Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati

Berbagi Cinta : Satu Atap Tiga Hati
Ternoda


__ADS_3

Alana tersentak dari lamunannya saat mendengar kegaduhan di luar kamarnya, dan itu suara Arun. Alana mendekatkan telinganya ke daun pintu, mencoba mendengar lebih banyak lagi.


"Lily, buka pintu nya, jangan bercanda" teriak Arun menggedor kamar penuh nafsu. Keringat bercucuran di dahinya.


"Buka Hun, aku tersiksa ini" salaknya dari luar. Pengaruh obat yang di campurkan Lily pada minuman Arun, kini sudah bereaksi. Tubuhnya nya mulai panas. Ereksi nya mulai naik hingga ke ubun-ubun. Viagra yang di campurkan Lily pada minumannya berhasil mengoyak kesadarannya.


"Ayo lah hun. Ini ga lucu. Aku tersiksa banget ini" ucap nya merintih. Dia tidak lagi teriak-teriak seperti tadi, duduk berjongkok di depan kamar, meratap agar Lily berbelas kasih padanya.


"Hun, aku minta maaf. Maaf karena harus berbuat seperti ini. Kau ke kamar Alana ya hun, Please" suara Lily mulai terdengar dari balik pintu. Wanita itu pun ikut berjongkok di balik pintu, sama hal nya dengan suaminya.


"Aku ga mau hun. Aku mau sama kamu. Kenapa kau begitu jahat padaku?"


"Maaf hun. Aku lakukan ini untuk kita, untuk rumah tangga kita. Kamu kira aku tidak sakit? kamu kira aku bisa membagi mu dengan wanita lain, walau itu adik ku sendiri? coba lah pahami hun. Kau sudah menikahi Alana. Tidak malam ini, esok lusa juga pasti kau harus tidur bersamanya"


"Tapi hun.."


"Semakin cepat kau melakukannya, pernikahan ini pun semakin cepat kau akhiri"


Setelahnya tidak ada lagi suara. Arun terduduk bersandar di pintu kamar yang malam ini tidak terbuka bagi nya.

__ADS_1


Merenung sepuluh menit, serangan itu datang lagi. Bagian dirinya di bawah sana sudah mengeras tidak tertahankan. Dia ingin di puaskan, dan satu-satunya tempat yang bisa dia datangi guna melepas hasratnya adalah adik iparnya. Tapi apakah dia sanggup melakukannya?


Tertatih-tatih Arun bangkit. Persetan akan kebencian pada Alana. Batang nya sudah sangat mengeras, tidak bisa lagi di bendung. Toh, ini bukan zinah, dia juga istri nya.


Dengan kasar Arun membuka paksa pintu kamar Alana yang memang tidak di kunci atas perintah Lily.


Penuh ketakutan Alana yang terkejut Arun masuk tiba-tiba, bangkit dari duduknya. Melihat Arun yang berjalan ke arahnya dengan tatapan buas membuat Alana mengeratkan pegangannya pada gaun tidurnya. Dia mengutuk Lily yang memberinya kostum itu hingga Arun tidak lepas menatap dada nya.


Tidak ada yang bicara. Suasana kamar itu hening bak tidak ada penghuni. Arun menarik tangan Alana, mendorong gadis itu duduk di atas ranjang. Tanpa malu Arun membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Mempertontonkan miliknya yang sudah mencuat ke atas pada Alana.


Diantara rasa terkejut dan jijik nya, Alana membuang muka ke arah lain, tidak ingin melihat benda yang sebentar lagi akan mengoyak tubuhnya.


Kuku tangannya menancap di genggaman Alana, menahan rasa takut yang melanda. Mata Arun semakin menyala menatap keindahan tubuh Alana. Dengan cepat pria itu sudah membaringkan Alana yang pasrah di tempat tidur. Air mata yang sejak tadi mengambang di pelupuk matanya sudah jatuh menetes di pipi, tepat saat Arun membenamkan wajah nya di ceruk leher Alana. Wangi vanila dari tubuh Alana begitu memabukkan. Kalau biasanya wangi lavender lah yang selalu dia cicipi dari Lily, kali ini otak nya di penuhi wangi baru, wangi yang akan selalu membuat nya ketagihan.


