Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Peringatan


__ADS_3

Tepat seminggu Alana di rumah sakit pasca melahirkan. Setiap detik pula Arun berada di sisinya, siaga kalau ada yang dibutuhkan Alana.


Tidak hanya Arun, Lily yang merasa sangat bahagia atas kelahiran anak yang akan menjadi miliknya pun tampak gembira. Peran sebagai ibu baru pun sudah dia mulai.


Karena di rumah sakit dia tidak bisa berpura-pura sebagai pasien, maka Lily menjaga jangan sampai mertuanya datang ke rumah sakit. Pada bi Minah, Lily sudah berpesan, jika tiba-tiba Ema datang ke rumah dan menanyakan tentang dirinya, maka bi Minah harus menjawab kalau mereka sedang ke luar kota.


Lily memulai perannya sebagai  ibu dari bayi itu. Setiap saat berada disampingnya. Bahkan kalau perawat rumah sakit ingin memandikan bayi itu, maka Lily akan setia mengkawal. Dia tidak ingin anaknya jauh dari pandangannya walau sedikitpun.


“Pelan-pelan suster mandikan anak saya. Jangan sampai dia kenapa-napa”


Sang suster hanya mengangguk mengerti. Walau dalam hatinya bingung, menyimpan tanya, mengapa Lily mengatakan itu adalah anaknya.


Berbeda dengan Lily yang lebih perduli pada si bayi kecil, Arun lebih memusatkan perhatiannya pada kesembuhan Alana. Menyuapinya saat makan. Semua perhatian yang diberikan Arun, Alana terima dengan senang hati, agar kelak bisa dia kenang saat memulai hidup barunya.


 


Pada hari keempat pasca melahirkan, Gara yang baru mendapat kabar dari bi Minah, menjenguk Alana ke rumah sakit.


“Selamat ya Al..bayinya lucu banget, mirip mamanya” ucap Gara ikut senang.


"Tapi para perawat dan dokter bilang malah mirip papanya" sahutnya tersenyum kecil. Jauh di lubuk hatinya, Alana memang berharap kalau boleh anaknya itu sedikit mirip dengannya walau sedikit saja. Dia ingin setiap melihat anak mereka nanti, Arun mengingatnya kembali. Walau bagaimanapun, Alana ingin dikenang disudut hati Arun yang paling sudut sekalipun.


Hari itu, saat Gara datang, Arun tepat sedang tidak ada di sana. Berkali-kali Arun ditelpon oleh asistennya untuk menghadiri meeting yang sudah dua kali di tunda olehnya karena menjaga Alana.


"Pergi lah bang aku baik-baik aja. Lagi pula ada kak Lily yang menjaga ku" pinta Alana meyakinkan Arun kala pria itu menolak untuk pergi. Lily bahkan sempat kesal dan akhirnya mereka beradu mulut sejenak.


Tak lama setelah Arun pergi, Gara tiba. Jadi Alana bisa leluasa bicara dengan Gara tanpa di intimidasi Arun.


"Al..kamu yakin mau ninggalin bayimu? bawa aja pergi bersamamu Al. Aku akan selalu ada menemani kalian" bujuk Gara.

__ADS_1


Sejenak Alana merenung. Apa yang disarankan Gara bukan tidak pernah terpikirkan oleh Alana. Hari pertama dia mulai menyusui bayinya, Alana sudah jatuh hati pada putranya. Rasa sayang dan ingin memiliki yang dulu tidak pernah terpikirkan olehnya justru semakin menggebu. Dia ingin bersama anaknya. Dia tidak ingin menyerahkan putranya.


Bahkan saat proses persalinan tadi, dorongan terakhir, entah itu halusinasi atau memang karena perasaan memuncah, bayi nya menatap matanya penuh harap. Mata sayu nya memohon agar Alana jangan meninggalkannya. Tepat saat bayangan itu memudar, putranya lahir.


"Al..kok jadi ngelamun sih?" Gara menyentuh tangan Alana.


"Aku juga ingin bersamanya Ga" Air matanya menetes di pipi. "Tapi aku tidak mungkin memilikinya. Dia harapan kakak ku" Bulir bening kedua jatuh dan buru-buru dihapusnya.


"Kamu akan menyesal nantinya Al. Tidak akan ada seorang ibu yang sanggup meninggalkan anaknya"


"Ada. Ibuku. Dia sanggup meninggalkanku pada keluarga paman dan bibiku. Dia muncul hanya saat ajalnya tiba, memberitahu pada paman tentang ayah kandungku, dan meminta untuk menyerahkan ku pada ayah" kenang Alana pedih. Alana kecil memang sudah banyak melalui rasa sakit dalam hidupnya.


