
Dita menyesal mengikuti perkataan Alana untuk turun menemui sang tamu. ternyata keraguaannya beralasan.
"Kamu masih marah pada papi?" suara sendu dari seorang ayah yang sangat merindukan putrinya.
Dita mengunci rapat bibirnya. Jangankan untuk menjawab, melihat kearah pria itu pun dia tidak ingin.
"Ta..papi kangen sama kamu" kembali suara om Rudi memelas. Dia hanya coba berkata jujur tentang apa yang dirasakannya pada putri semata wayangnya.
Dita hany berusaha terlihat tegar. Seolah ingin menunjukkan kalau dia kuat dan tidak perduli lagi pada pria yang ada dihadapannya itu.
Kenyataannya dia sangat merindukan Papinya. Bahkan saat melihat wajah pria itu, Dita yang ada di anak tangga kelima ingin segera berlari untuk memeluk pria yang sudah dua minggu ini tidak dia lihat, tapi mengingat harga diri, bukan..lebih tepat mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya, Dita jadi mengurungkan niatnya. Memilih diam, dan seolah tidak perduli.
"Ta..mau sampai kapan kamu mau diamin papi nak? sampai papi udah mati?"
Tes! bulir bening itu jatuh. Pertahana Dita jebol.
"Ta..sayang.." suara lembut om Rudi menarik wajah Dita untuk mendongak, tak kuat menahan rasa sedihnya, Dita menghambur dalam pulukan papinya.
"Papi..papi..maafkan Dita pi" isak Dita dalam pelukan om Rudi.
__ADS_1
"Udah sayang, jangan menangis. Papi ada disini" ucap om Rudi menenangkan Dita, tapi tangis gadis itu malah semakin pecah. Rudi terlihat bingung, anak gadisnya itu memang cengeng, tapi dia tidak pernah menangis seperti ini walau ada hal yang paling membuat hatinya bersedih.
"Ta..ada apa sayang? kenapa kamu menangis sesunggukan seperti ini? ada masalah apa Ta? ceritakan pada papi" Rudi mengurai pelukan mereka. Mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dari tatapan Dita.
"Papi, Aku mau ngomong sesuatu, tapi aku takut kalau papi nanti marah sama aku"
"Dita sayang, kamu tahu betul kalau papi sangat menyayangimu. Kamu satu-satunya putri papi. Putri yang paling kami sayangi"
"Papi janji ga bakal marah sama aku?" Dita memastikan kalau ucapan papinya bisa dia pegang. Bukan apa-apa, om Rudi memang sangat menyayangi Dita dan memanjakan gadis itu. Semua yang diinginkan gadis itu pasti dikabulkan. Bahkan jika separuh isi bumi ini dijual, dan Dita menginginkannya, Rudi pasti akan dengan senang hati membelinya untuk Dita.
"Papi janji sayang. Katakanlah" tebakan Rudi, paling juga anak gadisnya itu ingin merengek agar diizinkan kuliah di sini seperti tuntutannya saat itu.
Tidak ada yang bisa menggambarkan rasa Keterkejutan Rudi atas apa yang baru saja dia dengar dari mulut Dita. Pasalnya hal mengerikan itu disampaikan putrinya seperti mengatakan kalau dia kehilangan salah satu koleksi CD grup band rock kesayangannya.
Rudi ingat saat hari dimana Dita mengaduh karena rusaknya salah satu koleksi cdnya. Makanya tidak salah kalau Rudi menganggap kalau Dita salah ucap.
"Kamu ngomong apa sih Ta? maksud kamu gimana?" debar jantung Rudi semakin cepat, berharap semua yang dia dengar tadi memang salah.
"Papi, seseorang sudah memperkosaku" ucap Dita tersedu-sedu.
__ADS_1
"Kamu bercanda Ta? papi ga suka!"
"Papi jahat, mana ada orang bercanda sama ayahnya dengan topik kehilangan keperawanannya?!" Dita menghentakkan kakinya kesal. Padahal dia sudah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan pada papinya tapi malah dianggap bercanda.
"Jadi kamu serius? siapa bajingan itu? akan papi bunuh dia!" raung Rudi. Alana yang ada dibalik tembok ruang tengah yang sejak tadi menguping sontak kaget mendengar suara om Rudi yang menggelegar.
"Aku ga tahu pa, waktu itu aku mabuk jadi ga tahu siapa dia" Dita sudah tidak menangis lagi berganti jadi penuh rasa takut melihat amarah papinya.
"Kamu gimana sih Ta? kamu minum sambil sampai mabuk pula? papi sungguh kecewa sama kamu" salak Rudi dengan amarah yang tak terbendung lagi.
"Tadi papi bilang ga akan marah" Dita yang garang pun jadi ciut nyalinya melihat amarah Rudi yang sejak menjadi putrinya baru inilah Dita melihat amarah yang paling besar dari papinya.
"Iya, tadi papi tadi kira kamu nangis karena minta pindah kuliah, atau paling minta nonton konser bonjovi lagi di Toronto" ucap papinya masih kesal. " Bukan malah kehilangan kesucianmu karena kau mabuk. Parahnya kau tidak ingat siapa pria brengsek itu!"
"Maaf pi, aku tahu aku salah" Dita sujud dikaki om Rudi, memohon maaf dan ampun akan kesalahan yang sudah dia lakukan.
"Kenapa kamu berbuat hal yang sangat buat papi kecewa Ta? hati papi hancur" ucap Rudi terduduk lesu.
"Kalau papi dan mami ga bisa memaafkan aku, aku rela dikeluarkan dari kartu keluarga. Anggap aja Dita bukan anak papi mami lagi" isak Dita memeluk kaki papinya penuh penyesalan.
__ADS_1