Tidak ada kata lembut. Semua tindakan Arun begitu brutal. Mengeksplor setiap jengkal tubuh Alana. Menjilat dan menciumi tubuh mungil itu. Alana bergidik. Bahkan air mata nya terus menetes. Saat ingin mencium bibir Alana, tatapan mereka beradu. Tiga detik yang membuat tatapan itu akan menghantui Arun untuk selamanya.


Merasa tidak nyaman melihat wajah tertekan dan air mata Alana, Arun mematikan lampu tidur, pria brengsek itu bahkan tidak tersentuh oleh air mata gadis polos itu.


"Ba-ng.." suara getir Alana keluar saat pria itu menghisap kuat kulit leher Alana, membuat rasa sakit sekaligus nikmat yang datang bersamaan. Mungkin saat itu Alana tidak mengerti nikmat nya dimana, tapi bagi Arun, sangat nikmat bahkan suara Alana yang serak dan berupa bisikan begitu merdu di telinga, menambah keinginannya untuk memasuki gadis itu.

__ADS_1


Menggunakan pahanya, Arun melebarkan paha Alana, dan tanpa peringatan apapun, dengan kasar pria itu memasuki Alana, menghujam gadis itu dengan kasar dan tanpa perasaan. Air mata Alana kembali jatuh, rasa sakit itu datang menghantamnya. Bibir nya sampai berdarah di gigit saat rasa sakit itu menghantam.


Air mata Alana terus mengalir dalam isak nya yang tertahan. Gadis itu kini bukan gadis lagi. Miliknya yang dia jaga, yang akan di persembahkan untuk pria yang dicintainya kini sudah di renggut oleh abang ipar yang sangat dia benci.


Kenyataannya rasa sakit tadi berganti dorongan dari dalam tubuhnya. Alana tidak mengerti apa itu, yang pasti tubuhnya akan meledak seiring pompaan Arun di dalam tubuh nya. Setiap hentakan pria itu begitu sakit, tapi tidak di pungkiri mendatangkan rasa yang tidak di mengerti Alana.


Gerakan Arun semakin cepat memompa, bibir nya mencari bibir Alana untuk di pagut, lidah nya mengait lidah Alana, hingga sesuatu dalam tubuh Arun ingin meledak, semakin cepat dia mengayuh semakin ingin sampai di puncaknya.


Lolongan kepuasan keluar dari mulut pria itu, saat memuntahkan lava panas dalam tubuh Alana. Rasa puas jelas tergambar di wajah Arun. Sebaris senyum samar masih sempat di tangkap Alana saat wanita itu membuka mata nya, sementara pria itu menutup matanya dan jatuh tertidur di atas tubuh Alana.


Susah payah Alana menyingkir dari bawah tubuh Arun. Membiarkan pria itu tertidur telungkup di ranjangnya. Alana berjalan terseok ke kamar mandi. Membasuh tubuhnya yang terasa lengket. Di sana lah dia menangis, meratapi nasibnya.


Rasa perih di bawah pusarnya menandakan dia kini sudah tidak gadis lagi. Miris, dia menyerahkan pada orang yang bahkan membenci nya. Bukan, harus di perbaiki, bukan menyerahkan, tapi kegadisannya di rampas oleh abang ipar yang berkedok sebagai suami nya sendiri.


Setengah jam, bagi Alana membasuh tubuhnya. Dia keluar mengenakan bathrobe menuju lemari pakaiannya, menarik baju yang akan dia pakai, lalu masuk kembali ke kamar mandi. Waktu menunjukkan pukul dua pagi. Di liriknya tubuh atletis yang kini tertidur dengan dengkuran keras yang terdengar dari mulutnya.


Alana akan pergi meninggalkan kamar itu, tidak mungkin juga dia ikut berbaring di ranjang yang bahkan noda darahnya masih bisa dia lihat. Tubuhnya yang sudah berpakaian lengkap pun masih terasa dingin, apalagi Arun yang berbaring tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Alana menyelimuti tubuh Arun sebelum keluar dari sana. Tidak sengaja matanya melihat baju tidur sutra yang di robek Arun tadi. Tubuhnya kembali bergidik.


"Aku membenci mu bang. Aku tidak akan memaafkan mu atas apa yang kau lakukan padaku malam ini"

__ADS_1


__ADS_2