"Jangan diingat lagi Al. Bagiamana pun dia ibumu. Aku percaya kamu berbeda dengannya. Kamu penuh cinta kasih, kamu ga akan mungkin meninggalkan anakmu"


Alana menyetujui ucapan Gara. Dia bersumpah kalau lah takdir berpihak padanya, dia akan menjaga dan merawat anaknya sepenuh hati, dengan segenap cintanya.


Setelah tiga jam menemani Alana, Gara pamit. Dia janji besok akan datang lagi menjenguk Alana.


"Bu.." sapa Alana tidak jadi merebahkan tubuhnya. Padahal matanya sangat mengantuk dan ingin mengistirahatkan matanya.


"Kau sudah sehat?" sapa Santi dingin. Menghempaskan tubuhnya duduk di sofa yang ada dipojok ruangan.


"Sudah Bu. Makasih udah jenguk aku"


"Yah. Kau tahu sendiri ibu datang untuk apa. Tidak perlu basa-basi. Ibu datang selain ingin melihat anak Lily, juga ingin mengingatkanmu. Tugasmu sudah usai. Ibu kasih waktu seminggu untuk pergi. Ibu dan ayahmu sudah menyiapkan sejumlah uang buatmu. Pergilah jauh Alana. Jadikan dirimu berguna buat membalas kebaikan keluarga Adhinata. Pergi dan jangan pernah kembali selamanya. Anggaplah kita tidak saling kenal dan hubungan kita cukup sampai disini" ucap Santi tegas tanpa belas kasih.


Alana menunduk. Sakit, kecewa dan hancur hatinya semakin dalam. Dia kira Santi datang karena menganggapnya anak. Tak tahunya justru menggali lukanya. Bahkan bekas jahitannya belum kering, tapi dia sudah diingatkan akan perjanjian terkutuknya.


"Tidak perlu derai tangis mu. Aku tidak butuh"

__ADS_1


"Bu, jangan terlalu mendesak Alana. Aku yakin dia ingat sama semua perjanjian kita" sambar Lily tidak tega melihat Alana diintimidasi Santi.


"Hah, kau terlalu baik Ly. Kita tidak tahu isi pikiran orang, terlebih dari anak seorang pelakor!"


Duaaaar!! Hati Alana hancur berkeping, lagi dan lagi hingga tak berbentuk. Diangkatnya kepalanya ingin menatap Santi. Ujung lidahnya ingin sekali melawan Santi, tapi niatnya diurungkan.


"Apa? kau mau melawan? berani sekali kau menatap ibu?"


"Bu.." panggil Lily tidak senang akan sikap ibunya.


"Ibu hanya berkata benar, sesuai pengalaman. Bisa saja dia beranggapan setelah melahirkan anaknya, dia ingin menguasai suamimu juga. Jangan lupakan, darah pelakor mengalir dalam tubuhnya"


Alana si pengecut hanya bisa mengepalkan tangannya.


"Ibu tenang saja, aku akan menepati janjiku. Tapi satu hal aku tekankan, ini pengorbananku yang pertama dan terakhir. Dan ibu tidak perlu khawatir, kalau memang ibu ingin kita putus hubungan, maka aku akan menepatinya!!" ucap Alana menahan air matanya.


"Bagus kalau kau tahu diri!"


"Tapi perlu kalian ingat, kalau sampai kalian menyia-nyiakan anakku, maka aku tidak akan memaafkan kalian, dan aku akan mengambilnya kembali" ucap Alana tegas.


Untuk sepersekian detik, baik Santi ataupun Lily sempat terkejut tidak menyangka, kalau Alana akan punya keberanian diri untuk mengatakan pendapatnya.


Pertarungan itu mungkin saja akan terus berlanjut, kalau saja Arun tidak datang. Santi langsung menutup mulutnya saat melihat mantunya itu masuk ruangan.


"Run, kau sudah datang?" sapa Santi mengubah riak wajahnya. Arun hanya mengangguk, berlalu melewati Lily dan Santi. Dia yakin bekas air mata di pipi Alana, adalah hasil perbuatan Santi.


***Hai..aku datang. Maaf ya belakang ini up nya satu bab aja. Nungguin kelanjutannya, kuy mampir disini 🙏


__ADS_1


 


__ADS_2