
Kasa tersenyum puas. Semua orang menyambut gembira kedatangan Arlan yang begitu tiba-tiba. Apalagi Alana, dia sampai lari menyongsong Arlan untuk memeluk putra kesayangan itu.
Hanya Kasa yang tahu apa alasan Arlan bisa muncul sehari setelah mereka tiba. Membayangkan pria itu kesal karena foto kirimannya, membuat Kasa tergelitik. Sorot mata Arlan sejak tadi menatap tajam padanya seolah ingin mengajar pria itu.
Satu hal yang sama sekali tidak diduga Kasa, Arlan bisa terprovokasi akan kedekatannya dengan Sania. Apa sebegitu terobsesi sekali untuk menang, atau memang ada alasan lain yang coba disembunyikan Arlan?
Dugaan Kasa benar. Kemarin malam, saat dia sedang lembur dan tengah membicarakan projek perakitan robot canggih, Arlan menerima pesan masuk. Nama pengirim yang tertera sama sekali tidak mengusik niatnya untuk membukanya, tapi setelah pesan singkat kedua masuk, Arlan tidak bisa mengabaikannya lagi, segera membuka kotak pesan.
Tinjunya mengepal semakin keras di bawah meja. Mencoba mempertahankan rahangnya agar tidak mengeras dan bunyi gemeretak terdengar.
Sisa waktu yang berjalan, Arlan sama sekali tidak bisa berkonsentrasi lebih lama lagi. Pikirannya tersita oleh bayangan Kasa dan Sania bersama.
Kesunyian di dalam rumah pun membuat Arlan semakin galau. Hanya ada dia sendiri, dalam gelapnya kamar. Berusaha kuat untuk mencoba tidur, tapi sulit.
Paginya dia dilema. Ingin menyusul tapi malu, tapi kalau mengabaikannya, dia yang tidak tenang.
Setelah satu jam mondar-mandir dan berkutat dengan pemikiran sebaiknya pergi atau tidak, akhirnya Arlan memutuskan untuk pergi. Terserah, kalau sesampainya di sana dia akan ditertawakan.
"Mama senang banget kamu akhirnya nyusul. Mama rindu banget sama kamu." Alana tak henti memeluk Arlan, hatinya begitu gembira saat ini.
"Lu datang, Kak? Katanya gak mau ikut!" sambar Ayra dengan sudut bibir naik ke atas. Moodnya hari ini sangat buruk, jadi dia ingin melampiaskan kekesalannya pada seseorang.
"Lu gak suka? Gue khawatir, lu bakal kelelep pas berenang nanti. Gimana pun jeleknya lu, kan tetap adik gue," tukas Arlan mengedipkan mata. Dia sudah siap, bagi siapapun diantara mereka nanti yang akan menyerangnya.
Dia melirik dengan ekor mata, Sania hanya duduk diam, di samping Dita. Melihat kearahnya dengan malu-malu.
__ADS_1
"Sudah, sekarang kita pergi jalan-jalan. Ayra udah gak sabar mau cari-cari cendramata sambil menjelajah Bali," ujar Arun membelai rambut Ayra. Sebagai seorang ayah yang kenal betul akan sifat putrinya, Arun tahu saat ini gadis kecilnya itu sedang kesal. Sejak pagi merengek-rengek, memaksa agar mereka pergi jalan-jalan.
"Baru juga sampai kemaren, masih ada tiga hari lagi di sini, cepat amat cari souvernir, Ay?" tanya Kasa. Maksud hatinya ingin mengajak Arlan bermain surfing.
"Memangnya salah? Kalau Kakak gak suka, gak Papa, aku bisa pergi sendiri!"
Ayra pergi meninggalkan tempat itu. Dita dan Alana saling pandang. Ayra memang manja dan sangat keras kepala, tapi dia tidak pernah bersikap tidak sopan seperti ini.
"Mas, Ayra kenapa, ya? Kok sensitif banget?" cicit Alana.
"Biar aku kejar ya, Tante," kata Sania berdiri dan bergegas mengikuti Ayra. Alana hanya bisa mengangguk. Sania lebih muda darinya, mungkin Ayra bisa lebih terbuka pada Sania tentang hal yang buatnya kesal.
