
Kata orang, cara orang bijak membereskan masalah itu tidak akan tercium, tidak berasap. Perlahan, tapi mematikan. Arun selama ini memang jenis orang yang tidak suka mencampuri urusan orang lain, tapi kali ini berbeda. Terlebih karena ini berhubungan dengan Alana.
Tok...tok..tok..
"Masuk.." ucap Arun yang masih terus berkutat dengan berkas yang dia pelajari.
"Bos..ini" Toni asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Arun meletakkan satu map berisi berkas yang sebulan ini dikerjakannya sesuai perintah Arun.
Satu per satu lembar dalam map itu di baca Arun. Hingga lembar terakhir timbul sebuah senyuman cerah di wajahnya.
"Kau pantas diandalkan tom" puji Arun jujur sembari menutup berkas.
"Beliau tidak tahu, kalau kita lah yang kemarin membeli saham perusahaannya. Kini total saham kita miliki 70% bos" terang Tomi yang semakin membuat Arun mengangguk puas.
"Jadi apa rencana bos selanjutnya?"
"Aku ingin secepatnya kau lakukan sesuai rencana dari awal" Arun bangkit dari duduknya, mengambil berkas itu dan mengembalikan pada Tomi. "Lakukan segera. Aku mau selesai dalam waktu dekat"
Tomi mengangguk paham dan segera keluar. Katakan lah Arun saat ini masih belum terang-terangan mengakui perasaannya pada Alana, menjaga perasaan Lily atau pun kedua orangtuanya, tapi untuk melindungi Alana, tidak siapa pun bisa melarangnya. Bagaimana pun Alana juga istrinya, tanggung jawab nya.
Dia yakin, tanpa membuat pengakuan tentang perasaannya pada Alana, sebentar lagi bola api raksasa akan menggelinding menyerang semua orang di sekitarnya, termasuk dia.
***
"Mama ingin kenal sama kamu, Al. Aku juga udah janji buat mengenalkan kamu sama mama. Mau ya ke rumah nanti?" pinta Gara meremas tangan Alana.
"Tapi Ga, aku malu. Aku harus ngomong apa coba? gimana kalau mama kamu nanti ga suka sama aku?" wajah Alana menunduk. Pergumulan berat di hatinya memenuhi permintaan Gara.
__ADS_1
Sudah setengah jam mereka di parkiran sekolah, Alana belum setuju untuk ikut ke rumah Gara hari ini. Kebetulan juga hari ini mereka cepat pulang, setelah mengikuti try out yang di selenggarakan untuk anak kelas tiga menjelang ujian Nasional dua bulan lagi.
"Aku jamin, mama pasti suka sama kamu. Lagian mama aku buka tipe emak emak rempong yang suka nyinyir sama pacar anak nya"
Beberapa anak tampak mulai meninggalkan sekolah, sisa dari siswa yang sejak tadi sudah berhamburan pulang lebih dulu. Alana berpikir sesaat, dia tidak bisa menolak permintaan Gara, terlebih saat melihat mata memohon pria itu.
"Ya udah, kita singgah sebentar ya"
***
Nyatanya apa yang dikatakan Gara benar. Mama Reni memang baik, menyambutnya ramah. Gara adalah anak ketiga dari tiga bersaudara yang ketiganya anak cowok semua. Itu lah sebabnya mama Reni selalu menyambut baik setiap pacar anak-anaknya karena kerinduannya memiliki anak perempuan.
"Ini tante" Alana menyerahkan cake rasa tiramisu yang mereka beli di jalan sebelum ke rumah Gara tadi.
"Repot-repot segala. Makasih loh ya Al, tapi kalau boleh tante minta, panggil mama aja, boleh? biar lebih akrab, samaan dengan Gara" ucapnya tersenyum tulus.
Alana bersyukur di baik oleh mama Reni. Bahkan perkataan mama Reni hampir saja membuatnya menangis terharu. Baru kali ini dia merasakan kasih seorang ibu padanya, walau hanya beberapa menit bertemu.
Mama Reni tak hanya baik, masakannya juga enak. Tanpa malu Alana bahkan sudah nambah sampai dua kali. Gara melirik dan Alana hanya cengengesan karena merasa malu.
