Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Kabur


__ADS_3

Tidak ada kata yang keluar dari mulut Dita. Tubuhnya lunglai di papah Alana keluar dari ruang periksa dokter obgin. Semua yang disampaikan dokter tadi terekam jelas dalam ingatannya. "Anaknya sehat, udah empat bulan ya bu" ucap sang dokter yang berhasil menghantam hati Dita ke dasar yang paling dalam. Apa yang harus dia katakan pada papanya?


Teringat kembali raut wajah papa saat dua hari lalu, Dita menunjukkan IPK yang meningkat hingga semester ini. Tahun-tahun pertama kuliah indeks prestasinya memang menurun, tapi setelah transfer ke kampusnya saat ini, baru lah IP nya naik.


"Papi bangga sama kamu, Ta. Kamu mau minta apa? biar papi belikan" ucap Rudi mengelus rambut Dita penuh sayang.


Ah..kini hatinya remuk, nyalinya menciut hanya untuk pulang bertemu orang tuanya.


"Ta..jangan ngelamun" ucap Alana menyodorkan air mineral yang dia beli di kantin rumah sakit.


"Eh, iya. Makasih Al. Ini apa lagi?" tanyanya kala Alana menyodorkan kantong plastik putih berisi obat dan vitamin penguat janin yang di tebus Alana dari apotik.


"Obat yang di suruh tebus tadi, Ta" Dita hanya manggut-manggut tak bersemangat mendengarnya. Selama ini dia paling benci minum obat, suntikan atau pun bau rumah sakit, kini setiap hatinya harus menelan beberapa pil sungguh membuatnya muak hanya sekedar membayangkannya saja.


"Tapi, Ta..." kalimat Alana menggantung. Tersenyum kecut menatap Dita.


"Apa?" satu alis gadis itu terangkat ikutan bingung.


"Obatnya belum di bayar. Aku ga bawa tas, mana hape juga tinggal" sungutnya kesal pada dirinya sendiri. Alana juga bingung kenapa dia sering sekali melupakan hal kecil namun penting seperti dompet dan ponselnya.


"Ya udah, nih" Dita menyodorkan dompetnya"


"Bawa aja, siapa tahu kurang" lanjut Dita kala melihat kebingungan di wajah Alana.


"Ok deh, kau ke sana dulu" tunjuk Alana kearah kanan dari tempat mereka duduk.


***


Dalam perjalanan pulang, Dita memejamkan mata, hingga Alana tidak berani mengajak sahabatnya itu untuk bicara. Diliriknya sekilas wajah muram gadis itu. "Istirahat lah, Ta. Kamu tampak kelelahan banget" gumamnya mengelus kepalanya yang rebah di pundak Alana.


Setelah setengah perjalanan, Dita membuka mata dan menegakkan tubuhnya. "Al, berhenti sebentar di apotik itu terdekat ya, aku mau beli minyak angin" ucap Dita melihat jalanan.

__ADS_1


"Pak, nanti berhenti sebentar di apotik, bisa kan pak?" tanya Alana pada supir taksi yang membawa mereka. Kepala pria itu tampak mengangguk mengerti.


Alana bersiap untuk turun mengikuti langkah Dita untuk segera keluar dari taksi, tapi Dita segera mencegahnya. "Lo tunggu di sini aja Al, gue sebentar aja kok" ujar Dita meyakinkan. Alana pun menurut menunggu dengan sabar di dalam taksi.


Saat itu pula lah Alana ingat bahwa dia lupa untuk mengabari Arun. Dia tidak mau kalau sampai pria itu marah lagi karena tidak bisa menghubungi Alana dan tidak tahu dimana keberadaannya kini.


"Duh..aku kok bisa pelupa gini sih?" imbuhnya kesal, kembali melayangkan tatapan keluar jendela. Dita belum juga keluar dari pintu kaca apotik itu.


"Masih lama temannya, mbak?" tanya pak supir yang sudah terlihat gelisah. Dia sebenarnya ingin segera pulang setelah menerima orderan terakhir ini, dia baru saja menerima kabar dari istrinya, anaknya sakit dan harus segera dibawa berobat.


"Sebentar ya pak. Saya lihat dulu" sahut Alana bergegas turun. Alana mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, namun sosok yang di cari tidak ketemu. Hanya ada tiga orang pelanggan dan seorang apoteker di sana.


"Maaf mbak, gadis yang pakai celana panjang, kaos oblong ****** dengan rambut di kuncir, masih ada di sini?" tanya Alana linglung. Dia panik menerka-nerka keberadaan Dita saat ini.