"Ay..., tunggu, Ay," panggil Sania mengejar gadis itu yang berlari ke arah pantai. Panggilannya diabaikan remaja itu, malah justru semakin mempercepat langkahnya.
"Ay, please, tunggu. Kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama aku. Bukankah kamu bilang sudah menganggap ku seperti kakak sendiri?" Sania masih tetap berusaha mengejar hingga bisa sejajar dengan Sania.
Tatapan yang begitu tajam, menyimpan amarah dan kesal. Ingin buka mulut yang mengeluarkan umpatan pada Sania, tapi urung dia lakukan. Menurutnya, ini semua salah Sania hingga Kasa mengabaikannya.
Namun, Ayra memutuskan menunduk. Setengah akal sehatnya mengingatkan ini bukan kesalahan Sania seutuhnya. Selama beberapa hari ini dia tidak melihat gelagat Sania yang genit pada Kasa, justru memilin menghindari pria itu, tapi tetap saja, namanya orang cemburu, sah-sah saja kalau rasionya tidak jalan.
Ayra duduk di tepi pantai. Tangannya terlipat di atas dengkul, menatap lurus ke arah laut luas. Sania ikut duduk di samping gadis itu. Dia diam, ikut mengamati pemandangan yang sangat indah itu, menunggu sampai Ayra mau buka suara lebih dulu.
"Kakak udah punya pacar?" Celetuk Ayra pelan, tanpa menoleh, tetap menatap hamparan laut luas.
"Aku? Belum. Mau fokus sama sekolah dulu. Pengennya kalau bisa mau kuliah, jadi harus rajin belajar, biar dapat link beasiswa," jawab Sania santai. Pertanyaan Ayra seolah memberi petunjuk penyebab bad mood yang dialami gadis itu.
__ADS_1
"Kamu lagi suka sama seseorang, ya?" Sania menempelkan pipinya di atas dengkul, menoleh ke arah Ayra.
"Apa gunanya. Dia nya gak suka sama aku, malah lagi tergila-gila sama cewek lain. Nyesak, tau, Kak," lirih Ayra. Gadis itu memang sangat melankolis, ini saja sudah keluar air matanya. Buru-buru dihapus dengan punggung tangan, malu pada Sania.
"Boleh aku peluk?"
Ayra mengangguk. Pelukan Sania semakin membuat Ayra semakin lemah, pertahanannya hancur. Air matanya justru menganak sungai.
Setelah puas menangis, perasaan Ayra kini lega. Dia sudah bisa mengembangkan senyum pada Sania.
"Aku norak, ya, Kak? Pake acara nangis. Malu-maluin banget," celetuknya coba tersenyum lagi.
"Gak papa. Kadang, tubuh dan semua organ kita mengalami kelelahan. Menangis justru bagus, agar kesesakan berkurang. Menangis bukan berarti lemah. Sekarang udah merasa baika?"
Ayra mengangguk. "Makasih, ya San. Aku sayang Kakak," ujarnya kembali memeluk Sania. Di belakang mereka, seseorang tengah melihat keduanya berpelukan. Ada getar di dadanya.
Arlan berbalik, meninggalkan tempat itu sebelum kedua gadis itu memergoki dirinya yang mencari mereka.
Walau dia sering cuek dan menjahili Ayra adalah hobby nya, tapi dia sangat peduli dan sayang pada Ayra. Dia sudah lama tidak melihat emosi Ayra meledak seperti ini. Terakhir saat gadis itu ditinggal sahabat dekatnya pindah ke London.
Ayra gadis polos yang mudah membuka hatinya pada orang lain. Tipe gadis yang mudah percaya dan kalau sudah sayang pada seseorang, tidak ingin berpisah dari orang itu.
Perjalanan mereka dari satu tempat ke tempat lain sangat menyenangkan. Ayra sangat gembira. Ucapan Sania yang mengatakan sedang tidak menaruh minta untuk pacaran, membuatnya sedikit tenang. Artinya, Sania bukan saingannya untuk mendapatkan Kasa.
"Nih!" Kasa mendatangi Ayra, menyerahkan satu buah gelang rajutan yang dihiasi beberapa batu kecil yang indah.
__ADS_1
"Buat aku, Kak?"
"Buat gadis yang paling cantik di muka bumi ini," jawab Kasa, menarik pergelangan tangan Ayra dan memasangkan gelang itu di sana.