
Dua hari setelahnya, mama Reni menghubunginya. Menyampaikan dengan pekikan gembira kalau Gara sudah keluar dari masa kritisnya, hanya menunggu siuman dan berbicara dengan mereka.
Alana ikut gembira akan hal itu. Dalam sujud nya, dia selalu berdoa untuk kesembuhan Gara. Malam itu, dia berbicara dengan Nadia. Gadis itu bercerita banyak, seolah besok tidak akan punya waktu untuk melakukan hal itu lagi.
"Aku minta maaf, masuk diantara kamu dan Gara. Karena aku, kalian batal nikah" suara Nadia terdengar sendu.
"Nad, aku mohon jangan bicarakan hal itu lagi. Semua sudah berlalu, aku tidak lagi menyalahkan siapapun. Aku percaya yang Mahakuasa sudah mengatur segalanya yang terbaik untuk kita" potong Alana merasa tidak nyaman harus balik lagi kebelakang.
"Tapi aku harus katakan langsung padamu, Al. Terserah setelahnya kamu mau menanggapi bagaimana."
Hening sesaat. Mama Reni yang tampak kelelahan sudah dibopong Gala, abang kedua Gara, untuk menginap di hotel yang ada tepat di samping rumah sakit ini. "Nad, kamu mau ikut dengan kakak, kita mau bawa mama nginap di hotel sebelah, biar bisa istirahat dengan baik," ucap istri Gala yang datang bersama suaminya tadi. Keduanya baru tiba dari Surabaya, setelah mendengar perihal kecelakaan yang menimpa Gara.
"Aku disini aja, kak. Nungguin Gara siuman," balasnya mencoba tersenyum.
Bersama Alana, Nadia mengamati mereka pergi. Setelahnya melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti tadi.
"Saat papanya Gara dalam keadaan kritis, mama Reni menghubungi papa. Saat itu aku tengah bersama papa, bercerita tentang masa kecilku. Setelah mendapat telepon itu, papa membawaku ke rumah sakit. Saat itu lah, papanya Gara meminta Gara untuk menikah denganku, sebagai bentuk hutang budinya pada papa yang sudah banyak menolongnya saat susah. Kamu bisa bayangkan, Al, gimana aku bisa menolak permintaan terakhir dari seseorang yang sudah sekarat?"
Nadia berhenti sejenak. Menarik nafas yang terasa berat, lalu menyeka bulir air mata yang turun. Dia mengingat semuanya hari itu. Posisi di ruangan, orang-orang yang ada di sana juga.
"Kamu tahu Al, aku bahkan menikah tidak memakai pakaian pengantin" lanjut Nadia menoleh kearah Alana sembari tersenyum, tapi Alana tahu, senyum itu mengandung luka.
"Aku tahu, Gara tidak suka padaku. Bahkan membenciku, dia terpaksa menerima perjodohan itu. Aku masih ingat bagaimana wajah tersiksanya saat mengucap ijab Kabul, saat itu" kembali Nadia tersenyum getir, mengingat hari itu.
__ADS_1
"Jangan dibahas lagi, Nad. Itu hanya akan menambah lukamu" Alana tidak sampai hati melihat luka di mata Nadia.
"Sedikit lagi, Al. Setidaknya, beban aku bisa berkurang sedikit. Satu hal yang sampai saat ini tidak diketahui Gara, aku sudah mencintainya saat dia mengucap sumpah pernikahan atas diriku"
Sejurus dahi Alana berkerut. Masa iya Nadia bisa langsung jatuh cinta pada Gara, sementara hari itu adalah awal pertemuan mereka.
"Kamu pasti bingung ya, Al? 15 tahun lalu, ada seorang gadis kecil, yang selalu mengikuti kemana pun Gara pergi. Dia tidak perduli, bahkan ketika Gara mengusirnya untuk menjauh. Bagi gadis itu, Gara adalah pangerannya, yang datang dalam hidupnya untuk melindunginya" ada senyum samar dibibir Nadia. Entah lah, tampaknya dia teringat kenangan indah.
"Gadis kecil itu, adalah kamu" tebak Alana. Senyum Nadia mengembang, dia merindukan masa kecilnya, yang begitu dekat dengan Gara. Pagi, siang, dan malam, Nadia akan mengikuti kemana pun Gara pergi.
"Kalian teman masa kecil? Gara tidak pernah cerita," ucap Alana akhirnya tertarik dengan cerita Nadia.