"Maaf, mbak udah pergi. Tadi tanya minta angin, tapi pas saya pergi ambil, si mbak nya udah pergi aja gitu" sahut si mbak apoteker.


Alana meremat tangannya. Panik mulai menjalar di pikirannya. Kemana gadis itu pergi, dan apa yang akan dia lakukan?


Seketika wajah Alana pucat pasi. Sekelebat pikiran buruk terbersit. Dia ingat ucapan Dita yang ingin menggugurkan kandungannya. "Duh, gimana ini?" cicit Alana semakin panik. Berulang kali meremas tangannya tanda panik.


"Aduh, maaf mbak. Saya ga bisa, mau ke rumah sakit bawa anak saya yang lagi sakit mbak" jawab pak supir. Alana merogoh saku celananya, tidak ada selembar pun uang nyangkut di sana. Dia harus bayar pake apa?


"Aduh, gimana ya pak, saya juga ga bawa dompet" ucap Alana pelan penuh penyesalan.


"Aduh, padahal uang itu mau buat biaya berobat anak saya" wajah pak supir begitu memelas dan tampak penuh kecewa. Perasaan bersalah Alana semakin besar. Dia pun tidak tahu harus bagaimana.


Untuk menghubungi Arun, Alana tidak ingat nomornya. "Duh, Alana...bego banget sih ga ingat nomor hape siapapun" umpatnya semakin bingung harus bagaimana.


Tampaknya pak supir itu pun masih mengharapkan bayaran, karena walau Alana sudah bilang tidak bawa dompet yang artinya tidak bisa bayar, supir itu masih saja bertahan di sana.


"Tidak ada jalan lain.." desisnya. "Sebentar ya pak" Alana berlalu kembali masuk ke dalam apotik. Berselang 10 menit, Alana kembali keluar. "Ini pak" ucap Alana menyerahkan uang merah 5 lembar.

__ADS_1


"Ini kebanyakan mbak. Kan diaplikasikan cuma 150 sampai tempat tujuan, ini cuma setengah jalan" ujar pak supir.


"Ga papa pak. Sisanya titip buat anak bapak ya" ucap Alana menolak uang itu dikembalikan.


"Makasih banyak mbak"


"Sama-sama pak. Semoga anaknya cepat sembuh" ujar Alana.


Masih ada sisa 200 ribu di tangannya. Alana menatap duit itu lalu berganti ke arah apotik. Tepat saat itu lewat dari depannya taksi argo yang langsung dia hentikan.


***


Seperti dejavu, hati Alana kembali mengkerut. Suami galaknya sudah berdiri di depan toko dengan tangan dilipat di dada. Tampangnya? jangan tanya, dia seperti seorang pak guru yang mendapati siswa berandal yang berulang kali buat kesalahan dan kali ini juga melakukan kesalahan yang sama.


"Duh..tuan pemarah udah di sana aja" gumamnya turun dari taksi dengan ragu-ragu.


"Hai sayang.." sapa nya dengan senyum yang di paksakan.


Tidak ingin menunggu Arun lebih marah, Alana yang tahu salah langsung menarik tangan Arun ke dalam ruangannya. Setelah menutup pintu, Alana mendorong tubuh Arun duduk di sofa, yang lucu nya di turuti oleh si suami yang tengah marah.


Tanpa ragu, Alana mendaratkan bokongnya, duduk dipangkuan Arun. Tak ingin membuat Arun menghardiknya lebih dulu, Alana segera mengalungkan tangannya di leher pria itu.


"Aku tahu aku salah. Aku minta maaf karena udah lalai lagi, pergi tanpa bawa hape dan ga ngabarin abang. Aku akan terima kalau nanti abang mau hukum aku..tapi aku di atas lagi ya" bisik nya pada bagian kalimat terakhirnya sembari mengedipkan mata.


"Yah, pasti memang akan aku hukum, dan pasti lebih parah dari yang kemarin. Jadi ada lagi yang ingin kau jelaskan?" tanya Arun menatap Alana.


Hufffh.."Dita hamil, jadi tadi buru-buru temani dia periksa ke rumah sakit. Tapi di tengah jalan, dia minta turun di apotik mau beli minyak angin, tapi ternyata dia kabur" ucapnya sembari memainkan dasi Arun.


Gerakan tangan Alana menarik perhatian Arun, segera menangkup jemari Alana dan mengamatinya. "Mana cincin kawin mu?"


***

__ADS_1


Hai..aku datang mau promosi novel teman aku, mampir yuk



__ADS_2