tanpa menghindar.. berbahagialah sayang, meski bukan tanganku yang menggandeng mu..
*** Ini yang minta POV Arun, done ya. mewek aku bah! ðŸ˜ðŸ˜ tanggung jawab dong, kasih aku hadiah, karena udah buat Penggalan POV Arun melepas Alana..😩😩😥😥🤧
__ADS_1