"Aku kan sudah bilang, Al. Dia sama sekali tidak menganggap ku. Orang tua Gara dulu begitu susah, hingga harus membagi anak-anak mereka pada kakek dan neneknya, sedangkan papa dan mamanya merantau ke Jakarta dengan sejumlah uang yang diberikan papa untuk modal mereka. Tinggal lah Gara bersama kami, yang memang satu sekolah denganku. Itu hanya empat tahu, sampai Gara tamat sekolah dasar. Tante dan om menjemputnya untuk melanjutkan sekolah di Jakarta"
"Ini pemberian dari Gara saat kami berpisah. Sehari sebelum pergi, kami berlari ke warung, membeli mainan lotre. Penuh semangat, Gara mencabut kertasnya, dan mendapatkan liontin ini sebagai hadiahnya. Aku masih ingat dia bilang apa saat menyerahkannya.
'Simpan ini, kalau kau rindu aku, maka genggam liontin ini, bayangkan wajahku. Setelah dewasa nanti, aku akan mengunjungimu' ucapnya kala itu" ucap Nadia menatap Alana dengan air mata yang bercucuran di pipinya.
Alana terperangah mendengar cerita Nadia. Gadis cantik itu hanya tersenyum, melihat Alana yang menatapnya tajam. Pasti berat bagi Nadia, berkorban sebesar itu demi cintanya, namun Gara tidak tahu akan hal itu.
Alana menarik Nadia kedalam pelukannya, ikut menangis bersama gadis itu. Dia tidak menyangka tersembunyi kisah mengharukan seperti ini. Alana akhirnya sadar, bukan Nadia lah yang menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan Gara, tapi dirinya. Dia yang sudah masuk dalam hidup pria itu hingga Gara melupakan cinta sejatinya.
"Kenapa kamu ikut menangis?" Nadia menghapus air mata di pipi Alana. Berusaha tersenyum, menghibur gadis itu, sementara dirinya lah yang seharusnya mendapat penghiburan.
__ADS_1
"Maukah kau menjadi temanku, Nad?" tanya Alana menggenggam tangan Nadia. Nafasnya sesak harus menahan laju tangisnya. Dia malu jika harus meraung. Arun saja yang ngobrol dengan Gilang di sana, sempat melirik ke arahnya, dan mengerutkan dahi kalau melihat Alana menghapus jejak air matanya.
"Dengan senang hati"
Sejak malam itu, Alana menambahkan nama Nadia dalam daftar orang yang disayanginya. Kini dia punya tiga sahabat wanita. Dita tentu saja ada diurutan pertama, lalu Nadia, dan juga Melody.
Rasa sakit yang memang sudah tidak ada lagi dirasakan Alana dalam hatinya untuk Nadia, kini berisi rasa sayang dan simpati. Terlepas bagaimana nanti ujungnya hubungan Nadia dan Gara, mereka sudah berjanji untuk menjadi sahabat sejati.
"Melamun" satu kecupan mendarat di pipi Alana dari suaminya tercinta. Mengingat semua yang terjadi sepanjang hidupnya, Alana sampai tidak mendengar Arun masuk ke kamar.
"Aku merindukan mu" Alana merentangkan tangannya, meminta Arun untuk menggendongnya di depan seperti biasanya.
"Ada apa? tiba-tiba bilang rindu?"
"Ga ada, bang. Aku hanya bersyukur atas semua yang aku alami dalam hidup ini. Pahit dan manis, semuanya hingga aku bertemu dengan mu" bisik nya mengecup bibir Arun sekilas.
"Aku juga bersyukur memilikimu. Oh iya, tadi Gilang mengabari ku, Gara sudah siuman. Keadaannya sudah membaik. Apa kau ingin melihatnya?"
"Kalau kau mau pergi denganku, maka aku akan dengan senang hati mengunjunginya" balas Alana.
"As your wish, my Lady" tutup Arun mencium Alana penuh cinta.
***
__ADS_1
Hai, aku datang, makasih masih setia ya. Aku tuh benar-benar bersyukur punya pembaca setia seperti kalian. Satu Atap Tiga Hati akan tamat seminggu lagi, jadi mohon bersabar, dan maaf jika ada yang sudah bosan. Aku cuma bisa berdoa, kita semua selalu sehat,dan Allah lah yang membalas semua kebaikan kalian, wahai sang pemurah hati, karena selalu dukung novel2 ku. Sekali lagi, terimakasih 🙏😁🙇🙇🙇