"Belakangan kamu kuat banget makan Al" ucap Gara senang. Dulu Alana makan sangat sedikit setiap kencan mereka. Bukan tanpa alasan, karena sejak tinggal di rumah Santi, Alana bocah 6 tahun itu sudah di latih untuk makan sedikit namun di tugaskan dengan banyak kerjaan berat. Bahkan saat umur nya 10 tahun,. Alana terkadang hanya diberi makan sekali sehari. Bagi Santi menyiksa Alana adalah hal yang melegakan nya karena seolah bisa membalas sakit hatinya pada mama Alana.
"Tapi aku suka, tubuh kamu udah berisi ga kerempeng lagi" lanjut Gara. Mama Reni tiba membawa sushi yang tampak lezat. Belakangan ini dia memang banyak makan. Alana sendiri tidak mengerti kenapa dia mudah sekali merasa lapar.
"Nih Al, di coba. Mama buat sendiri loh" tawar Mama Reni. Alana mengangguk malu. Dia memang ingin mengambil satu potong.
"Ma, ini kan jenis makana sehat ya ma, kaya protein, tapi kenapa dilarang dikonsumsi ibu hamil?" celetuk Gara memasukkan satu buah ke dalam mulutnya setelah mencelupkan dalam mangkok berisi shoyu dan menambah sedikit wasabi.
__ADS_1
Tangan Alana yang sudah memegang sumpit dan terulur hendak mengambil satu potong sushi menjadi menggantung di udara. Membatalkan niatnya.
"Loh sayang, kenapa ga jadi diambil? kamu ga suka?" tanya mama Reni.
"Hah? bukan ma. Cuma perut aku udah penuh banget. Udah nambah sampai dua kali. Habis masakan mama enak sih" ucap nya tersenyum.
Untung Gara mengatakan perihal sushi yang tidak baik untuk wanita hamil. Hampir saja dia membahayakan anak dalam kandungannya.
Selepas makan, Mama Reni pamit, karena ada salah satu temannya yang datang, meninggalkan Gara dan Alana di ruang keluarga, menonton tv dan saling melepas candaan.
"Ngamar yuk Al" bisik Gara mencium ujung pundak Alana. Bulu kuduk Alana meremang, sejurus dia memejamkan mata, menenangkan debar jantungnya.
"Iih, apaan sih Ga. Pikiran kamu kotor deh. Perlu fi laundry tuh" sahut Alana manyun.
"Bercanda sayang. Dua tahun kita pacaran emang pernah aku bertingkah mesum? kamu itu adalah wanita ku, yang harus ku jaga bukan untuk ku rusak. Kalau nanti kau sudah sah jadi istri ku, baru lah aku akan menyentuhmu" ucapnya memegang kedua sisi wajah Alana.
"Menjaga kesucian mu adalah tanggung jawabku sebagai kekasihmu. Percayalah, aku akan bersabar hingga tiba waktunya nanti untuk memiliki mu"
Alana membuang wajahnya. Matanya memanas. Bulir bening yang coba dia tahan akhirnya terhempas di pipi. Bagaimana dia akan dia bisa mengkhianati pria sebaik Gara? bagaimana dia akan mengatakan hal yang sudah terjadi padanya? bagiamana kalau Gara sampai tahu, kalau dia bukan saja tidak perawan lagi, tapi justru sudah menjadi istri orang lain?
Sungguh dia tidak sanggup melukai hati pria baik itu. Tapi untuk berkata sejujurnya saat ini pun dia belum berani.
"Kenapa kamu nangis? sungguh, aku cuma bercanda. Aku ga akan menyentuh mahkotamu sampai kamu sah jadi istriku, Al. Jadi jangan menangis" Gara menghapus jejak air mata di pipi Alana.
"Wah..ada tamu nih. Pacar lo dek?" suara pria yang berasal dari belakang mereka membuat keduanya serentak berpaling.
Seketika tubuh Alana mengejang saat mengetahui siapa sosok pria yang berdiri menatapnya tajam saat ini.
__ADS_1
**Hai...aku datang lagi, bawa novel lain lagi buat di rekomendasikan, kuy kepoin..kamsamida 🙏😘