Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Pulang Membawa Rindu


__ADS_3

Sura kicau burung berulang kali meminta perhatian Alana untuk segera membuka matanya, namun gelungan selimut itu membuatnya malas untuk bangkit dan memilih untuk tetap terbuai. Terasa lebih hangat dan wangi yang menusuk hidungnya begitu membuatnya nyaman. Dia ingin berlama-lama menikmati mimpi dipeluk Arun.


Seja kemarin siang, Alana ngambek. Gadis itu kesal karena Arun menghubungi Alana dan mengatakan tidak jadi pulang karena ada pekerjaan yang masih belum selesai.


"Sorry ya sayang, aku janji bakal langsung pulang" ucap Arun melalui panggilan video.


"Itu karena kerjaan atau kerjaan? kenapa kalau siang abang ga mau video call? kenapa harus via telepon biasa aja? ga boleh aku lihat lagi ngapain kalau siang?" tanya Alana cemberut.


"Dih, pikirannya.." sahut Arun tersenyum. Dia gemes melihat wajah cemburu istrinya itu. Rasa rindunya sudah menggunung untuk gadis itu.


"Siapa yang tah, di sana abang lagi dekat sama cewek lain apa ga!"


"Jangan gitu dong sayang, disini aku kerja, serius. Kalau siang, kadang rapat, kadang meninjau lokasi, jadi ga nyaman buat video call"


Kalau untuk percaya, Alana percaya seratus persen akan kesetiaan suaminya. Semua ucapannya hanya sebagai ungkapan rasa kesalnya saja, karena Arun tidak jadi pulang.


"Al..Alana...sayang..." panggil Arun lembut kala melihat tampilan pada layar hape sudah kearah langit-langit kamar.


"Al...jangan ngambek dong sayang..." bujuk Arun tapi istrinya tidak muncul juga. Tidak lama suara mengoceh bayi besarnya terdengar.


"Halo sayang... jagoan papa nih. Lagi ngapain Arlan?" ucapan Arun hanya dijawab oleh celoteh anak kecil yang terus saja bicara bahasa yang dia saja mengerti.


Alana ada dibalik tubuh Arlan yang gembira menghadap kamera ponsel, menunjuk-nunjuk wajah Arlan di layar.


"Mama masih ngambek ya? ga mau ngomong sama papa ya? bilang sama mama, papa sayang banget sama mama. Cinta papa hanya buat mama dan juga dedek Arlan"


Suara Arun sengaja lebih besar agar Alana yang tepat di belakang sedang telungkup di dekat bokong Arlan bisa mendengar lebih jelas.


Hingga acara video call satu arah itu selesai, Alana tidak menampakkan wajahnya. Melempar hapenya dengan kesal dan membawa Arun untuk mandi, makan dan juga tidur.

__ADS_1


Kembali bergerak gelisah karena ciuman di tengkuknya membuat Alana membuka mata. Mimpinya sedang bercumbu dengan Arun jadi terpotong. Baru lah Alana sadar kalau semalam dia tidur sendirian, lantas siapa yang memeluknya dari belakang? apa Dita lagi?


Aroma mint yang menyeruak kembali dalam penciumannya membawa ingatannya pada seseorang. Senyum simpul melengkung dibibir, dan tepat saat dia berbalik perlahan, rona merah di pipinya tidak bisa disembunyikan lagi.


"Masih marah?" ucap pria itu dengan suara parau. Wajah tampannya tampak kelelahan namun masih ingin menerbitkan senyum yang selalu membuat hati Alana meleleh.


"Kapan sampai? katanya ga bisa pulang sampai lusa" gumamnya manja. Meraba lekuk garis wajah tegas pria itu Pria yang selalu membuat Alana merasa sangat beruntung sudah hadir di dunia ini.


"Ya mau gimana, istriku ngambek ga mau ngomong samaku. Jadi lembur hingga dini hari. Subuh pulang ke sini" ucapnya mencium ceruk leher Alana.


"Makasih udah pulang. Abang pasti lelah" ucapnya membelai rambut Arlan. Pria itu sesaat memejamkan mata untuk merasakan kelembutan sentuhan Alana.


"Ga ada yang gratis. Bayar dong" ucapnya menangkup dagu gadis itu. Kilat dimata Arun sudah menjelaskan maksudnya. Perlahan Alana mengangguk dengan malu-malu. Dengan senyum dikulum, Arun menarik selimut menutupi tubuh mereka.


Otot-otot yang sudah kaku selama beberapa hari ini, dan juga kerinduannya pada semua milik istrinya harus dia salurkan. Rasa mendamba itu berat, akan sakit jika ditahan.


Kamar tidur itu menjadi saksi deru nafas kedua insan yang saling mencintaiku saling berkejaran. Melampiaskan rasa rindu yang terdalam, mengikis rasa ragu dan juga jarak diantara mereka.


"Cukup... sekarang izinkan aku membayar utang terima kasih ku padamu" bisik Alana parau. Mengambil tempat di atas perut Arun, perlahan melengkungkan tubuhnya ke depan. Mencium kening, pipi dan berakhir di bibir untuk sementara.


Kata Juli, karyawannya yang selalu diingat Alana. 'Kalau kita tidak lebih cantik dari wanita lain yang mungkin mencoba menggoda suami orang, setidaknya jadi lah pel*cur untuk suami mu di ranjang. Puaskan suami hingga tidak makan melirik ke wanita lain'


Jadi itulah yang saat ini dilakukan Alana. Bergerak lembut, mengecup dan menj*lati leher, telinga dan berhenti di dada bidang Arun.


Des*han Arun membuat Alana bertambah semangat. Itu bentuk apresiasi untuknya telah berhasil membakar tubuh Arun, hingga pria itu sudah tidak tahan lagi. Perlahan Alana memegang milik Arun dengan tangan kanannya, bermain sebentar dengan batang kebesaran sekaligus kesukaan Alana. Dengan jemarinya, bermain dipuncak nya, mata Arun tertutup, menikmati hingga jantungnya terasa hampir berhenti. Melihat kilat asmara di mata Arun yang tiba-tiba terbuka, menyadarkan Alana kalau pria itu sudah siap.


Dengan sigap Alana mengangkat tubuhnya, lalu segera membiarkan milik Arun memasukinya. Jleb! rasa sakit segera berubah nikmat. Alana mengembangkan senyumnya sebelum mulai bergerak, bak pemain rodeo handal.


"Sayang...oh...Al.."

__ADS_1


"Abang suka?" bisik nya mengulum senyum.


"Sangat..aku...aku..." racu Arun. Mungkin karena dicelup beberapa hari membuat Arun ingin segera meraih puncaknya segera.


"Jangan!" hardik Alana saat Arun ingin membalikkan tubuhnya dan membuat Alana berada di bawah.


"Aku ingin di atas. Ya..please..abang kan.capek, jadi biar aku yang mengendalikan kali ini..nikmati aja sayang" bisik nya melengkungkan tubuhnya.


Tidak ada kata yang terucap. Arun hanya mengangguk dua kali, lalu memasrahkan diri dan juga apa yang dia rasakan saat ini ditangan Alana.


Ritme Alana semakin cepat, terus memompa, semakin melaju cepat. "Al..sayang..terus..terus Al.." racu nya ingin sampai.


Kembali Alana tersenyum, merasa berhasil jadi pengendali kali ini. " As your wish my lord" bisik nya tersenyum. Mulai memacu cepat, hingga Arun dan dirinya menjadi satu dalam ketegangan luar biasa, tidak lama r*ntihan dan teriakan panjang terdengar mengiringi mereka meraih puncaknya.


Keduanya terengah, berbaring telentang bersama bermandikan keringat. "Kau istri yang mengagumkan. Dari mana kau belajar semua itu, mungil?" bisik nya terengah-engah. Masih tersisa rasa puas yang baru saja dia nikmati tadi.


"Hanya mendengarkan seseorang yang sudah berpengalaman, dan ternyata berhasil" ucapnya tersenyum.


"Kalau begini kan, aku jadi betah di rumah, malas ngantor" ucap Arun menindih kembali tubuh Alana.


"Iiih..cukup bang, ntar malam lagi. Kita mandi, habis itu abang istirahat, aku ga mau abang jatuh sakit karena kecapekan" ucapnya memonyongkan bibirnya.


"Siap laksanakan" ucap Arun menghormat, membuat Alana tertawa. Sigap pria itu bangkit dan menggendong tubuh gadis itu ke kamar mandi.


"Part two di kamar mandi" bisik Arun tertawa bahagia.


***


Hai..aku datang lagi, bawa novel baru lagi, yuk mampir, siapa tau suka πŸ˜β˜ΊοΈπŸ™

__ADS_1



__ADS_2